TRAGEDI TUNISIA DAN MESIR, PERINGATAN BAGI SELURUH KAUM MUSLIMIN

TRAGEDI TUNISIA DAN MESIR, PERINGATAN BAGI SELURUH KAUM MUSLIMIN

Oleh : Syaikh Al-Allamah Ali bin Hasan Al-Halabi

[ MUQADDIMAH ]

Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Alloh. Kami menyanjung-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta kami memohon perlindungan dari keburukan jiwa dan kejelekan amal kami. Barangsiapa yang Alloh beri petunjuk tidak ada yang mampu menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan oleh Alloh maka tiada seorangpun yang dapat memberikannya petunjuk kepadanya. Saya bersaksi bahwa tidak ada ILah yang berhak untuk disembah kecuali hanya Alloh semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Saya juga bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya. Amma Badu :
Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kalâmullâh, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (. Sedangkan seburuk-buruk suatu urusan adalah yang diada-adakan, dan setiap urusan (di dalam agama) yang diada-adakan itu adalah bidah, dan tiap kebidahan itu adalah sesat, dan setiap kesesatan itu berada di neraka. Wa badu :

[ WASIAT YANG AGUNG ]

Ada sebuah riwayat dari sahabat yang mulia Alî bin Abî Thâlib, yang berisi tentang wasiat yang agung yang disampaikan beliau kepada salah seorang sahabatnya yang bernama Kumail bin Ziyâd. Wasiat beliau  tersebut berbunyi :
النَّاسُ ثَلاثةٌ : فَعَالمٌ رَبَّانِيٌ ، وَمُتَّبِعٌ عَلى سَبِيْلِ نَجَاةٍ ، وَهَمَجٌ رَعَاعٌ أتْبَاعِ كُلِّ نَاعِقٍ
“Manusia itu ada tiga macam : yaitu seorang ‘âlim rabbânî, seorang yang meneladani di atas jalan keselamatan, dan orang-orang rendahan yang mengikuti setiap ocehan ” .
Manusia tidak akan keluar dari ketiga sifat tersebut, bagaimanapun dan dimanapun keadaannya. Yaitu, sebagai seorang âlim robbânî, yang dinisbatkan (nama ini) kepada Rabb yang Maha Agung Jalla Jalâluhu, dan yang mendidik manusia di atas sifat ini, atau sebagai seorang yang meneladani di atas jalan keselamatan.  Dia bukanlah seorang muqollid (taklid buta), mutaashshib (fanatik) maupun mutahazzib (sektarian). Dia hanya mengharapkan Alloh dan negeri akhirat saja. Dia menginginkan Alloh dan negeri akhirat karena kedua hal inilah jalan keselamatan itu. Adapun selain daripada ini adalah jalan yang menuju kepada kerugian yang nyata, sesuai dengan kadar penyelisihannya yang mengantarkan kepada kerugian, sedikit maupun banyak.
Dan golongan ketiga yaitu orang rendahan yang mengikuti semua ocehan. Mereka tidak memiliki kaidah-kaidah ilmiah maupun landasan-landasan yang syari, dan tidak pula metoda dan asas yang diperhatikan di dalam kerangka syariat islam. Mereka ini turut berteriak bersama setiap penyeru dan mengembara di setiap lembah. Mereka ini adalah orang rendahan, yang tidak digerakkan oleh ilmu dan tidak pula dimotivasi oleh syariat. Mereka hanya mengikuti setiap ocehan, berdasarkan mana yang ocehan dan teriakannya paling keras, dan berdasarkan mana yang paling banyak jumlah dan kuantitasnya.
Setiap orang yang berakal dan memiliki hati nurani, pasti akan menolak jika dikategorikan sebagai golongan ketiga ini. Walaupun terkadang, di saat emosi lebih dominan dan luapan semangat yang menggebu-gebu, acap kali mereka ini termasuk golongan ketiga ini, atau berada di antara mereka atau bahkan yang dikedepankan di kalangan mereka. Karena itu hendaknya mereka mengevaluasi diri mereka, dan memperhatikan tempat berpijak kedua kakinya, serta memperhatikan gerakan hatinya dan pergerakan lisannya. Agar tidak ada lagi pada dirinya dosa dan penyelewengan sesuai dengan kadar sikap ikut-ikutannya, fanatismenya, kebodohannya dan sikap pembelaannya.
Demikian juga dalam keadaan dia menolak untuk digolongkan kepada golongan ketiga ini, maka sesungguhnya dia dengan lantaran Alloh menganugerahkan akal kepadanya, ia mengetahui bahwa dirinya tidak termasuk golongan pertama. Golongan pertama ini adalah para ulama robbâniyîn, yang umat ini wajib mencontoh mereka, bukan sebagai bentuk fanatik kepada mereka namun sebagai bentuk peneladan. Bukan pula sebagai bentuk sikap tahazzub ( sektarianisme ) namun sebagai bentuk keteguhan dan istiqômah di atas syariat Alloh, yaitu di atas Kitâbullâh dan Sunnah Rasulullâh (.
Dan karena dia tidak termasuk kepada kelompok yang pertama dan bukan pula yang ketiga, maka hendaknya dia berupaya mengerahkan kesungguhan dan kemampuannya agar bisa menjadi golongan yang pertengahan diantara dua golongan tadi. Dia bukanlah seorang pantas untuk menyandang sebutan âlim robbânî, dan dirinya juga enggan dan tidak suka jika dianggap seperti golongan orang rendahan, – yang sungguh amat disayangkan – betapa banyak mereka ini di seluruh penjuru dan belahan dunia.
Akan tetapi, jika ia ridha untuk digolongkan sebagai golongan pertengahan, yang mengikuti jalan keselamatan, lantas apakah status golongan pertengahan ini dapat dicapai hanya dengan sekedar angan-angan? Atau dicapai hanya dengan sekedar mimpi dan khayalan belaka? Tidak boleh tidak hingga dia menjadi golongan pertengahan ini dengan mengerahkan segala daya upaya dan kesungguhan jiwa, bersabar di dalam menuntut ilmu dan teguh di atas perintah Alloh, walaupun apa yang di dalam jiwanya merasa enggan di dalam sebagian perkara kecuali meniti sebagian jalan dan mengikuti sebagian jalan, walaupun tidak di atas petunjuk dari Alloh, dan meskipun tidak berada di atas keitiqomahan di dalam perintah Alloh, maka orang yang seperti ini hendaknya yang seperti ini dapat menepisnya dan menjaga jiwanya dari hal tersebut.
Dan hendaknya dia selalu ingat perkataan seorang penyair yang mengingatkan dirinya sendiri dan selainnya :
فهذا الحق ليس به خفاء *** فدعني من بنيات الطريق
Inilah kebenaran yang tidak ada padanya kesamaran
Maka tinggalkanlah aku dari persimpangan-persimpangan jalan
Semua ini adalah termasuk persimpangan-persimpangan jalan, dari jalan-jalan yang berliku-liku dan berkelok-kelok, yang pendek yang tidak lurus, yang terletak di atas kedua sisi jalan dan manhaj yang lurus, yang Alloh dan Rasul-Nya yang mulia Shallallâhu alaihi wa ala Âlihi wa Shohbihi ajmaîn- memerintahkan untuk mengikutinya. Jalan ini adalah jalan yang Alloh dan Rasulullah ( perintahkan kepada umatnya, para pengikutnya, para sahabatnya dan saudara-saudaranya yang hidup setelah beliau (, agar mengikuti jalan keselamatan ini, maka sesungguhnya hal ini membutuhkan jihad melawan hawa nafsu dan Alloh Ta’âlâ berfirman :
والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, maka benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami.” (Al-‘Ankabût : 69)
Dan Nabi yang mulia Shallallâhu ‘alaihi wa ‘ala Âlihi wa Shohbihi ajma’în bersabda :
المجاهد من جاهد هواه في ذات لله
“Seorang mujahid itu adalah orang yang berjihad melawan hawa nafsunya di jalan Alloh.”
Berjihad melawan hawa nafsu itu – wahai saudara-saudaraku – tidaklah selalu berjihad melawan syahwat-syahwat, karena terkadang di dalam sebagian perkara adalah berjihad melawan syubhat-syubhat. Dan jihad melawan syubhat-syubhat ini, adalah lebih utama dan lebih besar tingkatan dan derajatnya daripada jihad melawan syahwat-syahwat. Mudah bagimu berjihad melawan syahwatmu jika Alloh memberikanmu taufiq, namun tidaklah mudah berjihad melawan syubhat yang datang menghampiri atau menyusup lalu menyesatkanmu, dan menjauhkanmu dari al-haq dan kebenaran. Ini adalah poin yang mendasar.
Saya tidak berbicara ( lebih lanjut ) tentang hal ini dan sebagai pengingat saja di malam hari yang penuh berkah ini insyâ` Alloh-. Yang penuh berkah karena udaranya begitu harum dengan Kalâmullâh, dan penuh berkah lantaran di dalamnya sarat dengan petunjuk Rasulullah ( dan nafas-nafas para ulama Rabbâniyîn serta fatwa-fatwa mereka yang benar lagi dapat dipercaya.

[ WAJIBNYA MENYIKAPI SEGALA PERISTIWA DENGAN LANDASAN SYAR’I ]

Saya berkata : Kesemua hal yang ada di hadapan kita ini adalah sebuah peringatan bagi perkara yang terjadi, kita mendengarkannya dan diperdengarkan kepada kita, kita hidup dengannya dan merisaukan kita. Bukan hanya merisaukan kita di dalam urusan dunia saja, namun juga merisaukan, mencemaskan dan menggelisahkan di dalam urusan agama kita, sama persis. Dan hingga kita bisa menghukumi insiden-insiden dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan hukum yang benar dan diakui, wajib untuk membangun hukum ini di atas pondasi yang agung dan diatas pendalilan yang bagus. Yaitu dengan ucapan Alloh dan Rasulullah (, sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam adz-Dzahabî –semoga Alloh merahmatinya- :
العلم قـال الله قـال رسولـه *** قال الصحابة ليس بالتمويه
ما العلم نصبك للخلاف سفاهة *** بين الرسول وبين رأي فقيه
Ilmu itu adalah firman Alloh dan sabda Rasul-NYa
Serta perkataan sahabat, bukan sekedar kamuflase
Bukanlah ilmu jika Engkau mempertentangkan perselisIhan karena kebodohan
Antara Rasul dengan pendapat seorang ahli fikih
Mari kita perhatikan peristiwa yang terjadi di Mesir, sebagaimana kita perhatikan pula yang terjadi baru-baru ini di Tunisia. Kita coba cermati juga peristiwa yang terjadi saat ini di Libanon, bahkan juga yang terjadi pada hari ini di ‘Amman dan yang terjadi belum lama ini di Shana` (Yaman), di dalam perkara-perkara yang baru muncul yang hampir saja umat kita ini tidak melewatinya dan tidak mengetahuinya, akan tetapi senantiasa sampai saat ini kita kehilangan suara syari yang leluasa, yang menghukumi atas perkara-perkara dengan dalil-dalilnya, tidak  berdasarkan orang yang mengucapkannya, dan dengan hujjah-hujjahnya bukan dengan penyandaran kepadanya agar hukum yang dihasilkan dari ini dan itu adalah suatu hukum syari yang lebih dekat dengan kebenaran, dan lebih dekat kepada al-haq dengan tanpa keraguan.
Betapa sering kita mendengar orang yang mengucapkan istilah Fiqih Wâqi, yang dua kubu saling bergumul tentang istilah ini. Kubu pertama adalah kubu para da’i pengikut revolusi para politisi yang mengikuti perasaan dan semangat yang menjadikan fiqih wâqi ini adalah mengikuti berita-berita politik dan menelaah metode-metode surat kabar, di antara ini dan itu untuk menyulut semangat dan membebaskan luapan perasaan yang tak terkendali.
Adapun kubu kedua adalah kubu para ahli ilmu robbâniyûn, sebaik-baik yang mendidik diri-diri mereka yang mereka memahami fiqih wâqi di atas landasan syari yang disebutkan oleh Al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyah di dalam lebih dari satu kitab dari kitab-kitabnya, maka yang pertama : fiqih wâqi tidaklah terbatas hanya pada masalah politik dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Namun sesungguhnya fiqih wâqi itu adalah jalan untuk menggambarkan keadaan segala perkara-perkara, sehingga hasilnya adalah benaran dan adil. Sama saja, apakah perkara-perkara ini adalah perkara politik atau syari, ataupun bahkan perkara materi duniawiyah, demikianlah kita memahami pengertian fiqih wâqi’ secara syar’i, yaitu yang telah disebutkan oleh para ulama di dalam kitab-kitab ishtilâh yang terkandung di dalam perkataan, ta’shil ( pendasaran ) dan istilah mereka dengan perkataan mereka :
الحكم على الشيء فرع عن تصوره
“Menghukumi sesuatu hal itu adalah cabang dari gambarannya ”
Lalu kita dekatkan dua ungkapan tersebut, dan kita ambil makna yang benar di antara dua kalimat dan dua istilah tersebut maka kita katakan : Fiqih wâqi’ yaitu perkara yang menjadikanmu berada di atas batasan sikap yang benar darinya. Apabila engkau belum memahami wâqi (realita) ini dengan pemahaman yang benar, maka akan menyebabkanmu jauh dari kebenaran tersebut sebatas kurangnya pengetahuan dan pemahamanmu terhadapnya. Beginilah pengertian yang benar. Bukanlah makna fiqih wâqi adalah makna yang penuh dengan luapan semangat dan tindakan revolusi, yang menyempitkan maknanya di dalam batasan politik dan para pelakunya saja. Sama sekali bukan demikian perkaranya, saya katakan ini sebagai pendahuluan yang lain di hadapan ayat, hadits, atsar, kaidah fikih dan fatwa para ulama yang akan kusampaikan di majlis kita di malam yang penuh berkah ini –insyâ Alloh-, sebagai bagian dari firman Alloh :
ﭽ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭼ
“Hendaklah kamu menerangkannya kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya ( Âli Imrân : 187)
Silakan bagi yang ridha meridhainya, bagi yang marah silakan marah, yang mau menuduh silakan menuduh, yang ingin mencela silakan mencela dan yang ingin menghujat silakan menghujat, karena sesungguhnya hubungan seorang hamba terhadap Rabb-nya adalah hubungan yang tinggi, yang hendaknya kejujuran di dalamnya menjadi syi’ar dan penolongnya tanpa melihat orang yang menyelisihi atau menyetujuinya, maka dia kiblatnya adalah wajah Alloh, dan cahaya hatinya adalah sunnah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa ‘ala Âlihi wa Shohbihi wa man wâlahu.

[ LANDASAN DARI AYAT ALLOH SUBHANAHU WA TA’ALA ]

Adapun ayat maka adalah firman Alloh Tabâroka wa Ta’âlâ :
ﭽ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑ ﮒﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟﮠ ﭼ
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil Amri). (An-Nisâ` : 83)
Perkataan-perkataan para ulama tafsir seluruhnya tentang ayat ini berkaitan dengan dua perkara, perkara pertama  bahwa urusan yang berkaitan dengan hajat orang banyak adalah termasuk problematika yang tidak boleh menyebarluaskan dan menyiarkannya kecuali dengan perkara yang kedua, yaitu bahwa hendaknya hal itu adalah termasuk wewenang para pemilik spesialisasi dari kalangan ahli ilmu dan mereka adalah ahli istinbâth (yang pandai menggali suatu hukum syar’i), sebagaimana yang dikatakan oleh Imam ath-Thohâwî, Imam Ibnu Taimiyah, Imam ath-Thobarî dan selain mereka dari kalangan para ulama bahwa :
الأمور العامة في الأمة لا يفتي فيها ولا يعطي الحكم بشأنها إلا أهل العلم الربانيون ، الذين جعلوا قبلتهم كتاب الله ، ومهجة قلوبهم سنة رسول الله – صلى الله عليه وسلم –
“Urusan yang berkaitan dengan hajat orang banyak di tengah umat ini, tidak boleh seorangpun berfatwa dan memberikan hukum tentangnya kecuali ulama robbâniyûn yang menjadikan kitâbullah sebagai kiblat mereka dan sunnah Rasulullah ( sebagai cahaya hati mereka.
Mereka hanya menginginkan kebaikan bagi umat ini, bukannya menginginkan suatu balasan dari mereka. Mereka menginginkan kebaikan, keistiqomahan, kebahagiaan dan keberhasilan bagi umat ini, bukan menginginkan suatu bagian dari dunia, sedikit maupun banyak. Ini adalah pokok yang pertama dan nash pertama pada apa yang kita kemukakan penjelasannya.

[ HADITS NABI SHOLLALLOHU ALAIHI WA SALLAM ]

Adapun pokok yang kedua adalah hadits yang diriwayatkan di dalam Shahîh Muslim ( 8/208 )dari Abu Hurairoh – Radhiyallahu Ta’ala Anhu –  yang berkata : Rasulullah ( bersabda :
الْعِبَادَةُ فِى الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَىَّ
“Beribadah di masa sulit adalah seperti hijrah kepadaku.”
Al-Haraj adalah pembunuhan, pencampuradukan, kegoncangan dan fitnah. Manusia di saat seperti ini, hati mereka menjadi tidak menentu, akal fikiran mereka menjadi bingung dan jiwa mereka tidak tentram. Maka diantara mereka yang – pada keadaan seperti ini – bergabung bersama dengan orang-orang rendahan yang menyebar ke seluruh penjuru tempat, yang tidak sadari dan tidak memahami. Karena fitnah ini menyebabkan dirinya tidak sadar dan memukulnya hingga menyebabkan dirinya jatuh ke tempat yang rendah, dan dia tidak mampu menoleh ke tempat yang lebih tinggi dan lebih penting.
Hadits ini merupakan arahan dari Muhammad (, rasul Islam dan penghulu anak Adam. Sebagai suatu bentuk pengajaran,  peringatan dan arahan ketika berada di suatu tempat yang penuh dengan fitnah, maka wajib untuk menyibukkan diri dengan amalan yang paling utama dan paling penting, yaitu beribadah kepada Rabb Tabâroka wa Taâlâ, satu-satunya sesembahan yang benar subhânahu fî alâhu. Daripada menyibukkan diri dengan peristiwa fitnah, yang malah semakin menyebabkan seseorang semakin jauh dari Alloh dan menyibukkan dirinya kepada suatu hal yang tidak utama bersamaan ada hal yang lebih utama, menyibukkan dirinya kepada suatu hal yang tidak lebih utama padahal dia adalah perkara yang lebih sulit, dan meninggalkan hal yang lebih utama yang lebih mudah, menyibukkan dirinya kepada suatu hal yang tidak lebih utama dan dia adalah jauh dari syariat Islam, dan menjauhkannya dari sesuatu yang lebih utama yang diperintahkan oleh syariat.
Beribadah di masa sulit adalah seperti hijrah kepadaku, yaitu tatkala setiap orang pada sibuk masing-masing dan melakukan perbuatan yang mereka kehendaki, mereka berkumpul sekehendak mereka dan mengobarkan revolusi semau mereka. Janganlah sampai perbuatan mereka ini mengalihkan perhatianmu dari agamamu, dari manhaj Kitab Rabbmu dan dari sunnah Nabimu (.
Ini dan itu dari nash al-Qur`ân dan hadits nabi, jangan sampai menjadikan kita mempersamakan antara kezhaliman dengan keadilan, atau antara kebenaran dan kebathilan. Namun hendaknya menjadikan kita mengikat cara pola pikir kita, dan cara kita memperbaiki perkara-perkara, sebagai ganti dari provokasi yang tidak menghasilkan kecuali bencana dan malapetaka, dan musibah demi musibah.
Maka syariat yang bijaksana ini mengikat akal, hati, lisan dan amal perbuatan kita. Mengikat hal ini seluruhnya dengan hal yang lebih sesuai dan lebih layak secara sempurna dengan tabiat dasar manusia yang telah Alloh ciptakan manusia atasnya, dan Dia adalah yang berfirman Dia yang Maha Agung di ketinggiaanNya dan Maha Agung di atas langit – :
ﭽ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭼ
“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan dia adalah Maha halus lagi Maha Mengetahui?” (Al-Mulk : 14)
Yang Maha Halus dan Mengetahui apa yang memperbaiki mereka, maka dengan kadar jauhnya seorang manusia dari manhaj robbânî yang haq, dengan kadar jatuhnya seseorang kepada keterlantaran, dan dengan kadar masuknya dia di dalam kezhaliman dan kedustaan – semoga Alloh melindungi kita dan kalian – syariat yang bijaksana ini mengikat dua perkara yang dikira oleh sebagian orang adalah saling kontradiksi, padahal hakikatnya saling bersesuaian dan berpadu. Adapun pokok yang pertama adalah : larangan syariat secara keras dari sikap memberontak (keluaran dari ketaatan) terhadap penguasa yang muslim, kita berbicara tentang penguasa yang muslim, kita tidak membicarakan penguasa yang memerangi hijâb, atau memerangi adzân, atau jenggot dan memerangi Islam, kita berbicara tentang seorang penguasay ang muslim, walapun dirinya menyelisihi sesuatu dari perintah Alloh, dan seandainya ada pada dirinya sifat kefasikan dan kemaksiatan, maka hal ini tidaklah menyebabkan dirinya keluar dari lingkaran agama dengan ijma’ ( kesepakatan ) Ahli Sunnah, ini adalah bingkai yang pertama.
Dan bingkai yang kedua yang dikira kontradiksi dengan yang pertama bahwa penguasa ini yang Anda berada di bawah kekuasaannya dan di bawah pemerintahannya, Anda tidak wajib untuk mencintainya lantaran sebab penyelewengannya terhadap syariat Alloh, dan ketidakcintaan Anda kepadanya janganlah menjadi pintu keluar dari ketaatan kepadanya, atau pintu revolusi kepadanya, namun hnayalah ini masuk ke dalam konteks sabda Nabi ( :
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ
“Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaknya ia merubah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila masih tidak mampu, maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman.
Inilah pokok kedua yang telah kuisyaratkan, yang dia selaras secara sempurna dengan pokok yang pertama tadi sebagaimana ditunjukkan oleh Rasulullah alaihi ash-Sholâtu was Salâm dalam sabdanya, dan dengarkanlah hadits Nabi ini yang mulia ini, yang begitu menakjubkan, begitu agungnya, begitu indahnya dan begitu mulianya, Nabi ( bersabda :
خير أمرائكم الذين تحبونهم ، ويحبونكم ، وتدعون لهم ، ويدعون لكم ، وشر أمرائكم…
“Sebaik-baik penguasa kalian, adalah mereka yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian. Kalian mendoakan kebaikan kepada mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan pada kalian. Sedangkan seburuk-buruk penguasa kalian…”
Walaupun mereka disebut sebagai “seburuk-buruk”, apa yang dikatakan oleh Nabi, beliau mengatakan “أمرائكم ” ( penguasa kalian ) mudhaf dan mudhaf ilaih, seburuk-buruk penguasa kalian padahal mereka adalah jelek dan kalian tidak mencintainya, namun ini dan itu selama mereka tetap berada di dalam lingkup Islam walaupun dengan kekurangan dan suatu kerusakan, akan tetapi mereka belum keluar dari agama, mereka tidaklah melarang umat dari sholat dan tidak pula memerangi hukum-hukum Islam, dalam keadaan mereka tetap memiliki kedudukan, berkuasa, dan melaksanakan hukum-hukum, maka beliau menyebut mereka dengan penguasa kalian, maka beliau tetapkan bagi mereka pemerintahan mereka atas kalian.
وشر أمرائكم الذين لا تحبونهم ولا يحبونكم ، وتدعون عليهم ويدعون عليكم
“Dan seburuk-buruk penguasa kalian adalah mereka yang tidak kalian cintai dan mereka tidak mencintai kalian. Kalian doakan mereka dengan keburukan dan merekapun juga mendoakan keburukan bagi kalian.
Ini adalah dhawâbith ( aturan-aturan) di dalam beramal, sebagaimana dia juga dhawâbith ( aturan-aturan) berbicara, di mana setiap bingkai dari kedua bingkai ini ada wilayahnya, di mana setiap bab dari kedua bab tersebut ada bagiannya tersendiri, kita tidak boleh mencampuradukkannya dan dicampuradukkan, dibuat kabur atas kita dan disamarkan atas kita, serta kita diseret di atas kambing-kambing dengan tanpa dalil-dalil dan berargumen, tanpa hujjah-hujjah dan manhaj-manhaj. Ini adalah kebiasaan orang-orang rendahan. Adapun jalan ahlus sunnah dan ahli ittibâ yang mengharapkan keselamatan, maka mereka senantiasa mengikatkan diri dengan hukum-hukum syar’i, dan mengikatkan diri dengan pokok-pokok yang diperhatikan dan dengan kaidah-kaidah fiqhiyah, dengan sama persis.

[ ATSAR SAHABAT ]

Adapun yang ketiga maka dia adalah sebuah atsar yang terdapat di dalam Shahîhain dari Syaqîq dari Usâmah bin Zaid. Beliau ditanya :
أَلاَ تَدْخُلُ عَلَى عُثْمَانَ فَتُكَلِّمَهُ …
“ Tidakkah Anda menemui ‘Utsmân dan berbicara padanya…”
Yaitu di zaman yang di dalamnya penuh dengan fitnah, ujian dan malapetaka. Sebagian orang menghadap Usâmah dan meminta serta menuntut beliau agar mau berbicara dengan penguasa, dan Utsmân adalah penguasa pada saat itu hingga melihat kepada perkara-perkara sebagai bagian dari amar marûf nahî munkar, beliau ditanya : Tidakkah Anda menemui Utsmân dan berbicara kepadanya? Lantas Apa gerangan jawaban beliau? Beliau berkata :
أَتُرَوْنَ أَنِّى لاَ أُكَلِّمُهُ إِلاَّ أُسْمِعُكُمْ ؟
“Apakah kalian menganggap bahwa jika aku berbicara dengan beliau lantas aku harus memperdengarkannya kepada kalian?”
Yaitu tidak boleh tidak kalian menghendaki bahwa saya tidak berbicara dengan beliau (Utsmân) kecuali jika saya memperdengarkan, atau mengabarkan, atau menceritakan atau menunjukkan kepada kalian secara jelas dan terang, ataupun dengan isyarat maupun tercatat?, lalu perhatikanlah, bagaimana alangkah bagusnya belaiu menjelaskan alasannya dengan segi yang agung, beliau berkata :
وَاللَّهِ لَقَدْ كَلَّمْتُهُ فِيمَا بَيْنِى وَبَيْنَهُ مَا دُونَ أَنْ أَفْتَتِحَ أَمْرًا لاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ
“Demi Alloh! Saya telah berbicara empat mata dengan beliau. Tanpa perlu saya membuka suatu perkara yang saya tidak suka jika saya menjadi orang yang pertama kali membukanya.
Beginilah akhlak sahabat, inilah akhlak salaf, inilah akhlak umat yang terbaik, inilah akhlak kaum mukminin generasi awal, yang berilmu, memiliki ma’rifat dan memiliki kesabaran.

[ KAIDAH FIQIH ]

Pokok pertama adalah ayat al-Qur`ân, yang kedua adalah hadits dan yang ketiga adalah atsar dari para salaf yang shalih, yang keempat adalah sebuah kaidah dari kaidah-kaidah fikih. Kaidah fikih ini berbeda dengan kaidah ushul fikih karena kaidah fikih ini lebih berkaitan dengan urusan kaum muslimin di dalam aktivitas kehidupannya yang terjadi yang umum. Sedangkan kaidah ushul fikih itu lebih dekat dengan akal dan pandangan-pandangan para ulama, di dalam memahami dan menggali hukum dari nash. Adapun kaidah fikih, sesungguhnya landasan dasarnya digali dari keumuman kaidah-kaidah syariyah atau dalil-dalil syari, baik di dalam Kitabullah maupun di dalam sunnah Rasulullah (.
Di antara hal yang telah disepakati oleh para ulama yang tsiqah ( terpercaya ) dari kaidah-kaidah asasi di dalam memahami syariat dan pokok-pokoknya yang kokoh adalah perkataan mereka :
Menepis mafsadah ( kerusakan ) lebih didahulukan daripada mendatangkan maslahat.
Kaidah ini termasuk kaidah fikih yang tertata lagi luas maknanya, dan kadang melekat dengannya dari yang serupa dengannya sebuah kaidah yang lain yang memiliki konteks yang serupa, yaitu perkataan mereka :
إن ارتكاب أخف الضررين هو الأصل دفعا لأكبرهما
“Sesungguhnya mengambil madharat yang teringan dari dua keburukan dia adalah pokok untuk menepis yang lebih besar.”
Di hadapan kita ada dua madharat, dan mau tidak mau kita harus memilih salah satunya dan tidak ada pilihan lain bagi kita. Lantas bagaimana perbuatan yang benar? Yang benar adalah kita memilih yang paling ringan madharatnya dalam rangka menepis yang lebih besar dan lebih sangat.
Kaidah yang ketiga di dalam bab itu sendiri dari bertolak dari pokok yang sama adalah perkataan mereka :
عند تزاحم المصالح تحصل المصلحة الراجحة وتترك المصلحة المرجوحة
” Di saat berdesakan antara mashlahat-mashlahat maka dicari mashlahat yang lebih kuat dan ditinggalkan mashlahat yang lemah “
Maka marilah kita melihat realita yang menyakitkan yang hampir memangkas keamanan negeri-negeri dan para hamba, yang kadang permulaannya adalah perkara yang ringan, dan perkataan yang lunak sebagaimana yang mereka katakan Kami mengadakan aksi damai, atau unjuk rasa damai, ternyata pada awalnya memang demikian, dan di akhirnya bertolak belakang dengannya, maka bagaimana jika dari awalnya atas yang selain itu, dan kadang di awalnya, keduanya, dan ketiganya atas makna hal itu, dan pada apa yang di sana, akan tetapi di setiap kali semakin memanas sehingga bertolaklah orang-orang yang jelek yang membakar yang hijau dan yang kering, dalam keadaan mereka menyangka telah berbuat yang baik, mereka menyangka bahwa mereka melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar, akan tetapi tanpa mengindahkan satu ayat pun, tanpa memperhatikan satu hadits pun, dan tanpa mempelajari atsar-atsar Salaf, serta tanpa menelaah di dalam satupun dari kaidah-kaidah fiqih yang telah tertata lagi dianggap di sisi ahli ilmu, tidak dalah hal yang sedikit maupun di dalam hal yang banyak.
Terkadang mashlahat yang semu cepat dilihat, akan tetapi mashlahat yang rajih yang shahih sesungguhnya hanyalah dengan mengetahui kesudahan-kesudahan, dan fiqih mengetahui kesudahan-kesudahan adalah fiqih yang paling agung dan paling mulia, paling rumit dan paling tinggi, hampir-hampir tidak ada yang mendapatinya kecuali hanya person-person di setiap zaman dan tempat, dari para ulama rabbaniyyin, para imama yang mendalam pemahaman mereka, yang terdidik dengan manhaj yang haq, dan tidak menerima pengganti apapun dari selainnya.

[ FATWA ULAMA ]

Adapun pokok yang kelima maka dia adalah sebagian dari fatwa-fatwa, dan kami tidak mampu secara kondisi untuk mendatangkan semuanya, maka hampir-hamapir saya mengatakan saya tidak mengetahui seorang ulama pun dari Ahli Sunnah dan para pemilik aqidah yang shahihah di zaman ini kecuali mengingkari dan sangat keras atas demonstrasi-demonstrasi ini, aksi-aksi unjuk ras ini, dan aksi-aksi mogok ini karena apa yang mereka ketahui dari keberadaannya yang pertama asalanya adalah tiri dak syar’I, yang kedua karena apa yang diakibatkan darinya dari kerusakan negeri-negeri dan para hamba, dan jika mereka menetapkan ini dan membuat pendasaran tentangnya, maka mereka dalam waktu yang sama dan kami bersama mereka dan dengan mereka mengingkari kezhaliman, mengingkari penganiyaan, dan tidak menerima kerusakan, akan tetapi :
ﭽ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﭼ
” Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa ” ( Al-An’am : 153 )
Demikianlah seorang mukmin yang sebenarnya, melihat kepada garis yang lurus dan jalan yang lurus, walaupun lebih panjang jaraknya, dan lebih jauh dijangkau, akan di dalamnya keselamatan, di dalamnya keberhasilan, dan di dalamnya keberuntungan, di dunia dan di akhirat.
Syaikh Ibnu Baz Rahimahullah ditanya, berkata seorang penanya kepada beliau : ” Telah muncul fenomena pada banyak dari orang-orang, yaitu berkumpul dan mengerahkan massa, keluar unjuk rasa dan demonstrasi sebagai salah satu bentuk dari mengingkari kemungkaran, maka apakah pendapat Anda tentang hal itu ? “, maka Syaikh Ibnu Baz berkata, seandainya dikatakan bahwa beliau adalah ulama yang paling agung di masa ini, paling besar, dan paling agung, maka tidaklah jauh ucapan tersebut, karena beliau telah membangun ilmunya di atas Kitabullah dan Sunnah RasulNya ( dan tidak membangun ilmunya di atas hizbiyyah ( fanatisme kelompok ), mencari keridhaan orang-orang awam dan orang-orang kebanyakan, dan atas menngambil hati para provokator, sebagaimana dilakukan oleh sebagian para pemilik nama-nama dan gelar-gelar yang mentereng, dengan tanpa ilmu, tanpa petunjuk, tanpa bashirah, dan tanpa Kitab yang menerangi.
Syaikh Ibnu Baz berkata : ” Keluar di dalam demonstrasi dan unjuk rasa tidaklah baik, dan jika tidak baik maka dia adalah jelek, karena tidak ada di sana kecuali baik dan jelek “, beliau berkata : ” Dan dia bukanlah termasuk kebiasaan para sahabat Rasul dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Bukankah pada waktu ada kemungkaran-kemungkaran ?Bukankah pada waktu itu ada penyimpangan-penyimpangan ? Bukankah pada masa itu ada hal-hal yang menyelisihi syari’at Alloh dan hal-hal yang bertolak belakang dengan Kitabullah ? Ya, dan mereka tidaklah menuju kepada hal-hal itu semua dan tidaklah melakukannya walaupun yang lebih ringan dari hal itu semua “.
Beliau berkata : ” Sesungguhnya hanyalah nasehat, arahan, memerintah kepada yang ma’ruf, melarang dari yang mungkar, dan bekerjasama atas kebajikan dan taqwa, dan ini yang datang di dalam atsar Usamah bin Zaid di dalam nasehatnya kepada Utsman Radhiyallahu ‘Anhu, empat mata dengannya, tanpa membuka pintu kerusakan dan pengrusakan, dan tanpa memprovokasi hati dan akal atas para waliyyul amr dari perkara-perkara yang merusak dan tidak memperbaiki, dari hal-hal yang membawa kejelekan dan tidak benar. “
Beliau berkata : ” Ini adalah jalan yang selayaknya diikuti, Alloh Azza wa Jalla berfirman :
ﭽ ﮑ ﮒ ﮓ ﮔﮕ ﭼ
” Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. ” ( At-Taubah : 71 ), sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain, bukan sebahagian mereka (adalah) menjadi lawan bagi sebahagian yang lain, bukan sebahagian mereka (adalah) menghabisi sebahagian yang lain,
ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ
” mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, ” ( At-Taubah : 71 ), dan Alloh Azza wa Jalla berfirman :
ﭽ ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠﮡ ﭼ
” Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ” ( Ali Imran : 104 ).
FirmanNya ( ولتكن ) , Lam di sini dikatakan oleh sebagian ulama bolehjadi Lam At-Tab’idh, maaf, Mim ( ولتكن منكم ), Min di sini bolehjadi adalah Min At-Tab’idhiyyah ( menunjukkan arti sebagian ), atau untuk menjelaskan jenis, jika Min adalah At-Tab’idhiyyah maka yang dimaksud sebagian di sini adalah para ulama, dan jika untuk menjelaskan jenis maka dia bermakna : Jadilah kalian umat, yaitu sesuai dengan kadar apa yang kalian ketahui dari al-haq, dan kalian ditunjukkan kepada kebenaran sesuai dengan kadar apa yang kalian perintahkan kepada yang ma’ruf dan yang kalian larang dari yang munkar, dan ini termasuk dalil-dalil dibagi-baginya ilmu dan ma’rifat, dan dibagi-baginya memerintah kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar “.
Beliau berkata : ” Dan Alloh Subhanahu berfirman :
ﭽ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭼ
” Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, ” ( Ali Imran : 110 ).
Rasulullah ( bersbada :
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ
“Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaknya ia merubah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila masih tidak mampu, maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman.
Samahatusy Syaikh Rahimahullah – berkata : ” Mengingkari dengan perbuatan adalah dari imam atau penguasa atau dari Badan yang memiliki wewenang, Badan : yaitu golongan yang diberi wewenang oleh waliyyul amr untuk melaksanakan amar ma’ruf dan nahi mungkar, karena itu semua akan berakibat pada perkara-perkara yang banyak, sekarang seandainya ada dua orang yang berkelahi dengan tangan di pasar maka akan terjadi kerusakan yang tidak mengetahuinya kecuali Alloh, maka bagaimana jika amar ma’ruf dan nahi munkar diserahkan kepada orang-orang awam, dari mereka orang-orang rendahan dan kebanyakan ini, atau dari mereka para provokator, maka ini lebih berbahaya dan lebih membawa kerusakan kita berlindung kepada Alloh darinya -.”
Beliau berkata : ” Adapun person-person jika mereka mengingkari dengan tangan maka terjadilah fitnah, perselisihan, dan perpecahan. Maka wajib atas setiap orang agar menasehati dengan perkataan, arahan, dan hasungan dan peringatan. Adapun kepala rumah tangga atas anak-anaknya dan sebuah badan di dalam tatanannya sesuai dengan kemampuan-kemampuannya, yaitu PT atau Yayasan atau Perkumpulan atau yang serupa dengannya, demikian juga seorang amir ( pemimpin ) maka dia boleh mengingkari dengan perbuatan, dengan arti kadang dia memenjara atau memukul atau berbuat atau memerintah atau melarang karena dia adalah penguasa, akan tetapi kami tidak berbicara tentang para pemimpin partai-partai, kelompok-kelompok, dan gerakan-gerakan serta tanzhim-tanzhim ( jaringan-jaringan ), sama saja yang terang-terangan sebagaimana yang mereka sangka atau yang rahasia. Kami berbicara tentang penguasa yang syar’i, dengan kaidahnya yang syar’i “.
Beliau berkata : ” Adapun person-person maka wajib atas mereka mengingkari dengan ucapan karena dia tidak mampu mengingkaru dengan perbuatan hingga musibah dan kejelekan tidak semakin membesar “.
Di sini telah datang pertanyaan yang lain atas Syaikh Rahimahullah – : ” Sesungguhnya penguasa meridhai aksi-aksi mogok dan demonstrasi-demonstrasi ini ” mereka berdalil dengan hal itu atas bolehnya, sebagian negara dengan undang-undang pemerintah atau resmi mengatakan : Tidak dilarang demonstrasi-demonstrasi, Syaikh Ibnu Baz berkata : ” Demonstrasi-demonstrasi kejelekannya adalah besar hingga walaupun pemerintah mengizinkan, pemerintah betapapun mengizinkan maka tidak mampu menempatkan setiap pengawas pada setiap orang, atau pada kepala setiap manusia orang yang mengetahui latar belakangnya, kedalaman jiwanya, dan lubuk hatinya, ini semua tidaklah mengetahuinya kecuali Dzat Yang Meliputi segala sesuatu Yang Maha Agung di ketinggianNya dan Maha Agung di atas langitNya “.

[ DAMPAK-DAMPAK NEGATIF DEMONSTRASI ]

Ini adalah lima pokok yang semuanya ditegakkan atas segi syar’i dan landasan-landasan agama, dan tatkala agama hanyalah terkandung di dalam buah-buahnya dan terkandung di dalam dasar-dasarnya, dan termasuk hasil-hasilnya adalah memperbaiki dunia dari segi sosial kemasyarakatan, karena sesungguhnya demonstrasi-demonstrasi seperti ini mengakibatkan kerusakan-kerusakan di dalam masyarakat secara duniawi yang hanya diketahui oleh Alloh.
Di antaranya : Jika kita andaikan bahwa demonstrasi ini atau yang itu sebagaimana dikatakan dalam bahasa sekarang : ” demonstrasi yang bersih dengan niat yang mulia “, apakah ada seseorang yang mampu menelaah atau mengamankan maaf merasa aman dari selundupan para penyelundup, dan masuknya para perusak yang mereka tidak menghendaki bagi umat langgengnya kebersihannya, dan tidak menghendaki bagi umat kebersihan barisannya, maka mereka merusak untuk menimpakan kepada dua kubu, kubu penguasa dari satu sisi, dan kubu rakyat yang melakukan perkara ini dari sisi yang lain.
Perkara yang kedua adalah kerusuhan dan kekacauan yang diakibatkan, dengan hal-hal yang menjadikan umat hampir-hampir kehilangan keamanannya, dan Alloh Azza wa Jalla menjadikan keamanan termasuk buah keimanan :
ﭽ ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ﭼ
” Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk ” ( Al-An’am : 82 ).
Maka sesuai dengan hilangnya keamanan maka di sana hilang dan berkurang keimanan darimu, lihatlah, ambillah pelajaran, dan telaahlah apa yang telah berjalan dan sedang berjalan dan apa-apa yang selalu berjalan dan terjadi dari kericuhan ini dan dari kekacauan ini yang telah meluas dan menghantam banyak dari negeri-negeri kaum muslimin, kita memohon kepada Alloh agar menjadikan kesudahan adalah keselamatan, yang penuh kebaikan, dan agar menepis dari kita dan dari negeri-negeri kaum muslimin fitnah-fitnah dan ujian-ujian yang nampak dan yang tidak nampak.
Perkara yang ketiga : apa yang merupakan hasil kekacauan tersebut dan apa yang merupakan hasil kericuhan tersebut dari penghancuran harta-harta, sama saja milik pribadi atau umum, seseorang yang meletakkan mobilnya di depan rumahnya, dengan alasan apa mereka melemparinya atau membakarnya, lampu lalu lintas merah, kuning, dan hijau yang mengatur lalu lintas kendaraan, apakah faidahnya dari dipecahkan dan dihancurkan serta dipukul, berdasar atas ini semua buatlah analogi, maka bagaimana jika kita mengetahui bahwa kadang di sana ada penghancuran dan pembakaran rumah-rumah, dan yang lainnya dari tempat-tempat.
Dan juga dari ikhthilath ( bercampur aduknya ) yang diharamkan antara para laki-laki dan para wanita, kita melihat di dalam demonstrasi laki-laki dan wanita berdampingan, kami melihat merasa heran dari apa yang kami lihat bahwa para wanita kadang-kadang merekalah yang menggerakkan para laki-laki, merekalah yang mengomando, bahkan kami melihat bahwa seorang wanita menaiki punggung seorang laki-laki dan melambai-lambai dan berteriak, maka apakah cara yang rusak ini, padahal ” Sesungguhnya apa yang di sisi Alloh tidaklah bisa didapat kecuali dengan ketaatan terhadapnya ” sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah ( .
Apa lagi dari para pengikut hawa nafsu yang mempergunakan kesempatam dan alangkah banyaknya mereka pada saat ini, dari melakukan pelecehan terhadap wanita ini yang tidak pernah dibayangkan yang kadang di depannya atau di sampingnya, atau bahkan di atasnya.
Demikian juga dari hasil-hasil yang rusak dan merusak dari perbuatan-perbuatan ini yang jauh dari syari’at, lemahnya aqidah al-wala’ wal baro’ di dalam jiwa, maka kami melihat seroang muslim berjalan di samping orang kafir, seroang da’I yang menyatakan tentang dirinya da’I Islami meletakkan tangannya di tangan orang komunis, kelompok kiri, dan sekuler, orang yang fasiq dan ta’at adalah sama saja, ini menyeru dengan slogannya, dan ini menyeru dengan slogannya, dan tidaklah mengumpulkan keduanya melainkan tujuan yang rusak yang tidak faidahnya kecuali menjerumuskan umat ke dalam bala’ yang lebih besar, fitnah yang lebih besar, dan kerusakan yang lebih besar.
Perkara yang keenam : apa yang terjadi sebagai hasil pertarungan dua kubu dari pembunuhan, menyakiti, melukai, dan memecahkan hingga hampir-hampir hal itu menimpa sebagian orang yang tidak tahu apa-apa dari orang-orang yang lewat, sebagian orang yang bersih yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan mereka dari dekat maupun dari jauh, ternyata mereka semua terperangkap di dalam tempat yang satu, ternyata mereka mendapatkan bala’ yang sama, ternyata mereka semua tertimpa musibah yang sama, apa lagi yang berupa pembunuhan dan yang semacamnya, dan saya mendengar kemarin baru saja, bagaimana laki-laki tersebut membakar dirinya, kemudian keadaan menjadi semakin runyam ketika orang-orang yang lain mengikuti jejaknya, dan yang lain mendapatkan pertunjuk dengan sebab perbuatannya ini, dan mereka demi Alloh tidaklah di atas petunjuk di dalam perbuatan yang keji ini, maka kami mendengar tentang orang yang membakar dirinya di Mesir, di Saudi, di Yaman, di Al-Jazair, dan di Mauritania, dan sampai berita kepada kami bahwa sebagian orang membakar dirinya di ‘Amman sini Wala Haula wala Quwwata Illa Bilahi.
Dan Al-Imam Ath-Thobari berkata : ” Alloh Tabaaraka wa Ta’ala selamanya tidak mengizinkan seorang pun untuk membunuh dirinya “
Dan ini telah dinashkan di dalam Al-Qur’anul Azhim, Alloh Ta’ala berfirman :
ﭽ ﭹ ﭺ ﭻﭼ ﭼ
” dan janganlah kamu membunuh dirimu ” ( An-Nisa’ : 29 ).
Dan tidak boleh dikatakan bahwa tujuan menghalalkan segala cara, karena tujuan di dalam syari’at adalah mulia, demikian juga sarana wajib juga mulia, samasaja.
Yang mengherankan bahwa sebagian orang menamakan orang yang terbakar ini atau yang membakar dirinya sebagai ” pahlawan ” atau ” syahid ” atau ” panglima revolusi “, dan telah benarlah Rasulullah ( tatkala menyebutkan sebagian perkara-perkara yang diharamkan dan memperingatkan kepada sebagian perbuatan-perbuatan yang jelek beliau berabda :
يسمونها بغير اسمها
” Mereka menamakannya dengan selain namanya ” , ini dan ini adalah sama.
Di antara perkara-perkara yang merupakan hasil yang jelek adalah : Semakin memperdalam permusuhan antara pemerintah dan rakyat, Engkau adalah bagian yang tidak terpisahkan dari tatanan negeri ini atau itu, manakah yang lebih agung bagimu, adanya hubungan yang tenang dan stabil antara penguasa dengan penduduk negeri dari segi agama, sosial, dan pribadi, walaupun ketenangan dan kestabilan ini adalah relatif sebagaimana mereka katakan, ataukah adanya hubungan yang rusak, merusak, kemarahan yang meluap-luap, kedengkian yang membara, mengintai, mencari-cari kesalahan, dan membalas dendam, tidak syak lagi di sisi setiap orang yang berakal – dan saya tidak ingin mengatakan setiap orang yang berilmu bahwa aksi-aksi seperti ini dan perbuatan-perbuatan seperti ini semakin menambah kebencian, menambah dendam, semakin menambah jurang pemisah, dengan apa-apa yang tidak memberikan faidah,dan manfaat, bagi pribadi dan masyarakat, dan bagi pemerintah dan rakyat.

[ PENUTUP ]

Maka kita memohon kepada Alloh Yang Maha Agung Rabb ‘Arsy yang agung agar menghilangkan fitnah-fitnah dari kita, yang nampak dan yang tidak nampak, dan agar menjadikan pemimpin kita yang terbaik dari kita, dan agar menjadikan kita layak terhadap Sunnah dan termasuk Ahli Sunnah, dan agar menjadikan kita orang-orang yang menegakkan al-haq, menunjukan kepada yang haq, sesungguhnya Dia Subhanahu adalah Penguasa hal itu dan Mahamampu atasnya, dan sholawat dan salam serta berkah semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad dan atas keluarga dan sahabatnya semuanya, dan akhir seruan kami bahwa segala puji adalah bagi Alloh Rabb semesta alam.

Diterjemahkan oleh Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah dari ceramah Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi yang berjudul Kalimat Haula Ahdaats Mishra yang disampaikan di Masjid Umar bin Khaththab Amman Yordania pada tanggal 23 Shofar 1432 H / 28 Januari 2011 M dan ditranskrip oleh http://www.kulalsalafiyeen.com. Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi adalah salah seorang ulama yang masyhur penulis karya-karya ilmiyyah yang bermanfaat, beliau salah seorang murid senior Syaikh Al-Albani dan salah seorang pendiri Markaz Al-Imam Al-Albani di Yordania..

BERQURBAN BERSAMA MASJID SHOHABIYAT

Design by Ahmad bin Arif Fathul Ulum

بسم الله الرحمن الرحيم

UPDATE

MARI BERQURBAN BERSAMA DI MASJID SHOHABIYAT BEDALI NGANCAR KEDIRI

🎋 Kaum Muslimin yang kami muliakan, In syaa Allah di tahun ini Masjid Shohabiyat Bedali Ngancar Kediri kembali menyelenggarakan penyembelihan hewan Qurban ,

Oleh karena itu kami mengajak Kaum muslimin Untuk Berpartisipasi bersama kami dalam Ibadah ini.

💰 Adapun Rincian Iuran :
1️⃣. Sapi : Rp.2.650.000
2️⃣. Kambing : Rp. 2.000.000

💳 Metode Pembayaran :
1️⃣. Bisa langsung diantarkan ke Masjid Shohabiyat.
2️⃣. Transfer ke Rekening Berikut ;

-BNI Syari’ah Rek. 0971818227

📞 CP :
085736759740
(Abu Faris Hariyanto)

08125934402
(Abu Ahmad Arif Fathul Ulum)

📒 Berikut Daftar Sementara Peserta Hewan Qurban :

1️⃣. Kelompok 1 kurban sapi :

  1. Hamba Alloh Bedali Ngancar
  2. Hamba Alloh Duwet Wates,
  3. Hamba Alloh Bedali Ngancar,
  4. Hamba Alloh Purwodadi
  5. Hamba Alloh Bedali Ngancar,
  6. Hamba AllohPonggok
  7. Hamba Alloh Bedali Ngancar

Qurban Kambing :

  1. Hamba Alloh Bedali Ngancar
  2. Hamba Alloh Tangerang

Mari berlomba-lomba dalam kebaikan,..

(فصل لربك و انحر)
Sholatlah Untuk Tuhanmu, dan Sembelihlah (Hewan Qurban) QS. al Kautsar : 2

جزاكم الله خيرا

IKHLASH, SABAR, DAN SYUKUR

Self reminder …

Oleh Ummu Aisyah Ibnatu Nurkamil

3 hal yang mudah di lisan dan berat untuk diamalkan.

IKHLAS, SABAR dan SYUKUR.

Karena ikhlas adalah pondasi awal dari segala niat lisan dan amalan. Betapa banyak ulama yang menulis tentang keutamaan niat. Bahkan ada salah satu ulama yang mengatakan tentang beratnya menata keikhlasan sehingga lebih berat dari meng” handle” keledai jinak.Hal tersebut menunjukkan betapa ikhlas membutuhkan kesungguhan doa dan upaya.

Ikhlas ketika ia tidak terpengaruh dengan berbagai testimoni manusia.Tidak melambung ketika dipuji dan diapresiasi dan tidak berputus asa ketika dicela dan direndahkan. Semua berjalan lurus meski mungkin tertatih dan terjatuh.Semua karena berjalan menuju satu tujuan yaitu ridhoNya azza wa jalla.

Sabar , amalan yang tanpa batas meski banyak yang berkata sabar ada batasnya.Karena sabar yang tanpa batas akan berbanding lurus dengan pahalanya yang tanpa batas. Jikalau apa yang kita harapkan dan inginkan senantiasa terwujud….
Jikalau apa yang tidak kita inginkan dan harapan tidak pernah menghampiri kita…maka dimanakah letak nya sabar? Karena hakikat bersabar adalah menahan sesuatu yang berat dari jiwa kita.
Dimana sabar adalah hal yang wajib manakala jiwa kita terasa berat. Adapun tingkatan diatasnya adalah ridho dan syukur.

Bersyukur terhadap apapun yang Alloh tetapkan. Yang sesuai dengan harapan kita ataupun yang belum dan tidak sesuai dengan harapan kita. Segala yang mengiringi kehidupan dan waktu kita.Semua itu karena hidup ini adalah ibadah. Sekecil apapun yang kita lakukan kita niatkan ibadah.

Bersyukur dalam berbagai hal. Dari umur kita, ni’mat ni’matNya. Dan mungkin yang terberat adalah bersyukur tentang pasangan kita. Dimana 2 insan yang berbeda. Berbeda dalam begitu banyak hal , telah mengisi waktu dan umur kita. Untuk mensyukuri apa yang berbeda bukanlah hal yang mudah. Demikianlah pernikahan adalah separuh din. Dari banyak dan hiruk pikuk nya kehidupan dan amalan , ia mengambil bagian separuhnya. Salah satu upaya untuk bersyukur adalah dengan putus asanya kita dari apa yang Alloh berikan untuk orang lain ( menukil ceramah Syaikh Abdur Rozaq dg translator ust Firanda Andirja).

Bersyukur membawa kepada kebahagiaan. Dimana jiwa kita lapang dengan ketentuan Nya.Dan adalah hidup ini senantiasa wang sinawang. Senantiasa melihat orang lain dan melupakan ni’mat yang Alloh berikan pada kita.

Jika ikhlas sabar dan syukur adalah amalan hati , lisan dan jawarih…
Sudahkah kita berlomba untuk mengamalkan dan berta’awwun dalam mewujudkannya sehingga kebahagiaan dunia akhirat yang Alloh janjikan akan terwujud ?

ر بنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.
ربنا هب لنا من أزواجنا و ذرياتنا قرة أعين و اجعلنا للمتقين إماما

Edisi belajar menulis

Jazakumulloh Khoir my hubby untuk ilmu dan tentang belajar kehidupan nya.⛈️🌤️🌈

Sama’ dan Ijazah Manzhumah Lughatul Muhaddits Ash-Shughra

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=307320833634072&id=1591998911033844

Ijazah Lughatul Muhaddits Ash-Shugra dari Syaikh Thariq bin Awadhillah

KIAT MENGHADAPI GELOMBANG SYAHWAT DAN SYUBHAT

Ilmu dan Tazkiyah adalah benteng dari ombak syahwat dan syubhat

PEMBOIKOTAN PRODUK ORANG KAFIR

PEMBOIKOTAN PRODUK ORANG KAFIR

Seiring dengan semakin menggilanya orang-orang kafir dalam aksi-aksi syaithan mereka terhadap kaum muslimin mencuatlah seruan-seruan pemboikotan produk-produk orang-orang kafir, menyeru kaum muslimin agar tidak memperjualbelikan produk-produk orang-orang kafir, lebih dari itu mereka keluarkan pernyataan bahwa pemboikotan ini hukumnya fardhu ain atas setiap muslim dan bahwasanya membeli satu saja dari produk-produk orang-orang kafir ini hukumnya haram, dan pelakunya telah berbuat dosa besar !


Tetapi yang sangat mengherankan bahwa para penyeru pemboikotan ini menyerukan pemboikotan produk-produk orang kafir dengan cara-cara orang kafir seperti demonstrasi, agitasi, dan provokasi !


Mereka serukan pemboikotan produk-produk orang kafir dalam keadaan pemikiran-pemikiran orang kafir bercokol di kepala mereka !


Mereka tidak mau memakai produk-produk teknologi orang kafir tetapi tetap memakai produk-produk pemikiran orang-orang kafir dalam bentuk demokrasi, partai, dan toleransi !


Mereka serukan pemboikotan produk-produk orang kafir dan tetap menjadikan orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan dalam lembaga-lembaga dan partai-partai mereka !


Mereka serukan pemboikotan produk-produk orang kafir dalam keadaan diri-diri mereka masih menyerupai orang-orang kafir dalam pakaian-pakaian, pembicaraan, kebiasaan-kebiasaan mereka !…


Mengingat para penyeru pemboikotan ini mengatasnamakan Islam dalam seruan-seruan mereka maka kami merasa perlu membahas aksi pemboikotan produk orang-orang kafir ini dalam timbangan Islam.

WAJIBNYA BARO KEPADA ORANG KAFIR DAN HARAMNYA WALA TERHADAP MEREKA

Di antara pokok-pokok aqidah Islam adalah wajibnya memberikan wala ( loyalitas ) kepada setiap muslim dan baro ( membenci dan memusuhi ) orang-orang kafir, wajib memberikan wala kepada orang-orang yang bertauhid dan baro kepada orang-orang musyrik, inilah agama Ibrahim yang kita semua diperintahkan oleh Alloh agar mengikutinya Alloh ( berfirman :


( قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ (


“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. ( Al-Mumtahanah : 4 )


Alloh ( mengharamkan wala kepada orang-orang kafir semuanya sebagaimana dalam firmanNya :


( يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَُ (


“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. ( Al-Mumtahanah : 4 )

BENTUK-BENTUK WALA KEPADA ORANG-ORANG KAFIR

  1. Menyerupai orang-orang kafir dalam pakaian-pakaian, pembicaraan, dan kebiasaan-kebiasaan mereka.
    Menyerupai orang-orang kafir dalam pakaian-pakaian, pembicaraan, dan yang lainnya menunjukkan kecintaan kepada siapa yang ditirunya, karenanya Rasulullah ( bersabda
  2. من تشبه بقوم فهو منهم

  3. “ Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk mereka “ ( Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya 4/44, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya 4/216, dan ahmad dalam Musnadnya 2/50 dan dikatakan oleh syaikh Al-Albany dalam Irwaul Ghalil : 1269 : Hasan Shahih ).

  4. Diharamkan menyerupai orang-orang kafir dalam ciri-ciri khas mereka dari kebiasaan, peribadahan, dan akhlaq-akhlaq mereka seperti mencukur jenggot, memanjangkan kumis, memkai bahasa-bahasa mereka tanpa ada keperluan, meniru model pakaian mereka dan lain sebagainya.
  5. Memuji orang-orang kafir dan membantu mereka dalam memerangi kaum muslimin.
    Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata : Ini termasuk pembatal keislaman dan sebab kemurtadan “ ( Al-Wala’ wal Baro’ hal. 3 ).
  6. Meminta pertolongan kepada mereka, memberi mereka kedudukan-kedudukan penting, dan menjadikan mereka sebagai teman setia dan penasehat.
    Alloh ( berfirman :
  7. ( يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (

  8. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. ( Ali Imran : 118-119 )

  9. Dari Aisyah bahwasanya Nabi ( keluar untuk perang Badar, ternyata ada seorang musyrik yang mengikuti beliau dan menemui beliau di Harroh, berkata oarang musyrik tersebut : Bagaimana menurut pendapatmu jika aku mengikutimu dan berperang bersamamu ? ,Nabi ( bersabda : Apakah kamu beriman kepada Alloh dan RasulNya ? , orang tersebut menjawab : Tidak , maka Nabi ( bersabda : Kembalilah !, akau tidak mau meminta bantuan kepada seorang yang musyrik ( Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya 3/1450 ).

  10. Nash-nash di atas menunjukkan haramnya menjadikan orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan, larangan meminta pertolongan kepada mereka, memberi mereka kedudukan-kedudukan penting sehingga bisa memata-matai kaum muslimin dan memberikan madharat kepada kaum muslimin.
  11. Memberi nama dengan nama-nama orang-orang kafir.
    Sebagian kaum muslimin memberi nama anak-anak mereka dengan nama-nama orang-orang kafir, padahal Rasulullah ( bersabda :

  12. تسموا باسمي

  13. “ Namakanlah dengan namaku “ ( Muttafaq Alaih, Bukhary 1/52 dan Muslim 3/1682 ).

  14. إن أحب أسمائكم إلى الله عبد الله وعبد الرحمن
    “ Sesungguhnya nama-nama kalian yang paling dicintai oleh Alloh adalah Abdullah dan Abdurrahman “ ( Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya 3/1682 ).
  15. Menghadiri hari raya- hari raya dan perayaan-perayaan orang-orang kafir . ( Lihat Al-Wala wal Baro oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan hal. 2-4 ).

MUAMALAH DENGAN ORANG-ORANG KAFIR BUKAN BERARTI WALA KEPADA MEREKA

Haramnya wala kepada orang-orang kafir bukan berarti haramnya muamalah dengan orang-orang kafir dalam hal jualbeli barang-barang yang mubah dengan mereka, dan memanfaatkan keahlian-keahlian mereka.


Ketika Rasulullah ( berangkat hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar, beliau mengupah seorang kafir dari Bani Dil sebagai penunjuk jalan, dan mengantar keduanya sampai ke Madinah ( Shahih Bukhary 2/790 ).
Rasulullah ( biasa berjual beli dengan orang-orang Yahudi, bahkan ketika beliau meninggal baju besi beliau masih tergadai di tempat orang Yahudi untuk membeli makanan keluarganya ( Shahih Bukhary 3/1068 ).


Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata : Hadits ini menunjukkan bolehnya muamalah dengan orang kafir pada sesuatu yang belum terbukti keharamannya ( Fathul Bari 5/141 ).
Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah ( mengirim utusan kepada orang Yahudi untuk membeli pakaian darinya dengan pembayaran di belakang, tetapi orang Yahudi tersebut menolak ( Diriwayatkan oleh Tirmidy dalam Jaminya 3/518 dan Nasai dalam Al-Mujtaba 7/294 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Sunan Nasai 3/242 ).


Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam berkata : Hadits ini menunjukkan tentang bolehnya muamalah dan jualbeli dengan orang-orang kafir, dan bahwasanya hal ini tidak termasuk muwalah ( loyalitas ) kepada mereka ( Taudhihul Ahkam 4/75 ).

BOLEHKAH MEMAKAI PRODUK ORANG KAFIR ?

Hukum asal segala barang adalah halal sampai datang dalil yang mengharamkannya, tidak ada satupun dari dali Al-Quran dan Sunnah yang melarang seorang muslim memakai produk orang-orang kafir, bahkan telah datang berita yang shahih dari Rasulullah ( bahwasanya beliau pernah dan biasa memakai produk-produk orang kafir dalam kesehariannya, sebagaimana datang dalam hadits-hadits berikut ini :
Rasulullah ( pernah memakai baju buatan Yaman sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah ( ketika sakit beliau keluar untuk sholat dengan memakai baju qithriyyah, yaitu baju bercorak dari Yaman yang terbuat dari katun ( Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 3/257 dan Tirmidy dalam Syamail : 49 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Mukhtashor Syamail Muhammadiyyah hal. 47 ), demikian juga dari hadits Anas juga bahwasanya pakaian yang paling disukai oleh Rasulullah ( adalah baju Hibrah yaitu baju katun berhias yang didatangkan dari Yaman ( Muttafaq Alaih ,Shahih Bukhary dalam Kitabul Libas dan Shahih Muslim : 2079 ) , dan Yaman pada waktu itu penduduknya kebanyakan adalah orang-orang kafir.


Rasulullah ( pernah dan memakai khuf buatan Habasyah ( Ethiopia ) sebagaimana dalam hadits Buraidah bin Khushoib bahwasanya Najasyi menghadiahkan kepada Rasulullah ( dua buah khuf yang berwarna hitam, maka Rasulullah ( memakainya dan mengusap keduanya ketika berwudhu ( Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya : 155, Ibnu Majah dalam Sunannya: 3620, dan Tirmidzy dalam Jaminya : 2821 dan Syamailnya : 58 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Mukhtashor Syamail hal. 52 ), dan Habasyah waktu itu adalah negeri kafir.


Rasulullah ( pernah dan memakai cincin perak buatan Habasyah sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah memiliki cincin dari perak yang didatangkan dari Habasyah ( Muttafaq Alaih, Shahih Bukhary :dalam kitabul Libas dan Shahih Muslim : 2094 ), sepeninggal Rasulullah ( cincin tersebut dipakai olah Abu Bakar, Umar dan Utsman ( Muttafaq Alaih, Shahih Bukhary :dalam kitabul Libas : 54 dan Shahih Muslim dalam Kitabul Libas ).


Rasulullah ( pernah memenuhi undangan makan dari orang kafir sebagaimana dalam hadits Anas bahwasanya ada seorang yahudi yang mengundang Rasulullah ( makan roti dan lemak di rumahnya maka Rasulullah ( menghadiri undangannya ( diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 3/210 dan Ibnu Sad dalam Thabaqah Kubra 1/407 dengan sanad yang shahih ) dan dari Anas juga bahwasanya Rasulullah ( memiliki tetangga orang Parsi yang enak masakannya kemudian dia mengundang Rasulullah ( makan di rumahnya, maka datanglah Rasulullah ( dan Aisyah ke rumah orang Parsi tersebut memenuhi undangannya ( Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya : 2037 ) .


Rasulullah ( pernah minum dan berwudhu dari bejana wanita musyrik sebagaimana dalam hadits Imran bin Hushoin ( Muttafaq Alaih, Shahih Bukhary 1/131 dan Shahih Muslim 1/475 ).

SERUAN PEMBOIKOTAN PRODUK ORANG KAFIR

Seiring dengan semakin menggilanya orang-orang kafir dalam aksi-aksi syaithan mereka terhadap kaum muslimin mencuatlah seruan-seruan pemboikotan produk-produk orang-orang kafir, tidak boleh memperjualbelikan produk-produk mereka , dan bahwa pemboikotan ini hukumnya fardhu ain atas setiap muslim dan bahwasanya membeli satu saja dari barang-barang ini hukumnya haram, dan pelakunya telah berbuat dosa besar, membantu Amerika dan membantu Yahudi memerangi kaum muslimin !.
Tidak diragukan lagi bahwa seruan-seruan ini diwarnai oleh semangat yang berlebihan dan sikap ghuluw sehingga melanggar batas-batas syari dan menghukumi sesuatu dengan akal dan perasan semata tanpa melihat kepada dalil-dalil yang syari.


Tidakkah sampai kepada para penyeru pemboikotan ini bahwa Nabi ( pernah membeli dari orang Yahudi untuk makanan keluarganya, ketika Nabi ( wafat baju besinya tergadai di tempat orang Yahudi?!. Tidakkah sampai kepada mereka bahwa Nabi ( pernah menerima hadiah dari orang-orang kafir ?! Tidakkah sampai kepada mereka bahwa Nabi ( biasa memakai pakaian buatan orang-orang kafir ?!


Yang sangat mengherankan lagi kontradiksi yang nyata dari para penyeru pemboikotan ini, mereka serukan pemboikotan produk-produk orang kafir dalam keadaan pemikiran-pemikiran orang kafir bercokol di kepala mereka !
Mereka serukan pemboikotan produk-produk orang kafir dengan cara-cara orang kafir seperti demonstrasi, agitasi, dan provokasi !
Mereka tidak mau memakai produk-produk teknologi orang kafir tetapi tetap memakai produk-produk pemikiran orang-orang kafir dalam bentuk demokrasi, partai, dan toleransi !
Mereka serukan pemboikotan produk-produk orang kafir dan tetap menjadikan orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan dalam lembaga-lembaga dan partai-partai mereka !
Mereka serukan pemboikotan produk-produk orang kafir dalam keadaan diri-diri mereka masih menyerupai orang-orang kafir dalam pakaian-pakaian, pembicaraan, kebiasaan-kebiasaan mereka !.
Kontradiksi-kontradiksi yang sangat memprihatinkan ini menunjukkan kepada hal yang lebih memprihatinkan lagi, yaitu bahwa banyak orang-orang yang bersemangat untuk memperjuangkan Islam tetapi jahil dengan hukum-hukum Islam !.


Jual beli dengan orang-orang kafir dan memakai produk-produk mereka dibolehkan dalam syariat sebagaimana dalam uraian pembahasan di atas, adapun pemboikotan produk-produk orang kafir bukanlah wewenang person-person tetapi wewenang waliyyul amr untuk kemashlahatan kaum muslimin, karena urusan pemboikotan produk suatu negara termasuk dalam siyasah daulah yang harus disetujui oleh imam.


Kami serukan kepada para penyeru pemboikotan produk-produk teknologi orang-orang kafir ini agar meninggalkan semua pemikiran , aqidah, dan kebiasaan-kebiasaan orang-orang kafir, dan bila mereka benar-benar ingin memperjuangkan Islam hendaknya mereka kembali kepada syariat Islam agar Islam kembali kejayaannya sebagaimana dalam sabda Rasulullah (:


إذا تبايعتم بالعينة وأخذتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد سلط الله عليكم ذلا لا ينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم
“ Jika kalian telah berjual beli dengan cara ‘iinah, disibukkan oleh ternak dan tanaman, dan kalian tinggalkan jihad fi sabilillah, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian ( Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya : 3462, Baihaqy dalam Sunan Kubro 5/316 dan Thobrony dalam Musnad Syamiyyin hal. 464 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Silsilah Shahihah : 11 ).


Umar bin Khaththab berkata :


إنا كنا أذل قوم فأعزنا الله بالإسلام فمهما نطلب العز بغير ما أعزنا الله به أذلنا الله


“ Kami dulu adalah kaum yang paling hina maka Alloh muliakan kami dengan Islam, selama kami mencari izzah dengan selain Islam maka Alloh akan menghinakan kami “ ( Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Mustadraknya 1/130 dan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya 7/10 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Targhib: 2893 ).

FATWA PARA ULAMA TENTANG PEMBOIKOTAN PRODUK ORANG KAFIR

  1. Fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah :
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah membeberkan kedunguan orang-orang rafidhah dalam masalah ini dengan mengatakan : Adapun kedunguan-kedunguan mereka maka banyak sekali, suatu misal di antara orang-orang rafidhah ini ada yang tidak mau minum dari sumur yang digali oleh Yazid bin Muawiyah padahal Rasulullah ( dan para sahabatnya biasa minum dari sumur dan sungai yang digali oleh orang-orang kafir, sebagian dari orang-orang rafidhah ini ada yang tidak mau makan buah tut dari Syam padahal merupakan hal yang diketahui bahwa Rasulullah ( dan para sahabatnya biasa makan barang-barang yang didatangkan dari negeri-negeri kafir seperti keju, demikian juga mereka memakai pakaian tenunan orang kafir, bahkan kebanyakan pakaian yang mereka pakai adalah produk orang kafir … ( Minhajus Sunnah 1/38 ).
  2. Fatwa Lajnah Daimah Nomor : 21176 Tanggal 25/12/1421 H :
    Pertanyaan : Sekarang ini begitu gencar seruan pemboikotan produk-produk Amerika seperti Pizza Hut, Mc Donald dll., apakah kita ikuti seruan ini ? dan apakah muaamalah jual beli dengan orang-orang kafir di darul harbi dibolehkan ataukah hanya dibolehkan dengan muahadin, dzimmiyyin, dan mustamanin di negeri kita saja ?.
    Jawaban : Dibolehkan membeli produk-produk yang mubah dari mana saja asalnya, selama Waliyyul Amr tidak memerintahkan pemboikotan dari suatu produk untuk kemashlahatan Islam dan kaum muslimin, karena hukum asal dalam jual beli adalah halal berdasarkan firman Allah ( :
    (وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ(
    “dan Allah telah menghalalkan jual beli “ ( Al-Baqarah : 275 ),
    Nabi ( pernah membeli barang dari orang Yahudi.( Lajnah Daimah Ilmiyyah Lil Ifta ).
  3. Fatwa Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz :
    Ada seorang yang bertanya kepada Samahatusy Syaikh : Barang-barang yang ada di pasaran diketahui bahwa pemiliknya adalah seorang syiah rafidhah, apakah perlu orang-orng diperingatkan darinya dengan dikatakan : Jangan membeli barang-barang ini!, sehingga mereka tidak mendukung perdagangannya ?
    Samahatusy Syaikh menjawab : Hal ini perlu dilihat dengan seksama. Membeli dari orang kafir dibolehkan karena Nabi ( pernah membeli barang dari orang Yahudi, ketika Nabi ( wafat baju besinya tergadai di tempat orang Yahudi untuk membeli makanan keluarganya. Tetapi hendaknya aqidah orang rafidhah ini ditunjukkan agar orang rafidhah ini tidak dijadikan oleh kaum muslimin sebagi sahabat dan teman, adapun sekedar membeli sesuatu darinya jika diperlukan maka perkaranya mudah.Tidak boleh seorang muslim memberikan wala kepada orang-orang rafidhah dan tidak boleh makan makanan dan daging sembelihan mereka karena sembelihan mereka haram ( Dari Kaset Fatawa Ulama dalam masalah Jihad dan Aksi Bunuh Diri dari Tasjilat Minhajus Sunnah Riyadh ).
  4. Fatwa Fadhilatusy Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin :
    Pertanyaan : Bagaimana pendapat Syaikh tentang penyebaran seruan pemboikotan produk-produk Amerika untuk melemahkan perekonomian Amerika karena aksi-aksi syaithan Amerika terhadap kaum muslimin ?
    Syaikh menjawab : Belilah yang dihalalkan Alloh dan tinggalkanlah apa yang diharamkan Alloh ! ( Kaset Liqo Bab Maftuh No. 64 ).
    Pertanyaan : Fadhilatusy Syaikh ada minuman Coca Cola produk perusahaan Yahudi, bagaimana hukum meminum minuman ini dan bagaimana hukum menjualnya? Apakah kalau menjualnya tergolong kerjasama dalam dosa dan permusuhan ?
    Syaikh menjawab : Apakah belum sampai kepadamu bahwa Nabi ( pernah membeli dari orang Yahudi untuk makanan keluarganya, ketika Nabi ( wafat baju besinya tergadai di tempat orang Yahudi?!. Apakah belum sampai kepadamu bahwa Nabi ( pernah menerima hadiah dari orang Yahudi ?!.
    Jika kita mengatakan tidak boleh membeli produk mereka maka akan luput dari kita banyak sekali hal-hal yang bermanfaat, seperti mobil-mobil buatan Yahudi, dan hal-hal lain yang bermanfaat yang tidak membuatnya kecuali orang Yahudi.
    Memang benar bahwa minuman seperti ini kadang ada unsur madharat dari orang Yahudi, karena orang-orang Yahudi tidak bisa dipercaya, karena ini mereka letakkan racun pada daging kambing yang mereka hadiahkan kepada Rasulullah ( dan Rasulullah ( meninggal dengan mengatakan : Tidak henti-hentinya aku merasakan sakit karena makanan yang aku makan di Khaibar, dan inilah saat terputusnya urat nadiku dari dunia dengan sebab racun itu maksudnya : kematianku, karena inilah Az-Zuhry berkata : Sesungguhnya Nabi ( wafat karena dibunuh oleh orang-orang Yahudi , Semoga Alloh melaknat orang-orang yahudi, dan melaknat orang-orang nashara, mereka semua tidak ada yang bisa dipercaya, tetapi aku menduga bahwa barang yang sampai kepada kita ini pasti sudah dicek dan diuji, dan diketahui apakah berbahaya atau tidak ( Kaset Liqo Bab Maftuh No. 61 dan 70 ).
  5. Fatwa Syaikh Al-Allamah Shalih bin Fauzan Al-Fauzan :
    Pertanyaan : Fadhilatusy Syaikh terpampang di koran-koran saat ini seruan pemboikotan produk-produk Amerika, tidak boleh memperjualbelikannya, di antaranya apa yang tertulis hari ini para ulama kaum muslimin menyerukan pemboikotan dan bahwa aksi ini hukumnya fardhu ain atas setiap muslim dan bahwasanya membeli satu saja dari barang-barang ini hukumnya haram, dan pelakunya telah berbuat dosa besar, membantu Amerika dan membantu Yahudi memerangi kaum muslimin, saya mengharap dari Fadhilatusy Syaikh agar menjelaskan masalah ini !
    Fadhilatusy Syaikh menjawab : Yang pertama : Saya meminta salinan suratkabar atau perkataan yang disebutkan oleh penanya.
    Yang kedua : Hal ini tidak benar, para ulama tidak berfatwa pengharaman pembelian produk-produk Amerika, produk-produk Amerika tetap datang dan dijual di pasaran kaum muslimin, tidaklah memberikan madharat kepada Amerika jika Engkau tidak membeli produk-produk mereka, tidak boleh diboikot produk-produk tertentu kecuali jika waliyyul amr mengeluarkan keputusan, jika waliyyul amr mengeluarkan keputusan pemboikotan terhadap suatu negeri maka wajib diboikot. Adapun jika ada person-person berbuat ini dan itu, dan berfatwa maka ini berarti mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Alloh ( Dari Kaset Fatawa Ulama dalam masalah Jihad dan Aksi Bunuh Diri dari Tasjilat Minhajus Sunnah Riyadh dan Lihat Fatawa Ulama fil Muqathaah oleh Muhammad bin Fahd Al-Hushoin ).

KESIMPULAN

Di antara pokok-pokok aqidah Islam adalah wajibnya memberikan wala ( loyalitas ) kepada setiap muslim dan baro ( membenci dan memusuhi ) orang-orang kafir.
Diharamkan menyerupai orang-orang kafir dalam ciri-ciri khas mereka dari kebiasaan, peribadahan, dan akhlaq-akhlaq mereka seperti mencukur jenggot, memanjangkan kumis, memkai bahasa-bahasa mereka tanpa ada keperluan, meniru model pakaian mereka dan lain sebagainya.
Haramnya wala kepada orang-orang kafir bukan berarti haramnya muamalah dengan orang-orang kafir dalam hal jualbeli barang-barang yang mubah dengan mereka, dan memanfaatkan keahlian-keahlian mereka.
Telah datang hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah ( bahwasanya beliau pernah dan biasa memakai produk-produk orang kafir dalam kesehariannya.
Pemboikotan produk-produk orang kafir bukanlah wewenang person-person tetapi wewenang waliyyul amr untuk kemashlahatan kaum muslimin, karena urusan pemboikotan produk suatu negara termasuk dalam siyasah daulah yang harus disetujui oleh imam.

والله أعلم بالصواب

Disusun oleh : Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

Pernah diterbitkan di dalam Majalah Al-Furqon Edisi 12 Tahun IV, hal. 28-29

NASEHAT SYAIKH SULAIMAN AR-RUHAILI KEPADA PARA PENUNTUT ILMU TERKAIT WABAH CORONA

Syaikh Prof. Dr. Sulaiman bin Salimullah Ar-Ruhaili berkata : Nasehatku kepada para penuntut ilmu di semua tempat agar berdiri satu barisan di belakang para pemerintah mereka di dalam menanggulangi penyakit Corona dan agar bersungguh-sungguh mengarahkan manusia untuk menutup jalan di hadapan orang-orang Khawarij yang menggunakan kesempatan krisis wabah untuk merusak agama dan dunia manusia dengan argumen-argumen dusta dengan dalih kepedulian atas agama

( Dari Akun Twitter Syaikh tertanggal 16 Maret 2020 )

KEBENARAN DI SISI ALLOH ADALAH SATU

KEBENARAN DI SISI ALLOH ADALAH SATU SEDANGKAN YANG LAIN ADALAH SALAH

Allah Ta’ala berfirman:

( فماذا بعد الحق إلا الضلال(
“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan ” “ (Yunus : 32)

Al-Imam Al-Qurthuby berkata : ” Ayat ini memastikan bahwa tidak ada sesudah kebenaran dan kesesatan kedudukan ketiga dalam masalah ini; yaitu masalah tauhidullah, demikian juga di dalam perkara-perkara yang serupa, yaitu dalam masalah-masalah pokok, maka kebenaran yang ada padanya adalah pada satu sisi… Sesungguhnya salafush shalih berdalil dengan keumuman ayat ini atas semua kebatilan ” ( Tafsir Qurthuby 8/336 ).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

( وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا(

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai “ (Ali Imran)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

( وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَات (

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka “ (Ali Imran)

Al-Imam Ibnul Qayyim berkata : ” Ayat-ayat yang melarang perselisihan dalam agama yang mengandung celaan pada perselisihan tersebut, semuanya merupakan persaksian yang jelas bahwa kebenaran di sisi Alloh adalah satu, adapun yang selainnya maka adalah merupakan kesalahan, seandainya semua pendapat itu benar, maka Alloh dan RasulNya tidak meungkin melarang dan mencela hal yang benar ” ( Mukhtashor Shawa’iq Mursalah 2/566 ).

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : Jika seorang hakim menghukumi dengan ijtihadnya, kemudian dia benar, maka dia mendapat dua pahala, jika dia menghukumi kemudian dia salah, maka dia mendapat satu pahala ( Muttafaq Alaih).

Hadits ini menunjukkan dengan jelas bahwa kebenaran berada di satu sisi, karena pendapat yang menyelisihi adalah salah.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam telah mengkhabarkan bahwa ummatnya akan berpecahbelah menjadi 73 kelompok, dan bahwasanya yang selamat hanya satu. Al-Imam Asy-Syathiby berkata : “ Sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam : “ Kecuali satu ( yang selamat ) “ merupakan nash bahwa kebenaran adalah satu, jikasaja kebenaran itu banyak maka Rasulullah tidak mungkin mengatakan “ Kecuali satu “ “ ( Al-I’tishom 2/249 ).

KEBENARAN AQIDAH SEBAB MENDAPATKAN KEBENARAN

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “ Siapa saja yang mau menelaah keadaan-keadaan dunia, maka akan menjumpai bahwa keadaan kaum muslimin lebih tajam dan lebih benar akalnya, dan bahwasanya kaum muslimin mendapatkan hakekat-hakekat ilmu dan amal dalam waktu yang singkat dalam kadar yang berlipatganda dibandingkan dengan umat-umat yang lainnya dari berbagai kurun dan generasi, demikian juga ahli sunnah dan hadits, Engkau dapati mereka mendapatkan hal itu semua, hal ini disebabkan karena keyakinan yang benar dan kokoh memperkuat jangkauan akal dan membenarkannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

( و الذين اهتدوا زادهم هدى (

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Alloh menambah petunjuk kepada mereka “ ( Muhammad : 17 ) “ ( Majmu’ Fatawa : 14/33 ).

PEMAHAMAN SALAF PENYELAMAT DARI PERSELISIHAN

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :
“ Sebagaimana tidak ada pada generasi-generasi yang lebih sempurna dari generasi sahabat, demikian juga tidak ada dalam kelompok-kelompok yang lebih sempurna dari para pengikut sahabat, siapa saja yang lebih ittiba’ kepada hadits’, sunnah, dan atsar-atsar sahabat, maka dia lebih sempurna. Maka para pengikut sahabat lebih pantas mendapatkan persatuan, petunjuk, dan I’tisham kepada tali Alloh, dan mereka sangat jauh dari perpecahan, perselisihan, dan fitnah. Dan setiap yang jauh dari hadits’, sunnah, dan atsar-atsar sahabat, maka dia lebih jauh dari rahmat dan lebih masuk ke dalam fitnah. Tidak ada kesesatan dan kebatilan dalam kalangan manusia yang lebih banyak dari yang ada pada kelompok rafidhah “ ( Minhajus Sunnah 6/368 ).

Abu Ahmad Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

MANHAJ SUNNAH DALAM MENYIKAPI HADITS-HADITS FITNAH

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
➖➖➖➖➖➖
📣 INFO TABLIGH AKBAR
➖➖➖➖➖➖
In syaa Allah,

📓 | Manhaj Sunnah dalam menyikapi Hadits- hadits Fitnah

🎙 | Bersama Ustadz Arif Fathul Ulum, Lc Hafidzahullahu Ta’ala
Alumnus S-1 Univ. Islam Madinah

🗓 | Ahad, 1 Jumadal Akhiroh 1441 H (26 Januari 2020)
⏳ | Pukul 09.00 – Selesai WIB

🏠 | Masjid At-Tauhid, Ponpes Al-Manshur, Tegowangi, Plemahan, Kab. Kediri

Lokasi: https://goo.gl/maps/GBXaY7J8EYTQPbGX9

📝 | Disarankan untuk membawa buku catatan dan alat tulis.
➖➖➖➖
🚌 | Umum [Muslim & Muslimah]
📢 | Mohon bantu sebarkan informasi kajian ini
➖➖➖➖
Contact Person
📱| 082139247101
Lajnah Dakwah Al-Manshur
➖➖➖➖➖➖
👣 Semoga Allah ta’ala memudahkan jalan kita menuju Surga. Aamiin.

☀Baarakallaahu fiik ☀

BAIAT SUNNAH DAN BAIAT BID’AH

KEPADA SIAPAKAH BAIAT DIBERIKAN ?

Baiat tidak diberikan kecuali kepada imam sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Amr bin Ash di atas, dan imam yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah yang sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Ahmad : “Tahukah kamu, apakah imam itu ? Yaitu kaum muslimin berkumpul atasnya, dan semuanya mengatakan : “Inilah imam” (Masa’il al-Imam Ahmad 2/185 riwayat Ibnu Hani’ ).
Al-Imam Hasan bin Ali Al-Barbahary berkata : Barangsiapa yang menjadi khalifah dengan kesepakatan manusia dan keridhaan mereka, maka dia adalah amirul mukminin, tidak dihalalkan atas siapapun untuk menginap satu malam dalam keadaan tidak memandang bahwa dia memiliki imam ( Syarhus Sunnah hal. 69-70 )


Al-Imam Al-Qurthubi berkata:”Adapun menegakkan dua atau tiga imam dalam satu masa dan dalam satu negeri, maka tidak diperbolehkan menurut ijma” ( Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an 1/273 ).


Baiat kepada penguasa yang muslim ini tidak boleh dibatalkan walaupun penguasa muslim tersebut adalah seorang yang fasiq atau zhalim, sebagaimana dalam hadits Hudzaifah bahwasanya Rasulullah e bersabda:


يكون بعدي أئمة لا يهتدون بهداي ولا يستنون بسنتي وسيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إنس قال قلت كيف أصنع يا رسول الله إن أدركت ذلك قال تسمع وتطيع للأمير وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك


” Akan datang sesudahku para imam yang tidak memakai petunjukku dan tidak memakai sunnahku, di antara mereka ada para manusia hati mereka hati syaithan di dalam tubuh manusia ” Hudzaifah berkata : Bagaimana yang aku perbuat wahai Rasulullah jika aku menjumpai hal itu ? ,Rasulullah e bersabda: Hendaknya Engkau mendengar dan taat kepada amir, walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu ( Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya 3/1476 ).


Ketika para penduduk Madinah memberontak kepada Yazid bin Muawiyah maka Ibnu Umar mengumpulkan keluarga dan anak-anaknya, dia memuji kepada Alloh dan mengatakan : Sesungguhnya kita telah membaiat Yazid atas baiat Alloh dan RasulNya, dan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah e bersabda: Sesungguhnya orang yang berkhianat akan ditegakkan bagi dia bendera pada hari kiamat, dikatakan inilah pengkhianatan fulan , dan sesungguhnya pengkhianatan yang terbesar sesudah kesyirikan adalah jika seorang membaiat seseorang atas baiat Alloh dan RasulNya, kemudian dia melanggar baiatnya ( Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dalam Musnadnya 8/84 dengan sanad yang shahih dan diriwayatkan juga oleh Bukhary dalam Shahihnya 13/68 dengan makna yang sama).


Yang sunnah adalah satu imam untuk kaum muslimin di seluruh dunia, tetapi ketika kaum muslimin terbagi menjadi beberapa negeri dan sulit disatukan, maka masing-masing penguasa negeri adalah imam yang wajib dibaiat dalam ketaatan kepadanya sesuai dengan batasan-batasan syari, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Yang sunnah hendaknya seluruh kaum muslimin memiliki satu imam, yang lain adalah perwakilan-perwakilannya, jika terjadi keadaan di mana umat menyelisihi hal ini karena sebab kemaksiatan atau ketidakmampuan, atau sebab yang lain, sehingga terjadilah beberapa imam negeri ; maka dalam keadaan seperti ini wajib atas setiap imam agar menegakkan hudud, dan menunaikan hak-hak … ( Majmu Fatawa 34/175-176 ).


Al-Imam Syaukany berkata : Sesudah menyebarnya Islam, meluasnya wilayahnya, dan berjauhan batas-batasnya, merupakan hal yang dimaklumi bahwa masing-masing wilayah memiliki seorang imam atau penguasa, yang tidak berlaku kekuasaannya di wilayah yang lain.
Maka tidak mengapa dengan terjadinya beberapa imam dan penguasa negeri, dan wajib ditaati masing-masing penguasa negeri sesudah dilakukan baiat atasnya oleh penduduk wilayah masing-masing … ( Sailul Jarrar 4/512 ).


Syaikh Muhammad bin Abdul wahhab berkata : Para imam dari setiap madzhab telah sepakat bahwa barangsiapa yang menguasai suatu negeri, maka dia memiliki hukum imam dalam segala sesuatu, seandainya tidak seperti ini tidaklah tegak dunia; karena kaum muslimin sejak zaman yang lama, sebelum zaman Al-Imam Ahmad hingga sekarang, belum pernah bersatu di bawah satu imam ( Durar Saniyyah 7/239 ).

BAIAT-BAIAT YANG BIDAH

Baiat yang bidah adalah baiat yang diberikan kepada selain imam, seperti baiat-baiat yang diberikan kepada kelompok-kelompok Islam, jaringan-jaringan rahasia , dan gerakan-gerakan Islam bawah tanah .
Umar bin Khaththab berkata : Barangsiapa yang membaiat seorang amir tanpa permusyawaratan kaum muslimin maka tidak sah baiatnya ( Diriwayatkan oleh Bukhary dalam Shahihnya 1/2506 dan Ahmad dalam Musnadnya 1/55 dan lafadznya adalah lafadz Ahmad ).


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Sesungguhnya Nabi e bersabda memerintahkan agar mentaati para imam yang ada yang dikenal, yang mereka memiliki kekuasaan sehingga bisa mengatur urusan manusia, tidak ada ketaatan kepada orang yang ghaib dan majhul, dan tidak ada ketaatan atas seseorang yang tidak memiliki kemampuan dan kekuasaan sama sekali ( Minhajus Sunnah 1/115 ).


Syaikh Abdus Salam bin Barjas berkata : Maka barangsiapa yang mengangkat dirinya pada kedudukan waliyyul amr yang memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk memerintah manusia, dia seru suatu jamaah untuk mendengar dan taat kepadanya, atau jamaah tersebut memberikan baiat kepadanya yang mengharuskan mendengar taat kepadanya, dalam keadaan waliyyul amr yang sesungguhnya ada dan nampak ; maka sungguh orang seperti ini telah menyelisihi Alloh dan RasulNya, dan menyeleweng dari nash-nash syari.
Tidak wajib ketaatan kepadanya, bahkan haram taat kepadanya, karena dia tidak punya wewenang dan kemampuan samasekali…
Inilah yang dilakukan oleh banyak jamaah-jamaah Islam saat ini, mereka angkat salah seorang dari kalangan mereka sebagai amir dengan sembunyi-sembunyi- mereka wajibkan atas para pengikut mereka untuk mendengar dan taat kepadanya. Baiat seperti ini adalah merupakan pembodohan kepada jiwa-jiwa manusia dan mempermainkan syariat … ( Muamalatul Hukkam hal. 30-31 ).


Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid berkata : Ketahuilah bahwasanya di dalam Islam hanya ada satu baiat saja yaitu pada imamah uzhma, yaitu baiat secara menyeluruh, yang terjadi dengan kesepakatan ahli Syaukah ( kekuatan ) wal Hill wal Aqd dalam umat.
Sama saja apakah baiat tersebut terjadi dengan cara yang diridhoi oleh Alloh dan RasulNya, seperti baiat terhadap Khulafaur Rasyidin atau dengan jalan ghalabah ( seseorang menguasai negara dengan merebut kekuasaan dan dia bisa menguasai keadaan ).
Baiat inilah yang dengannya seorang imam pemegang urusan kaum muslimin bisa melaksanakan maksud-maksud wilayah,yaitu : kemampuan, kekuasaan, kekuatan militer, dan pertahanan. Sehingga dia bisa menegakkan hukum-hukum Islam seperti hudud, pembagian kekayaan, memilih pegawai-pegawai, jihad melawan musuh, menegakkan haji , sholat ied, jumat dan jamaah, dan yang selainnya dari maksud-maksud wilayah sesuai dengan batasan syari.
Tidak henti-hentinya urusan umat berjalan seperti ini, tidak mengenal baiat bagi siapa saja yang peringkatnya di bawah imamah kubra.
Kemudian datanglah generasi berikutnya, yang kemudian terseret ke dalam bidah dan ahwa, datang bidah-bidah thariqah yang disebut dengan baiat ridhaiyyah, disebut juga dengan baiat istitsnaiyyah, atau ahdul masyayikh, atau aqdu thariq, atau mitsaqu thariq, ini semua adalah baiat-baiat yang bidah, tidak berlandaskan dalil dari Kitab dan Sunnah, maupun amalan sahabat.
Baiat ini telah diingkari oleh para ulama, mereka sangat mengingkarinya dan menjelaskan bahwa semua itu tidak ada landasannya.
Kemudian model baiat-baiat bidah ini berpindah dengan baju baru ke sebagian jamaah-jamaah Islam kontemporer, sampai terjadi banyak jamaah-jamaah di dalam satu negeri yang memiliki berbagai macam baiat yang diwajibkan atas para pengikutnya.
Masing-masing menyeru agar semua mengikuti jamaah mereka, sehingga hilanglah dari mereka perjanjian yang diwajibkan oleh Rasulullah e kepada jamaah kaum muslimin, yaitu hendaknya mereka selalu mengikuti apa yang ditempuh oleh Rasulullah e dan para sahabatnya.
Demikianlah tubuh umat Islam tercabik-cabik dengan adanya baiat-baiat kelompok-kelompok thariqah di satu sisi dan baiat-baiat hizbiyyah di sisi lain.
Jadilah para pemuda Islam dalam kebingungan ke kelompok mana dia harus bergabung, dan kepada pimpinan gerakan mana dia harus berbaiat ( Hukmul Intima ilal Firaq wal Ahzab wal Jamaah Islamiyyah hal. 161-163 ).


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Tidak diperbolehkan bagi seorangpun untuk mengambil suatu perjanjian atas seseorang agar dia selalu menyetujui apa yang dia kehendaki, memberikan loyalitas kepada siapa saja disukai oleh yang dia baiat, memusuhi siapa saja yang memusuhi orang yang dia baiat, bahkan orang yang berbuat seperti ini adalah seperti model Jenghis Khan yang menjadikan siapa saja yang cocok dengan mereka adalah teman yang loyal, dan siapa saja yang menyelisihinya adalah musuh yang harus dibenci ( Majmu Fatawa 28/16 ).