MENITI SURGA DENGAN MANHAJ SALAFI

MENITI SURGA DENGAN MANHAJ SALAFI

Disusun oleh : Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

Sungguh umat Islam adalah ummat yang marhumah ( dirahmati Alloh ) karena Alloh telah mengutus kepada mereka Nabiyyur Rahmah untuk menyampaikan risalahNya kepada mereka, kemudian Alloh memilih manusia-manusia terbaik sebagai pendamping NabiNya, Dia jadikan mereka sebagai pembela-pembela agamaNya, Dia jadikan mereka sebagai generasi terbaik yang merupakan tauladan bagi seluruh generasi yang datang sesudah mereka, merekalah para sahabat Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam Al-Hawariyyun yang memiliki kedudukan yang agung di sisi Alloh dan RasulNya, Alloh Ta’ala telah memuji para sahabat, dan mengkhabarkan keridhaanNya kepada mereka dan keridhaan mereka kepadaNya di dalam ayat-ayat yang banyak sekali dalam KitabNya. Demikian juga Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam telah memuji para sahabat dan menjelaskan keutamaan mereka di dalam banyak sekali hadits-haditsnya.
Para sahabat memiliki keistimewaan-keistimewaan yang tidak pernah dimiliki oleh manusia-manusia yang datang sesudah mereka seperti bertemunya mereka dengan Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam , apa yang mereka saksikan dari diturunkannya AlQur’an , mereka langsung bertanya dari hal-hal yang masih belum jelas , maka dijawab oleh Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam dengan jawaban yang terbaik, dan dijelaskan dengan penjelasan yang sempurna.
Karena itulah maka Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam mewajibkan seluruh kaum muslimin mengikuti jalan yang ditempuh oleh para sahabatnya, menjadikan jalan para sahabat sebagai jalan keselamatan bagi setiap muslim di dunia dan akhiratnya.
Demikian juga para imam kaum muslimin dari kalangan sahabat dan tabi’in selalu menyeru umat untuk mengikuti manhaj para sahabat dan manhaj orang-orang yang mengikuti jalan mereka dari Salafush Shalih, Al-Imam Al-Auza’i berkata : ” Bersabarlah diatas Sunnah, berhentilah dimana kaum (para sahabat) berhenti, katakanlah apa yang mereka katakan dan diamlah terhadap yang telah mereka diamkan serta berjalanlah di jalan As-Salaf Ash-Shalih, karena mereka mencukupimu apa yang telah mencukupi mereka ” ( Al-Aajuriy dalam Asy-Syariat, hal 58 ).
Insya Alloh di dalam bahasan kali ini akan kita kaji lebih dalam tentang Manhaj Salafush Shalih ini agar kita bisa menempuhnya, demikian juga akan kami singkapkan sebagian syubhat-syubhat yang bisa mengaburkan seorang muslim dari kemilaunya cahaya Manhaj Salafush Shalih.

DEFINISI MANHAJ SALAFI

Istilah Manhaj Salafi ( المنهج السلفي ) tersusun dari dua kata : Al-Manhaj ( المنهج ) dan As-Salafi ( السلفي ).
Manhaj secara bahasa adalah : الطريق الواضح : jalan yang jelas ( Lihat Mu’jam Maqayis Lughah oleh Ibnu Faris 5/361 – terbitan Darul Jil Beirut cetakan pertama 1411 H – dan Qamus Al-Muhith oleh Fairuz Abadi 1/436 – terbitan Daru Ihya’ Turats Al-‘Arabi cetakan pertama 1412 H – )
Alloh Ta’ala berfirman:
“ untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang ”( Al-Maidah : 48 ).
Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata : ” Adapun Al-Minhaj maka dia adalah jalan yang terang yang mudah ” ( Tafsir Al-Qur’anul Adhim 3/129 – terbitan Daru Thayyibah cetakan kedua 1420 H – ).
Adapun As-Salafi maka dia adalah nisbah kepada As-Salaf dan Salaf secara bahasa dari sin, lam, dan fa’ yang menunjukkan makna yang sudah berlalu dan terdahulu ( Mu’jam Maqayis Lughah oleh Ibnu Faris 3/95 ).
Fairuz Abadi berkata : “ Salaf adalah orang-orang yang mendahuluimu dari nenek moyangmu dan kerabatmu “ ( Qamusul Muhith 3/153 ).
Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Fatimah رضي الله عنها di saat beliau sakit keras menjelang wafat :
فاتقي الله واصبري ، فإنه نعم السلف أنا لك
“Bertakwalah kepada Alloh dan bersabarlah, maka sesungguhnya sebaik-baik salaf ( pendahulu ) bagimu adalah aku “ ( Muttafaq Alaih, Shahih Bukhari 5/2317 dan Shahih Muslim 4/1904 ).
Adapun secara istilah maka madzhab salaf adalah jalan yang ditempuh oleh para sahabat dan orang-orang yang menempuh jalan mereka, Al-Qalsyani berkata : “ Salafush Shalih adalah generasi pertama yang mendalam keilmuan mereka , yang mengikuti jalan Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam , yang selalu menjaga sunnah Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam , Alloh pilih mereka sebagai sahabat NabiNya, dan Alloh tugaskan mereka untuk menegakkan agamaNya …” ( Tahrirul Maqalah min Syarhi Risalah hal. 36 ).
Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid berkata : “ Jika disebut salaf atau salafiyyun atau salafiyyah, maka dia adalah nisbah kepada Salafush Shalih : para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan, bukan orang-orang yang cenderung kepada hawa nafsu dari generasi sesudah sahabat dan menyempal dari jalan para sahabat dengan nama atau simbol – mereka inilah yang disebut khalafi, nisbah kepada khalaf -, adapun orang-orang yang teguh di atas manhaj kenabian maka mereka menisbahkan diri kepada Salafush Shalih sehingga mereka disebut salaf dan salafiyyun dan nisbah kepada mereka adalah salafi “ ( Hukmul Intima’ hal. 90 ).

MANHAJ SALAFI ADALAH PILIHAN ALLOH DAN RASULNYA

Sangat banyak dalil-dalil dari Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam yang menjelaskan akan pujian terhadap orang yang mengikuti jalan As-Salaf dan celaan terhadap orang yang menyelisihi jalan As-Salaf, Alloh Ta’ala berfirman:
” Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka jannah-jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar ” ( At-Taubah : 100 ).
Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata : ” Alloh telah mengkhabarkan keridhoanNya terhadap orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, dan keridhoaan mereka terhadapNya dengan apa yang Alloh sediakan bagi mereka dari surga-surga yang penuh keni’matan dan keni’matan yang abadi ” ( Tafsir Al-Qur’anul Adhim 4/203 – terbitan Daru Thayyibah cetakan kedua 1420 H – ).
Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilali berkata : ” Rabb sekalian manusia telah memuji orang yang mengikuti sebaik-baik manusia maka jelaslah bahwa mereka (Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor ) jika mengatakan satu perkataan lalu diikuti oleh orang yang mengikutinya maka haruslah hal itu merupakan hal yang terpuji dan berhak mendapatkan keridhoan, dan seandainya mengikuti mereka tidak memiliki keistimewaan dari selain mereka maka dia tidak berhak mendapatkan pujian dan keridhoan ” ( Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafi hal. 86 – cetakan pertama 1420 H – ).
Alloh Ta’ala berfirman:
ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وساءت مصيرا
“Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya,dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin,Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam neraka jahannam itulah seburuk-buruk tempat kembali ”(An-Nisa’ ayat 115).
Kalimat ( سبيل المؤمنين ) artinya adalah : jalan orang-orang mukmin, yang pertama kali masuk dalam ma’na ini adalah para shahabat Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam sebagaimana dalam sabdanya Shollallohu Alaihi wa Sallam:
وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ و في رواية : ما أنا عليه و أصحابي
“Dan sesungguhnya umatku ini akan berpecah belah menjadi 73 kelompok ,semuanya di neraka kecuali satu kelompok , dia adalah Al Jama’ah “.Didalam riwayat lain :”Dia adalah jalan yang Aku tempuh dan para shahabatku ”( Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya 2/503-504 dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Shohihah :203,204 dan 1492 ).
Al-Imam Ibnu Abi Hamzah Al-Andalusi berkata : ” Para ulama telah berkata tentang makna firman Alloh Ta’ala ” … dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin,Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya ” : sesungguhnya yang dimaksud adalah para sahabat dan generasi pertama, karena merekalah yang menerima wahyu ( yang datang melalui Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam ) , mereka langsung bertanya dari hal-hal yang masih belum jelas , maka dijawab oleh Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam dengan jawaban yang terbaik, dan dijelaskan dengan penjelasan yang sempurna ” ( Bahjatun Nufus 1/4 dengan perantaraan At-Tahdzir min Fitnati Takfir hal. 58 ).
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkata : ” Ittiba’(mengikuti)Sabilil Mukminin adalah hal yang sangat penting sekali…, barang siapa yang mengikuti Sabilil Mukminin, maka dia adalah orang yang selamat disisi Rabbil Alamin, dan barangsiapa yang menyelisihi Sabilul Mukminin maka cukuplah baginya neraka Jahannam dan dia adalah sejelek-jelek tempat kembali.
Dan dari sinilah telah sesat kelompok-kelompok yang banyak sekali – dari dulu hingga sekarang – ; karena mereka tidak sekedar tidak mengikuti sabilul mukminin saja, bahkan mereka andalkan akal-akal mereka dan mereka ikuti hawa-hawa nafsu mereka di dalam menafsirkan Al-Kitab dan As-Sunnah, kemudian mereka bangun di atas hal itu kesimpulan-kesimpulan yang sangat berbahaya sekali ; mereka keluar dari jalan yang ditempuh oleh Salafuna Shalih – Ridhwanullah Alaihim jam’ian – ” ( At-Tahdzir Min Fitnati Takfir hal. 58-59 ).
Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam bersabda :
خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم ثم يجئ أقوام تسبق شهادة أحدهم يمينه ويمينه شهادته
“ Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian yang datang sesudah mereka kemudian yang datang sesudah mereka kemudian datang kaum yang persaksian seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya “ ( Shahih Bukhari 3/224 dan Shahih Muslim 7/185 dan dia adalah hadits yang mutawatir, sebagaimana telah ditegaskan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Al-Ishobah 1/12 dan Al-Munawiy dalam Faidhul Qadir 3/478 serta disetujui oleh Al-Kataaniy dalam kitab Nadzmul Mutanatsir hal.127 ).
Al-Imam An-Nawawi berkata : ” Para ulama telah sepakat bahwa sebaik-baik generasi adalah generasi Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam yaitu para sahabatnya … generasi kedua adalah tabi’in, dan ketiga adalah tabi’ut tabi’in ” ( Syarah Muslim 8/314 ).
Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali berkata : ” Sesungguhnya tolak ukur kebaikan dalam Islam adalah ketakwaan hati dan amal shalih, sebagaimana berfirman:
” Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kami di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu ” ( Al-Hujuraat : 13 ).
Dan sabda Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam :
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
” Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak melihat kepada bentuk kalian dan harta kalian akan tetapi melihat kepada hati-hati kalian dan amalan kalian ” ( Shahih Muslim 8/11 )…
Abdullah bin Mas’ud berkata : ” Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melihat kepada hati-hati para hambaNya dan mendapatkan hati Muhammad Shollallohu Alaihi wa Sallam sebaik-baik hati para hamba lalu memilihnya untuk dirinya dan diutus sebagai pembawa risalahNya, kemudian melihat kepada hati-hati para hamba setelah hati Muhammad Shollallohu Alaihi wa Sallam dan mendapatkan hati-hati para sahabat beliau sebaik-baik para hamba lalu menjadikan mereka sebagai pembantu NabiNya, mereka berperang di atas agamaNya, maka apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin maka dia baik di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan apa yang mereka pandang kejelekan maka dia adalah kejelekan di sisi Allah Subahanhu wa Ta’ala ” ( Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam Musnadnya 1/379, Thayalisi di dalam Musnadnya hal. 23, dan Al-Khathib Al-Baghdadi di dalam Al-Faqih wal Mutafaqqih 1/166 dengan sanad yang hasan ) ( Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafi hal. 87-88 – cetakan pertama 1420 H – ).

MANHAJ SALAFI ADALAH JALAN MENUJU KE SURGA DAN PENYELAMAT DARI NERAKA

Ayat-ayat dan hadits-hadits yang telah terdahulu menunjukkan dengan jelas kepada kita semua bahwa berpegang teguh dengan Manhaj Salafi adalah jalan menuju ke surga, adapun barangsiapa yang menyeleweng darinya maka sungguh diancam dengan neraka.
Syaikh Al-Allamah Shalih Al-Fauzan : “ Keshahihan manhaj menentukan tempat seseorang di surga atau di neraka, jika manhaj seseorang shahih maka dia akan masuk surga, jika dia mengikuti manhaj Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam dan manhaj salafush shalih maka dia akan menjadi penghuni surga biidznillah, dan jika dia berada pada manhaj yang sesat maka dia diancam dengan neraka “( Ajwibah Mufidah hal. 77 ).
Berpegang teguh dengan manhaj Salafush Shalih adalah penyelamat dari fitnah-fitnah yang mengancam perjalanan seorang mukmin, Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam bersabda :
إنها ستكون فتنة قالوا فكيف لنا يا رسول الله أو كيف نصنع قال ترجعون إلى أمركم الأول
“ Sesungguhnya akan terjadi fitnah “, para sahabat berkata : ” Bagaimana kami wahai Rasuluyllah, atau apa yang kami perbuat ? “, Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam bersabda : ” Hendaknya kalian kembali kepada perkara kalian yang awal “ ( Diriwayatkan oleh Thohawi di dalam Syarah Musykil Atsar 3/181 Thabrani dalam Mu’jam Kabir 20/43 dan Mu’jam Ausath 8/295 dan dikatakan shahih sanadnya oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali di dalam syarah beliau terhadap kitab Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafi ).
Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali berkata : ” Marilah kita berpegang teguh dengan Manhaj Salafi yang telah kami jelaskan kepada kalian, karena dialah yang haq, dialah manhaj Ath-Thoifah A-Manshuroh yang dikhabarkan oleh Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam di atas al-haq dan senantiasa di atas al-haq, dan dia adalah manhaj Al-Firqah An-Najiyah ” ( Dari muhadhoroh yang berjudul At-Tamassuk Bil Manhaj As-Salafi dari program Maktabah Syaikh Rabi’ Al-Madkhali oleh islamspirit.com ).

SALAFIYYUN MENGIKUTI MANHAJ SALAFI SECARA LAHIR DAN BATIN

Karakteristik utama dari Salafiyyun para pengikut Manhaj Salafi adalah ittiba’nya mereka kepada manhaj Salafush Shalih dalam ittiba’kepada Kitab dan Sunnah, mendakwahkan dan mengamalkan keduanya :
Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata : ” Pokok-pokok sunnah di sisi kami adalah : Berpegang teguh dengan jalan yang ditempuh oleh para sahabat Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam dan menauladani mereka” ( Syarah Ushul I’tiqad oleh Al-Imam Lalikai 1/176 – terbitan Daru Thayyibah Riyadh cetakan keempat 1416 H – ).
Al-Imam Abu ‘Utsman Ash-Shobuni berkata : ” Mereka ( ashabul hadits ) mengikuti jejak Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya … mereka menauladani para salafush shalih dari para imam agama dan ulama kaum muslimin, mereka berpegang teguh dengan jalan yang mereka tempuh dari agama yang teguh dan kebenaran yang jelas ” ( Aqidah Salaf Ashabul Hadits hal. 113-114 – terbitan Maktabah Ghuraba’ Al-Atsariyyah Madinah cetakan kedua 1415 H – ).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : ” Kemudian di antara manhaj Ahli Sunnah wal Jama’ah adalah ittiba’ kepada atsar-atsar Rasulullah secara lahir dan batin, dan ittiba’ kepada jalan generasi pendahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshor, dan mengikuti wasiat Rasulullah di dalam sabdanya :
عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي عضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة و كل بدعة ضلالة
“ wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku, dan waspadalah kalian dari perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara yang yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan “ .
Mereka mengetahui bahwa sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, mereka dahulukan perkataan Alloh atas semua perkataan manusia. Dan mereka dahulukan petunjuk Muhammad atas petunjuk siapa pun ” ( Aqidah Wasithiyyah hal. 255 – dengan Syarah Muhammad Khalil Harras – terbitan Darul Hijrah Riyadh cetakan ketiga 1415 H – ).
Salafiyyun berusaha dengan sekuat tenaga melaksanakan agama Islam secara sempurna di dalam kehidupan mereka karena syari’at Islam penuh dengan perbendaharaan-perbendaharaan yang sangat berharga yang mencakup seluruh gerak-gerik seorang muslim : Bagaimana dia bergaul dengan saudaranya sesama muslim, bagaimana bergaul dengan orang kafir, bagaimana bergaul dengan tetangga, bagaimana bersikap dengan wanita yang bukan mahram, bagaimana bergaul dengan kedua orang tua, bagaimana bergaul dengan anak dan istri, bagaimana dia naik kendaraan, bagaimana seharusanya pemikirannya, bagaimana dia berpakaian, bagaimana dia berdagang, dan secara ringkas seperti yang disabdakan oleh Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam :
إنه ليس شيء يقربكم إلى الجنة إلا قد أمرتكم به وليس شيء يقربكم إلى النار إلا قد نهيتكم عنه
“ Sesungguhnya tidaklah ada sesuatu yang mendekatkan kalian ke surga melainkan telah aku perintahkan kepada kalian, dan tidaklah ada sesuatu yang mendekatkan kalian ke neraka melainkan telah aku larang kalian darinya “ ( Diriwayatkan oleh Abu Bakr Al-Haddad dalam Muntakhab min Fawaid Ibu Aluwiyyah al-Qaththan hal. 168 dan Ibnu Marduwiyah dalam Tsalatsatu Majalis hal. 188 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah 6/865 ).
Demikian juga Salafiyyun selalu melaksanakan wasiat Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam yang telah melarang ummatnya dari meniru orang-orang kafir di dalam kekhususan-kekhususan orang-orang kafir untuk menjaga kepribadian dan karakteristik seorang muslim, maka telah datang hadits-hadits yang melarang kaum muslimin dari loyalitas, kecintaan, dan taklid ( meniru ) orang-orang kafir, demikian juga Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam memerintahkan setiap muslim agar menyelisihi orang-orang kafir dalam segala hal seperti masalah pakaian, tingkah laku, dan sebagainya.
Hal ini sangat berbeda sekali dengan orang-orang yang berkoar hendak memperjuangkan syari’at Islam akan tetapi mereka justru meremehkan pengamalan syari’at-syari’at Islam, mereka sinis terhadap orang-orang yang mereka pandang mengutamakan penampilan-penampilan Islami yang diperintahkan oleh Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam seperti memanjangkan jenggot, memendekkan celana di atas mata kaki, hijab bagi wanita, dan menyelisih orang-orang kafir di dalam berpakaian, mereka katakan bahwa hal tersebut lebih mementingkan kulit daripada isi !!! mereka membuat pembagian yang bid’ah dengan membagi agama menjadi qusyur ( kulit ) dan lubab ( isi ) !.

SALAFIYYUN MENJUNJUNG TINGGI KEJUJURAN

Di antara karakteristik Salafiyyun para pengikut Manhaj Salafi adalah iltizamnya mereka terhadap kejujuran yang merupakan akhlak utama para sahabat yang Alloh perintahkan setiap mukmin agar menauladaninya, Alloh Ta’ala berfirman:
Alloh Ta’ala berfirman:
“ Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur ”( At-Taubah : 119 ).
Syaikhuna Al-‘Allamah Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad berkata : ” Hendaklah kalian bersama para sahabat Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam yang merupakan orang-orang yang jujur, yang Alloh telah menyelamatkan mereka dengan sebab kejujuran mereka ” ( Syarah Sunan Abu Dawud 16/187 – Maktabah Syamilah – ).
Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam bersabda :
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
“ Hendaklah kamu selalu jujur. Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga. Tidak henti-hnetinya seorang jujur dan selalu berusaha jujur hingga dia tercatat di sisi Allah seorang yang jujur. Hati-hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Dan tidak henti-hentinya seorang berdusta dan selalu memilih dusta hingga dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta “ ( Shahih Bukhari 8/39 dan Shahih Muslim 8/29 ).
Kejujuran adalah ciri utama para pengikut Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam dan kedustaan adalah ciri utama musuh-musuh Islam dari kaum munafiqin, Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam bersabda :
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“ Tanda orang munafik ada tiga : jika bicara dia berdusta, jika dia berjanji maka dia menyelisihi, dan jika diberi amanah maka dia berkhianat “ ( Shahih Bukhari 1/15 dan Shahih Muslim 1/56 ).
Syaikhuna Al-‘Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali berkata : ” Alangkah indahnya kejujuran dan alangkah mulianya orang-orang yang jujur, dan sungguh celakalah dan binasalah para pendusta di setiap zaman dan tempat, bagaimana tidak, kedustaan termasuk pilar-pilar yang paling besar dari kekufuran dan kenifakan ” ( Dari makalah berjudul Ahammiyatu Ash-Shidq wa Dharuratuhu Liqiyami Dunya wa Dien dari program Maktabah Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali oleh islamspirit.com ).

AHLU BID’AH MENYEBARKAN KEDUSTAAN UNTUK MEMBENDUNG DAKWAH SALAFIYYAH

Di antara anugerah Alloh yang wajib disyukuri oleh setiap muslim adalah tersebarnya Dakwah yang Haq Dakwah Salafiyyah di seluruh penjuru dunia yang begitu pesat pada dekade terakhir ini. Dakwah ini telah merambah di segenap lapisan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia.
Menyebarnya dakwah yang haq ini menyejukkan mata dan membesarkan hati setiap muslim yang cinta kepada Islam yang haq, tetapi sebaliknya membuat geram dan panas orang-orang yang hatinya diselubungi oleh kebatilan dan kebid’ahan !
Maka tidak henti-hentinya musuh-musuh dakwah berusaha membendung Dakwah Salafiyyah dengan segala cara termasuk membuat kedustaan-kedustaan untuk mencemarkan dan merusak citra Dakwah Salafiyyah, Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali berkata : ” Seandainya bukan karena halangan-halangan yang datang dari musuh-musuh Alloh dan ahli bid’ah maka sungguh kalian akan melihat dunia Islam sekarang bercahaya dengan dakwah Salafiyyah yang penuh berkah ini, karena sesungguhnya tatkala Dakwah Salafiyyah ini mulai menyebar dan merambah dunia maka ahli bid’ah dan ahli kufur berkonspirasi untuk membendung arus Dakwah Salafiyyah yang deras ini, mereka lakukan berbagai usaha untuk menghentikan dakwah ini, maka hendaknya kalian faham atas konspirasi ini dan makar-makar terhadap dakwah yang haq ini, tidak akan mungkin ahli bid’ah dan pengibar kesesatan tinggal diam dengan memancarnya cahaya dakwah yang haq ini, sama saja apakah kesesatan tersebut berupa kekufuran atau hizbiyyah atau Tashawwuf atau Rafidhah atau kesesatan-kesesatan yang lainnya…
Sesungguhnya kami melihat banyak dari manusia-manusia yang tidak merasa canggung untuk membuat kedustaan dan melanggar kehormatan para da’i Salafi … mereka langgar kehormatan-kehormatan mereka dan mereka cemarkan dengan berbagai macam kedustaan dan kebohongan ” ( Dari muhadhoroh yang berjudul At-Tamassuk Bil Manhaj As-Salafi dari program Maktabah Syaikh Rabi’ Al-Madkhali oleh islamspirit.com ).
Di antara tuduhan-tuduhan dusta yang dialamatkan kepada dakwah Salafiyyah adalah bahwa dia adalah Dakwah Wahabi yang bid’ah, Khawarij yang memberontak kepada Khilafah Utsmaniyyah, agen-agen Zionis, dakwah yang ekstrim, dakwah yang memecah belah, dan beraqidah Murji’ah !.
Tuduhan-tuduhan dusta Ahli Bid’ah kepada Ahlil Haq bukanlah hal yang baru karena di antara karakteristik ahli bid’ah dari masa ke masa bahwasanya mereka selalu mencela dan mencoreng citra Ahli Sunnah wal Jama’ah untuk menjauhkan umat dari al-haq, Al-Imam Abu Hatim Ar-Razi berkata : “ Ciri ahli bid’ah adalah mencela ahlil atsar “ ( Ashlu Sunnah hal. 24 ), Al-Imam Abu Utsman Ash-Shabuni berkata : “ Tanda yang paling jelas dari ahli bid’ah adalah kerasnya permusuhan mereka kepada pembawa Sunnah Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam , mereka melecehkan dan menghina ahli sunnah dan menamakan ahli sunnah dengan Hasyawiyah, Jahalah, Dhahiriyyah, dan Musyabbihah “ ( Aqidah Salaf Ashabul Hadits hal. 116 ).
Al-Imam Ali bin Harb Al-Maushili berkata : “ Setiap ahli hawa ( pengekor hawa nafsu ) selalu berdusta dan tidak peduli dengan kedustaannya! “ ( Diriwayatkan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Al-Kifayah hal. 123 ).

MENEPIS TUDUHAN-TUDUHAN DUSTA TERHADAP SALAFIYYUN DAN DAKWAH SALAFIYYAH

1. Benarkah Salafiyyun Murji’ah ?
Di antara tuduhan-tuduhan dusta terhadap para pengikut Manhaj Salafi pada hari ini adalah bahwa mereka menganut faham Murji’ah, tuduhan ini adalah tuduhan yang paling usang karena sejak dahulu telah diucapkan oleh orang Khowarij kepada ulama Salaf terdahulu, Al-Imam Ishaq bin Rahuwiyah berkata : Suatu saat Abdullah bin Mubarak datang ke kota Ray maka berdiri menghampirinya seorang dari ahli ibadah – dugaan terkuat dia ini mengikuti pemikiran Khawarij – dia berkata kepada Abdullah bin Mubarak : “ Wahai Abu Abdirrahman apa pendapatmu tentang orang yang berzina, mencuri, dan minun khamr ? “, Abdullah bin Mubarak berkata : “ Aku tidak mengeluarkannya dari keimanan “ , orang tersebut berkata : “ Wahai Abu Abdirrahman dalam usia setua ini Engkau menjadi Murji’ah ?! “, Abdullah bin Mubarak berkata : “ Orang-orang murji’ah tidak setuju dengan kami, mereka mengatakan : Amalan-amalan kami diterima dan dosa-dosa kami diampuni, dan seandainya aku tahu bahwa satu amalan baikku diterima maka aku akan mempersaksikan bahwa diriku di surga “ ( Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Utsman Ash-Shabuni dalam Aqidah Salaf Ashabul Hadits hal. 84 dengan sanad yang shahih ).
Salafiyyun mengikuti perkataan Al-Imam Abdullah bin Mubarak yang mengatakan : “ Barangsiapa yang mengatakan iman perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, maka dia telah lepas dari bid’ah irja’ dari awal hingga akhir “ ( Syarhus Sunnah oleh Barbahari hal. 57 ).
2. Apakah Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah Dakwah Wahabi yang bid’ah ?
Di antara tuduhan-tuduhan dusta terhadap Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bahwa dia adalah Dakwah Wahabi yang bid’ah, tuduhan dusta ini telah dibantah oleh Al-Imam Abdul Aziz bin Abdurrahman Alu Su’ud yang mengatakan : ” Mereka menamakan kami Wahabiyyin, dan menamakan madzhab kami adalah madzhab Wahabi yang dianggap sebagai madzhab yang baru, ini adalah kesalahan yang fatal, yang timbul dari propaganda-propaganda yang dusta yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam. Kami bukanlah pemilik madzhab baru atau aqidah baru, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak pernah mendatangkan sesuatu yang baru, aqidah kami adalah aqidah Salafush Shalih yang datang di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam dan apa yang ditempuh oleh Salafush Shalih. Kami menghormati imam empat, tidak ada perbedaan di sisi kami antara para imam : Malik, Syafi’i, Ahmad, dan Abu Hanifah, semuanya terhormat dalam pandangan kami “ ( Al-Wajiz fi Siratil Malik Abdul Aziz hal. 217 ).
3. Benarkah bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Alu Su’ud memberontak kepada Daulah Utsmaniyyah ?
Sebagian orang menyatakan bahwa Muhammad bin Su’ud mendukung dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk merealisasikan impiannya di dalam melepaskan diri dari kekuasaan Daulah Turki Utsmani !.
Ini adalah kedustaan yang nyata atas Daulah Su’udiyah pembela Dakwah Salafiyyah, karena menyelisihi realita sejarah, realita sejarah menunjukkan bahwa di saat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab melancarkan dakwahnya dan bahkan jauh sebelumnya negeri Najed – termasuk Dar’iyyah – tidak pernah menjadi wilayah Daulah Utsmaniyyah ( Tarikh Bilad Arabiyyah Su’udiyyah hal. 47 ).
Di antara bukti-bukti sejarah yang menunjukkan bahwa Najed tidak pernah masuk dalam wilayah Daulah Turki Utsmani adalah sebuah dokumen yang ditulis oleh Yamin Ali Affandi dengan judul asli berbahasa Turki : Qawanin Ali Utsman Dur Madhamin Daftar Diwan, di dalamnya terdapat daftar wilayah Daulah Turki Utsmani sejak penghujung abad ke-11 H yang terbagi menjadi 32 wilayah, 14 wilayah darinya adalah wilayah-wilayah di Jazirah Arabiyyah, dan Najed tidak tercantum dalam daftar wilayah tersebut ( Lihat Bilad Arabiyyah wa Daulah Utsmaniyyah oleh Sathi’ Al-Hushari hal. 230-240 ).
Merupakan hal yang dimaklumi oleh setiap pemerhati sejarah Islam bahwa banyak dari wilayah-wilayah kaum muslimin yang tidak masuk ke dalam wilayah Daulah Turki Utsmani yang ditunjukkan oleh adanya daulah-daulah yang sezaman dengan Daulah Turki Utsmani seperti Daulah Shafawiyyah Rafidhiyyah di Iran, Daulah Mongoliyyah di India, Daulah Maghribiyyah di Maroko Afrika Utara, dan beberapa Negara Islam di Indonesia.
4. Apakah Salafiyyun adalah kelompok Ekstrim ?
Di antara tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar adalah tuduhan dusta bahwa Salafiyyun adalah kelompok yang ekstrim di dalam memahami agama, padahal Salafiyyun sangat jauh dari sikap ekstrim bahkan selalu mengingatkan umat dari semua sikap ghuluw ( ekstrim ) yang merusak agama, begitu banyak tulisan-tulisan dari para ulama Salafiyyin seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin yang memeringatkan umat dari sikap ghuluw di dalam agama.
Maka Salafiyyun Ahli Sunnah wal Jama’ah adalah tengah-tengah di antara kelompok-kelompok sesat dari umat ini sebagaimana umat Islam adalah tengah-tengah antara umat-umat yang sebelumnya, Alloh Ta’ala berfirman :

“ Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. ” ( Al-Baqarah : 143 ).
Makna ( وسطا ) adalah adil sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya 8/171 dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwasanya Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam membaca ayat ini kemudian bersabda : الوسط adalah العدل ( adil ).
Maka umat Islam adalah tengah-tengah di antara umat-umat yang cenderung kepada sikap ghuluw ( berlebihan ) yang memadharatkan dan antara umat-umat yang cenderung kepada sikap sembrono dan lalai.
Demikian juga Ahli Sunnah wal Jama’ah tengah-tengah di antara kelompok-kelompok bid’ah yang menyeleweng dari jalan yang lurus
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : ” Mereka adalah tengah-tengah di antara firqah-firqah umat Islam sebagaimana umat Islam adalah tengah-tengah di antara umat yang lainnya “( Lihat Syarah Aqidah Wasithiyyah oleh Syaikh Muhammad Khalil Harras hal. 183-184 ).
5. Salafiyyun adalah agen-agen Zionis ?
Di antara tuduhan paling keji dan dusta atas Salafiyyun adalah bahwa mereka adalah agen-agen Zionis, bahkan ada sebagian orang yang menuduh bahwa Salafiyyun didanai oleh Zionis untuk memecahbelah kaum muslimin. Yang sangat mengherankan bahwa ada sebagian kaum muslimin yang menjadikan berita seorang kafir sebagai dalil atas tuduhan tersebut, padahal Alloh Ta’ala telah berfirman dalam KitabNya:
 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti “ ( Al-Hujurat : 6 ).
Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata : “ Allah memerintahkan untuk tatsabbut ( memeriksa dengan teliti ) berita yang datang dari orang yang fasiq, dan berhati-hati dalam menyikapinya agar tidak tergesa-gesa menghukumi sesuatu dengan perkataan orang fasiq ini, karena bisa jadi berita yang dibawanya dusta atau keliru … “ ( Tafsir Ibnu Katsir 4/252 ).
Tidak syak samasekali bahwa berita-berita yang bersumber dari orang kafir lebih dusta daripada berita yang datang dari orang yang fasiq, lalu bagaimana berita orang kafir ini dijadikan sebagai rujukan ?!.
Realita yang ada justru kebalikannya, bahwa yang ditakuti musuh-musuh Islam dari Salibis dan Zionis adalah dakwah Islam yang haq : Dakwah Salafiyyah, Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali berkata : ” Orang-orang Yahudi dan Nashoro kecuali dari Islam ini yang mereka namakan Islam Wahhabi ” ( Dari Muhadhoroh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali yang berjudul At-Tamassuk Bil Manhaj As-Salafi dari program Maktabah Syaikh Rabi’ Al-Madkhali oleh islamspirit.com ).
6. Dakwah Salafiyyah Memecah belah umat ?
Di antara tuduhan-tuduhan dusta yang ditujukan kepada Dakwah Salafiyyah yaitu pernyataan yang menyatakan bahwa Dakwah Salafiyyah memecah belah umat !, ini adalah kedustaan yang nyata karena seluruh ulama Dakwah Salafiyyah mengajak kaum muslimin agar selalu bersatu padu dan bekerjasama dalam kebaikan dan taqwa, dan melarang segala jenis perpecahan dan penyelewengan dari jalan Alloh Ta’ala sesuai dengan firman Alloh Ta’ala :
 وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا 
“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai, “ ( Ali Imran: 103 ).
Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam bersabda:
الجماعة رحمة والفرقة عذاب
“ Jama’ah adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab ” ( Diriwayatkan oleh Al-Qudha’i di dalam Musnad Syihab 1/43 dan Ibnu Abi ‘Ashim di dalam As-Sunnah 2/435 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Shahihah 2/272 ).
Dan telah datang fatwa-fatwa dari para ulama seperti Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, dan Syaikh Shalih Al-Fauzan tentang haramnya hizbiyyah dan perpecahan. Fatwa-fatwa tersebut dinukil dan dibawakan oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali di dalam kitab beliau Jama’ah Wahidah hal. 176-184, kemudian Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali berkata : ” Secara umum maka para ulama Islam dan ulama Sunnah sejak dulu hingga sekarang tidak membolehkan perpecahan ini, dan tidak juga hizbiyyah ini, dan tidak juga kelompok-kelompok yang berbeda-beda di dalam manhaj-manhaj dan aqidah-aqidahnya ; karena Alloh telah mengharamkan hal itu, demikian juga Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam , dan dalil-dalilnya banyak sekali yang telah disebutkan di tempat-tempatnya “.

PENUTUP

Kami akhiri bahasan kali ini dengan untaian mutiara nasehat dari Syaikhud Da’wah Salafiyyah Samahatu Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz :
” Wajib atas ahli ilmu dan para penuntut ilmu adan atas seluruh mukallaf agar berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam dan berjalan di atas manhaj Salafush Shalih yaitu para sahabat Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sebagaimana Alloh Ta’ala berfirman:
” Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka jannah-jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar ” ( At-Taubah : 100 ).
Itulah ganjaran yang didapatkan oleh para sahabat Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dan juga setiap orang menempuh jalan mereka, maka yang wajib atas para penuntut ilmu agar mendalami hal itu, berlaku adil, jujur, memilih al-haq, dan menjauhi sebab-sebab perselisihan, mengikuti hawa nafsu, taqlid buta dan fanatik kepada Zaid atau ‘Amr atu kelompok Fulan atau yang lainnya, yang wajib adalah mengikuti al-haq, berpegang teguh dengannya, dan menjauhi hal-hal yang menyelisihinya, meskipun itu diucapkan oleh bapakmu atau saudarmu atau yang lainnya, maka wajib atasmu mengikuti al-haq karena dia lebih berhak diikuti…
Apa yang disebutkan oleh Fadhilatusy Syaikh Rabi’ tentang dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab – Rahmatallah Alaih – adalah yang sebenarnya, karena sesungguhnya Alloh telah menganugerahkan kepada negeri ini ( Saudi Arabia ) dakwah yang penuh berkah ini yaitu Dakwah Salafiyyah, akan tetapi musuh-musuh Alloh telah merusak citra dakwah ini bahwa dia adalah Wahabi yang bid’ah yang telah melakukan ini dan itu, musuh-musuh Dakwah Salafiyyah ini adalah orang-orang sesat ahli bid’ah, di antara mereka ada yang jahil atau yang taklid kepada orang yang jahil, adakalanya orang yang jahil, adakalanya dia taklid, dan yang ketiga adalah pengikut hawa nafsu yang bermaksiat kepada Alloh dengan sadar, mereka inilah musuh-musuh Dakwah Salafiyyah, adakalanya seorang yang jahil, adaklanya seorang yang taklid kepada orang yang jahil, dan jika tidak maka dia adalah pengikut hawa nafsu yang fanatik terhadap hawa nafsunya karena menginginkan makanan dan menginginkan keridhaan manusia dengan imbalan makanannya, minumannya, dan hawa nafsunya. Kita memohon keselamatan kepada Alloh dari hal itu semua.
Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab – Rahmatullah Alaih – adalah Dakwah Salafiyyah yang menempuh jalan yang ditempuh oleh para sahabat – Radhiyallahu Anhum wa Ardhahum – dan para pengikut mereka dengan kebaikan, yang merupakan penerus mereka adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir, dan yang sejalan dengan mereka dari para imam Islam, kemudian datanglah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di pertengahan abad ke-12 Hijriyyah sebagai rohmat dari Alloh kepada umat ini kepada jazirah ini, beliau jelaskan kepada mereka ibadah yang sya’iyyah yang wajib terhadap Alloh, beliau jelaskan kepada mereka hakikat Tauhid dan jalan yang ditempuh oleh kaum musyrikin, beliau jelaskan jalan yang ditempuh oleh Salafush Shalih, beliau menyeru umat kepada jihad, beliau tulis Kitabut Tauhid, Kasyfu Syubuhat, dan Tsalatsatul Ushul untuk menjelaskan al-haq, dan itu adalah kitab-kitab yang agung yang berfaidah.
Beliau sebarkan di antara mereka kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah karena di dalamnya terdapat kebaikan, ilmu, dan dakwah kepada Kitabullah dan Sunnah RasulNya – Alaihi Sholatu wa Salam -, maka Alloh memberikan manfaat dengan sebab dakwah ini kepada kaum muslimin, Alloh persatukan penduduk jazirah ini dengan sebab-sebab para pembelanya dari Alu Su’ud dan selain mereka, dari orang-orang yang membela al-haq dan istiqomah di atas al-haq, mereka berdakwah kepada Alloh, mereka bela dakwah ini sebagai pembelaan kepada agama Alloh dan pembelaan terhadap Kitabullah dan Sunnah RasulNya Alaihi Sholatu Wa Salam, hingga Alloh menolong mereka, membukakan kemenangan-kemenangan kepada mereka, dan Alloh persatukan jazirah Arab ini dari timurnya hingga baratnya, dan dari selatan hingga utaranya, di atas al-haq dan di atas ittiba’ kepada syari’at Alloh dan di atas istiqomah di atas agama Alloh. Maka Alhamdulillah atas itu semua…
Kita memohon kepada Alloh agar memberikan taufiq kepada seluruh kaum muslimin kepada ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih, agar memperbaiki keadaan kaum muslimin semuanya, agar menganugerahkan kepada mereka fiqih di dalam agama, agar menjadikan pemimpin mereka orang-orang yang baik dari mereka, agar memperbaiki panglima-panglima mereka, dan agar memberikan taufiq kepada para waliyyul amr kami di kerajaan ini. Kami memohon kepada Alloh agar memberikan taufiq kepada mereka kepada setiap kebaikan, agar membela al-haq dengan perantaraan mereka, agar menjadikan mereka para pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk, agar memberikan teman-teman yang baik kepada mereka dan melindungi mereka dari teman-teman yang jelek, dan agar memberikan taufiq kepada Shohibul Fadhilah Syaikh Rabi’ kepada setiap kebaikan dan agar memberikan balasan kebaikan atas kalimat-kalimatnya.
Dan sholawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad Shollallohu Alaihi wa Sallam dan keluarganya serta para sahabat dan pengikutnya dengan baik hingga hari kiyamat ” ( Dari Ta’liq Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz kepada Muhadhoroh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali yang berjudul At-Tamassuk Bil Manhaj As-Salafi dari program Maktabah Syaikh Rabi’ Al-Madkhali oleh islamspirit.com ).

والله أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s