NASEHAT SYAIKH SULAIMAN AR-RUHAILI KEPADA PARA PENUNTUT ILMU TERKAIT WABAH CORONA

Syaikh Prof. Dr. Sulaiman bin Salimullah Ar-Ruhaili berkata : Nasehatku kepada para penuntut ilmu di semua tempat agar berdiri satu barisan di belakang para pemerintah mereka di dalam menanggulangi penyakit Corona dan agar bersungguh-sungguh mengarahkan manusia untuk menutup jalan di hadapan orang-orang Khawarij yang menggunakan kesempatan krisis wabah untuk merusak agama dan dunia manusia dengan argumen-argumen dusta dengan dalih kepedulian atas agama

( Dari Akun Twitter Syaikh tertanggal 16 Maret 2020 )

KEBENARAN DI SISI ALLOH ADALAH SATU

KEBENARAN DI SISI ALLOH ADALAH SATU SEDANGKAN YANG LAIN ADALAH SALAH

Allah Ta’ala berfirman:

( فماذا بعد الحق إلا الضلال(
“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan ” “ (Yunus : 32)

Al-Imam Al-Qurthuby berkata : ” Ayat ini memastikan bahwa tidak ada sesudah kebenaran dan kesesatan kedudukan ketiga dalam masalah ini; yaitu masalah tauhidullah, demikian juga di dalam perkara-perkara yang serupa, yaitu dalam masalah-masalah pokok, maka kebenaran yang ada padanya adalah pada satu sisi… Sesungguhnya salafush shalih berdalil dengan keumuman ayat ini atas semua kebatilan ” ( Tafsir Qurthuby 8/336 ).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

( وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا(

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai “ (Ali Imran)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

( وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَات (

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka “ (Ali Imran)

Al-Imam Ibnul Qayyim berkata : ” Ayat-ayat yang melarang perselisihan dalam agama yang mengandung celaan pada perselisihan tersebut, semuanya merupakan persaksian yang jelas bahwa kebenaran di sisi Alloh adalah satu, adapun yang selainnya maka adalah merupakan kesalahan, seandainya semua pendapat itu benar, maka Alloh dan RasulNya tidak meungkin melarang dan mencela hal yang benar ” ( Mukhtashor Shawa’iq Mursalah 2/566 ).

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : Jika seorang hakim menghukumi dengan ijtihadnya, kemudian dia benar, maka dia mendapat dua pahala, jika dia menghukumi kemudian dia salah, maka dia mendapat satu pahala ( Muttafaq Alaih).

Hadits ini menunjukkan dengan jelas bahwa kebenaran berada di satu sisi, karena pendapat yang menyelisihi adalah salah.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam telah mengkhabarkan bahwa ummatnya akan berpecahbelah menjadi 73 kelompok, dan bahwasanya yang selamat hanya satu. Al-Imam Asy-Syathiby berkata : “ Sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam : “ Kecuali satu ( yang selamat ) “ merupakan nash bahwa kebenaran adalah satu, jikasaja kebenaran itu banyak maka Rasulullah tidak mungkin mengatakan “ Kecuali satu “ “ ( Al-I’tishom 2/249 ).

KEBENARAN AQIDAH SEBAB MENDAPATKAN KEBENARAN

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “ Siapa saja yang mau menelaah keadaan-keadaan dunia, maka akan menjumpai bahwa keadaan kaum muslimin lebih tajam dan lebih benar akalnya, dan bahwasanya kaum muslimin mendapatkan hakekat-hakekat ilmu dan amal dalam waktu yang singkat dalam kadar yang berlipatganda dibandingkan dengan umat-umat yang lainnya dari berbagai kurun dan generasi, demikian juga ahli sunnah dan hadits, Engkau dapati mereka mendapatkan hal itu semua, hal ini disebabkan karena keyakinan yang benar dan kokoh memperkuat jangkauan akal dan membenarkannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

( و الذين اهتدوا زادهم هدى (

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Alloh menambah petunjuk kepada mereka “ ( Muhammad : 17 ) “ ( Majmu’ Fatawa : 14/33 ).

PEMAHAMAN SALAF PENYELAMAT DARI PERSELISIHAN

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :
“ Sebagaimana tidak ada pada generasi-generasi yang lebih sempurna dari generasi sahabat, demikian juga tidak ada dalam kelompok-kelompok yang lebih sempurna dari para pengikut sahabat, siapa saja yang lebih ittiba’ kepada hadits’, sunnah, dan atsar-atsar sahabat, maka dia lebih sempurna. Maka para pengikut sahabat lebih pantas mendapatkan persatuan, petunjuk, dan I’tisham kepada tali Alloh, dan mereka sangat jauh dari perpecahan, perselisihan, dan fitnah. Dan setiap yang jauh dari hadits’, sunnah, dan atsar-atsar sahabat, maka dia lebih jauh dari rahmat dan lebih masuk ke dalam fitnah. Tidak ada kesesatan dan kebatilan dalam kalangan manusia yang lebih banyak dari yang ada pada kelompok rafidhah “ ( Minhajus Sunnah 6/368 ).

Abu Ahmad Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

MANHAJ SUNNAH DALAM MENYIKAPI HADITS-HADITS FITNAH

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
➖➖➖➖➖➖
📣 INFO TABLIGH AKBAR
➖➖➖➖➖➖
In syaa Allah,

📓 | Manhaj Sunnah dalam menyikapi Hadits- hadits Fitnah

🎙 | Bersama Ustadz Arif Fathul Ulum, Lc Hafidzahullahu Ta’ala
Alumnus S-1 Univ. Islam Madinah

🗓 | Ahad, 1 Jumadal Akhiroh 1441 H (26 Januari 2020)
⏳ | Pukul 09.00 – Selesai WIB

🏠 | Masjid At-Tauhid, Ponpes Al-Manshur, Tegowangi, Plemahan, Kab. Kediri

Lokasi: https://goo.gl/maps/GBXaY7J8EYTQPbGX9

📝 | Disarankan untuk membawa buku catatan dan alat tulis.
➖➖➖➖
🚌 | Umum [Muslim & Muslimah]
📢 | Mohon bantu sebarkan informasi kajian ini
➖➖➖➖
Contact Person
📱| 082139247101
Lajnah Dakwah Al-Manshur
➖➖➖➖➖➖
👣 Semoga Allah ta’ala memudahkan jalan kita menuju Surga. Aamiin.

☀Baarakallaahu fiik ☀

BAIAT SUNNAH DAN BAIAT BID’AH

KEPADA SIAPAKAH BAIAT DIBERIKAN ?

Baiat tidak diberikan kecuali kepada imam sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Amr bin Ash di atas, dan imam yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah yang sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Ahmad : “Tahukah kamu, apakah imam itu ? Yaitu kaum muslimin berkumpul atasnya, dan semuanya mengatakan : “Inilah imam” (Masa’il al-Imam Ahmad 2/185 riwayat Ibnu Hani’ ).
Al-Imam Hasan bin Ali Al-Barbahary berkata : Barangsiapa yang menjadi khalifah dengan kesepakatan manusia dan keridhaan mereka, maka dia adalah amirul mukminin, tidak dihalalkan atas siapapun untuk menginap satu malam dalam keadaan tidak memandang bahwa dia memiliki imam ( Syarhus Sunnah hal. 69-70 )


Al-Imam Al-Qurthubi berkata:”Adapun menegakkan dua atau tiga imam dalam satu masa dan dalam satu negeri, maka tidak diperbolehkan menurut ijma” ( Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an 1/273 ).


Baiat kepada penguasa yang muslim ini tidak boleh dibatalkan walaupun penguasa muslim tersebut adalah seorang yang fasiq atau zhalim, sebagaimana dalam hadits Hudzaifah bahwasanya Rasulullah e bersabda:


يكون بعدي أئمة لا يهتدون بهداي ولا يستنون بسنتي وسيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إنس قال قلت كيف أصنع يا رسول الله إن أدركت ذلك قال تسمع وتطيع للأمير وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك


” Akan datang sesudahku para imam yang tidak memakai petunjukku dan tidak memakai sunnahku, di antara mereka ada para manusia hati mereka hati syaithan di dalam tubuh manusia ” Hudzaifah berkata : Bagaimana yang aku perbuat wahai Rasulullah jika aku menjumpai hal itu ? ,Rasulullah e bersabda: Hendaknya Engkau mendengar dan taat kepada amir, walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu ( Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya 3/1476 ).


Ketika para penduduk Madinah memberontak kepada Yazid bin Muawiyah maka Ibnu Umar mengumpulkan keluarga dan anak-anaknya, dia memuji kepada Alloh dan mengatakan : Sesungguhnya kita telah membaiat Yazid atas baiat Alloh dan RasulNya, dan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah e bersabda: Sesungguhnya orang yang berkhianat akan ditegakkan bagi dia bendera pada hari kiamat, dikatakan inilah pengkhianatan fulan , dan sesungguhnya pengkhianatan yang terbesar sesudah kesyirikan adalah jika seorang membaiat seseorang atas baiat Alloh dan RasulNya, kemudian dia melanggar baiatnya ( Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dalam Musnadnya 8/84 dengan sanad yang shahih dan diriwayatkan juga oleh Bukhary dalam Shahihnya 13/68 dengan makna yang sama).


Yang sunnah adalah satu imam untuk kaum muslimin di seluruh dunia, tetapi ketika kaum muslimin terbagi menjadi beberapa negeri dan sulit disatukan, maka masing-masing penguasa negeri adalah imam yang wajib dibaiat dalam ketaatan kepadanya sesuai dengan batasan-batasan syari, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Yang sunnah hendaknya seluruh kaum muslimin memiliki satu imam, yang lain adalah perwakilan-perwakilannya, jika terjadi keadaan di mana umat menyelisihi hal ini karena sebab kemaksiatan atau ketidakmampuan, atau sebab yang lain, sehingga terjadilah beberapa imam negeri ; maka dalam keadaan seperti ini wajib atas setiap imam agar menegakkan hudud, dan menunaikan hak-hak … ( Majmu Fatawa 34/175-176 ).


Al-Imam Syaukany berkata : Sesudah menyebarnya Islam, meluasnya wilayahnya, dan berjauhan batas-batasnya, merupakan hal yang dimaklumi bahwa masing-masing wilayah memiliki seorang imam atau penguasa, yang tidak berlaku kekuasaannya di wilayah yang lain.
Maka tidak mengapa dengan terjadinya beberapa imam dan penguasa negeri, dan wajib ditaati masing-masing penguasa negeri sesudah dilakukan baiat atasnya oleh penduduk wilayah masing-masing … ( Sailul Jarrar 4/512 ).


Syaikh Muhammad bin Abdul wahhab berkata : Para imam dari setiap madzhab telah sepakat bahwa barangsiapa yang menguasai suatu negeri, maka dia memiliki hukum imam dalam segala sesuatu, seandainya tidak seperti ini tidaklah tegak dunia; karena kaum muslimin sejak zaman yang lama, sebelum zaman Al-Imam Ahmad hingga sekarang, belum pernah bersatu di bawah satu imam ( Durar Saniyyah 7/239 ).

BAIAT-BAIAT YANG BIDAH

Baiat yang bidah adalah baiat yang diberikan kepada selain imam, seperti baiat-baiat yang diberikan kepada kelompok-kelompok Islam, jaringan-jaringan rahasia , dan gerakan-gerakan Islam bawah tanah .
Umar bin Khaththab berkata : Barangsiapa yang membaiat seorang amir tanpa permusyawaratan kaum muslimin maka tidak sah baiatnya ( Diriwayatkan oleh Bukhary dalam Shahihnya 1/2506 dan Ahmad dalam Musnadnya 1/55 dan lafadznya adalah lafadz Ahmad ).


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Sesungguhnya Nabi e bersabda memerintahkan agar mentaati para imam yang ada yang dikenal, yang mereka memiliki kekuasaan sehingga bisa mengatur urusan manusia, tidak ada ketaatan kepada orang yang ghaib dan majhul, dan tidak ada ketaatan atas seseorang yang tidak memiliki kemampuan dan kekuasaan sama sekali ( Minhajus Sunnah 1/115 ).


Syaikh Abdus Salam bin Barjas berkata : Maka barangsiapa yang mengangkat dirinya pada kedudukan waliyyul amr yang memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk memerintah manusia, dia seru suatu jamaah untuk mendengar dan taat kepadanya, atau jamaah tersebut memberikan baiat kepadanya yang mengharuskan mendengar taat kepadanya, dalam keadaan waliyyul amr yang sesungguhnya ada dan nampak ; maka sungguh orang seperti ini telah menyelisihi Alloh dan RasulNya, dan menyeleweng dari nash-nash syari.
Tidak wajib ketaatan kepadanya, bahkan haram taat kepadanya, karena dia tidak punya wewenang dan kemampuan samasekali…
Inilah yang dilakukan oleh banyak jamaah-jamaah Islam saat ini, mereka angkat salah seorang dari kalangan mereka sebagai amir dengan sembunyi-sembunyi- mereka wajibkan atas para pengikut mereka untuk mendengar dan taat kepadanya. Baiat seperti ini adalah merupakan pembodohan kepada jiwa-jiwa manusia dan mempermainkan syariat … ( Muamalatul Hukkam hal. 30-31 ).


Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid berkata : Ketahuilah bahwasanya di dalam Islam hanya ada satu baiat saja yaitu pada imamah uzhma, yaitu baiat secara menyeluruh, yang terjadi dengan kesepakatan ahli Syaukah ( kekuatan ) wal Hill wal Aqd dalam umat.
Sama saja apakah baiat tersebut terjadi dengan cara yang diridhoi oleh Alloh dan RasulNya, seperti baiat terhadap Khulafaur Rasyidin atau dengan jalan ghalabah ( seseorang menguasai negara dengan merebut kekuasaan dan dia bisa menguasai keadaan ).
Baiat inilah yang dengannya seorang imam pemegang urusan kaum muslimin bisa melaksanakan maksud-maksud wilayah,yaitu : kemampuan, kekuasaan, kekuatan militer, dan pertahanan. Sehingga dia bisa menegakkan hukum-hukum Islam seperti hudud, pembagian kekayaan, memilih pegawai-pegawai, jihad melawan musuh, menegakkan haji , sholat ied, jumat dan jamaah, dan yang selainnya dari maksud-maksud wilayah sesuai dengan batasan syari.
Tidak henti-hentinya urusan umat berjalan seperti ini, tidak mengenal baiat bagi siapa saja yang peringkatnya di bawah imamah kubra.
Kemudian datanglah generasi berikutnya, yang kemudian terseret ke dalam bidah dan ahwa, datang bidah-bidah thariqah yang disebut dengan baiat ridhaiyyah, disebut juga dengan baiat istitsnaiyyah, atau ahdul masyayikh, atau aqdu thariq, atau mitsaqu thariq, ini semua adalah baiat-baiat yang bidah, tidak berlandaskan dalil dari Kitab dan Sunnah, maupun amalan sahabat.
Baiat ini telah diingkari oleh para ulama, mereka sangat mengingkarinya dan menjelaskan bahwa semua itu tidak ada landasannya.
Kemudian model baiat-baiat bidah ini berpindah dengan baju baru ke sebagian jamaah-jamaah Islam kontemporer, sampai terjadi banyak jamaah-jamaah di dalam satu negeri yang memiliki berbagai macam baiat yang diwajibkan atas para pengikutnya.
Masing-masing menyeru agar semua mengikuti jamaah mereka, sehingga hilanglah dari mereka perjanjian yang diwajibkan oleh Rasulullah e kepada jamaah kaum muslimin, yaitu hendaknya mereka selalu mengikuti apa yang ditempuh oleh Rasulullah e dan para sahabatnya.
Demikianlah tubuh umat Islam tercabik-cabik dengan adanya baiat-baiat kelompok-kelompok thariqah di satu sisi dan baiat-baiat hizbiyyah di sisi lain.
Jadilah para pemuda Islam dalam kebingungan ke kelompok mana dia harus bergabung, dan kepada pimpinan gerakan mana dia harus berbaiat ( Hukmul Intima ilal Firaq wal Ahzab wal Jamaah Islamiyyah hal. 161-163 ).


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Tidak diperbolehkan bagi seorangpun untuk mengambil suatu perjanjian atas seseorang agar dia selalu menyetujui apa yang dia kehendaki, memberikan loyalitas kepada siapa saja disukai oleh yang dia baiat, memusuhi siapa saja yang memusuhi orang yang dia baiat, bahkan orang yang berbuat seperti ini adalah seperti model Jenghis Khan yang menjadikan siapa saja yang cocok dengan mereka adalah teman yang loyal, dan siapa saja yang menyelisihinya adalah musuh yang harus dibenci ( Majmu Fatawa 28/16 ).

TANDA KEBAHAGIAAN DAN KEBERUNTUNGAN

ﻣﻦ ﻋﻼﻣﺎﺕ ﺍﻟﺴﻌﺎﺩﺓ ﻭﺍﻟﻔلاح

✍ قال الإمام ابن القيم رحمه اللّٰه تعالى:

  • ﺃﻥَّ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻛُﻠَّﻤﺎ ﺯﻳﺪَ ﻓﻲ ﻋِﻠْمه…ﺯِﻳْﺪَ ﻓﻲ ﺗﻮﺍﺿﻌﻪِ ﻭﺭَﺣْﻤَﺘِﻪِ.
  • ﻭﻛُﻠَّﻤﺎ ﺯِﻳﺪَ ﻓﻲ ﻋﻤﻠﻪِ…ﺯِﻳﺪَ ﻓﻲ ﺧَﻮْﻓِﻪِ ﻭﺣﺬَﺭِﻩِ.
  • ﻭﻛُﻠَّﻤﺎ ﺯِﻳﺪَ ﻓﻲ ﻋﻤﺮﻩِ…ﻧَﻘَﺺَ ﻣِﻦْ ﺣِﺮْﺻِﻪِ.
  • ﻭﻛُﻠَّﻤﺎ ﺯِﻳﺪَ ﻓﻲ ﻣﺎﻟﻪِ…ﺯِﻳْﺪَ ﻓﻲ ﺳَﺨَﺎﺋِﻪِ ﻭﺑﺬﻟﻪِ.
  • ﻭﻛُﻠَّﻤﺎ ﺯﻳﺪَ ﻓﻲﻗَﺪْﺭِﻩِ ﻭَﺟَﺎﻫِﻪ…ﺯﻳﺪَ ﻓﻲ ﻗُﺮْﺑِﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱ ﻭﻗﻀﺎﺀِ ﺣﻮﺍﺋﺠﻬﻢ ﻭﺍﻟﺘَّﻮﺍﺿﻊ ﻟﻬﻢ. [الفوائد (١٥٥)].

فائدة من الشيخ الدكتور أحمد بن إسماعيل آل عبد اللطيف حفظه الله

DI ANTARA TANDA KEBAHAGIAAN DAN
KEBERUNTUNGAN

al-Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah Ta’ala berkata :

” Sesungguhnya seorang hamba setiap bertambah ilmunya maka semakin bertambah tawadhu’ dan kasih sayangnya

Setiap bertambah amalnya maka semakin bertambah rasa takutnya dan kehati-hatiannya

Setiap bertambah umurnya maka semakin berkurang ambisinya

Setiap bertambah hartanya maka semakin bertambah kedermawanannya dan santunannya

Setiap bertambah kedudukannya dan posisinya maka semakin bertambah kedekatannya dengan manusia, bantuannya kepada mereka, dan tawadhu’nya kepada mereka “

( al-Fawaaid : 155 )

Faidah dari Syaikh Dr Ahmad bin Ismail Alu Abdillathif – pakar qiroah Shughro dan Kubro –

SAFARI DAKWAH PALANGKARAYA DESEMBER 2019

SAFARI DAKWAH PALANGKARAYA 13-15 DESEMBER 2019

HIKMAH DI DALAM MENGAMBIL ILMU

HIKMAH DI DALAM MEMILIH GURU

Hendaknya seorang penuntut ilmu tidak belajar kecuali dari seorang yang menguasai ilmu tersebut, bagus di dalam menjelaskan, bersemangat untuk memberi faidah kepada para murid, bersamaan dengan selamatnya dari bidah-bidah, hawa-hawa nafsu, dan kemashiyatan-kema’shiyatan.

Maka termasuk hikmah di dalam menuntut ilmu adalah hendaknya seorang murid memilah guru-guru di dalam keadaan-keadaan ini kemudian dia mengambil ilmu dari ahlinya.

Ali bin Abi Thalib berkata :

انْظُرُوا مِمَّنْ تَأْخُذُونَ هَذَا الْعِلْمَ فَإِنَّمَا هُوَ الدِّينُ

“ Lihatlah dari siapa kalian mengambil ilmu ini karena sesungguhnya dia adalah agama “ ( Diriwayatkan oleh Al-Khathib di dalam Al-Kifayah hal. 121 dan Al-Khathib meriwayatkannya juga di dalam Al-Faqih wal Mutafaqqih 2/378 dari Ibnu Aun dengan sanad yang shahih ).

Atsar ini juga datang dari jamaah Salaf seperti Ibnu Sirin dan Dhahhak bin Muzahim.

Ibrahim An-Nakhai berkata : Adalah para salaf jika mereka datang kepada seseorang untuk mengambil ilmu darinya maka mereka melihat kepada perilakunya, adabnya, dan sholatnya, kemudian baru mengambil darinya ( At-Tamhid 1/47 ).

Al- Imam Malik rahimahullah berkata :

لاَ يُؤْخَذُ الْعِِلْمُ عَنْ أَرْبَعَةٍ: سَفِيْهٍ مُعلِنِ السَّفَهِ , وَ صَاحِبِ هَوَى يَدْعُو إِلَيْهِ , وَ رَجُلٍ مَعْرُوْفٍ بِالْكَذِبِ فِيْ أَحاَدِيْثِ النَّاسِ وَإِنْ كَانَ لاَ يَكْذِبُ عَلَى الرَّسُوْل صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَ رَجُلٍ لَهُ فَضْلٌ وَ صَلاَحٌ لاَ يَعْرِفُ مَا يُحَدِّثُ بِهِ

“Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang : Orang bodoh yang nyata kebodohannya, pengikut hawa nafsu yang mengajak kepada hawa nafsunya, orang yang dikenal kedustaannya di dalam pembicaraan-pembicaraannya dengan manusia, walaupun dia tidak berdusta atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan seorang yang mulia dan shalih yang tidak mengetahui apa yang dia sampaikan ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr di dalam Jami Bayanil Ilmi wa Fadhlihi hal. 348 ).

Dari kitab Al-Hikmah oleh Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili