​SALAFIYYAH ANTARA KLAIM DAN REALITA

SALAFIYYAH ANTARA KLAIM DAN REALITA

Disusun oleh : Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah
Sesungguhnya Salafush Shalih telah Alloh pilih mereka sebagai para pembela agamaNya dan menjaga syariatNya, dengan sebab apa yang Alloh anugerahkan kepada mereka dari kelurusan aqidah dan keselamatan manhaj, Alloh telah memuji Salaf di dalam banyak ayat-ayatNya, Alloh menjelaskan keutamaan mereka dan memuji jalan mereka, bahkan Alloh mengancam siapa saja yang menyelisihi petunjuk mereka dn berpaling dari jalan mereka, maka Salaf memiliki keutamaan dan senioritas atas generasi setelah mereka, karena inilah maka intisab kepada mereka seperti mengatakan saya Salafi atau kami Salafiyyun adalah intisab yang syarI tidak ada larangan sama sekali.

Dan kita sekarang ini hidup pada zaman fitnah-fitnah yang deras, yang semakin lama semakin besar, hingga jadilah yang maruf menjadi munkar dan yang munkar menjadi maruf.

Sebagian orang memanfaatkan kecintaan kaum muslimin kepada Salaf sehingga mencatut nama salaf untuk memprogandakan pemikiran mereka, bahkan ada sebagian orang yang mengada-adakan bidah dan mempromosikannya kepada kaum muslimin bahwa dia adalah datang dari Salaf dan dia mengklaim bahwa dirinya adalah Salafi.

Hingga muncullah istilah-istilah talbis seperti Salafiyyah Jihadiyah, Salafiyyah Ilmiyyah, Salafiyyah Harokiyyah, dan yang lainnya.

Di sisi lain ada yang menggampangkan di dalam penisbahan manusia kepada Salafiyyah hingga ada yang mengatakan bahwa semua kelompok-kelompok Islam sekarang adalah Salafiyyah, bahkan ada yang mengatakan : Semua muslim adalah Salafi !!!.

Di sisi lainnya ada yang begitu mudah mengeluarkan para pengikut Salaf dari Salafiyyah dengan perkara-perkara yang tidak dianggap oleh para ulama Sunnah sebagai hal yang mengeluarkan dari Salafiyyah, padahal para Salaf telah mengingatkan bahwa mengeluarkan seorang muslim dari Sunnah adalah perkara yang berat !.

Dari sinilah maka sungguh diperlukan penjelasan dhawabith yang diketahui dengannya pokok-pokok para imam Salaf yang barangsiapa mengambilnya secara lahir dan batin maka sah baginya untuk menisbahkan diri kepada mereka, dan siapa yang menyelisihinya maka dia adalah penyelundup dan pengklaim dusta di dalam penisbahannya kepada Salafush Shalih.

Insya Alloh dalam pembahasan kali ini akan kami dhawabith tersebut dengan banyak mengambil faidah dari kitab Tabshirul Kholaf Bidhabith Al-Ushul Allati Man Khaalafaha Kharaja An Manhajis Salafi oleh Syaikh Dr. Ahmad bin Muhammad An-Najjar dengan kata pengantar Syaikh Dr. Shalih bin Sad As-Suhaimi dan Syaikh Prof. Dr. Sulaiman bin Salimullah Ar-Ruhaili  Hafizhahumullah .


MASHDAR TALAQQI MENURUT PARA IMAM SALAF ADALAH AL-KITAB, AS-SUNNAH, DAN AL-IJMA
Para imam salaf mengambil agama mereka dari Al-Kitab, As-Sunnah, dan Al-Ijma, mereka tidak mengambil aqidah-aqidah mereka kecuali dari pokok yang tiga ini, mereka tidak mendahulukan perkataan seorang pun dari manusia atas tiga pokok ini, mereka tidak berhujjah dengan akal dan yang lainnya dengan mengenyampingkan wahyu, bahkan mereka menjadikan akal sebagai pengikut wahyu dan bukan yang diikuti.

Al-Imam Abul Qasim At-Taimi – Rahimahullah berkata :

وَأهل السّنة وَالْجَمَاعَة لم تتعد الْكتاب وَالسّنة وَإِجْمَاع السّلف الصَّالح، وَلم تتبع الْمُتَشَابه وتأويله ابْتِغَاء الْفِتْنَة، وَإِنَّمَا اتبعُوا الصَّحَابَة وَالتَّابِعِينَ، وَمَا اجْمَعْ الْمُسلمُونَ عَلَيْهِ بعدهمْ قولا وفعلا

“ Dan Ahlu Sunnah wal Jama’ah tidaklah melampaui Al-Kitab, As-Sunnah, dan Ijma’ Salafush Shalih, mereka tidak mengikuti nash-nash mutasyabih dan mentakwilnya untuk mencari fitnah, mereka hanyalah mengikuti para sahabat, tabi’in, dan apa yang disepakati oleh kaum muslimin baik secara ucapan maupun amalan “ ( Al-Hujjah Fi Bayanil Mahajjah 2/410 ).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

فَمَنْ قَالَ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ كَانَ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ

“ Siapa yang mengatakan dengan Al-Kitab, As-Sunnah, dan Al-Ijma’ maka dia termasuk Ahli Sunnah “ ( Majmu’ Fatawa 3/346 ).
SETIAP ORANG YANG MENYELISIHI SALAF DI DALAM MASHDAR TALAQQI MAKA DIA TERMASUK AHLIL AHWA’ WAL BIDA
Siapa yang menyelisihi salaf di dalam Mashdar Talaqqi ( Sumber Pengambilan Agama ), maka dia tidaklah termasuk mereka dan tidak juga berjalan di atas petunjuk mereka, dan dianggap termasuk ahlil ahwa wal bida. Karena ahli bidah menjadikan sandaran mereka di atas selain pokok-pokok ini, bahkan atas akal-akal mereka, pendapat-pendapat mereka, dan perasaan-perasaan mereka, kemudian jika mereka melihat dalalah Al-Kitab, As-Sunnah, dan Al-Ijma mencocoki madzhab mereka maka mereka berdalih dengannya, dan jika tidak maka mereka tidak mempedulikannya.

Maka pokok-pokok ini pada hakekatnya adalah pemisah antara Ahli Sunnah wal Jama’ah dan antara yang selain mereka dari Ahli Bid’ah wal Furqah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

فَعَلَى كُلِّ مُؤْمِنٍ أَنْ لَا يَتَكَلَّمَ فِي شَيْءٍ مِنْ الدِّينِ إلَّا تَبَعًا لِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ وَلَا يَتَقَدَّمُ بَيْنَ يَدَيْهِ؛ بَلْ يَنْظُرُ مَا قَالَ فَيَكُونُ قَوْلُهُ تَبَعًا لِقَوْلِهِ وَعَمَلُهُ تَبَعًا لِأَمْرِهِ فَهَكَذَا كَانَ الصَّحَابَةُ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيلَهُمْ مِنْ التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانِ وَأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ؛ فَلِهَذَا لَمْ يَكُنْ أَحَدٌ مِنْهُمْ يُعَارِضُ النُّصُوصَ بِمَعْقُولِهِ وَلَا يُؤَسِّسُ دِينًا غَيْرَ مَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ وَإِذَا أَرَادَ مَعْرِفَةَ شَيْءٍ مِنْ الدِّينِ وَالْكَلَامِ فِيهِ نَظَرَ فِيمَا قَالَهُ اللَّهُ وَالرَّسُولُ فَمِنْهُ يَتَعَلَّمُ وَبِهِ يَتَكَلَّمُ وَفِيهِ يَنْظُرُ وَيَتَفَكَّرُ وَبِهِ يَسْتَدِلُّ فَهَذَا أَصْلُ أَهْلِ السُّنَّةِ، وَأَهْلُ الْبِدَعِ لَا يَجْعَلُونَ اعْتِمَادَهُمْ فِي الْبَاطِنِ وَنَفْسِ الْأَمْرِ عَلَى مَا تَلَقَّوْهُ عَنْ الرَّسُولِ؛ بَلْ عَلَى مَا رَأَوْهُ أَوْ ذَاقُوهُ ثُمَّ إنْ وَجَدُوا السُّنَّةَ تُوَافِقُهُ وَإِلَّا لَمْ يُبَالُوا بِذَلِكَ فَإِذَا وَجَدُوهَا تُخَالِفُهُ أَعْرَضُوا عَنْهَا تَفْوِيضًا أَوْ حَرَّفُوهَا تَأْوِيلًا. فَهَذَا هُوَ الْفُرْقَانُ بَيْنَ أَهْلِ الْإِيمَانِ وَالسُّنَّةِ وَأَهْلِ النِّفَاقِ وَالْبِدْعَةِ

 

“ Wajib atas setiap mukmin agar tidak berbicara di dalam apapun dari agama kecuali mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah (, tidak mendahuluinya, bahkan melihat apa yang dikatakan oleh Rasulullah (, dia menjadikan ucapannya mengikuti ucapan Rasulullah (, dan ilmunya mengikuti perkara Rasulullah (. Demikianlah juga para sahabat, orang-orang yang menempuh jalan mereka dari para pengikut mereka dengan kebaikan, dan para imam kaum muslimin. Karena itulah tidak ada seorang  pun dari mereka yang menentang nash-nash dengan akalnya, tidak ada yang mencetuskan agama selain apa yang dibawa Rasulullah (, jika hendak mengetahui sesuatu dari agama dan pembicaraan tentang agama maka dia melihat kepada apa yang dikatakan oleh Alloh dan RasulNya, dari itulah dia belajar dan dari itulah dia berbicara, kepada itulah dia melihat dan merenung, dengan itulah dia beristdlal, maka inilah pokok Ahli Sunnah.

Sedangkan Ahli Bidah maka mereka tidak menjadikan sandaran mereka secara batin dan secara hakekatnya atas apa yang mereka ambil dari Rasulullah (, bahkan atas apa yang mereka pikirkan dan apa yang mereka rasakan, kemudian jika mereka mendapati Sunnah mencocoinya maka mereka mengambilnya dan jika tidak maka mereka tidak mempedulikannya. Jika mereka mendapati Sunnah menyelisihi mereka maka mereka berpaling darinya atau menyelewengkannya.

Maka inilah pemilah antara Ahli Iman dan Sunnah dan antara Ahli Nifaq dan Bidah  ( Majmu Fatawa 13/62-63 ).
TIDAK ADA IJMA YANG SESUAI BATASANNYA KECUALI APA YANG DITEMPUH OLEH SALAFUSH SHALIH
Yang dimaksud dengan Al-Ijma di atas adalah apa yang ditempuh oleh tiga generasi pertama yang dimuliakan dari para sahabat, tabiin, dan tabiit tabi’in, karena ijma’ ( kesepakatan ) mereka yang mundhabith ( shahih sesuai batasannya ) dan pemahaman mereka adalah yang mu’tabar.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

وَهُمْ يَزِنُونَ بِهَذِهِ الْأُصُولِ الثَّلَاثَةِ جَمِيعَ مَا عَلَيْهِ النَّاسُ مِنْ أَقْوَالٍ وَأَعْمَالٍ بَاطِنَةٍ أَوْ ظَاهِرَةٍ مِمَّا لَهُ تَعَلُّقٌ بِالدِّينِ؛ وَالْإِجْمَاعُ الَّذِي يَنْضَبِطُ: هُوَ مَا كَانَ عَلَيْهِ السَّلَفُ الصَّالِحُ؛ إذْ بَعْدَهُمْ كَثُرَ الِاخْتِلَافُ وَانْتَشَرَتْ الْأُمَّةُ

“ Ahlu Sunnah menimbang dengan tiga pokok ini seluruh apa yang ada pada manusia dari perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan yang lahir batin dari apa-apa yang memiliki kaitan dengan agama.

Dan ijma yang sesuai batasannya adalah apa yang ditempuh oleh Salafush Shalih ; karena setelah mereka banyak perselisihan dan umat telah menyebar  ( Majmu Fatawa 3/157 ).

Para imam salaf telah menjelaskan bahwa pokok yang dibangun di atasnya Al-Jamaah adalah : Berpegang teguh dengan jalan yang ditempuh oleh para sahabat Radhiyallahu Anhum, dan bahwa siapa yang tidak mengambil dari mereka maka dia telah sesat dan berbuat bid’ah.

Al-Imam Ahmad berkata :

أُصُولُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا: التَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَالِاقْتِدَاءُ بِهِمْ , وَتَرْكُ الْبِدَعِ , وَكُلُّ بِدْعَةٍ فَهِيَ ضَلَالَةٌ

“ Pokok-pokok Sunnah di sisi kami adalah berpegang teguh dengan jalan yang ditempuh oleh para sahabat Rasulullah (, meneladani mereka, dan meninggalkan bid’ah-bid’ah “ ( Ushulus Sunnnah hal. 7 – dengan Syarah Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali – ).

Al-Imam Al-Barbahari berkata :

والأساس الذي تبنى عليه الجماعة، وهم أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم ورحمهم الله أجمعين، وهم أهل السنة والجماعة، فمن لم يأخذ عنهم فقد ضل وابتدع، وكل بدعة ضلالة، والضلالة وأهلها في النار

“ Asas yang dibangun di atasnya Al-Jama’ah adalah para sahabat Muhammad (, dan mereka adalah Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Siapa yang tidak mengambil dari mereka maka dia telah sesat dan berbuat bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan kesesatan dan ahlinya di neraka  ( Syarhus Sunnah hal. 59 ).
USHUL ( POKOK-POKOK ) AHLI SUNNAH
Setiap masalah yang masyhur kesesuaiannya dengan Al-Kitab, As-Sunnah, dan Al-Ijma, dia terhitung salah satu pokok dari pokok-pokok Ahli Sunnah.

Pokok-pokok tersebut meliputi masalah-masalah yang agung baik di dalam masalah-masalah ilmiyyah ( keyakinan ) maupun masalah-masalah amaliyyah yang dikenal, masalah-masalah tersebut dikenal dengan masalah-masalah ushul ( pokok ).

Al-Imam Ibnul Qoyyim mengatakan :  …seperti perkataan sebagian mereka bahwa masalah-masalah ushul adalah masalah-masalah ilmiyyah, sedangkan masalah-masalah furu adalah masalah-masalah amaliyyah, ini adalah pemisahan yang batil juga, karena yang dituntut dari masalah-masalah amaliyyah adalah dua perkara, yaitu ilmu dan amal, demikian juga yang dituntut dari masalah-masalah ilmiyyah juga ilmu dan amal, yaitu kecintaan hati dan kebenciannya : kecintaannya kepada al-haq dan kebenciannya kepada kebatilan yang menyelisihinya, maka amalan bukanlah dibatasi pada amalan anggota tubuh saja, bahkan amalan hati adalah landasan bagi amalan anggota tubuh. Maka setiap masalah amaliyyah selalu diiringi oleh keimanan hati, pembenarannya, dan kecintaannya, dan ini adalah amal bahkan pokok dari amalan ( Mukhtashor Showaiq Mursalah 2/412 ).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :  Bahkan yang haq bahwa yang jalil ( agung ) dari masing-masing dua jenis  yaitu masalah-masalah Itiqadiyyah dan amaliyyah  adalah masalah-masalah ushul ( pokok ), dan yang daqiq ( kecil ) adalah masalah-masalah furu ( cabang )  ( Majmu Fatawa 6/56 ).
PENYELISIHIHAN TERHADAP SESUATU DARI USHUL AHLI SUNNAH ADALAH BIDAH
Siapa yang menyelisihi suatu asal ( pokok ) dari ushul ( pokok-pokok ) yang masyhur kesesuaiannya dengan Al-Kitab, As-Sunnah, dan Al-Ijma, maka sungguh dia telah keluar dari petunjuk Salafush Shalih dan dinisbahkan kepada selain mereka.

Berdasarkan hal ini maka bidah yang pelakunya dianggap termasuk ahlil ahwa adalah : Apa yang telah masyhur menurut ahli ilmu penyelisihannya terhadap Al-Kitab, As-Sunnah, dan Al-Ijma, siapa yang terjatuh ke dalamnya maka dia termasuk ahli bidah.

Di antara contoh-contohnya adalah : ilhad( mengingkari ) nama-nama Alloh dan sifat-sifatNya, mendustakan taqdir, membolehkan keluar dari syariat Nabi (, ghuluw hingga menempatkan manusia pada kedudukan tuhan, khuruj ( memberontak ) kepada para pemimpin kaum muslimin, mengingkari mengusap dua khuf, dan yang lainnya ( Lihat Majmu Fatawa 28/105-106 ).

Al-Imam Sufyan bin Uyainah berkata :

السُّنَّةُ عَشَرَةٌ , فَمَنْ كُنَّ فِيهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ السُّنَّةَ , وَمَنْ تَرَكَ مِنْهَا شَيْئًا فَقَدْ تَرَكَ السُّنَّةَ: إِثْبَاتُ الْقَدَرِ , وَتَقْدِيمُ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ , وَالْحَوْضُ , وَالشَّفَاعَةُ , وَالْمِيزَانُ , وَالصِّرَاطُ , وَالْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ , وَالْقُرْآنُ كَلَامُ اللَّهِ , وَعَذَابُ الْقَبْرِ , وَالْبَعْثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ , وَلَا تَقْطَعُوا بِالشَّهَادَةِ عَلَى مُسْلِمٍ

“ Sunnah adalah sepuluh perkara, siapa yang sepuluh perkara itu ada padanya maka dia telah menyempurnakan Sunnah, dan siapa yang meninggalkan sesuatu darinya maka dia telah meninggalkan Sunnah : menetapkan taqdir, mendahulukan Abu Bakar dan Umar, Haudh ( telaga Rasulullah ( ), syafaat, mizan, shirath, iman adalah ucapan dan amalan, al-Quran adalah kalamullah, adzab qubur, kebangkitan pada hari kiyamat, dan janganlah kalian memastikan persaksian atas seorang muslim  ( Syarah Ushul Itiqad Ahli Sunnah oleh Laalikai 2/174 ).

Al-Imam Ali bin Al-Madini berkata :

السُّنَّةُ اللَّازِمَةُ الَّتِي مَنْ تَرَكَ مِنْهَا خَصْلَةً لَمْ يَقُلْهَا أَوْ يُؤْمِنْ بِهَا لَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِهَا

“ Sunnah Lazimah ( yang wajib ) yang barangsiapa meninggalkan sesuatu darinya dia tidak mengucapkannya atau tidak mengimaninya maka dia bukan dari ahlinya : “ kemudian beliau menyebutkan sejumlah pokok-pokok Ahli Sunnah ( Syarah Ushul I’tiqad Ahli Sunnah oleh Laalikai 2/185 ).

Al-Imam Ibnu Qutaibah berkata :

أَصْحَابَ الْحَدِيثِ كُلَّهُمْ مُجْمِعُونَ عَلَى أَنَّ مَا شَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَا لَمْ يَشَأ لَا يَكُونُ.

وَعَلَى أَنَّهُ خَالِقُ الْخَيْرِ وَالشَّرِّ، وَعَلَى أَنَّ الْقُرْآنَ كَلَامُ اللَّهِ غَيْرُ مَخْلُوقٍ، وَعَلَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَرَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَعَلَى تَقْدِيمِ الشَّيْخَيْنِ، وَعَلَى الْإِيْمَانِ بِعَذَابِ الْقَبْرِ، لَا يَخْتَلِفُونَ فِي هَذِهِ الْأُصُولِ، وَمَنْ فَارَقَهُمْ فِي شَيْءٍ مِنْهَا نَابَذُوهُ وَبَاغَضُوهُ وَبَدَّعُوهُ وَهَجَرُوهُ.

“ Ashabul Hadits semuanya sepakat atas bahwa apa yang Alloh kehendaki maka terjadi dan apa yang tidak Alloh kehendaki maka tidak terjadi, bahwa Alloh menciptakan kebaikan dan kejelekan, bahwa Al-Quran adalah kalamullah bukan makhuk, bahwa Alloh Taala dilihat pada hari kiyamat, mendahulukan Syaikhain, mengimani adzab kubur, mereka tidak berselisih di dalam pokok-pokok ini, siapa yang menyempal dari mereka di dalam sesuatu dari pokok-pokok ini maka mereka lempar, mereka benci, mereka bidahkan, dan mereka hajr  ( Tawil Mukhtalafil Hadits halaman 64 ).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

و ” الْبِدْعَةُ ” الَّتِي يُعَدُّ بِهَا الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ مَا اشْتَهَرَ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ بِالسُّنَّةِ مُخَالَفَتُهَا لِلْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ؛ كَبِدْعَةِ الْخَوَارِجِ وَالرَّوَافِضِ وَالْقَدَرِيَّةِ وَالْمُرْجِئَةِ

“ Dan bid’ah yang pelakunya dianggap termasuk ahlil ahwa adalah : Apa yang telah masyhur menurut ahli ilmu penyelisihannya terhadap Al-Kitab, As-Sunnah, dan Al-Ijma, seperti bidah Khawarij, Rawafidh, Qadariyyah, dan Murjiah  ( Majmu Fatawa 35/414 ).
TABDI ATAS MUAYYAN
Apa yang telah disebutkan di dalam awal bahasan ini  bahwa orang yag menyelisihi suatu pokok dari pokok-pokok Ahli Sunnah maka dia telah keluar dari petunjuk Salafush Shalih dan menjadi Ahli Bidah – ; ini adalah hukum secara umum.

Adapun secara khusus dan penerapan hukum pada person-person maka di dalam masalah ini ada perinciannya, karena tidaklah setiap orang yang terjatuh ke dalam bidah maka dikatakan sebagai Ahli Bidah, karena jika ada seseorang yang loyal kepada Salaf, sumber pengambilan istidlalnya sesuai dengan jalan Salaf, bersamaan dengan itu dia terjatuh ke dalam suatu perkara yang menyelisihi pokok-pokok Salaf karena ketidaksengajaan dan tidak menjadikan loyalitas dan permusuhan atas perkara tersebut ; maka orang ini tidaklah dikeluarkan dari batasan Salaf dengan sebab kesalahan tersebut, dan tidak dihukumi Ahli Bidah,dan hanyalah dikatakan dia menepati Ahli Bidah di dalam perkara demikian dan demikian ; untuk menjelaskan kelemahan perkataannya, dan tidak dikatakan dia seperti Ahli Bidah dan tidak dihukumi Ahli Bidah.

Adapun jika telah terpenuhi padanya syarat-syarat tabdi dan tidak ada penghalang-penghalangnya, maka dia dihukumi sebagai Ahli Bidah.

Al-Imam Ahmad ditanya :

رَجُلٍ مُحَدِّثٍ، يُكْتَبُ عَنْهُ الْحَدِيثُ، قَالَ: مَنْ شَهِدَ أَنَّ الْعَشَرَةَ فِي الْجَنَّةِ فَهُوَ مُبْتَدِعٌ، فَاسْتَعْظَمَ ذَلِكَ، وَقَالَ: «لَعَلَّهُ جَاهِلٌ، لَا يَدْرِي، يُقَالَ لَهُ»

“  Ada seorang muhaddits yang ditulis hadits darinya dia mengatakan :  Orang yang mempersaksikan bahwa sepuluh orang sahabat di surga maka dia adalah ahli bidah , maka Al-Imam Ahmad menganggap besar hal itu dan mengatakan :  Barangkali dia jahil ( bodoh ) tidak tahu, dikatakan kepadanya   ( Diriwayatkan oleh Al-Khollal di dalam As-Sunnah 2/369 ).

Beliau juga ditanya :

فَمَا تَقُولُ فِيمَنْ لَمْ يُثْبِتْ خِلَافَةَ عَلِيٍّ؟ قَالَ: بِئْسَ الْقَوْلُ هَذَا… قيل: يَكُونُ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ؟ قَالَ: «مَا أَجْتَرِئُ أَنْ أُخْرِجَهُ مِنَ السُّنَّةِ، تَأَوَّلَ فَأَخْطَأَ»

“ Apa yang Engkau katakan tentang orang yang tidak mengakui kekhilafahan Ali ? , beliau menjawab :  Ini adalah sejelek-jelek perkataan .

Ditanyakan lagi kepada beliau :  Apakah dia termasuk Ahli Sunnah ?  , Al-Imam Ahmad berkata :  Aku tidak berani mengeluarkan dia dari Sunnah, dia mentakwil dan keliru  ( Diriwayatkan oleh Al-Khollal di dalam As-Sunnah 2/428 ).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

وَمِثْلُ هَؤُلَاءِ إذَا لَمْ يَجْعَلُوا مَا ابْتَدَعُوهُ قَوْلًا يُفَارِقُونَ بِهِ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ؛ يُوَالُونَ عَلَيْهِ وَيُعَادُونَ؛ كَانَ مِنْ نَوْعِ الْخَطَأِ. وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ خَطَأَهُمْ فِي مِثْلِ ذَلِكَ. وَلِهَذَا وَقَعَ فِي مِثْلِ هَذَا كَثِيرٌ مِنْ سَلَفِ الْأُمَّةِ وَأَئِمَّتِهَا: لَهُمْ مَقَالَاتٌ قَالُوهَا بِاجْتِهَادِ وَهِيَ تُخَالِفُ مَا ثَبَتَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ؛ بِخِلَافِ مَنْ وَالَى مُوَافِقَهُ وَعَادَى مُخَالِفَهُ وَفَرَّقَ بَيْنَ جَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ وَكَفَّرَ وَفَسَّقَ مُخَالِفَهُ دُونَ مُوَافِقِهِ فِي مَسَائِلِ الْآرَاءِ وَالِاجْتِهَادَاتِ؛ وَاسْتَحَلَّ قِتَالَ مُخَالِفِهِ دُونَ مُوَافِقِهِ فَهَؤُلَاءِ مِنْ أَهْلِ التَّفَرُّقِ وَالِاخْتِلَافَاتِ

“ Dan seperti mereka ini jika mereka tidak menjadikan bidah yang mereka lakukan sebagai suatu perkataan yang memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin ; menjadikan loyalitas dan memusuhi atasnya; maka ini termasuk suatu kesalahan, dan Alloh akan mengampuni kaum mukminin kesalahan mereka di dalam hal seperti itu.

Karena inilah banyak dari Salaf dan para imam mereka terjatuh ke dalam hal yang seperti ini, mereka memiliki perkataan-perkataan yang mereka ucapkan dengan ijtihad, dan perkataan-perkataan terebut menyelisihi apa yang tsabit di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah ; hal ini berbeda dengan orang yang loyal kepada orang yang sependapat dengannya dan memusuhi orang yang menyelisihnya dan memecah belah jamaah kaum muslimin, mengkafirkan dan memfasiqkan orang-orang yang menyelisihnya di dalam masalah-masalah pendapat-pendapat dan ijtihad-ijtihad; dan dia halalkan perang terhadap orang yang menyelisihnya, maka mereka ini termasuk ahli perpecahan dan perselisihan  ( Majmu Fatawa 3/349 ).

Siapa yang selamat di dalam pokok yang pertama yaitu Mashdar Talaqqi dan setelah itu terjerumus ke dalam bidah, maka tidaklah diterapkan hukum atasnya kecuali setelah terpenuhi syarat-syaratnya dan tidak ada penghalang-penghalangnya. Adapun orang yang kesalahannya pada pokok yang pertama maka diterapkan hukum atasnya secara langsung ; karena dari asalnya memang dia tidak komitmen dengan Sunnah maka tidak usah dinisbahkan kepadanya, karena inilah kita mendapati bahwa para imam Salaf mensifati orang yang komitmen dengan pokok Mutazilah atau Asyairah bahwa dia adalah Mutazili atau Qodari, atau Asyari, dan sebagainya.
KEHATI-HATIAN DALAM TABDI BUKAN BERARTI TIDAK MENTAHDZIR DARI BIDAH

 

Jangan sampai difahami dari kehati-hatian dari tabdi muayyan yaitu tidak menghukumi seseorang sebagai ahli bidah hingga terkumpul syarat-syaratnya dan tidak ada penghalang-penghalangnya : bahwa kita diam dari kebidahan dan tidak menjelaskan kesesatannya, karena bidah wajib dibantah secara mutlak, dan wajib kaum muslimin diperingatkan darinya, tidak dipandang siapa yang melakukannya, dan jika tidak diperingatkan maka sungguh akan mengaburkan agama atas sebagian kaum muslimin dan akan mereka anggap bidah sebagai sunnah !.

Tidak pernah muncul suatu bidah dalam ummat melainkan diingkari oleh salaf dari kalangan shahabat, tabiin, dan para imam agama ini yang mengikuti mereka dalam kebaikan , mereka selalu memperingatkan ummat dari bidah-bidah ini, dan mengingkari ahli bidah terhadap kebidahan mereka. Mereka nampakkan sikap berlepas diri dari ahli bidah dan menyatakan kebencian dan permusuhan kepada ahli bidah sampai mereka bertaubat.

Dari Ibnu Umar bahwasanya dia mengatakan kepada seorang yang menyampaikan berita kepadanya tentang kelompok qodariyyah :  Jika Engkau bertemu mereka beritahukan bahwa Ibnu Umar berlepas diri dari mereka, dan mereka berlepas diri dari Ibnu Umar  ( Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya 1/140 ).

Dari Abul Jauza dia berkata :  Kalau aku bertetangga dengan kera dan babi itu lebih aku sukai daripada bertetangga dengan seorang dari ahli bidah  ( Dikeluarkan oleh Ibnu Baththah dalam Ibanah Kubro 2/467 dan Lalikai dalam Syarh Usul Itiqod 1/131 ).

Al-Imam Baghawy berkata :  Para shahabat , tabiin, tabiit tabiin dan para ulama sunnah sepakat atas permusuhan terhadap ahli bidah dan pemboikotan terhadap mereka  ( Syarhus Sunnah 1/227 ).
TAHDZIR DARI BIDAH TIDAK SELALU MENGHUKUMI PELAKUNYA KELUAR DARI AHLI SUNNAH
Ketika kita mentahdzir kaum muslimin dari suatu kebidahan yang dilakukan oleh seseorang bukan berarti selalu menghukumi pelaku bidah tersebut sebagai ahli bidah; hingga terkumpul padanya syarat-syarat tabdi dan tidak ada penghalang-penghalangnya sebagaimana telah terdahulu di atas bagi setaip orang yang mashdar talaqqinya sesuai dengan mashdar talaqqi para imam Salaf.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata :

وأما الخطأ في العقيدة: فإن كان خطأ مخالفًا لطريق السلف، فهو ضلال بلا شك ولكن لا يحكم على صاحبه بالضلال حتى تقوم عليه الحجة، فإذا قامت عليه الحجة، وأصر على خطئه وضلاله، كان مبتدعًا فيما خالف فيه الحق

“ Adapun kesalahan di dalam aqidah, jika dia adalah kesalahan yang menyelisihi jalan Salaf maka dia adalah kesesatan yang tidak diragukan lagi, akan tetapi tidak dihukumi atas pelakunya dengan kesesatan hingga ditegakkan hujjah atasnya, jika sudah ditegakkan hujjah atasnya, dan dia bersikeras atas kesalahan dan kesesatannya, maka dia adalah mubtadi ( ahli bidah ) pada penyelisihannya terhadap al-haq  ( Kitabul Ilm halaman 135 ).
APAKAH SAMA BAB TAKFIR DAN TABDI DALAM HAL IQOMATUL HUJJAH ?
Sebagian orang membedakan antara bab Takfir dan Tabdi di dalam hal Iqomatul Hujjah, yaitu bahwa bab Takfir disyaratkan iqomatul hujjah sedangkan bab Tabdi’ tidak disyaratkan iqomatul hujjah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan antara keduanya, beliau berkata :

وَإِنَّمَا ” الْمَقْصُودُ هُنَا ” أَنَّ مَا ثَبَتَ قُبْحُهُ مِنْ الْبِدَعِ وَغَيْرِ الْبِدَعِ مِنْ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ أَوْ الْمُخَالِفِ لِلْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ إذَا صَدَرَ عَنْ شَخْصٍ مِنْ الْأَشْخَاصِ فَقَدْ يَكُونُ عَلَى وَجْهٍ يُعْذَرُ فِيهِ؛ إمَّا لِاجْتِهَادِ أَوْ تَقْلِيدٍ يُعْذَرُ فِيهِ وَإِمَّا لِعَدَمِ قُدْرَتِهِ كَمَا قَدْ قَرَّرْته فِي غَيْرِ هَذَا الْمَوْضِعِ وَقَرَّرْته أَيْضًا فِي أَصْلِ ” التَّكْفِيرِ وَالتَّفْسِيقِ ” الْمَبْنِيِّ عَلَى أَصْلِ الْوَعِيدِ. فَإِنَّ نُصُوصَ ” الْوَعِيدِ ” الَّتِي فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَنُصُوصَ الْأَئِمَّةِ بِالتَّكْفِيرِ وَالتَّفْسِيقِ وَنَحْوِ ذَلِكَ لَا يُسْتَلْزَمُ ثُبُوتُ مُوجَبِهَا فِي حَقِّ الْمُعَيَّنِ إلَّا إذَا وُجِدَتْ الشُّرُوطُ وَانْتَفَتْ الْمَوَانِعُ لَا فَرْقَ فِي ذَلِكَ بَيْنَ الْأُصُولِ وَالْفُرُوعِ. هَذَا فِي عَذَابِ الْآخِرَةِ فَإِنَّ الْمُسْتَحِقَّ لِلْوَعِيدِ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ وَلَعْنَتِهِ وَغَضَبِهِ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ خَالِدٌ فِي النَّارِ أَوْ غَيْرُ خَالِدٍ وَأَسْمَاءُ هَذَا الضَّرْبِ مِنْ الْكُفْرِ وَالْفِسْقِ يَدْخُلُ فِي هَذِهِ ” الْقَاعِدَةِ ” سَوَاءٌ كَانَ بِسَبَبِ بِدْعَةٍ اعْتِقَادِيَّةٍ أَوْ عِبَادِيَّةٍ أَوْ بِسَبَبِ فُجُورٍ فِي الدُّنْيَا وَهُوَ الْفِسْقُ بِالْأَعْمَالِ. فَأَمَّا أَحْكَامُ الدُّنْيَا فَكَذَلِكَ أَيْضًا؛ فَإِنَّ جِهَادَ الْكُفَّارِ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ مَسْبُوقًا بِدَعْوَتِهِمْ؛ إذْ لَا عَذَابَ إلَّا عَلَى مَنْ بَلَغَتْهُ الرِّسَالَةُ وَكَذَلِكَ عُقُوبَةُ الْفُسَّاقِ لَا تَثْبُتُ إلَّا بَعْدَ قِيَامِ الْحُجَّةِ.

“ Sesungguhnya yang dimaksudkan di sini adalah apa yang telah terbukti keburukannya dari bidah dan selain bidah yang terlarang di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, atau yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah jika muncul dari person yang terkadang dalam sisi yang dia berudzur di dalamnya, bisajadi karena ijtihad atau taqlid yang diberi udzur di dalamnya, dan bisajadi karena ketidakmampuannya, sebagaimana telah aku tetapkan di dalam selain tempat ini, dan telah aku tetapkan juga di dalam pokok takfir dan tafsiq yang dibangun di atas pokok al-waid ( ancaman ).

Karena sesungguhnya nash-nash ancaman yang ada di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, dan nash-nash para imam tentang takfir dan tafsiq dan yang semacamnya, tidak mewajibkan hukum tersebut pada person, kecuali jika didapati syarat-syaratnya dan tidak ada penghalang-penghalangnya, tidak ada perbedaan di dalam hal itu antara Ushul dan Furu, ini di dalam adzab akhirat, karena sesungguhnya orang yang terkena ancaman dariadzab Alloh, laknatNya, kemarahanNya, kekal di neraka atau tidak kekal di neraka, – dan nama-nama yang semacam ini dari kekufuran dan kefasikan -, masuk di dalam kaidah ini samasaja apakah dengan sebab bidah keyakinan atau ibadah, atau dengan sebab kefajiran di dunia yaitu kefasikan dengan amalan-amalan.

Adapun hukum-hukum di dunia maka demikian itu juga karena sesungguhnya jihad melawan orang-orang kafir wajib didahului dengan dakwah kepada mereka; karena tidak ada adzab kecuali atas orang yang telah sampai risalah kepadanya, dan demikian juga hukuman orang yang fasiq tidak terjadi kecuali setelah ditegakkan hujjah  ( Majmu Fatawa 10/371-372 ).

Beliau juga berkata :

مَنْ خَالَفَ الْكِتَابَ الْمُسْتَبِينَ وَالسُّنَّةَ الْمُسْتَفِيضَةَ أَوْ مَا أَجْمَعَ عَلَيْهِ سَلَفُ الْأُمَّةِ خِلَافًا لَا يُعْذَرُ فِيهِ فَهَذَا يُعَامَلُ بِمَا يُعَامَلُ بِهِ أَهْلُ الْبِدَعِ

“ Siapa yang menyelisihi Al-Kitab yang jelas dan Sunnah yang masyhur atau apa yang disepakati oleh Salaf dengan penyelisihan yang tidak ada udzurnya,maka orang seperti ini diperlakukan sebagaimana yang diperlakukan terhadap ahli bida  ( Majmu Fatawa 24/172-173 ).
KESIMPULAN DAN PENUTUP
Inilah yang bisa kami paparkan di dalam bahasan ini dan diantara kesimpulan yang bisa kita ambil adalah :

Mashdar talaqqi ( sumber pengambilan agama ) para imam salaf adalah Al-Kitab, As-Sunnah, dan Al-Ijma, mereka tidak mengambil agama mereka kecuali dari pokok yang tiga ini, mereka tidak mendahulukan perkataan seorang pun dari manusia atas tiga pokok ini.

Siapa yang menyelisihi salaf di dalam Mashdar Talaqqi ( Sumber Pengambilan Agama ), maka dia tidaklah termasuk mereka dan tidak juga berjalan di atas petunjuk mereka, dan dianggap termasuk ahlil ahwa wal bida.

Setiap masalah yang masyhur kesesuaiannya dengan Al-Kitab, As-Sunnah, dan Al-Ijma, dia terhitung salah satu pokok dari pokok-pokok Ahli Sunnah.

Siapa yang menyelisihi suatu asal ( pokok ) dari ushul ( pokok-pokok ) yang masyhur kesesuaiannya dengan Al-Kitab, As-Sunnah, dan Al-Ijma, maka sungguh dia telah keluar dari petunjuk Salafush Shalih dan dinisbahkan kepada selain mereka.

Siapa yang selamat di dalam pokok yang pertama yaitu Mashdar Talaqqi dan setelah itu terjerumus ke dalam bidah, maka tidaklah dihukumi sebagai ahli bidah atasnya kecuali setelah terpenuhi syarat-syaratnya dan tidak ada penghalang-penghalangnya. Adapun orang yang kesalahannya pada pokok yang pertama maka diterapkan hukum tabdi atasnya secara langsung ; karena dari asalnya memang dia tidak komitmen dengan Sunnah.

Tidak menghukumi seseorang sebagai ahli bidah hingga terkumpul syarat-syaratnya dan tidak ada penghalang-penghalangnya : bahwa kita diam dari kebidahan dan tidak menjelaskan kesesatannya.

Ketika kita mentahdzir kaum muslimin dari suatu kebidahan yang dilakukan oleh seseorang bukan berarti selalu menghukumi pelaku bidah tersebut sebagai ahli bidah.

Akhirnya semoga Alloh selalu memberi taufiq kepada kita kepada ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih, selalu menjaga kita dari segala macam fitnah yang nampak dan tidak nampak serta mengumpulkan kita di barisan para nabi, para Shiddiqin, Syuhada’, dan Shalihin. Amin.
والله أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s