SALAFIYYAH BUKAN HIZBIYYAH

SALAFIYYAH BUKAN HIZBIYYAH

wp-1476066874909.jpeg

Sebagian orang menyangka bahwa Salafiyyah adalah kelompok hizbiyyah seperti Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, Quthbiyyah Sururiyyah, dan Jam’ah Tabligh, dan bahwasanya seorang salafi seperti seorang ikhwani atau tablighi atau quthbi dari segi hukum dan pemahaman, mereka menyangka bahwasanya istilah salafiyyah adalah istilah yang baru muncul dalam kurun waktu yang tidak lama, ucapan ini sering muncul dari mulut para pentolan “ jama’ah-jama’ah kontemporer “ di media massa, ada juga yang mengatakan bahwa pendiri dakwah Salafiyyah adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab – seakan-akan dakwah ini belum pernah dikenal sebelumnya – sebagaimana dikatakan oleh Dr. Mani’ bin Hammad Al-Juhani dalam kitabnya Mausu’ah Muyassarah fil Adyan wal madzahib Mu’ashirah hal. 273 !
Ada lagi yang meluncurkan syubhat bahwasanya Salafiyyah tidak lain hanyalah suatu kurun waktu dan bukan suatu madzhab seperti Al-Buthi dalam kitabnya Salafiyyah Laisat Madzhaban !.
Yang sangat disayangkan ternyata masih ada di antara para da’i yang mengaku beraqidah salaf yang sengaja menjauhi penisbahan kepada Salafiyyah dalam dakwah mereka, seakan-akan nama Salafiyyah adalah nama yang tabu atau karena nisbah tersebut membuat mereka tidak leluasa bergerak di “ arena dakwah “ mereka.
Padahal tidak ada yang lebih membanggakan seorang muslim dari menisbahkan diri kepada Salaf, lafadz Salafiyyah atau Salafi tidaklah digunakan oleh para ulama ahli Sunnah kecuali dalam kebaikan, lihatlah dalam kitab-kitab para ulama terutama dalam kitab-kitab biografi mereka tidaklah menyebut Salaf atau salafi melainkan sebagai pujian, begitu sering para ulama menyebutkan biografi seseorang dan menyebutkan di antara manaqibnya adalah karena dia berjalan di atas manhaj salaf !.
Maka di dalam pembahasan yang ringkas ini akan kami paparkan sikap yang seharusnya ditempuh oleh seorang muslim di dalam masalah ini dan sekaligus kami bawakan nukilan dari perkataan-perkataan para ulama dari berbagai generasi tentang intisab kepada Salaf.

PENGERTIAN SALAFIYAH

Salafiyyah adalah penisbahan kepada Salaf, dan Salaf secara bahasa dari sin, lam, dan fa’ yang menunjukkan makna yang sudah berlalu dan terdahulu ( Mu’jam Maqayis Lughah oleh Ibnu Faris 3/95 ).
Fairuz Abadi berkata : “ Salaf adalah orang-orang yang mendahuluimu dari nenek moyangmu dan kerabatmu “ ( Qamusul Muhith 3/153 ).
Rasulullah  bersabda kepada Fatimah رضي الله عنها di saat beliau sakit keras menjelang wafat :
فاتقي الله واصبري ، فإنه نعم السلف أنا لك
“Bertakwalah kepada Alloh dan bersabarlah, maka sesungguhnya sebaik-baik salaf ( pendahulu ) bagimu adalah aku “ ( Muttafaq Alaih, Shahih Bukhari 5/2317 dan Shahih Muslim 4/1904 ).
Adapun secara istilah maka madzhab salaf adalah jalan yang ditempuh oleh para sahabat dan orang-orang yang menempuh jalan mereka, Al-Qalsyani berkata : “ Salafush Shalih adalah generasi pertama yang mendalam keilmuan mereka , yang mengikuti jalan Nabi  , yang selalu menjaga sunnah Nabi  , Alloh pilih mereka sebagai sahabat NabiNya, dan Alloh tugaskan mereka untuk menegakkan agamaNya …” ( Tahrirul Maqalah min Syarhi Risalah hal. 36 ).
Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid berkata : “ Jika disebut salaf atau salafiyyun atau salafiyyah, maka dia adalah nisbah kepada Salafush Shalih : para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan, bukan orang-orang yang cenderung kepada hawa nafsu dari generasi sesudah sahabat dan menyempal dari jalan para sahabat dengan nama atau simbol – mereka inilah yang disebut khalafi, nisbah kepada khalaf -, adapun orang-orang yang teguh di atas manhaj kenabian maka mereka menisbahkan diri kepada Salafush Shalih sehingga mereka disebut salaf dan salafiyyun dan nisbah kepada mereka adalah salafi “ ( Hukmul Intima’ hal. 90 ).

SALAFIYYUN ANTI HIZBIYYAH

Hizbiyyah secara bahasa nisbah kepada hizb yaitu kelompok atau kumpulan manusia ( Qamusul Muhith hal. 94 ).
Jika hizb ( kelompok ) tersebut dijadikan sebagai standar kebenaran dan menjadi dasar bagi wala’( loyalitas ) dan bara’( kebencian dan permusuhan ) maka inilah hizbiyyah yang dicela oleh Alloh dalam KitabNya :
 وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ.مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“janganlah kalian termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. “ ( At-Taubah : 100 )
Ibnu Abbas berkata : “ Mu’awiyah berkata kepadaku : Apakah kamu berada di atas millah Ali ?, maka aku berkata : Tidak, dan aku juga tidak berada di atas millah Utsman, aku berada di atas millah Rasulullah  “ ( Ibanah Kubra oleh Ibnu Baththah 1/355 ).
Lihatlah bagaimana Ibnu Abbas membenci hizbiyyah meskipun hizbiyyah tersebut disandarkan kepada salah seorang Khulafaur Rasyidin, demikianlah Salafus Shalih sangat membenci hizbiyyah kepada kelompok apapun.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “ Tidak diperbolehkan bagi seorangpun untuk mengambil suatu perjanjian atas seseorang agar dia selalu menyetujui apa yang dia kehendaki, memberikan loyalitas kepada siapa saja disukai oleh yang dia baiat, memusuhi siapa saja yang memusuhi orang yang dia baiat, bahkan orang yang berbuat seperti ini adalah seperti model Jengkhis Khan yang menjadikan siapa saja yang cocok dengan mereka adalah teman yang loyal, dan siapa saja yang menyelisihinya adalah musuh yang harus dibenci “ ( Majmu’ Fatawa 28/16 ).
Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid berkata : “ Sesungguhnya tangan Alloh di atas jama’ah, maka tidak ada pengelompokan dan hizbiyyah dalam Islam, maka aku meminta perlindungan Alloh kepadamu agar Engkau tidak luluh sehingga menjadi rampasan kelompok-kelompok, madzhab-madzhab yang batil dan partai-partai yang ghuluw yang menjadikan wala’ dan bara’ di atas hizbiyyah tersebut, maka jadilah Engkau seorang penuntut ilmu yang berjalan di atas jalan yang lurus, mengikuti atsar dan sunnah, menyeru kepada Alloh di atas bashirah, dan mengakui keutamaan orang-orang yang terdahulu, dan bahwasanya hizbiyyah yang memiliki jalur dan lingkup yang baru yang tidak pernah dikenal oleh salaf, maka semua itu adalah termasuk penghalang yang terbesar dari mendapatkan ilmu, dan dia memecahbelah jama’ah “ ( Hilyah Thalibil Ilmi hal. 61-62 ).

INTISAB KEPADA SALAF BUKAN HIZBIYYAH

Intisab kepada salaf bukan hizbiyyah karena karena Salafiyyun tidak pernah menjadikan wala’ dan bara’ kecuali kepada Islam, tidak kepada simbol-simbol tertentu, tetapi semata-mata kepada Kitab dan Sunnah, hal ini sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok dan partai-partai yang memiliki nama-nama, julukan-julukan, metode-metode, dan simbol-simbol yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya yang memberikan loyalitas mutlak kepada setiap orang yang loyal kepada kelompok mereka dan menisbahkan diri kepada kelompok mereka, di sisi lain mereka menjauhi bahkan memusuhi setiap orang-orang yang menyelisihi kelompok mereka dan tidak bernaung di bawah panji-panji mereka !.
Demikian juga nisbah kepada salaf tidak menjadikan ta’ashub ( fanatik ) kepada seseorang atau kelompok, karena Salafiyyun tidak menjadikan suri tauladan dalam segala sesuatu kecuali kepada Rasulullah  .
Adapun kelompok-kelompok hizbiyyah maka mereka begitu fanatik dengan pendiri kelompoknya, atau tokoh-tokoh kelompoknya, bahkan mereka begitu sangat di dalam memusuhi kepada setiap orang yang mengkritik atau menyebutkan kesalahan pendiri mereka, pemimpin mereka, atau tokoh-tokoh mereka. Bahkan mereka menuduh setiap orang yang mengoreksi kesalahan kelompok mereka sebagai pemecah belah dan mengkafirkan umat !.

ITTIBA’ KEPADA SALAF ADALAH SYI’AR AHLI SUNNAH

Abu Nu’aim Al-Ashbahani berkata : “ Di antara syi’ar ahli Sunnah adalah ittiba’nya mereka kepada salafush shalih dan meninggalkan segala sesuatu yang bid’ah dan diada-adakan “ ( Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah 1/364 ).
Para ulama ahli Sunnah selalu menjadikan ittiba’ kepada salaf sebagai suatu keutamaan ketika mereka menyebut biografi seseorang:
Abu Nu’aim Al-Ashbahani menyebutkan Abu Utsman Al-Warraq dalam Hilyatul Auliya’ 10/313 dan mengatakan : “ Jalan yang dia tempuh adalah jalan salaf “.
Al-Hafidz Adz-Dzahabi di dalam Tadzkiratul Huffadz 3/977 ketika menyebut biografi Abu Ahmad Al-Hakim Al-Hafidz beliau mengatakan tentangnya : “ Adalah Abu Ahmad termasuk orang-orang shalih yang teguh di atas sunnah salaf “
Ketika menyebut biografi Al-Imam Abu Isma’il Al-Harawi dalam Tadzkiratul Huffadz 3/1183 beliau mengatakan tentangnya : “ Beliau termasuk penyeru kepada sunnah dan atsar salaf “ .
Ketika menyebut biografi Al-Hafidz Umar bin Abdulkarim Ar-Ruwasi dalam Tadzkiratul Huffadz 4/1237 beliau mengatakan tentangnya : “ Beliau mengikuti sirah salaf “ .
Ketika menyebut biografi Al-Imam Abdul Wahhab Al-Anmathi dalam Tadzkiratul Huffadz 4/1283 beliau mengatakan tentangnya : “ Beliau berada di atas jalan salaf “ .
Ketika menyebut biografi Al-Imam Ahmad bin Muhammad Al-Ashbahani dalam Tadzkiratul Huffadz 4/1284 beliau mengatakan tentangnya : “ Beliau shahih aqidahnya dan berada di atas jalan salaf “ .
Ketika menyebut biografi Al-Imam Abu Dawud As-Sijistani dalam Siyar A’lamin Nubala’ 13/215 beliau mengatakan tentangnya : “ Beliau mengikuti manhaj salaf dalam ittiba’ kepada sunnah, pasrah kepadanya dan tidak berkubang dalam ilmu kalam “ .
Abu Sa’d As-Sam’ani di dalam Tahbir fil Mu’jamil Kabir 3/977 ketika menyebut biografi Abu Ali Husain bin Ali Al-Lamisyi beliau mengatakan tentangnya : “ Beliau menempuh jalan Salafush Shalih “

MENINGGALKAN INTISAB KEPADA SALAF ADALAH SYI’AR AHLI BID’AH

Merupakan hal yang dimaklumi bahwa kelompok-kelompok bid’ah sangat menjauhi intisab kepada salaf, sampai-sampai kelompok yang mengaku beraqidah salaf pun juga menjauhi dan menghindari penisbahan kepada salaf, inilah syi’ar ahli bid’ah dari masa ke masa sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “ Syi’ar ahli bid’ah adalah tidak mau ittiba’ kepada salaf “ ( Majmu’ Fatawa 4/100 ).
Kelompok-kelompok bid’ah ini mengetahui bahwasanya dengan meninggalkan intisab kepada salaf maka mereka dengan leluasa menghukumi segala sesuatu dengan akal mereka, perasaan mereka, dan eksperimen-eksperimen mereka !.
Inilah realita yang menunjukkan keagungan taqdir Alloh Subhanahu wa Ta’ala, agar nampak jelas dakwah yang haq dari setiap kebatilan yang hendak menyerupainya, dan agar dakwah yang haq murni dari segala macam kotoran hendak mencampurinya.

WAJIB BERLEPAS DIRI DARI KELOMPOK-KELOMPOK SESAT

Penisbahan kepada salaf adalah merupakan keharusan pada saat ini seiring dengan munculnya berbagai macam pemikiran yang menyeleweng dan kelompok-kelompok yang sesat dan menyesatkan, Ahlil Haq mengumumkan intisab mereka kepada salaf sebagai bukti berlepas dirinya mereka dari setiap kelompok yang menyeleweng dari jalan yang lurus, Alloh telah berfirman kepada NabiNya dan orang-orang yang beriman :
 فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
“Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. “ ( Ali Imran : 64 )
 وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” “ ( Fushilat : 33 ).

PERKATAAN PARA ULAMA TENTANG INTISAB KEPADA SALAF

1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “ Tidak ada cela bagi orang yang menampakkan madzhab salaf, menisbahkan diri kepadanya, dan membanggakannya, bahkan wajib diterima semua itu darinya dengan kesepakatan ulama. Karena sesungguhnya madzhab salaf adalah haq, jika dia sesuai dengan salaf secara lahir dan batin, maka dia seperti seorang mukmin yang di atas kebenaran secara lahir dan batin “ ( Majmu’ Fatawa 4/149 ).
2. Al-Hafidz Adz-Dzahabi sering menyebutkan nisbah kepada salaf ( As-Salafi ) ketika menyebutkan biografi para ulama :
Ketika menyebutkan biografi Ya’qub bin Sufyan As-Fasawi dalam Siyar A’lamin Nubala’ 13/183 berkata : “ Aku tidaklah mengetahui Ya’qub Al-Fasawi kecuali seorang salafi “
Ketika menyebut biografi Muhammad bin Muhammad Al-Bahrani beliau berkata : “ Dia adalah seorang yang beragama, baik, dan seorang salafi “ ( Mu’jam Syuyuh no. 843 ).
Ketika menyebutkan biografi Al-Imam Daruquthni beliau mengatakan : “ Dia tidak pernah masuk sama sekali dalam ilmu kalam dan jadal, bahkan dia adalah seorang salafi “ ( Siyar 16/457 ).
Ketika menyebutkan biografi Abu Thahir As-Silafi beliau mengatakan : “ As-Silafi diambil dari kata As-Salafi yaitu yang berjalan di atas madzhab salaf “ ( Siyar 21/6 )
Ketika menyebutkan biografi Al-Hafidz Ibnu Sholah beliau mengatakan : “ Dia adalah seorang salafi, bagus aqidahnya … “ ( Tadzkiratul Huffadz 4/1431 ).
3. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata : “ Kami Walhamdulillah selalu ittiba’ dan tidak melakukan kebid’ahan, kami mengikuti Kitab dan Sunnah dan Salafus Shalih di atas manhaj ahli Sunnah wal Jama’ah “ ( Aqidah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab As-Salafiyyah hal. 220 oleh Syaikh Shalih bin Abdullah Al-‘Abud ).
4. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata : “ Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bukanlah madzhab kelima sebagaimana banyak dikatakan oleh orang-orang jahil dan para pemfitnah, sesungguhnya dia adalah dakwah kepada aqidah salafiyyah dan memperbaharui yang hilang dari syi’ar-syi’ar Islam dan Tauhid “ ( Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz 3/1306 ).
Beliau juga berkata : “ Kami berwasiat kepadamu agar masuk ke Universitas Islam Madinah karena dia adalah universitas salafiyyah yang mengajarkan kepada para mahasiswanya aqidah Ahli Sunnah wal Jama’ah “ ( Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz 1/98 ).
5. Dalam Fatwa Lajnah Daimah No. 1361 ada pertanyaan : “ Apakah yang dimaksud dengan Salafiyyah ? “.
Jawab : “ Salafiyyah adalah nisbah kepada salaf, dan salaf adalah para sahabat Rasulullah  dan para imam yang di atas petunjuk dari tiga generasi yang terdahulu yang dipersaksikan dengan kebaikan oleh Rasulullah  dalam sabdanya :
خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم ثم يجئ أقوام تسبق شهادة أحدهم يمينه ويمينه شهادته
“ Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian yang datang sesudah mereka kemudian yang datang sesudah mereka kemudian datang kaum yang persaksian seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya “ ( Muttafaq Alaih ).
Dan Salafiyyun adalah bentuk jama’ dari salafi nisbah kepada salaf, mereka adalah orang-orang yang berjalan di atas manhaj salaf dalam ittiba’kepada Kitab dan Sunnah, mendakwahkan dan mengamalkan keduanya “.
6. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkata : “ Ada orang yang mengaku berilmu mengingkari nisbah Salafiyyah dengan menyangka bahwa penisbahan ini tidak ada landasannya sehingga dia mengatakan : “ Tidak boleh seorang muslim mengatakan saya salafi “, seakan-akan dia mengatakan : “ Tidak boleh seorang muslim mengatakan : Saya mengikuti salafush shalih dalam jalan mereka dalam aqidah, ibadah, dan suluk “ !
Tidak diragukan lagi bahwa pengingkaran seperti ini mengharuskan berlepas diri dari Islam yang shahih yang ditempuh oleh Salafush Shalih, yang pemuka mereka adalah Nabi  sebagaimana diisyaratkan oleh hadits yang mutawatir yang diriwayatkan dalam Shahihain dan yang lainnya bahwasanya Nabi  bersabda :
خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم
“ Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian yang datang sesudah mereka kemudian yang datang sesudah mereka “
Tidak boleh seorang muslim berlepas diri dari intisab kepada Salafush Shalih…
Orang yang mengingkari penisbahan ini tidakkah Engkau melihat bahwasanya dia menisbahkan dirinya kepada suatu madzhab, entah dalam aqidah atau fiqih ?!
Maka dia bisajadi seorang Asy’ari, atau Maturidi, atau termasuk Ahlil Hadits, atau Hanafi, atau Syafi’i, atau Maliki, atau Hanbali; dari nisbah-nisbah yang terhimpun dalam nama Ahli Sunnah, padahal setiap yang menisbahkan diri kepada madzhab Asy’ari atau madzhab imam empat, dia menisbahkan diri kepada person-person yang tidak ma’shum…
Adapun orang yang menisbahkan kepada Salafush Shalih maka dia telah menisbahkan diri kepada kema’shuman – secara umum – , Nabi  telah menyebut sebagian tanda dari Firqatun Najiyah bahwasanya mereka berpegang teguh dengan jalan Rasulullah  dan para sahabat. Barangsiapa yang berpegang teguh dengannya maka dia telah berada di atas petunjuk dari Rabbnya dengan yakin … tidak diragukan lagi bahwa penamaan yang jelas dan gamblang adalah dengan mengatakan : Saya seorang muslim yang mengikuti Kitab dan Sunnah dan Manhaj Salafush Shalih, yang dengan ringkas dia mengatakan : ‘ Saya salafi’ “ ( Majalah Al-Ashalah edisi 9 hal. 87 ).
7. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata : “ Keliru jika ada orang yang mengatakan bahwa Ahli Sunnah wal Jama’ah ada tiga : Salafiyyun, Asy’ariyyun, dan Maturidiyyun, ini adalah perkataan yang salah, kami katakan : Bagaimana mereka semua dikatakan Ahli Sunnah dalam keadaan mereka berbeda-beda !! Adakah sesudah kebenaran kecuali kesesatan ?!, bagaimana mereka semua dikatakan Ahli Sunnah dalam keadaan mereka saling membantah satu dengan yang lainnya. Ini tidak mungkin kecuali jika dimungkinkan dikumpulkan sesuatu yang kontradiksi maka baru pernyataan ini bisa dibenarkan. Kalau tidak maka tidak syak lagi bahwa salah seorang dari tiga kelompok ini adalah Ahli Sunnah. Maka siapakah dia, apakah dia adalah Asy’ariyyah ?, ataukah Maturidiyyah ? ataukah Salafiyyah ?, kami katakan : Barangsiapa yang menepati sunnah maka dialah Ahli Sunnah, dan barangsiapa yang menyelisihi sunnah maka dia bukanlah Ahli Sunnah, maka kami katakan : Salaf adalah Ahli Sunnah wal Jama’ah, tidak berlaku sifat ini kepada selain mereka selamanya, dan suatu kata diperhatikan dari segi maknanya agar kita melihat bagaimana kita namakan orang yang menyelisihi sunnah dengan ahli Sunnah, ini jelas tidak mungkin, bagaimana mungkin kita katakan tiga kelompok yang berselisih bersatu dalam satu pemahaman, ini jelas tidak mungkin. Maka Ahli Sunnah wal Jama’ah adalah yang meyakini aqidah Salaf, sampai orang yang datang belakangan di hari kiyamat jika dia berada di atas jalan Rasulullah  dan para sahabatnya maka dia adalah Salafi “ ( Syarah Aqidah Wasithiyyah 1/53-54 ).
8. Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata : “ Bagaimana dikatakan bahwa bermadzhab dengan salafiyyah adalah bid’ah, sedangkan bid’ah adalah kesesatan ?!, dan bagaimana dikatakan bid’ah ittiba’ kepada salaf sedangkan ittiba’ kepada salaf adalah wajib berdasarkan Kitab dan Sunnah, dan haq dan petunjuk ?!, Alloh  berfirman:
 وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ 
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada “ ( At-Taubah : 100 )
Nabi  bersabda :
عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي
“Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku “ ( Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 4/126, , Tirmidzy dalam Jami’nya 5/44, dan Ibnu Majah dalam Sunannya 1/15 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Zhilalul Jannah : 26,34 )
Maka bermadzhab dengan madzhab salaf adalah sunnah dan bukanlah suatu kebid’ahan, yang bid’ah adalah bermadzhab selain madzhab mereka “ ( Al-Bayan hal. 156 ).
Ketika membantah perkataan Al-Buthi : “ Sesungguhnya kata Salafiyyah tidak dimaksudkan kecuali suatu kurun waktu “ Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata :
“ Kami katakan : Penafsiran bahwasanya Salafiyyah hanyalah suatu kurun waktu dan bukan jama’ah adalah penafsiran yang gharib dan batil, apakah dikatakan bahwa kurun waktu adalah Salafiyyah ? ini tidak pernah dikatakan oleh seorang pun dari manusia, yang benar bahwasanya istilah Salafiyyah ditujukan pada jama’ah orang-orang yang beriman yang hidup di kurun pertama dari masa Islam yang mereka berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah  dari orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik yang mereka ini disifati oleh Rasulullah  dalam sabdanya :
خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم
“ Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian yang datang sesudah mereka kemudian yang datang sesudah mereka “ ( Muttafaq Alaih )
Ini adalah sifat bagi suatu jama’ah dan bukan sifat bagi suatu kurun waktu, ketika Nabi  menyebut tentang perpecahan umat beliau mengatakan sesudahnya sifat semua kelompok ini “ Semuanya di neraka kecuali satu “ dan beliau mensifati satu kelompok yang selamat ini adalah yang mengikuti manhaj salaf dan berjalan di atasnya, beliau bersabda : “ Mereka adalah yang berada di atas jalan yang aku tempuh hari ini dan para sahabatku “ Hal ini menujukkkan bahwa di sana ada jama’ah salafiyyah yang terdahulu dan ada jama’ah salafiyyah belakangan yang mengikuti manhaj jama’ah salafiyyah yang terdahulu, dan di lain pihak ada kelompok-kelompok yang menyelisih jama’ah salafiyyah dan diancam dengan neraka “ ( Al-Bayan hal. 133 ).
Ketika dilontarkan suatu pertanyaan kepada beliau : “ Apakah salafiyyah adalah suatu hizb ( kelompok ) dan apakah menisbahkan diri kepadanya adalah hal yang tercela ? “, maka beliau menjawab :
“ Salafiyyah adalah Firqatun najiyah ( kelompok yang selamat ) mereka adalah Ahli Sunnah wal Jama’ah, bukan suatu hizb yang dinamakan sekarang sebagai kelompok-kelompok atau partai-partai, sesungguhnya dia adalah suatu jama’ah, jama’ah yang berjalan di atas sunnah … maka Salafiyyah adalah jama’ah yang berjalan di atas madzhab salaf dan di atas jalan Rasulullah  dan para sahabatnya, dan dia bukanlah salah satu kelompok dari kelompok-kelompok yang muncul sekarang ini, karena dia adalah jama’ah yang terdahulu dari zaman Rasulullah  dan terus berlanjut teus menerus di atas kebenaran dan nampak hingga hari kiyamat sebagaiman diberitakan oleh Rasulullah  “ ( Dari kaset yang berjudul At-Tahdzir minal Bida’ ).
9. Syaikh Muhammad Aman Al-Jami berkata : “ Salafiyyah telah menjadi istilah yang dikenal yang ditujukan kepada jalan generasi yang pertama dan orang-orang yang menauladani mereka di dalam pengambilan ilmu, cara memahaminya, dan metode dakwah kepadanya. Jika demikian maka tidak dibatasi pada suatu rentang waktu tertentu, bahkan wajib difahami bahwa dia adalah penamaan yang terus berlanjut seiring dengan berlanjutnya kehidupan, dan bahwasanya Firqatun Najiyah berkisar pada para ulama hadits dan Sunnah, merekalah para pemilik manhaj ini dan dia terus berlanjut hingga hari kiyamat sesuai dengan sabda Rasulullah  :
لن تزال طائفة من أمتي منصورين لا يضرهم من خذلهم حتى تقوم الساعة
“Tidak henti-hentinya sekelompok dari umatku yang mendapat pertolongan ( dari Alloh ) tidak ada yang bisa membahayakan mereka siapapun yang menelantarkan mereka hingga tegaknya kiamat “ ( Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 5/34, Tirmidzi dalam Sunannya 4/485 , dan Ibnu Majah dalam Sunannya 1/5 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Sunan Ibnu Majah 1/6 ) “ ( Sifat Ilahiyyah hal. 64-65 ).

( Pembahasan ini banyak mengambil faidah dari kitab Tabshirul Khalaf Bisyar’iyyatil Intisab Ila Salaf oleh Syaikhuna Al-Fadhil Dr. Milfi bin Na’im Ash-Sha’idi ).

KESIMPULAN

Salafiyyah adalah nisbah kepada salaf, dan salaf adalah para sahabat Rasulullah  dan para imam yang di atas petunjuk dari tiga generasi yang terdahulu yang dipersaksikan dengan kebaikan.
Jika seseorang menjadikan sebuah hizb ( kelompok ) sebagai standar kebenaran dan menjadi dasar bagi wala’( loyalitas ) dan bara’( kebencian dan permusuhan ) maka inilah hizbiyyah yang dicela oleh Alloh dalam KitabNya .
Intisab kepada salaf bukan hizbiyyah karena karena Salafiyyun tidak pernah menjadikan wala’ dan bara’ kecuali kepada Islam, tidak kepada simbol-simbol tertentu, tetapi semata-mata kepada Kitab dan Sunnah.
Intisab kepada salaf adalah syi’ar ahli Sunnah dari masa ke masa sehingga para ulama ahli Sunnah selalu menjadikan ittiba’ kepada salaf sebagai suatu keutamaan bagi seseorang.
Kelompok-kelompok bid’ah sangat menjauhi intisab kepada salaf, sampai-sampai kelompok yang mengaku beraqidah salaf pun juga menjauhi dan menghindari penisbahan kepada salaf, karena dengan meninggalkan intisab kepada salaf maka mereka dengan leluasa menghukumi segala sesuatu dengan akal mereka, perasaan mereka, dan eksperimen-eksperimen mereka .
Tidak ada cela bagi orang yang menampakkan madzhab salaf, menisbahkan diri kepadanya, dan membanggakannya, bahkan wajib diterima semua itu darinya dengan kesepakatan ulama.
Pengingkaran intisab kepada salaf mengharuskan berlepas diri dari Islam yang shahih yang ditempuh oleh Salafush Shalih.
Penisbahan kepada salaf adalah merupakan keharusan pada saat ini seiring dengan munculnya berbagai macam pemikiran yang menyeleweng dan kelompok-kelompok yang sesat dan menyesatkan.
والله أعلم بالصواب

Disusun oleh : Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s