WAJIBNYA ITTIBA DAN DILARANGNYA TAKLID

WAJIBNYA ITTIBA
Ittiba adalah menempuh jalan orang yang ( wajib ) diikuti dan melakukan apa yang dia lakukan ( Ilamul Muwaqqiin 2/171 ).

Seorang muslim wajib ittiba kepada Rasulullah ( dengan menempuh jalan yang beliau tempuh dan melakukan apa yang beliau lakukan, begitu banyak ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan setiap muslim agar selalu ittiba kepada Rasulullah ( di antaranya firman Alloh (:

( قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ ( 

“Katakanlah: “Ta`atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir” “ ( Ali Imran : 32 ) 

( يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ( 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. “ ( Al-Hujurat : 1 ) 

( يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا( 

“Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. “ ( An-Nisa’ : 59 )

( قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ( 

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ ( Ali Imran : 31 ) 

Rasulullah ( bersabda : 

والذي نفسي بيده لو أن موسى  صلى الله عليه وسلم  كان حيا ما وسعه إلا   أن يتبعني

“ Demi Dzat yang jiwaku di tanganNya seandainya Musa hidup maka tidak boleh baginya kecuali mengikutiku “ ( Dikeluarkan oleh Abdurrazaq dalam Mushonnafnya 6/113, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya 9/47 , Ahmad dalam Musnadnya 3/387, dan Ibnu Abdil Barr dalam Jami Bayan Ilmi 2/805, Syaikh Al-Albani berkata dalam Irwa 6/34 : Hasan ).  

Syaikh Al-Albani berkata :  Jika saja Musa Kalimullah tidak boleh ittiba kecuali kepada Rasulullah ( bagaimana dengan yang lainnya ?, hadits ini merupakan dalil yang qathi atas wajibnya mengesakan Nabi ( dalam hal ittiba, dan ini merupakan keharusan Syahadat  أن محمدا رسول الله , karena itulah Alloh sebutkan dalam ayat di atas ( Surat Ali Imran : 31 ) bahwa ittiba’ kepada Rasulullah ( bukan kepada yang lainnya adalah dalil kecintaan Alloh kepadanya “ ( Muqaddimah Bidayatus Sul fi Tafdhili Rasul hal. 5-6 ).

Demikian juga Alloh memerintahkan setiap muslim agar ittiba’ kepada sabilil mukminin yaitu jalan para sahabat Rasulullah ( dan mengancam dengan hukuman yang berat kepada siapa saja yang menyeleweng darinya :  

( وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا( 

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.  ( An-Nisa : 115 ). 

Pengertian lain dari ittiba adalah jika Engkau mengikuti suatu perkataan seseorang yang nampak Hb keshahihannya sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Ibnu Abdil Barr dalam kitabnya Jami Bayanil Ilmi wa Ahlihi 2/787.

Al-Imam Asy-Syafii berkata :  Aku tidak pernah mendebat seorangpun kecuali aku katakan :  Ya Alloh jalankan kebenaran pada hati dan lisannya, jika kebenaran bersamakau maka dia ittiba kepadaku dan jika kebenaran bersamanya maka aku ittiba padanya  ( Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam oleh Al-Izz bin Abdussalam 2/136 ).
TAKLID BUKANLAH ITTIBA
Al-Imam Ibnu Abdil Barr berkata :  Taklid menurut para ulama bukan ittiba, karena ittiba adalah jika Engkau mengikuti perkataan seseorang yang nampak bagimu keshahihan perkataannya, dan taklid adalah jika Engkau mengikuti perkataan seseorang dalam keadaan Engkau tidak tahu segi dan makna perkataannya  ( Jami Bayanil Ilmi wa Ahlihi 2/787 ).

Abu Abdillah bin Khuwaiz Mindad berkata :  Taklid maknanya dalam syariat adalah merujuk kepada suatu perkataan yang tidak ada argumennya, ini adalah dilarang dalam syariat, adapun ittiba maka adalah yang kokoh argumennya 

 Beliau juga berkata :  Setiap orang yang Engkau ikuti perkataannya tanpa ada dalil yang mewajibkanmu untuk mengikutinya maka Engkau telah taklid kepadanya, dan taklid dalam agama tidak shahih, setiap orang yang dalil mewajibkanmu untuk mengikuti perkataannya maka Engkau ittiba kepadanya, ittiba dalam agama dibolehkan dan taklid dilarang  ( Dinukil oleh Ibnu Abdil Barr dalam kitabnya Jami Bayanil Ilmi wa Ahlihi 2/993 ).
PARA IMAM MELARANG TAKLID DAN MEWAJIBKAN ITTIBA
 Di antara hal lain yang menunjukkan perbedaan yang mendasar antara taklid dan ittiba adalah larangan para imam kepada para pengikutnya dari taklid dan perintah mereka kepada para pengikutnya agar selalu ittiba:

Al-Imam Abu Hanifah berkata :  Tidak halal atas seorangpun mengambil perkataan kami selama dia tidak tahu dari mana kami mengambilnya  dalam riwayat lain beliau berkata : Orang yang tidak tahu dalilku haram atasnya berfatwa dengan perkataanku  ( Dinukil oleh Ibnu Abidin dalam Hasyiyahnya atas Bahru Raiq 6/293 dan Syarany dalam Al-Mizan 1/55 ). 

Al-Imam Malik berkata :  Sesungguhnya aku adalah manusia yang bisa benar dan keliru, lihatlah pendapatku, setiap yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah maka ambillah, dan setiap yang tidak sesuai dengan Kitab dan Sunnah maka tinggalkanlah  ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Al-Jami 2/32 ).

  Al-Imam Asy-Syafii berkata :  Jika kalian menjumpai sunnah Rasulullah ( ittibalah kepadanya, janganlah kalian menoleh kepada perkataan siapapun  ( Diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam Hilyatul Auliya 9/107 dengan sanad yang shahih )

Beliau juga berkata :  Setiap yang aku katakan, kemudian ada hadits shahih yang menyelisihinya, maka hadits Nabi ( lebih utama untuk diikuti, janganlah kalian taklid kepadaku ( Diriwayatkan oleh Abu Hatim dalam Adab Syafii hal. 93 dengan sanad yang shahih ).

Al-Imam Ahmad berkata :  Janganlah Engkau taklid dalam agamamu kepada seorangpun dari mereka, apa yang datang dari Nabi ( dan para sahabatnya ambillah , beliau juga berkata :  Ittiba adalah jika seseorang mengikuti apa yang datang dari Nabi ( dan para sahabatnya  ( Masail Al-Imam Ahmad oleh Abu Dawud hal.276-277 ).
ITTIBA ADALAH JALAN AHLI SUNNAH DAN TAKLID ADALAH JALAN AHLI BIDAH
 Al-Imam Ibnu Abil Iz Al-Hanafy berkata :  Umat ini telah sepakat bahwa tidak wajib taat kepada seorangpun dalam segala sesuatu kecuali kepada Rasulullah ( … maka barangsiapa yang taashub ( fanatik ) kepada salah seorang imam dasn mengenyampingkan yang lainnya maka seperti orang yang taashub kepada seorang sahabat dan mengenyampingkan yang lainnya, seperti orang-orang Rafidhah yang taashub kepada Ali dan mengenyampingkan tiga khalifah yang lainnya. Ini adalah jalannya ahlul ahwa  ( Al-Ittiba cet. kedua hal. 80 ).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :  Barangsiapa yang taashub kepada seseorang maka dia kedudukannya seperti orsang-orang Rafidhah yang taashub kepada salah seorang sahabat, dan seperti orang-orang khawarij. Ini adalah jalan ahli bidah dan ahwa yang mereka keluar dari syariat dengan kesepakatan umat dan mnurut Kitab dan Sunnah … yang wajib kepada semua makhluk adalah ittiba kepada seorang yang mashum ( yaitu Rasulullah ( ) yang tidak mengucap dari hawa nafsunya, yang dia ucapkan adalah wahyu yang diturunkan kepadanya  ( Mukhtashor Fatawa Mishriyyah hal. 46-47 ).
Akhukum Abu Ahmad Arif Fathul Ulum bin Ahmad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s