AQIDAH WALA’ DAN BARO’

WALA’ DAN BARO’ DI DALAM ISLAM

PENGERTIAN WALA’ DAN BARO’

Di antara pokok-pokok aqidah Islam adalah wajibnya memberikan wala ( loyalitas dan mencintai ) kepada setiap muslim dan baro ( berlepas diri dan memusuhi ) orang-orang kafir, wajib memberikan wala kepada orang-orang yang bertauhid dan baro kepada orang-orang musyrik, inilah agama Ibrahim yang kita semua diperintahkan oleh Alloh agar mengikutinya Alloh ( berfirman :

( قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ (

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. ( Al-Mumtahanah : 4 )

Alloh ( mengharamkan wala kepada orang-orang kafir semuanya sebagaimana dalam firmanNya :

( يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَُ (

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. ( Al-Mumtahanah : 4 ).
KRITERIA PEMBAGIAN WALA’ DAN BARO’

Di dalam menyikapi manusia dalam loyalitas dan perlepasan diri terbagi dalam tiga kelompok :

Pertama : Orang yang dicintai dengan kecintaan yang murni dan tidak dicampuri dengan permusuhan ; mereka itulah orang-orang beriman yang ikhlas ; yang terdiri dari para nabi, shiddiqin (orang-orang yang selalu membenarkan), para syuhada’ (orang-orang yang mati dalam peperangan/mati syahid), dan orang-orang yang shalih, yang berada di barisan paling depan di antara mereka adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kecintaan kepada beliau haruslah lebih besar dibanding dengan kecintaan kepada diri sendiri, anak, orang tua dan seluruh manusia, kemudian (kecintaan setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) kepada isteri-isteri beliau Ummahatul Mukminin, Ahli Bait-nya (keluarganya) yang baik, Sahabat-sahabat beliau yang mulia, khususnya para Khulafaur Rasyidin, sepuluh orang Sahabat (yang dijanjikan bagi mereka jannah), kaum Muhajirin, kaum Anshar, Ahli Badar, Ahlu Baitur Ridwan (yang ikut Bai’at Ridwan), kemudian seluruh sahabat, para Tabi’in, dan yang hidup pada masa yang diutamakan oleh Allah dan para Salaf yang shalih serta imamnya seperti empat orang imam madzhab, (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad Rahimahullah). Alloh ( berfirman :

( ((((((((((( ((((((( (((( (((((((((( (((((((((( ((((((( (((((((( ((((( (((((((((((((( ((((((((( (((((((((( (((((((((((( (((( (((((((( ((( (((((((((( (((( (((((((((( (((((((((( (((((((( (((((( ((((((( ((((((( (((( (

” Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a : “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. [Al-Hasyr : 10].

Tidak akan ada orang yang di dalam hatinya terdapat keimanan membenci para sahabat dan salaf yang shalih dari umat ini, hanya orang-orang yang menyeleweng, orang-orang yang munafik dan musuh-musuh Islam-lah yang membenci mereka seperti kaum Rafidhah dan kaum Khawarij. Kepada Allah-lah kita mohon ampunan.

Kedua : Orang yang dibenci dan dimusuhi secara totalitas tanpa adanya kecintaan dan perwala’an. Mereka itu adalah orang yang betul-betul ingkar dari kalangan orang-orang kafir, orang-orang musyrik, orang-orang munafik, dan orang-orang murtad, serta orang-orang yang tidak mengakui adanya Allah Ta’ala. Dengan berbagai macam bentuk kelompoknya. Alloh ( berfirman :

( (( (((((( ((((((( ((((((((((( (((((( (((((((((((( (((((((( ((((((((((( (((( (((((( (((( (((((((((((( (((((( ((((((((( ((((((((((((( (((( (((((((((((((( (((( ((((((((((((( (((( ((((((((((((( ( (

” Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” [Al-Mujadilah : 22].

Dan Alloh ( berfirman tentang pencelaan kepada Bani Israil :

( (((((( (((((((( ((((((((( (((((((((((( ((((((((( ((((((((( ( (((((((( ((( (((((((( (((((( ((((((((((( ((( (((((( (((( (((((((((( ((((( ((((((((((( (((( (((((((((( (((( (((((( (((((((( ((((((((((( (((((( (((((((((((( (((((( ((((((( (((((((( ((( ((((((((((((( (((((((((((( ((((((((( (((((((( ((((((((( (((((((((( (((( (

” Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka ; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik” [Al-Maidah : 80-81].

Ketiga : Adalah orang yang dicintai dari satu segi dan dibenci dari segi lain sehingga terpadu padanya kecintaan dan permusuhan. Mereka itu adalah orang-orang mukmin yang durhaka : mereka dicintai karena adanya keimanan dan dibenci karena adanya kedurhakaan yang tidak menjadikan mereka kafir dan musyrik.

Kecintaan terhadap mereka mengharuskan untuk menasehati dan mengingkari mereka ; maka tidak diperbolehkan seseorang diam atas kemaksiatan yang mereka lakukan, tetapi harus diingkari, diperintah untuk berbuat kebaikan, dilarang untuk melakukan kemungkaran serta dilaksanakan had-had (hukuman berat) dan ta’zir-ta’zir (hukuman ringan/peringatan) terhadapnya sampai mereka berhenti dari kemaksiatan dan bertobat dari dosa-dosa. Akan tetapi mereka tidak boleh secara mutlak dibenci dan dijauhi ; sebagaimana perkataan kaum Khawarij terhadap orang yang melakukan dosa besar yang tidak menjadikan pelakunya menjadi musyrik. Namun, juga tidak dicintai dan diwala’i secara mutlak ; sebagaimana perkataan kaum Murji’ah. Tetapi kita bersikap adil dalam menilai mereka sebagaimana yang kami sebutkan tadi. Dan itu adalah (merupakan) Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah. ( Lihat kitab Al-Wala’ dan Al-Bara’ Fil Islam , oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, )
BOLEHKAH BERMU’AMALAH DENGAN ORANG-ORANG KAFIR ?

Haramnya wala kepada orang-orang kafir bukan berarti haramnya muamalah dengan orang-orang kafir dalam hal jualbeli barang-barang yang mubah dengan mereka, dan memanfaatkan keahlian-keahlian mereka.

Ketika Rasulullah ( berangkat hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar, beliau mengupah seorang kafir dari Bani Dil sebagai penunjuk jalan, dan mengantar keduanya sampai ke Madinah ( Shahih Bukhary 2/790 ).

Rasulullah ( biasa berjual beli dengan orang-orang Yahudi, bahkan ketika beliau meninggal baju besi beliau masih tergadai di tempat orang Yahudi untuk membeli makanan keluarganya ( Shahih Bukhary 3/1068 ).

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata : Hadits ini menunjukkan bolehnya muamalah dengan orang kafir pada sesuatu yang belum terbukti keharamannya ( Fathul Bari 5/141 ).

Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah ( mengirim utusan kepada orang Yahudi untuk membeli pakaian darinya dengan pembayaran di belakang, tetapi orang Yahudi tersebut menolak ( Diriwayatkan oleh Tirmidy dalam Jaminya 3/518 dan Nasai dalam Al-Mujtaba 7/294 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Sunan Nasai 3/242 ).

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam berkata : Hadits ini menunjukkan tentang bolehnya muamalah dan jualbeli dengan orang-orang kafir, dan bahwasanya hal ini tidak termasuk muwalah ( loyalitas ) kepada mereka ( Taudhihul Ahkam 4/75 ).
BENTUK-BENTUK WALA’ KEPADA ORANG-ORANG KAFIR YANG DIHARAMKAN

Di antara bentuk-bentuk wala kepada orang-orang kafir yang diharamkan adalah :

1. Menyerupai orang-orang kafir dalam pakaian-pakaian, pembicaraan, dan kebiasaan-kebiasaan mereka.

Menyerupai orang-orang kafir dalam pakaian-pakaian, pembicaraan, dan yang lainnya menunjukkan kecintaan kepada siapa yang ditirunya, karenanya Rasulullah ( bersabda :

من تشبه بقوم فهو منهم

“ Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk mereka “ ( Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya 4/44, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya 4/216, dan Ahmad dalam Musnadnya 2/50 dan dikatakan oleh syaikh Al-Albany dalam Irwaul Ghalil : 1269 : Hasan Shahih ).

Diharamkan menyerupai orang-orang kafir dalam ciri-ciri khas mereka dari kebiasaan, peribadahan, dan akhlaq-akhlaq mereka seperti mencukur jenggot, memanjangkan kumis, memkai bahasa-bahasa mereka tanpa ada keperluan, meniru model pakaian mereka dan lain sebagainya.

2. Memuji orang-orang kafir dan membantu mereka dalam memerangi kaum muslimin.

Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata : Ini termasuk pembatal keislaman dan sebab kemurtadan ( Al-Wala wal Baro hal. 3 ).

3. Meminta pertolongan kepada mereka, memberi mereka kedudukan-kedudukan penting, dan menjadikan mereka sebagai teman setia dan penasehat.

Alloh ( berfirman :

( يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. ( Ali Imran : 118-119 )

Dari Aisyah bahwasanya Nabi ( keluar untuk perang Badar, ternyata ada seorang musyrik yang mengikuti beliau dan menemui beliau di Harroh, berkata oarang musyrik tersebut : Bagaimana menurut pendapatmu jika aku mengikutimu dan berperang bersamamu ? ,Nabi ( bersabda : Apakah kamu beriman kepada Alloh dan RasulNya ? , orang tersebut menjawab : Tidak , maka Nabi ( bersabda : Kembalilah !, akau tidak mau meminta bantuan kepada seorang yang musyrik ( Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya 3/1450 ).

Nash-nash di atas menunjukkan haramnya menjadikan orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan, larangan meminta pertolongan kepada mereka, memberi mereka kedudukan-kedudukan penting sehingga bisa memata-matai kaum muslimin dan memberikan madharat kepada kaum muslimin.

4. Memberi nama dengan nama-nama orang-orang kafir.

Sebagian kaum muslimin memberi nama anak-anak mereka dengan nama-nama orang-orang kafir, padahal Rasulullah ( bersabda :

تسموا باسمي

“ Namakanlah dengan namaku “ ( Muttafaq Alaih, Bukhary 1/52 dan Muslim 3/1682 ).

إن أحب أسمائكم إلى الله عبد الله وعبد الرحمن

“ Sesungguhnya nama-nama kalian yang paling dicintai oleh Alloh adalah Abdullah dan Abdurrahman ( Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya 3/1682 ).

5. Menghadiri hari raya- hari raya dan perayaan-perayaan orang-orang kafir . ( Lihat Al-Wala wal Baro oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan hal. 2-4 ).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s