SIAPAKAH WALIYYUL AMR YANG WAJIB DITAATI ?

CARA PENGANGKATAN PEMIMPIN DI DALAM ISLAM


Imamah ( kepemimpinan ) ada dua jenis : ikhtiyariyyah ( dengan pilihan ) dan qahriyyah ( dengan paksaan ). Imamah ikhtiyariyyah diangkat dengan dua cara dan cara yang ketiga adalah qahriyyah ( paksaan ) ( Lihat Tahrirul Ahkam fi Tadbiiri Ahlil Islam hal. 52 ).

Cara Pertama di dalam kepemimpinan ikhtiyariyah : Adalah dengan pemilihan yang dilakukan oleh ahlul halli wal aqdi : yaitu para ulama, para panglima, para pemimpin dan pembimbing umat.

Ahlul halli wal aqdi menentukan siapakah yang paling berhak atas kepemimpinan tersebut dengan (melihat) sifat-sifat yang syari. Setelah itu mereka harus memilihnya. Suatu hal yang harus diperhatikan hendaknya mereka mengangkat pemimpin yang paling memberikan manfaat jika tidak ada yang paling utama-. Jika kedua sifat ini ada pada pribadi seseorang maka itu kesempurnaan yang langka sekali. Ahlul halli wal aqdi harus memperhatikan orang yang paling cepat didengar oleh manusia dan mereka juga harus mampu menjaga situasi serta kondisi zaman kala itu. Jika orang tersebut sanggup memimpin umat maka mereka membaiat orang tersebut.

Demikianlah proses pemilihan Abu Bakr Ash-Shiddiq yang dibaiat oleh para pembesar sahabat di saqifah Bani Saidah sebagaimana di dalam riwayat yang shahih bahwasanya Umar berkata : “sesungguhnya Abu Bakar adalah sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, satu diantara dua orang (yang bersama beliau di gua tsur), dia adalah manusia yang paling utama untuk memegang amanat kepemimpinan urusan kalian, maka berdirilah kalian dan berbaiatlah kepadanya.’ Sebagian diantara mereka ketika itu telah berbaiat kepadanya sebelum moment itu di Saqifah Bani Sa’idah, dan itulah bai’at umum diatas minbar ( Shahih Bukhari : 6679 ).

Cara Kedua di dalam kepemimpinan ikhtiyariyah : Al-Istikhlaf yaitu Khalifah (pemimpin) yang berkuasa menunjuk seseorang untuk menggantikan kepemimpinannya. Penunjukan pemimpin (istikhlaf) seperti ini merupakan perkara yang disyariatkan. Inilah yang pernah dilakukan oleh Abu Bakar Ash-Shidiq rodliyallohu anhu ketika beliau mewasiatkan kepemimpinannya kepada Umar bin Khaththab rodliyallohu anhu ( Lihat Bidayah wan Nihayah 7/18 ).

Cara Ketiga: Qahriyyah ( paksaan ), yaitu orang yang memiliki kekuatan memaksa manusia untuk taat kepadanya, jika suatu waktu kosong dari pemimpin, kemudian ada majulah orang yang pantas menjadi pemimpin, dia menguasai manusia dengan kekuatannya dan pasukannya dengan tanpa baiat Ahlul Halli wal Aqdi dan tanpa istikhlaf, maka orang ini dikui kepemimpinannya dan wajib ditaati, agar kaum muslimin bersatu dan terkumpul kalimat mereka, dan ini tidak memandang apakah orang yang berkuasa tersebut jahil atau fasiq menurut pendapat yang shahih, ini demi kemashlahatan kaum muslimin dan persatuan kalimat mereka ( Lihat Tahrirul Ahkam fi Tadbiiri Ahlil Islam hal. 55 ).

Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu berkata :

نحن مع من غلب

“ Kami bersama orang yang menang dan berkuasa “ ( Al-Ahkam Ash-Shulthaniyah oleh Al-Farra’ hal. 23 ).

Al-Imam Ahmad berkata :

ومن غلب عليهم بالسيف حتى صار خليفة وسمي أمير المؤمنين فلا يحل لأحد يؤمن بالله واليوم الآخر أن يبيت ولا يراه إماماً، براً كان أو فاجراً

“ Dan siapa yang menguasai manusia dengan pedang sehingga menjadi khalifah dan disebut Amirul Mukminin maka tidak halal bagi orang yang beriman kepada Alloh dan hari Akhir untuk bermalam dalam keadaan tidak memandang dia sebagai imam, entah dia orang baik atau orang jelek ( Al-Ahkam Ash-Shulthaniyah oleh Al-Farra hal. 23 ).

Al-Imam Asy-Syafii berkata : Setiap orang yang menguasai kepemimpinan dengan pedang hingga dia disebut khalifah dan manusia berkumpul atasnya, maka dia adalah khalifah ( Manaqib Asy-Syafii oleh Al-Baihaqi 1/448 ).

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata :

قد أجمع الفقهاء على وجوب طاعة السلطان المتغلب والجهاد معه وأن طاعته خير من الخروج عليه لما في ذلك من حقن الدماء وتسكين الدهماء

“ Para fuqoha’ telah sepakat atas wajibnya mentaati penguasa yang menguasai keadaan dan berjihad bersamanya, dan bahwasanya ketaatan kepadanya lebih baik daripada memberontak kepadanya karena di dalam ketaatan tersebut akan menjaga tertumpahnya darah dan menenangkan keadaan ( Fathul Bari 13/7 ).
BERBILANGNYA PARA PEMIMPIN DAN PENGUASA
Yang sunnah adalah satu imam untuk kaum muslimin di seluruh dunia, tetapi ketika kaum muslimin terbagi menjadi beberapa negeri dan sulit disatukan, maka masing-masing penguasa negeri adalah imam yang wajib dibaiat dalam ketaatan kepadanya sesuai dengan batasan-batasan syari, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

وَالسُّنَّةُ أَنْ يَكُونَ لِلْمُسْلِمِينَ إمَامٌ وَاحِدٌ وَالْبَاقُونَ نُوَّابُهُ فَإِذَا فُرِضَ أَنَّ الْأُمَّةَ خَرَجَتْ عَنْ ذَلِكَ لِمَعْصِيَةِ مِنْ بَعْضِهَا وَعَجْزٍ مِنْ الْبَاقِينَ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ كَانَ لَهَا عِدَّةُ أَئِمَّةٍ : لَكَانَ يَجِبُ عَلَى كُلِّ إمَامٍ أَنْ يُقِيمَ الْحُدُودَ وَيَسْتَوْفِيَ الْحُقُوقَ

“ Yang sunnah hendaknya seluruh kaum muslimin memiliki satu imam, yang lain adalah perwakilan-perwakilannya, jika terjadi keadaan di mana umat menyelisihi hal ini karena sebab kemaksiatan atau ketidakmampuan, atau sebab yang lain, sehingga terjadilah beberapa imam negeri ; maka dalam keadaan seperti ini wajib atas setiap imam agar menegakkan hudud, dan menunaikan hak-hak … ( Majmu Fatawa 34/175-176 ).

Al-Imam Syaukany berkata :

وأما بعد انتشار الإسلام واتساع رقعته وتباعد أطرافه ، فمعلوم أنه قد صار في كل قطر أو أقطار الولاية إلى إمام أو سلطان ، وفي القطر الآخر كذلك ، ولا ينعقد لبعضهم أمر ولا نهي في قطر الآخر وأقطاره التي رجعت إلى ولايته . فلا بأس بتعدد الأئمة والسلاطين ، ويجب الطاعة لكل واحد منهم بعد البيعة له على أهل القطر الذي ينفذ فيه أوامره ونواهيه

“ Sesudah menyebarnya Islam, meluasnya wilayahnya, dan berjauhan batas-batasnya, merupakan hal yang dimaklumi bahwa masing-masing wilayah memiliki seorang imam atau penguasa, di di wilayah yang lain demikian juga, yang tidak berlaku kekuasaannya di wilayah yang lain.

Maka tidak mengapa dengan terjadinya beberapa imam dan penguasa negeri, dan wajib ditaati masing-masing penguasa negeri sesudah dilakukan baiat atasnya oleh penduduk wilayah masing-masing yang berlaku perintah-perintah dan larangannya… ( Sailul Jarrar 4/512 ).

Syaikh Muhammad bin Abdul wahhab berkata :

الأئمة مجمعون من كل مذهب على أن من تغلب على بلد أو بلدان له حكم الإمام في جميع الأشياء ، ولولا هذا ما استقامت الدنيا لأن الناس من زمن طويل قبل الإمام أحمد إلى يومنا هذا ما اجتمعوا على إمام واحد

“ Para imam dari setiap madzhab telah sepakat bahwa barangsiapa yang menguasai suatu negeri, maka dia memiliki hukum imam dalam segala sesuatu, seandainya tidak seperti ini tidaklah tegak dunia; karena kaum muslimin sejak zaman yang lama, sebelum zaman Al-Imam Ahmad hingga sekarang, belum pernah bersatu di bawah satu imam ( Durar Saniyyah 7/239 ).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata :

وبهذا نعرف ضلال ناشئة نشأت تقول: إنه لا إمام للمسلمين اليوم، فلا بيعة لأحد!! ـ نسأل الله العافية ـ ولا أدري أيريد هؤلاء أن تكون الأمور فوضى ليس للناس قائد يقودهم؟! أم يريدون أن يقال: كل إنسان أمير نفسه؟! هؤلاء إذا ماتوا من غير بيعة فإنهم يموتون ميتة جاهلية ـ والعياذ بالله ـ

” Dengan ini kita mengetahui kesesatan anak-anak muda yang mengatakan : Sesungguhnya hari ini tidak ada imam bagi kaum muslimin sehingga tidak ada baiat bagi seorang pun, – Kita memohon keselamatan kepada Alloh -, dan saya tidak tahu apakah mereka menghendaki urusan-urusan menjadi kacau balau tidak ada pemimpin yang mengatur manusia ? ataukah mereka menghendaki dikatakan bahwa setiap orang adalah pemimpin dirinya ? mereka ini jika mati dengan tanpa baiat maka mereka mati jahiliyyah Kita berlindung kepada Alloh darinya – ” ( Syarhul Mumti’ 8/9 ).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s