KOREKSI KESALAHAN-KESALAHAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN BULAN ROMADHON

KOREKSI KESALAHAN-KESALAHAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN BULAN ROMADHON

office-lens-20170515-092011.jpg.jpeg

Di antara kesalahan-kesalahan yang umum dilakukan orang , berkaitan dengan bulan Romadhon adalah:

1. Tidak mengetahui hukum-hukum puasa serta tidak menanyakannya.

Padahal Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (QS. an-Nahl [16]: 43)

Dan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah ‘Azza wa Jalla niscaya ia dipahamkan dalam urusan agamanya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

2. Menyambut bulan suci Romadhon dengan hura-hura dan bermain-main.

Padahal yang seharusnya adalah menyambut bulan yang mulia tersebut dengan dzikir dan bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena masih diberi umur bertemu kembali dengan bulan Romadhon. Lalu hendaknya ia bertaubat dengan sungguh-sungguh, kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla serta melakukan muhasabah nafs (perhitungan dosa-dosa pribadi), baik yang kecil maupun yang besar, sebelum datang Hari Perhitungan dan Pembalasan atas setiap amal yang baik maupun yang buruk.

3. Mengenal Allah pada bulan Romadhon saja.

Sebagian orang, bila datang bulan Romadhon mereka bertaubat, sholat dan puasa. Tetapi jika bulan Romadhon telah berlalu mereka kembali lagi meninggalkan sholat dan melakukan berbagai perbuatan maksiat lagi. Alangkah celaka golongan orang seperti ini, sebab mereka tidak mengetahui Allah ‘Azza wa Jalla kecuali di bulanRomadhon. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Robb bulan-bulan pada sepanjang tahun adalah satu jua? Bahwa maksiat itu haram hukumnya di setiap waktu? Bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mengetahui perbuatan mereka di setiap saat dan tempat?

Karena itu, hendaknya mereka bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan taubat nashuha (benar-benar taubat), meninggalkan maksiat serta menyesali apa yang telah mereka lakukan di masa lalu, selanjutnya berkemauan kuat tidak mengulanginya di kemudia hari. Dengan demikian, insya Allah taubat mereka akan diterima, dan dosa-dosa mereka akan diampuni.

4. Kesempatan bermalas-malasan.

Anggapan sebagian orang bahwa bulan Romadhon adalah kesempatan untuk tidur dan bermalas-malas di siang hari, begadang di malam hari. Lebih disayangkan lagi, mayoritas mereka begadang dalam hal-hal yang dimurkai Allah ‘Azza wa Jalla, berhura-hura, bermain yang sia-sia, menggunjing, adu domba, dan sebagainya. Hal-hal semacam ini sangat berbahaya dan merugikan mereka sendiri.

Sesungguhnya hari-hari bulan Romadhon merupakan saksi taatnya orang-orang yang taat dan saksi maksiatnya orang-orang yang ahli maksiat dan lupa diri.

5. Sedih jika Romadhon tiba.

Sebagian orang ada yang merasa sedih dengan datangnya bulan Romadhon dan bersuka cita jika keluar darinya. Sebab mereka beranggapan bahwa bulan Romadhon menghalangi mereka melakukan kebiasaan maksiat dan menuruti syahwat. Mereka berpuasa sekedar ikut-ikutan dan toleransi. Karena itu, mereka lebih mengutamakan bulan-bulan lain dari pada bulan Romadhon. Padahal ia adalah bulan penuh barokah, ampunan, rahmat dan pembebasan dari neraka bagi setiap muslim yang melakukan kewajiban-kewajibannya dan meninggalkan setiap yang diharamkan atasnya, mengerjakan segala perintah dan menjauhi segala yang dilarang.

6. Mengisi malam-malam Romadhon dengan hal yang dimurkai Allah.

Banyak orang yang begadang pada malam-malam bulan Romadhon dengan melakukan sesuatu yang tidak terpuji, bermain-main, ngobrol, jalan-jalan atau duduk-duduk di jembatan atau trotoar jalan. Pada tengah malam mereka baru pulang dan langsung makan sahur dan tidur. Karena kelelahan, mereka tidak bisa bangun untuk sholat Shubuh berjama’ah pada waktunya. Ada banyak kesalahan dari perbuatan semacam ini:

Begadang dengan sesuatu yang tidak bermanfaat. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum Isya’ agar dapat ngobrol setelahnya kecuali dalam hal perbaikan. Dalam hadits riwayat Ahmad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak boleh berbincang-bincang kecuali bagi orang yang sholat atau bepergian.” (hadits dihasankan oleh as-Suyuthi)
Menyia-nyiakan waktu, padahal waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Setiap orang akan menyesali setiap waktu yang ia lalui tanpa diiringi dengan mengingat Allah ‘Azza wa Jalla di dalamnya.
Menyegerakan sahur sebelum waktu yang dianjurkan, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan sahur pada akhir malam sebelum terbit fajar.
Musibah terbesar mereka adalah tidak dapat menunaikan sholat Shubuh berjama’ah tepat pada waktunya. Betapa tidak, sebab pahala (sholat) Shubuh berjama’ah menyamai sholat satu malam atau separuhnya. Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa sholat Isya’ berjama’ah maka seakan-akan ia sholat separuh malam dan barangsiapa sholat Shubuh berjama’ah maka seakan-akan ai sholat sepanjang malam.” (HR. Muslim dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu)

7. Hanya sekedar menahan lapar dan haus.

Menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa secara lahiriyah seperti makan, minum dan menggauli istri, tetapi tidak menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa secara maknawiyah seperti menggunjing, adu domba, dusta, melaknat, mencaci, memandang wanita-wanita di jalan, di toko, di pasar, di televisi, gambar dan sebagainya.

Seyogyanya setiap muslim memperhatikan puasanya, menjauhkan diri dari hal-hal yang diharamkan dan membatalkan puasa. Sebab betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan kecuali lapar dan dahaga belaka. Betapa banyak orang yang sholat Tarawih, tetapi ia tidak mendapatkan kecuali begadang dan payah saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum. (HR. Al-Bukhari)

8. Meninggalkan sholat Tarawih

Padahal telah dijanjikan bagi orang yang menjalankan(nya) karena iman dan mengharap pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla (berupa: ) ampunan akan dosa-dosanya yang telah lalu. Orang yang meninggalkan sholat Tarawih berarti meremehkan adanya pahala yang agung dan balasan yang besar ini.

Ironisnya, banyak umat Islam yang meninggalkan sholat Tarawih. Barangkali ada yang ikut sholat sebentar lalu tidak melanjutkannya hingga selesai. Atau rajin melakukannya pada awal-awal bulan Romadhon dan malas ketika sudah akhir bulan. Alasan mereka, sholat Tarawih hanya sunnah belaka.

Benar, tetapi ia adalah sunnah mu’akkadah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khulafa’ur Rosyidin, dan para Tabi’in yang mengikuti petunjuk mereka. Ia adalah salah satu bentuk taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan salah satu sebab bagi ampunan dan kecintaan Allah ‘Azza wa Jalla kepada hamba-Nya. Orang yang meninggalkan berarti tidak mendapatkan bagian darinya sama sekali. Kita berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla dari yang demikian. Dan bahkan mungkin orang yang melakukan sholat Tarawih itu bertepatan dengan turunnya lailatul qodar, maka ia akan beruntung dengan ampunan dan pahala yang amat besar.

9. Melalaikan sholat wajib

Sebagian orang ada yang berpuasa, tetapi meninggalkan sholat atau hanya sholat ketika bulan Romadhon saja. Orang semacam ini puasa dan sedekahnya tidak bermanfaat, sebab sholat adalah tiang dan pilar utama agama Islam.

10. Melakukan perjalanan agar bisa berbuka puasa dengan alasan musafir

Perjalanan semacam ini tidak dibenarkan dan ia tidak boleh berbuka karenanya. Sungguh tidak tersembunyi bagi Allah ‘Azza wa Jalla tipu daya orang-orang yang suka menipu. Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla menjauhkan kita dari yang demikian.

11. Berbuka dengan sesuatu yang haram

Seperti rokok, minuman yang memabukkan dan sejenisnya. Atau berbuka dengan sesuatu yang didapatkan dari yang haram. Orang yang makan dan minum dari sesuatu yang haram tak akan diterima amal perbuatannya dan tak mungkin pula do’anya dikabulkan. (Lihat Khuthob Minbariyyah oleh Syaikh Sholeh al-Fauzan 2/381-382 dan Bulettin al-Hujjah, risalah no. 37 Tahun II bulan Sya’ban 1420 H)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s