KEADILAN ISLAM DAN KECURANGAN DEMOKRASI

KEADILAN ISLAM DAN KECURANGAN DEMOKRASI

Sesungguhnya nikmat terbesar yang Alloh anugerahkan kepada umat manusia bahwa Alloh telah mengutus penutup para dan Nabi dan para Rasul Muhammad ( dengan risalah yang sempurna, universal, dan berlaku hingga hari kiamat, Alloh berfirman :  

( الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا( 

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian  ( Al-Maidah : 3 ).

Maka risalah yang dibawa oleh Rasulullah ( adalah bersifat universal berlaku di semua zaman dan tempat, Alloh ( berfirman:

 ( (((( ((((((((((( (((((((( (((((( ((((((( (((( (((((((((( (((((((( ( 

 Katakanlah: “Hai manusia Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu semua,  ( Al-Araf : 158 ).

Al-Imam Ibnu Katsir berkata :  Alloh berfirman kepada Nabi dan RasulNya Muhammad (  Katakanlah  Wahai Muhammad  Wahai manusia  ini ditujukan kepada manusia berkulit merah dan hitam, orang-orang Arab dan orang-orang Ajam  Sesungguhnya aku adalah rasul bagi kalian semuanya  yaitu seluruh kalian, dan ini adalah kemuliaan dan keagungan Nabi ( bahwa dia adalah penutup para nabi dan bahwasanya dia diutus kepada manusia semuanya  ( Tafsir Ibnu Katsir 2/311 ).

Dan Alloh ( berfirman:

 ( ( ((((((((( (((((( (((((( ((((((((((((( (((((((((( ((((( (((((( (((((( ( ( 

“ dan Al Quran Ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia Aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya)  ( Al-Anam : 19 ). 

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sadi berkata :  Maka Al-Quran ini di dalamnya terdapat peringatan bagi kalian, wahai yang diajak bicara dan setiap orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya) hingga hari kiyamat  ( Tafsir As-Sadi hal. 381 ).

Maka barangsiapa yang mengikuti risalah Muhammad ( maka akan mendapatkan petunjuk kebahagiaan di dunia dan akhirat dan sebaliknya barangsiapa yang tidak mau mengambil risalah Muhammad ( maka dia akan berada di dalam kegelapan, kebinasaan, dan kerugian.

Dan yang sangat disayangkan justru banyak dari kaum muslimin sendiri yang tidak mau mengikuti risalah Muhammad ( dan bahkan lebih memilih kegelapan dan kebinasaan musuh-musuh Islam seperti demokrasi yang merupakan produk orang-orang kafir yang mengandung mafsadah yang banyak sekali baik di dunia maupun di akhirat.

Insya Alloh dalam bahasan ini akan kami paparkan timbangan syar’i terhadap demokrasi dengan banyak menukil dari risalah Syaikhuna Al-‘Allamah Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad yang berjudul Al-‘Adlu fi Syari’atil Islam wa Laisa Fi Demokratiah Al-Maz’umah cetakan pertama tahun 1426 H.   
WAJIBNYA BERHUKUM DENGAN SYARI’AT ISLAM 
Berhukum dengan syari’at Islam adalah suatu kewajiban yang diperintahkan oleh Alloh dan RasulNya, juga merupakan konsekwensi peribadahan kepada Alloh dan persaksian risalah NabiNya Muhammad ( , berpaling dari syari’at Islam akan menyebabkan turunnya adzab Alloh, maka berhukum dengan syari’at Islam adalah wajib atas para penguasa, rakyat, dan seluruh kaum muslimin di setiap zaman dan tempat ( Lihat Wujubu Tahkimi Syar’illah oleh Samahatu Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ).

Banyak sekali nash-nash yang menjelaskan wajibnya berhukum dengan hukum Alloh, di antaranya firman Alloh ( :

( وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ    ( 

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.  ( Al-Maidah : 48 ). 

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata :  Maksudnya : Hukumilah wahai Muhammad antara manusia baik yang Arab maupun yang Ajam, baik Ahli Kitab maupun selain mereka, dengan apa yang diturunkan oleh Alloh kepadamu di dalam Kitab yang agung ini “ ( Tafsir al-Qur’anul Azhim 2/83 ).

Alloh ( berfirman:

( وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ    ( 

“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.   ( Al-Maidah : 47 ). 

Al-Imam Shiddiq Hasan Khon berkata :  Yaitu barangsiapa yang tidak berhukum dengan dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ( bahwasanya mereka adalah orang-orang yang keluar dari ketaatan  ( Iklilul Karamah hal. 87 ).

Alloh ( berfirman:

( فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا    ( 

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.  ( An-Nisa : 65 ).

Al-Imam Ibnul Qayyim berkata : Alloh ( bersumpah dengan DzatNya yang mulia bahwasanya kita tidak beriman hingga kita menjadikan Rasulullah ( hakim dalam perkara yang kita perselisihkan, tunduk kepada hukumnya, tidak merasa keberatan dalam hati kita terhadap putusan yang dia berikan, dan menerima dengan sepenuhnya  ( Shawaiq Mursalah 4/1520 ).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :  Merupakan hal yang dimaklumi dengan kesepakatan kaum muslimin bahwasanya wajib berhukum kepada Rasulullah ( dalam setiap perkara yang diperselisihkan oleh manusia di dalam perkara dunia dan agama mereka, di dalam pokok agama dan cabangnya, dan wajib atas mereka semua jika Rasulullah ( memutuskan sesuatu agar tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang dia berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya  ( Majmu Fatawa 7/37-38 ). 

Syaikhuna Al-‘Allamah Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad berkata : ” Maka wajib atas kaum muslimin berhukum serta saling menghukumi dengan syari’at Islam, dan meninggalkan undang-undang buatan manusia, karena syari’at Islam adalah wahyu dari Alloh yang Mahahikmah dan Maha Mengetahui, syari’at Islam mendatangkan mashlahat-mashlahat manusia di dunia dan di akhirat, dia turun dari Alloh yang Mahasempurna dalam sifat-sifatNya dan disucikan dari segala macam kekurangan, syari’at Islam adalah terus berlaku hingga Alloh mewarisi bumi dan isinya, adapun undang-undang buatan manusia maka dia penuh dengan kekurangan sesuai dengan kekurangan manusia, selalu diubah dan diganti, maka perbedaan antara syari’at Islam dan undang-undang buatan manusia adalah seperti perbedaan antara Khaliq dan makhluq ” ( Al-‘Adlu fi Syari’atil Islam wa Laisa Fi Demokratiah Al-Maz’umah hal. 7-8 ).    
KEADILAN SYARI’AT ISLAM 
Syari’at Islam adalah adil dan memerintahkan kepada keadilan, adapun tentang keadilannya maka Alloh ( berfirman:

( (((((((( (((((((( ((((((( ((((((( (((((((( ( (( ((((((((( (((((((((((((( ( (((((( (((((((((( ((((((((((( (((((      ( 

“ Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. tidak ada yang dapat merobah-robah kalimat-kalimat-Nya dan dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui.  ( Al-An’am : 115 ). 

Al-Imam Qotadah bin Di’amah As-Sadusi berkata : ” Benar di dalam firmanNya, adil di dalam hukumNya, benar di dalam khabar-khabarNya, adil di dalam perintah dan laranganNya, setiap yang Dia khabarkan maka adalah haq yang tidak ada keraguan di dalamnya, setiap yang Dia perintahkan maka adalah adil yang tidak ada keadilan yang selainnya, dam setiap yang Dia larang maka adalah batil karena tidaklah Dia melarang kecuali dari mafsadah ( kerusakan ) sebagaimana Alloh ( berfirman:

( ((((((((((( ((((((((((((((( ((((((((((((( (((( ((((((((((( (((((((( (((((( ((((((((((((( ((((((((((( (((((((((( ((((((((((((((    ( 

“ yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk  “ ( Al-A’raf : 157 ) ” ( Tafsir Ibnu Katsir 2/168 ).

Alloh ( berfirman:

( وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ  ( 

“Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkan dengan adil. “ ( An-Nisa’ : 58 ).

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata : “ Alloh memberitahukan kepada NabiNya ( bahwasanya wajib atasnya dan atas Nabi yang sebelumnya dan atas manusia semuanya agar jika menghukumi maka menghukumi dengan adil, dan adil adalah mengikuti hukum Alloh yang diturunkan kepada manusia  ( Ahkamul Quran 1/29 ). 

Adapun perintah syari’at Islam kepada keadilan maka telah datang di dalam ayat-ayat yang banyak sekali di antaranya firman Alloh ( :

( ( (((( (((( (((((((( (((((((((((( ((((((((((((( ((((((((((( ((( (((((((((((( (((((((((( (((( (((((((((((((( ((((((((((((( (((((((((((( ( (((((((((( (((((((((( ((((((((((( ((((    ( 

“ Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.  ( An-Nahl : 90 ).

Al-Imam Ibnu Katsir berkata : ” Alloh mengkhabarkan bahwa Dia memerintahkan hamba-hambaNya agar berlaku adil yaitu tengah-tengah dan seimbang, dan memerintahkan kepada kebajikan seperti firman Alloh ( :

( (((((( ((((((((((( (((((((((((( (((((((( ((( (((((((((( ((((( ( ((((((( (((((((((( (((((( (((((( (((((((((((((( (((((     ( 

“ Dan jika kamu memberikan balasan, Maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu, akan tetapi jika kamu bersabar, Sesungguhnya Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. ( An-Nahl : 126 ) dan firman Alloh ( :

( ((((((((((( ((((((((( ((((((((( (((((((((( ( (((((( ((((( (((((((((( ((((((((((( ((((( (((( (  ( 

“ Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik Maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. “ ( Asy-Syura : 40 ) dan firman Alloh ( :

( وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ (  ( 

“ dan luka luka (pun) ada kisasnya. barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, Maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya.  ( Al-Maidah : 45 ) dan ayat-ayat yang lainnya yang menunjukkan atas disyari’atkannya keadilan dan perintah kepada keutamaan ” ( Tafsir Ibnu Katsir 2/583 ).
KEADILAN ISLAM MELIPUTI HAK-HAK MANUSIA
Syari’at Islam yang diturunkan oleh Alloh kepada RasulNya yang mulia Muhammad ( meliputi dan mencakup semua hak, baik yang berupa hak-hak Alloh Azza wa Jalla, atau hak-hak pribadi, atau hak-hak manusia semuanya, Al-Imam Ibnul ‘Arabi berkata : ” Keadilan antara seorang hamba dan Rabbnya adalah mendahulukan hak Alloh atas bagian dirinya, mendahulukan keridhaanNya atas hawa nafsunya, menjauhi larangan-laranganNya, dan melaksanakan perintah-perintahNya. Adapun keadilan antara seorang hamba dengan dirinya maka adalah mencegah dirinya dari hal-hal yang mencelakakannya ; sebagaimana firman Alloh ( :

( ((((((( ((((((((( (((( ((((((((((   ( 

“dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,  ( An-Nazi’at : 40 ), menjauhkan keinginan-keinginan dari mengikuti hawa nafsu, mengikuti qona’ah di dalam setiap keadaan dan makna. Adapun keadailan antara dia dan makhluk maka mengerahkan nasehat, meninggalkan pengkhianatan sedikit dan banyak, berlaku adil terhadap mereka dari dirimu dalam semua segi, tidak ada sedikit pun kejelekan dari dirimu terhadap mereka baik berupa perkataan ataupun perbuatan, baik dalam keadaan sembunyi ataupun terang-terangan, bahkan tidaka pernah terlintas di dalam niatan dan kemauan, bersabar atas yang menimpamu dari mereka berupa ujian, dan yang paling minimal dari hal itu adalah berlaku adail dari dirimu dan meninggalkan gangguan ” ( Ahkamul Qur’an 5/198 ).  

Syaikhuna Al-‘Allamah Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad berkata : ” Sungguh telah datang syari’at Islam menjelaskan hak setiap pemilik hal di dalam kehidupan dan sesudah kematian, dan memerintahkan agar ditunaikan hak-hak tersebut dengan sempurna, sungguh syai’at Islam telah datang menjelaskan hak-hak suami dan isteri atas pasangannya, hak-hak orang tua atas anak-anaknya, hak-hak anak-anak atas orang tua mereka, hak-hak kerabat atas kerabatnya, hak-hak tetangga atas tetangganya, hak-hak teman atas temannya, hak-hak sahabat atas sahabatnya, hak-hak orang-orang faqir atas orang-orang kaya, hak-hak kaum muslimin atas kaum muslimin secara umum, dan di antara ayat-ayat yang mulia yang meliputi atas perintah terhadap kaum muslimin agar menunaikan hak-hak kepada para pemiliknya adalah ayat Huququl Asyrah : 

( ( ((((((((((((( (((( (((( ((((((((((( ((((( ((((((( ( ((((((((((((((((((( (((((((((( ((((((( (((((((((((( ((((((((((((((( (((((((((((((((( ((((((((((( ((( (((((((((((( ((((((((((( (((((((((( (((((((((((( (((((((((((( (((((((( (((((((((( ((((( (((((((( ((((((((((((( ( (((( (((( (( (((((( ((( ((((( ((((((((( (((((((( ((((     ( 

“ Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,  ( An-Nisa’ : 36 ) ” ( Al-‘Adlu fi Syari’atil Islam wa Laisa Fi Demokratiah Al-Maz’umah hal. 19-20 ).  
KECURANGAN-KECURANGAN DEMOKRASI
Demokrasi yang merupakan produk musuh-musuh Islam menyelisihi syari’at Islam dari banyak sisi :

Pertama : Dilandaskan di atas partai-partai yang saling berseteru :

Sedangkan Islam menghasung kepada persatuan dan mencela perpecahan, Alloh ( berfirman:

( وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا   ( 

“  Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, “ ( Ali Imran : 103 ), dan Alloh ( berfirman:

( وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمْ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ   ( 

“   Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,  ( Ali Imran : 105 ).

Maka jelaslah bahwa demokrasi menyelishi Islam, karena demokrasi dilandaskan atas partai-partai, perpecahan, dan perselisihan.

Kedua : Hak membuat undang-undang di dalam demokrasi untuk kelompok manusia tertentu seperti majelis parlemen :

Sedangkan hak membuat undang-undang di dalam Islam hanyalah bagi Alloh Yang Mahapencipta Jalla Jalaluhu, dan Rasulullah ( adalah penyampai syari’at Alloh Azza wa Jalla, Alloh ( berfirman:

( وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمْ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا   ( 

“   Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata.  ( Al-Ahzab : 36 ).

Adapun di dalam demokrasi maka hak membuat undang-undang adalah untuk golongan tertentu dari manusia yang dipilih oleh rakyat sebagai wakil-wakil mereka di dalam Majelis Permusyawaratan, maka mereka buat apa yang mereka kehendaki dari undang-undang dan hukum yang tidak bersumber dari agama dan bahkan banyak yang menyelisihi agama.

Ketiga : Yang mendapatkan kekuasaan di dalam demokrasi adalah yang mendapatkan suara terbanyak di dalam pemilihan siapa pun mereka :

Pemilihan pimpinan di dalam Islam adalah dengan kesepakatan ahlul halli wal ‘aqdi dalam memilih pimpinan, atau dengan cara penunjukan pemimpin sekarang kepada pemimpin yang menggantikannya, sebagaimana hal ini terjadi pada proses pemilihan Abu Bakar, Umar, dan khalifah-halifah yang sesudahnya.

Maka pemilihan pimpinan di dalam Islam bukan hak semua orang tetapi hanyalah hak para ahli ilmu dan ahli pemikiran yang merekalah ahlul Halli wal Aqdi, adapun yang selain mereka maka mengikuti mereka. Adapun di dalam demokrasi maka seseorang bisa mendapatkan kekuasaan dengan cara mendapatkan suara terbanyak di dalam pemilihan, siapapun yang memilihnya, entah itu orang yang berilmu atau orang jahil, orang yang baik atau orang yang jelek, maka jika yang terbanyak dari pemilih adalah para penjahat maka jelas mereka akan memilih orang yang jahat seperti mereka, jika yang terbanyak dari para pemilih adalah ahli bid’ah maka mereka akan memilih ahli bid’ah seperti mereka, demikianlah seterusnya.

Keempat : Di dalam demokrasi dikembangkan ambisi yang sangat terhadap kekuasaan dan mengerahkan segala upaya untuk mendapatkannya :

 Tujuan kepemimpinan di dalam Islam adalah untuk membela agama dan menegakkan syari’at Alloh, karena dikhawatirkan hal ini tidak bisa dipenuhi maka syari’at Islam melarang mencari kekuasaan dan melarang menyerahkan kekuasaan kepada siapa yang ambisi terhadapnya, dari Abdurrahman bin Samurah bahwasanya dia berkata : Rasulullah ( bersabda kepadaku : 

يا عبد الرحمن بن سمرة لا   تسأل الإمارة  فإنك إن أعطيتها عن مسألة وكلت إليها وإن أعطيتها من غير مسألة أعنت عليها

” Wahai Abdurrahman bin Samurah janganlah Engkau memintai kekuasaan, karena jika Engkau diberi kekuasaan karena meminta maka kamu akan diserahkan kepadanya, dan jika kamu diberi kekuasaan tanpa meminta maka Enhkau akan ditolong atasnya ” ( Shahih Bukhari : 6622 dan Shahih Muslim : 1652 ).  

Dari Abu Musa Al-Asy’ari bahwasanya dia berkata : ” Aku menemui Nabi ( bersama dua orang lelaki anak pamanku. Seorang dari keduanya berkata: ‘ Wahai Rasulullah, angkatlah kami sebagai pemimpin atas sebagian wilayah kekuasaanmu yang telah diberikan Allah azza wa jalla!’, yang satu lagi juga berkata seperti itu. Lalu Rasulullah ( bersabda : 

إنا والله   لا نولي  على هذا العمل أحدا سأله ولا أحدا حرص عليه

” Demi Allah, kami tidak akan mengangkat seorang pun yang meminta sebagai pemimpin atas tugas ini dan tidak juga seorang yang berambisi memperolehnya ” ( Shahih Bukhari : 7149 dan Shahih Muslim : 1733 ).            

Adapun demokrasi maka dia dibangun di atas berpartai-partai dan persaingan merebut kekuasaan dari tingkat atas hingga tingkat bawah, bahkan para pengejar kekuasaan ini mengerahkan segenap kemampuan dari harta yang mereka miliki untuk mendapatkan dukungan dari para pemilih, maka beruntunglah yang beruntung dan bangkrutlah yang bangkrut, maka ini serupa sekali dengan perjudian mengadu nasib, demikian juga mereka mengobral janji-janji palsu dan dusta !.

Kelima : Demokrasi dibangun di atas kebebasan mutlak di dalam berpendapat walupun pendapat tersebut kufur dan melanggar etika :

Sedangkan kebebasan di dalam Islam terikat dengan agama yang lurus, Alloh ( berfirman:

( يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلاَ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلاَّ الْحَقّ   ( 

“  Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.  “ ( An-Nisa’ : 171 ) dan Alloh ( berfirman:

( وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلاَ تُسْرِفُوا إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ   ( 

“  dan makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.“ ( Al-A’raf : 31 ).

Adapun demokrasi maka di dalamnya terdapat kebebasan yang mutlak yang tidak terikat sama sekali dengan etika dan agama, bahkan setiap orang memiliki kebebasan berpendapat dan bicara meskipun suatu kekufuran, dan bebas berbuat meskipun perbuatan yang amoral dan hina, maka demokrasi menyuburkan penyakit-penyakit syubhat dan syahwat di dalam hati manusia.

Keenam : Demokrasi memberikan persamaan mutlak terhadap laki-laki dan wanita :

Syari’at Islam yang sempurna telah datang menyamakan antara laki-laki dan wanita di dalam banyak hukum, dan telah datang membedakan antara laki-laki dan wanita di dalam sebagian hukum-hukum, seperti hukum warisan, pembebasan budak, persaksian, diyat, aqiqah, dan yang lainnya.

Adapun demokrasi maka di dalamnya terdapat persamaan mutlak antara laki-laki dan wanita, tanpa mempertimbangkan fitrah, etika, dan agama.

Ketujuh : Demokrasi merenggut para wanita dari sebab-sebab kemuliaan dan mencampakkan mereka di dalam jurang-jurang kehinaan :

 Kebebasan laki-laki dan wanita di dalam Islam terikat dengan syari’at yang lurus, setiap laki-laki dan wanita wajib beraqidah, berucap, dan berbuat sesuai dengan Kitabullah, Sunnah RasulNya, dan jalan yang ditempuh oleh Salaful Ummah dari para sahabat dan para imam yang mengikuti mereka di dalam kebaikan.

 Islam telah memuliakan wanita, menjaga hak-haknya, dan mengarahkannya kepada perkara-perkara yang menghantarkan mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhiratnya, maka Islam memerintahkan wanita agar berhijab dari laki-laki yang bukan mahram dan jauh dari ikhthilath ( campurbaur ) dengan laki-laki, wanita dilarang melakukan safar kecuali bersama mahramnya, dan dilarang berkhalwat dengan laki-laki yang bukan mahram sebagaimana telah datang di dalam hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah ( .  

Alloh berfirman tentang wajibnya para wanita berhijab dari laki-laki yang bukan mahram : 

( وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ   ( 

“  apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir. cara yang demikian itu lebih Suci bagi hatimu dan hati mereka.  “ ( Al-Ahzab : 53 ) dan Alloh ( berfirman:

( يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ ِلأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ   ( 

“  Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”.   ( Al-Ahzab : 59 ), ayat ini menunjukkan bahwa hukum hijab umum bagi Ummahatul Mukminin dan para wanita mukminat.

Adapun tentang masalah ikhthilath ( campurbaur ) antara laki-laki dan wanita maka Alloh telah berfirman mengkisahkan tentang NabiNya Musa Alaihi Salam : 

( ((((((( (((((( (((((( (((((((( (((((( (((((((( (((((( ((((( (((((((( ((((((((( (((((((( ((( ((((((((( (((((((((((((( (((((((((( ( ((((( ((( ((((((((((( ( (((((((( (( ((((((( (((((( (((((((( (((((((((((( ( (((((((((( (((((( ((((((( ((((  (((((((( (((((((     ( 

“  Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?” kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang Telah lanjut umurnya”.  Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya,    ( Al-Qashash : 23-24 )

Ayat ini menunjukkan bahwa meninggalkan lkhthilath antara laki-laki dan wanita telah ada sejak zaman umat terdahulu, karena kebiasaan kedua wanita ini tidak mau berdesak-desakan dengan para laki-laki tetapi menunggu sampai para laki-laki pergi baru keduanya meminumkan ternak keduanya.

Al-Imam Ibnul Qayyim berkata : ” Tidak syak lagi bahwa memberikan kesempatan bagi para wanita untuk bercampurbaur dengan para laki-laki dalah sumber semua bencana dan kejelekan, dia adalah sebab terbesar dari turunnya adzab yang merata, sebagaimana di adalah sebab kerusakan perkara-perkara umum dan khusus, campurbaurnya laki-laki dan wanita adalah sebab banyaknya perbuatan-perbuatan keji dan perzinaan ” ( Thuruq Hukmiyyah hal. 281 ).

Adapun demokrasi maka wanita diberi kebebasan sebebas-bebasnya, bepergian ke manapun yang dia mau tanpa disertai mahram, bercampur baur dengan laki-laki mana pun yang dia mau dan berbuat sekehendaknya tanpa adanya penjaga atau pengawas baginya !.   
KEBAHAGIAAN ADALAH DI DALAM CAHAYA WAHYU 
Alloh telah mensifati wahyuNya yang diturunkan atas Nabinya sebagai cahaya, dan Alloh jelaskan bahwa cahaya inilah sumber petunjuk mereka dan jalan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat, Alloh ( berfirman:

( فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنزَلْنَا   ( 

“  Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Quran) yang Telah kami turunkan. “ ( At-Taghabun : 8 ), dan Alloh ( berfirman:

( ((((((((((( (((((((( (((( ((((((((( ((((((((( (((( ((((((((( ((((((((((((( (((((((((( (((((( (((((((( (((((  ((((((( ((((((((( (((((((((( (((((( ((((((((((((((( ((((( (((((((((((((((( ((( (((((((( ((((((( (((((((( ((((((((((((( (((((((( (((((((( (((((((((((( (((((     ( 

“  Hai manusia, Sesungguhnya Telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan Telah kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran).  Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.  ( An-Nisa’ : 174-175 ).

Dan Alloh khabarkan bahwa barangsiapa yang tidak mau mengambil petunjuk dengan cahaya wahyu ini maka dia akan berada di dalam kegelapan, kebinasaan, dan kerugian, Alloh ( berfirman:

( أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا  ( 

“  Dan apakah orang yang sudah mati Kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?  “ ( Al-An’am : 122 ) dan Alloh ( berfirman:

( أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلإِسْلاَمِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ فِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ  ( 

“  Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka Kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang Telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata. ( Az-Zumar : 22 ).

Dan yang sangat disayangkan bahwa banyak dari kaum muslimin di zaman ini merasa tidak butuh kepada cahaya Rabb mereka yang merupakan kebahagiaan dan keberuntungan mereka, kemudian mereka lebih memilih kegelapan musuh-musuh Islam di dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, politik, dan yang lainnya, maka jadilah mereka dalam kerendahan dan kehinaan di hadapan musuh-musuh mereka. Maka tidaklah kaum muslimin mendapatkan keamanan dan kebaikan kecuali di bawah naungan wahyu dan meninggalkan segala sesuatu yang disuguhkan oleh musuh-musuh mereka dari suatu kegelapan yang mereka anggap sebagai perbaikan seperti demokrasi.

          

PENUTUP
Inilah yang bisa kami sampaikan di dalam bahasan ini semoga Alloh selalu memberikan taufiq kepada kaum muslimin penguasa mereka dan rakyat mereka agar bisa berpegang teguh dengan agama mereka yang merupakan kemuliaan dan keberuntungan mereka, dan agar mereka selalu waspada terhadap tipudaya musuh-musuh mereka yang merupakan kebinasaan dan kehinaan mereka. Amin.
والله أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s