Antara Salafi dan Haroki

ANTARA SALAFI DAN HAROKI

Disusun oleh : Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

Talbis ( pencampuradukkan ) antara haq dan batil adalah cara-cara ahli bid’ah dari masa kemasa, karena suatu bid’ah jika berupa kebatilan yang murni maka tidak akan mungkin diterima oleh manusia, bersegeralah setiap orang membantah dan mengingkarinya, seandainya bid’ah itu kebenaran yang murni maka bukanlah merupakan bid’ah, tetapi adalah sunnah, maka bid’ah tersebar di kalangan manusia karena mengandung kebenaran dan kebatilan.
Di antara model talbis yang telah dilakukan oleh para hizbiyyin adalah menggabungkan antara kekufuran, kebid’ahan dan kesesatan zaman ini dengan ajaran-ajaran Islam, seperti Demokrasi Islami, Sandiwara Islami, Nyanyian Islami, Partai Islami dan sederet “ nama-nama Islami “ yang lainnya.
Tidak berhenti di situ saja bahkan mereka juga hendak mengaburkan kaum muslimin dari manhaj yang lurus manhaj salafush Shalih, dengan mencampuradukkan antara manhaj salaf dengan manhaj Harokah yang bid’ah yang dikemas dengan nama baru “ Salafi-Haroki “, dengan cara ini mereka hendak mengajak para pengikut Salafush Shalih untuk berpaling dari manhaj Salaf dan menganut manhaj Haroki yang bid’ah !.
Mengingat bahaya yang besar di balik syubhat ini maka dalam pembahasan kali ini kami berusaha untuk menyingkap syubhat mereka ini sebagai nasehat kepada kaum muslimin

FIKRAH “ SALAFI-HARAKI “

Fikrah ( pemikiran ) “ Salafi-Haraki “ atau “ Harokah Sunniyyah “ adalah fikrah yang hendak menggabungkan antara manhaj Salaf Ahli Sunnah wal Jama’ah dengan manhaj Haraki yang bid’ah, di antara pengusung fikrah ini adalah Hasan Al-Banna ketika dia mensifati manhaj Ikhwanul Muslimin : “ Sesungguhnya dakwah Ikhwanul Muslimin adalah dakwah salafiyyah … thariqah sunniyyah … hakikat shufiyyah …” ( Majmu’atu Rasail Hasan Al-Banna hal. 122 ).
Abdul Aziz bin Nashir Al-Jalil berkata : “ Kami menghendaki sebuah manhaj dakwah yang tegak di atas salafiyyatul manhaj wa ‘ashriyyatul muwajahah ( manhaj salaf dan sikap modern ) !! … Dengan manhaj yang menyeluruh dan salafiyyah modern !! kita akan bisa selamat dan akan selamat aqidah kita yang kokoh dari rongrongan dan percampuran “ ( Waqafat Tarbawiyyah hal. 161-162 ).
Muhammad Muhammad Badri berkata : “ Jama’ah Ahli Sunnah adalah jama’ah yang menyeru anggota-anggota Harokah Islamiyyah untuk berpegang teguh dengannya, dialah jama’ah yang umum dan luas … “ ( Majalah Al-Bayan yang terbit dari London edisi 28 hal. 15 ).
Ahmad Sallam berkata : “ Adapun tujuan yang hendak saya capai dalam pembahasan ini – atau andil di dalamnya – adalah yang terangkum dalam beberapa point berikut : …3. Mengembalikan ikatan hubungan harokah Islamiyyah dengan pokok-pokok manhaj Salaf … “ ( Ma Ana Alaihi Wa Ashabi hal. 222 ).
Perkataan Ahmad Sallam ini dinukil oleh Majalah Harokah Sunniyyah As-Silmi Edisi 12 Rajab 1427 H / Agustus 2006 M

JANGANLAH KALIAN MENCAMPURKAN ANTARA HAQ DAN BATHIL !

Pemikiran yang hendak menggabungkan antara manhaj Salafi dengan manhaj Haraki adalah pemikiran yang sangat berbahaya, karena menjurus kepada pencampuradukan antara Haq dan bathil, Alloh  telah berfirman dalam KitabNya :

“ Dan janganlah kalian campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kalian sembunyikan yang hak itu sedang kalian mengetahui “ ( Al-Baqarah : 42 ).
Qatadah berkata tentang tafsir ayat ini : “ Janganlah kalian campuradukkan agama Yahudi dan Nashrani dengan agama Islam, dalam keadaan kalian mengetahui bahwa agama Alloh yang haq adalah Islam dan bahwasanya agama Yahudi dan Nashrani yang kalian pegang sekarang ini adalah agama yang bid’ah bukan dari Alloh ! “ ( Tafsir Ibnu Katsir 1/109 ).
Maka kami katakan kepada para pengusung fikrah Salafi-Haraki : Janganlah kalian campuradukkan manhaj Haraki dengan manhaj Salafi, dalam keadaan kalian mengetahui bahwa manhaj yang haq adalah manhaj Salafi dan bahwasanya manhaj Haraki adalah manhaj yang bid’ah !.

TOKOH-TOKOH HARAKI MENGAKUI KEBENARAN MANHAJ SALAFI

Benarkan bahwa para para pengusung fikrah Salafi-Haraki ini mengetahui bahwa manhaj yang haq adalah manhaj Salafi ?, berikut ini akan kami nukilkan perkataan tokoh-tokoh mereka tentang hal ini :
Hasan Al-Banna berkata : “ Wahai kaum kami menyeru kalian kepada Kitabullah di tangan kanan dan Sunnah Rasulullah di tangan kiri, dan tauladan kita adalah amal dari Salafush Shalih “ ( Majmu’atu Rasail hal. 46 ).
Abdullah ‘Azzam berkata : “ Adapun Aqidah Salafush Shalih maka dia adalah aqidah ahli Kitab wa Sunnah dan sesungguhnya aku dibesarkan atas aqidah ini dan aku terus di atasnya dengan anugerah Alloh, dan aku berharap agar Alloh meneguhkanku di atasnya dan mematikanku di atasnya. Dan sesungguhnya yang memusuhi aqidah salafush Shalih maka dia memusuhi agama ini bahkan dia bukanlah seorang muslim dan sesungguhnya tujuan kami adalah membela aqidah ini dengan idzin Alloh “ ( Majalah Mauqif edisi 68 tanggal 10 Jumadi Tsaniyyah 1410 H ).

ANTARA MANHAJ SALAFI DAN MANHAJ HARAKI

Di antara perbedaan mendasar antara manhaj salafi dan manhaj haraki adalah di dalam metode berdakwah, salafiyyin menjadikan rujukan mereka di dalam berdakwah adalah dakwah para rasul, sedangkan harakiyyin maka metode dakwah mereka sangat terpengaruh dengan situasi dan kondisi.
Harakiyyun menjadikan tujuan utama dakwah mereka untuk menegakkan khilafah, inilah yang menjadikan mereka mengerahkan segala daya dan upaya untuk menggalang massa dalam jumlah yang besar untuk merebut kekuasaan, upaya untuk menggalang massa ini bukanlah perkara yang mudah, karena massa yang hendak mereka kumpulkan memiliki keyakinan dan pemikiran yang beraneka ragam, ada yang menyembah batu, ada yang menyembah pohon, ada yang menyembah kubur, ada yang mengikuti aqidah Shufiyyah, Asya’ariyyah, Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan sebagainya. Untuk mendapatkan simpati dan dukungan dari massa maka mau tidak mau harus mengikuti kemauan mereka, tidak mengusik aqidah-aqidah mereka yang batil dan jalan mereka yang sesat, yang penting para haraki ini bisa mendapatkan suara sebanyak mungkin dan dukungan sekuat mungkin dari massa.
Hasan Al-Banna berkata : “ Hal yang paling penting sekarang ini yang hendaknya perhatian kaum muslimin diarahkan kepadanya adalah : Wajibnya mempersatukan barisan dan menyatukan kalimat dengan sekuat tenaga “ ( Majmu’atu Rasail hal. 452 ).
Seorang tokoh haroki yang lain yaitu Hasan At-Turabi mengatakan : “ hendaknya kita biarkan para penyembah kubur thawaf di kuburan-kuburan hingga kita bisa mencapai kubah parlemen ! “ ( Majalah Al-Istiqomah bulan Rabi’ul Awwal 1408 H hal. 26 ).
Adapun Salafiyyun maka mereka tidak memandang kepada sedikit dan banyaknya jumlah, dan tidak ada dalil yang menunjukkan atas sikap diam dari kesyirikan dengan alasan untuk mendapat dukungan massa, adapun kekuasaan dan kemenangan adalah pemberian Alloh bagi hamba-hambaNya yang bertaqwa sebagai balasan atas istiqomah mereka dalam agamaNya, Alloh  telah berfirman :
 أن الأرض يرثها عبادي الصالحون 
“ bahwasanya bumi Ini diwarisi hamba-hambaKu yang shalih “ ( Al-Anbiya’ : 105 ), dan Alloh  berfirman :
 استعينوا بالله واصبروا إن الأرض لله يورثها من يشاء من عباده والعاقبة للمتقين 
“ Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; diwariskan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. “ ( Al-A’raf : 128 ).
Alloh telah mengingatkan kita semua jangan sampai terpedaya dengan jumlah massa yang banyak, Dia berfirman :
 وإن تطع أكثر من في الأرض يضلوك عن سبيل الله 
“ Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. “ ( Al-An’am : 116 ).

PENEGAKAN HUKUM ALLOH ANTARA MANHAJ SALAFI DAN MANHAJ HAROKI

Para tokoh haroki selalu berbicara tentang pengkafiran setiap penguasa yang memakai undang-undang wadh’i ( buatan manusia ), mereka kafirkan setiap penguasa yang tidak menerapkan hukum Alloh tanpa perincian lebih lanjut apakah penguasa tersebut mengingkari wajibnya berhukum dengan hukum Alloh ataukah masih mengakui wajibnya berhukum dengan hukum Alloh , langkah berikutnya yang mereka tempuh adalah pencanangan jihad ofensif melawan para penguasa yang sudah dihukumi kafir ini dengan melancarkan gerakan-gerakan rahasia atau gerakan-gerakan politik .
Dengan dua harokah ( gerakan ) ini bisakah para harokiyyin ini menegakkan hukum Alloh ??? Realita yang ada menunjukkan mereka tidak memberikan manfaat apa-apa kepada kaum muslimin bahkan tidak juga memberi manfa’at kepada diri-diri mereka sendiri, yang ada adalah teror ,penumpahan darah dan fitnah di mana-mana. Hukum-hukum Islam tidak juga tegak di tangan mereka, bahkan tidak juga pada diri mereka, bahkan semakin banyak penyelewengan-penyelewengan syar’i yang mereka lakukan, tidak henti-hentinya kita mendengar dari mereka aqidah-aqidah dan pemikiran yang menyeleweng dari Kitab dan Sunnah, amalan-amalan yang melanggar syar’i, lebih dari itu sepak terjang mereka yang selalu gagal dan menyelisihi syari’at.
Adapun Salafiyyun maka mereka berusaha menempuh jalan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah  . Merupakan hal yang dimaklumi oleh setiap muslim yang pernah membaca sirah Rasulullah  bahwa di saat Rasulullah  berdakwah di tengah-tengah orang-orang Quraisy yang tidak berhukum dengan hukum Alloh, bahkan mereka berhukum kepada thaghut-thaghut qabilah-qabilah mereka, apakah Rasulullah  melancarkan dakwah dengan dua “ harokah “ di atas ? Tidak, bahkan Rasulullah  memulai langkahnya dengan mendakwahkan tauhid dan melarang kaumnya dari kesyirikan berupa peribadahan terhadap orang-orang shalih yang sudah mati yang mereka wujudkan dalam bentuk Latta, Uzza, dan Manat dan yang lainnya, kemudian satu persatu dari mereka menjawab seruan dakwah Rasulullah  , hingga kemudian kaum muslimin mendapat tantangan yang keras dan siksaan yang berat dari kaum musyrikin di Makkah, kemudian datanglah perintah hijrah yang pertama dan kedua…Hingga Allah meneguhkan Islam di Madinah .

GHAZWUL FIKRI DAN SOLUSINYA ANTARA MANHAJ SALAFI DAN MANHAJ HAROKI

Salafiyyun tidaklah lalai dan menutup mata dari usaha-usaha ghazwul fikri ( perang pemikiran ) yang dilancarkan secara terus menerus oleh musuh-musuh Islam, Alloh telah mengisyaratkan ghazwul fikri ini dalam kitabnya dan sekaligus menyebutkan tujuan utama gahzwul fikri ini, Alloh  berfirman :
 ودوا لو تكفرون كما كفروا فتكونون سواء 
“ Mereka ingin supaya kalian menjadi kafir sebagaimana mereka Telah menjadi kafir, lalu kalian menjadi sama (dengan mereka). “ ( An-Nisa’ : 89 ).
Rasulullah  telah memperingatkan ummatnya dari ghazwul fikri ini dan melarang ummatnya dari meniru orang-orang kafir di dalam kekhususan-kekhususan orang-orang kafir untuk menjaga kepribadian dan katrakteristik seorang muslim, maka telah datang hadits-hadits yang melarang kaum muslimin dari loyalitas, kecintaan, dan taklid ( meniru ) orang-orang kafir, demikian juga Rasulullah  memerintahkan setiap muslim agar menyelisihi orang-orang kafir dalam segala hal seperti masalah pakaian, tingkah laku, dan sebagainya, inilah solusi satu-satunya terhadap ghazwul fikri karena syari’at Islam penuh dengan perbendaharaan-perbendaharaan yang sangat berharga yang mencakup seluruh gerak-gerik seorang muslim : Bagaimana dia bergaul dengan saudaranya sesama muslim, bagaimana bergaul dengan orang kafir, bagaimana bergaul dengan tetangga, bagaimana bersikap dengan wanita yang bukan mahram, bagaimana bergaul dengan kedua orang tua, bagaimana bergaul dengan anak dan istri, bagaimana dia naik kendaraan, bagaimana seharusanya pemikirannya, bagaimana dia berpakaian, bagaimana dia berdagang, dan secara ringkas seperti yang disabdakan oleh Nabi  :
إنه ليس شيء يقربكم إلى الجنة إلا قد أمرتكم به وليس شيء يقربكم إلى النار إلا قد نهيتكم عنه
“ Sesungguhnya tidaklah ada sesuatu yang mendekatkan kalian ke surga melainkan telah aku perintahkan kepada kalian, dan tidaklah ada sesuatu yang mendekatkan kalian ke neraka melainkan telah aku larang kalian darinya “ ( Diriwayatkan oleh Abu Bakr Al-Haddad dalam Muntakhab min Fawaid Ibu Aluwiyyah al-Qaththan hal. 168 dan Ibnu Marduwiyah dalam Tsalatsatu Majalis hal. 188 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah 6/865 ).
Semua hal inilah yang seharusnya memenuhi kehidupan seorang muslim dan pemikirannya, sehingga tidak menyisakan tempat bagi pemikiran-pemikiran yang diselundupkan dari luar kecuali yang sejalan dengan Islam, inilah usaha kita di dalam membentengi dan menyelamatkan diri dari ghazwul fikri.
Adapun orang-orang haroki maka mereka begitu lantang mengingatkan umat dari ghazwul fikri di dalam pembicaraan-pembicaraan dan tulisan-tulisan mereka, tetapi tanpa menyodorkan solusi yang tersebut di atas, bahkan mereka begitu meremehkan terhadap orang-orang yang mereka pandang mengutamakan penampilan-penampilan Islami yang diperintahkan oleh Nabi  seperti memanjangkan jenggot, memendekkan celana di atas mata kaki, hijab bagi wanita, dan menyelisih orang-orang kafir di dalam berpakaian, mereka katakan bahwa hal tersebut lebih mementingkan kulit daripada isi !!! mereka membuat pembagian yang bid’ah dengan membagi agama menjadi qusyur ( kulit ) dan lubab ( isi ) !.
Seorang tokoh haroki yang masyhur yaitu Muhammad al-Ghazali tulisan-tulisannya penuh dengan ejekan kepada penampilan-penampilan Islami tersebut , dia katakan sebagai kulit ! , perkara yang tidak berguna !, sikap kekanak-kanakan ! , dan perkataan-perkataan yang kotor lainnya, tetapi yang sangat mengherankan bahwa perpustakaan-perpustakaan Islam penuh dengan tulisan-tulisan Muhammad al-Ghazali tentang bahaya ghazwul fikri !

FULAN AQIDAHNYA SALAFI TAPI MANHAJNYA HAROKI ?!

Syaikh Dr. Muhammad bin Umar Bazmul berkata : “ Sebagian orang mengatakan : “ Fulan Salafi aqidahnya tetapi manhajnya bukan Salafi “, demikianlah mereka katakan, dan ucapan ini mengandung kekeliruan yang besar, karena sesungguhnya manhaj seseorang mengikuti aqidah ( keyakinan ) nya, barangsiap memiliki aqidah ( keyakinan ) tertentu maka pasti manhaj dan jalannya beranjak dari keyakinannya tersebut. Barangsiapa yang memiliki keyakinan bahwa bid’ah adalah perkara yang diada-adakan dalam agama, dan bahwasanya para ahli bid’ah adalah bahaya yang mengancam kaum muslimin dalam agamanya, bagaimana dia menyikapi para ahli bid’ah ini ? tentunya dia akan menyikapi mereka sesuai dengan keyakinannya pada mereka, tidaklah logis kalau dia menyikapi mereka ini dengan manhaj yang menyelisihi keyakinannya tentang mereka, maka sesungguhnya ucapan di atas menyelisihi realita.
Ucapan di atas membawa pemahaman yang keliru yaitu bahwasanya aqidah hanyalah baba-bab tertentu, sebagaimana sebagian orang menyangka bahwa aqidah hanyalah masalah asma’ dan ahkam, serta asma’ wa shifat, barangsiapa yang mencocoki salaf dalam masalah-masalah ini dan menyelisihi salaf dalam masalah-masalah-masalah yang lainnya, maka aqidahnya sudah benar, sehingga dia dikatakan salafi dari segi aqidah dan bukan salafi ( tetapi haroki ) dalam manhaj !! Orang seperti telah berbuat kesalahan di dalam pembenaran aqidahnya, dia perlu belajar pemahaman yang benar tentang hakikat aqidah “ ( Ibarat Muhimah hal. 11 ).

( Pembahasan ini banyak menukil dari kitab Thariq Ila Jama’atil Umm oleh Syaikh Utsman Abdussalam Nuh ).

PENUTUP

Kami akhiri pembahasan ini dengan nasehat-nasehat para ulama tentang masalah ini :
Syaikh Al-‘Allamah Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata : “ Menamakan diri dengan Salafiyyah tidak apa-apa jika benar-benar demikian keadaannya, adapaun jika penamaan tersebut hanya sekedar klaim tanpa bukti maka tidak boleh menamakan diri dengan Salafiyyah dalam keadaan dia tidak berada di atas manhaj Salaf …
Orang yang mengaku sebagai Ahli Sunnah maka hendaknya dia mengikuti jalan Ahli Sunnah wal Jama’ah dan meninggalkan jalan orang-orang yang menyeleweng. Adapun jika dia hendak mengumpulkan antara Dhab dan ikan Nun, yaitu mengumpulkan antara binatang padang pasir dengan binatang lautan , maka ini hal yang mustahil, atau menggabungkan antara api dan air dalam satu daun timbangan. Maka tidak akan berkumpul antara Ahli Sunnah wal Jama’ah bersama madzhab orang-orang yang menyelisihi mereka seperti Khawarij, Mu’tazilah, dan Hizbiyyin seperti orang yang mereka namakan sebagai Muslim Modern, yaitu orang yang hendak menggabungkan antara kesesatan-kesesatan modern dengan manhaj Salaf “ ( Ajwibah Mufidah hal. 18-19 ).
Beliau juga berkata : “ Yang kami wasiatkan pada diri kami dan para saudara-saudara kami adalah; Hendaknya selalu bertaqwa kepada Alloh, berpegang teguh kepada manhaj Salafush Shalih, menjauhi bid’ah dan ahlinya, memberikan perhatian yang besar kepada aqidah shahihah dan ma’rifat tentang kesyirikan, dan mengambil ilmu dari para ulama yang terpercaya dalam ilmu dan aqidah mereka.
Demikian juga hendaknya mewaspadai dan menjauhi para da’i su’ yang mencampuradukkan antara yang haq dan yang batil, dan menyembunyikan yang haq dalam keadaan mereka mengetahui “ ( Ajwibah Mufidah hal. 119 ).
Syaikh Al-Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali berkata : “ Saya menasehati orang yang mengatakan perkataan ini dan yang semisalnya agar bertakwa kepada Alloh dan menjelaskan kepada kaum muslimin manhaj Salafi yang shahih, janganlah mencampuradukkan agama ini dengan manhaj Sayyid Quthb dan yang semisalnya, karena manhaj Salafi dan manhaj Sayyid Quthb – seorang mubtadi’ yang tenggelam ke dalam kebid’ahan dan kesesatan – tidaklah keduanya melainkan dua hal yang kontradiksi yang tidak akan bisa bertemu di dalam manhaj dan tidak juga dalam aqidah.
Bertakwalah kalian pada para pemuda umat ini, jadilah kalian sebagai orang-orang yang jujur dan menjauhi sikap membela dan menjunjung ahli bid’ah, jauhilah tadlis, hendaknya kalian memberi penjelasan dengan penjelasan yang gamblang dan jelas yang merupakan jalan para nabi – Alaihimush Sholatu was salam -, Alloh  berfirman :
 وما أرسلنا من رسول إلا بلسان قومه ليبين لهم 
“ Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. “ ( Ibrahim : 4 ) “ ( Dari kaset Ajwibah ala As’ilah Manhajiyyah tanggal 7 Syawwal 1419 H ).
والله أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s