RENUNGAN BAGI PARA PENGOBAR REVOLUSI

RENUNGAN BAGI PARA PEMBERONTAK

Tidak tersembunyi bagi setiap muslim tentang mafsadah yang besar yang diakibatkan oleh khuruj ( pemberontakan ) kepada penguasa muslim, sejarah membuktikan bahwa tidak pernah diketahui dari kelompok manapun yang memberontak kepada penguasa melainkan kerusakan yang ditimbulkan oleh pemberontakan tersebut lebih besar dari kerusakan yang dihilangkan.
Hasil maksimal yang didapatkan oleh para pemberontak adalah adakalanya mereka kalah dan adakalanya mereka menang kemudian hilang kekuasaan mereka tidak ada bekasnya, sehingga pemberontakan tidaklah menegakkan agama dan tidak memperbaiki dunia.
Jauh-jauh sebelumnya Rasulullah ( telah memerintahkan setiap muslim agar selalu taat kepada waliyyul amr, tidak membatalkan baiat, sabar atas kecurangan para penguasa, dan sekaligus melarang memerangi para penguasa meskipun mereka melakukan kemungkaran.
Demikian juga ahli sunnah wal jamaah telah sepakat atas haramnya memberontak kepada para penguasa yang zhalim dan fasik dengan cara revolusi atau kudeta atau dengan cara yang lainnya, jadilah pokok ini merupakan pokok yang terpenting dari ahli sunnah wal jamaah yang menyelisihi semua kelompok-kelompok yang sesat dan ahlil ahwa.
Begitu pentingnya masalah ini sehingga hampir-hampir tidak ada ulama yang menulis tentang aqidah melainkan menuliskan pokok ini dalam kitab-kitab mereka .
Tetapi sangat disayangkan masih ada orang-orang yang menyelisihi hal ini dengan lisan dan perbuatan, bahkan ada yang begitu gigih bersekutu dengan syaithan memalingkan manusia dari jalan Alloh, mereka hasung manusia untuk memberontak kepada penguasa dengan nama oposisi, demokrasi, dan amar maruf nahi mungkar !!!.
Lebih dari itu bahkan ada yang membuat keragu-raguan dalam kesepakatan ahli sunnah dalam hal ini, dia katakan bahwa haramnya khuruj diperselisihkan di kalangan ahli sunnah seperti dilakukan oleh Dr. Ali Abu Ghuraisah memandang adanya perselisihan dalam masalah ini di antara ahli sunnah dalam kitabnya Masyruiyah Islamiyyah Ulya hal. 273 278.
Ada lagi yang menggambarkan sosok seorang ulama panutan sebagai seorang yang melawan penguasa dengan maksud untuk melegalkan pemikiran khurujnya, seperti yang dilakukan oleh Salman Al-Audah dalam website fitnahnya http://www.islamtoday.net yang meluncurkan sebuah tulisan berjudul Imam Ahli Sunnah yang menggambarkan kehidupan Imam Ahli Sunnah Ahmad bin Hanbal sebagai seorang yang melawan penguasa !!!.
Dari sini terbetik dalam benak kami untuk menyumbangkan saham dalam menjelaskan pokok yang agung ini kepada umat yaitu tentang haramnya khuruj kepada penguasa muslim dan wajibnya taat kepada mereka.

DALIL-DALIL ATAS HARAMNYA KHURUJ (PEMBERONTAKAN)

Di antara dalil-dalil yang menunjukkan atas haramnya khuruj adalah perintah Alloh kepada setiap muslim agar taat kepada waliyyul amr sebagaimana dalam firmanNya :
( يا أيها الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ(
“Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian. ( An-Nisa : 59 )
Adapun dari Sunnah Rasullullah ( maka di antaranya adalah perintah Rasulullah ( agar selalu taat kepada waliyyul amr, tidak membatalkan baiat, dan sabar atas kecurangan para penguasa :
Dari Ubadah bin Shamit bahwasanya dia berkata :دعانا رسول الله صلى الله عليه وسلم فبايعناه فكان فيما أخذ علينا أن بايعنا على السمع والطاعة في منشطنا ومكرهنا وعسرنا ويسرنا وأثرة علينا وأن لا ننازع الأمر أهله قال إلا أن تروا كفرا بواحا عندكم من الله فيه برهان“Rasullullah ( menyeru kami maka kami membaiatnya, di antara yang diambil atas kami bahwasanya kami berbaiat atas mendengar dan taat dalam keadaan yang lapang dan sempit, dalam keadaan sulit dan mudah, dan atas sikap egois atas kami, dan agar kami tidak merebut kekuasaan dari pemiliknyam beliau bersabda : Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang jelas dan nyata yang kalian punya bukti di hadapan Alloh ( Shahih Muslim : 1709 ).Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Ini adalah perintah agar selalu taat walaupun ada sikap egois dari waliyyul amr, yang ini merupakan kezhaliman darinya, dan larangan dari merebut kekuasaan dari pemiliknya, yaitu larangan dari memberontak kepadanya, karena pemiliknya adalah para waliyul amr yang diperintahkan agar ditaati, dan mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuasaan untuk memerintah ( Minhajus Sunnah 3/395 ).Al-Karmani berkata : Hadits ini menunjukkan bahwa seorang penguasa tidak boleh diturunkan dengan sebab kefasikan, karena menurunkan dia akan menyebabkan fitnah, penumpahan darah, dan pemutusan hubungan, maka mafsadah ( kerusakan ) dari menurunkannya lebih besar daripada membiarkan dia dalam kedudukannya “ ( Syarah Bukhary 24/169 ).Dari Ummu Salamah bahwasanya Rasulullah ( bersabda :
إنه يستعمل عليكم أمراء فتعرفون وتنكرون فمن كره فقد برئ ومن أنكر فقد سلم ولكن من رضي وتابع قالوا يا رسول الله ألا نقاتلهم قال لا ما صلوا
“ Sesungguhnya akan datang bagi kalian para pemimpin yang berbuat ma’ruf dan mungkar , maka barangsiapa yang membenci kemungkaran tersebut maka sunguh dia telah lepas dari dosa, dan barangsiapa yang mengingkarai maka dia telah selamat, tetapi orang yang ridha dan mengikuti maka dialah yang terkena dosa , para sahabat berkata : Wahai Rasulullah tidakkah kami memeranginya ? , Rasulullah ( bersabda : Jangan, selama mereka masih sholat ( Shahih Muslim : 1854 ).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Rasulullah ( melarang memerangi para pemimpin dalam keadaan mereka melakukan perkara-perkara yang mungkar, ini menunjukkan bahwa tidak boleh mengingkari para penguasa dengan pedang, sebagaimana difahami oleh orang-orang yang memerangi para penguasa dari kelompok khawarij, zaidiyyah, dan mu’tazilah “ ( Minhajus Sunnah 3/392 ).
Dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah ( bersabda :
من رأى من أميره شيئا يكرهه فليصبر فإنه من فارق الجماعة شبرا فمات فميتة جاهلية
“ Barangsiapa yang melihat pada pemimpinnya perkara yang dia benci maka hendaknya dia bersabar, karena sesunggunya orang yang melepaskan diri dari jama’ah sejengkal kemudian mati maka matinya adalah jahiliyyah “ ( Muttafaq Alaih, Shahih Bukhari 6/2588 dan Shahih Muslim 3/1477 ).

PEMBERONTAKAN TIDAK MEMPERBAIKI AGAMA DAN DUNIA

Siapa saja yang mau menelusuri perjalanan sejarah manusia dari dahulu hingga sekarang akan jelas baginya bahwa tidak pernah terealisasi tujuan-tujuan dan maksud-maksud dari para pemberontak, bahkan tidak pernah didapatkan kecuali kejelekan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Tidaklah ada seorang yang memberontak kepada penguasa melainkan kejelekan yang ditimbulkannya jauh lebih besar daripada kebaikan yang dihasilkan, seperti orang-orang di Madinah yang memberontak kepada Yazid, seperti Ibnul Asyats di Iraq yang memberontak kepada Abdul Malik Bin Marwan, seperti Ibnul Muhallab di khurasan yang memberontak kepada Walid bin Abdul Malik, seperti Abu Muslim di Khurasan juga yang memberontak kepada Bani Umayyah, seperti orang-orang di Madinah dan Bashrah yang memberontak kepada Al-Manshur, dan orang-orang yang semisal mereka.
Hasil maksimal yang mereka dapatkan adalah adakalanya mereka kalah dan adakalanya mereka menang kemudian hilang kekuasaan mereka tidak ada bekasnya, seperti Abdullah bin Ali dan Abu Muslim yang ( memberontak kepada Bani Umayyah dan menang ) keduanya telah membunuh orang-orang yang banyak sekali ( dari Bani Umayyah ), kemudian keduanya dibunuh oleh Abu Jafar Al-Manshur, adapun Ahlul Harrah dari Madinah, Ibnul Asyats, Ibnul Muhallab, dan yang lainnya, mereka kalah dan dihancurkan beserta pengikut mereka, sehingga mereka tidaklah menegakkan agama dan tidak menyisakan dunia, dalam keadaan Alloh tidak pernah memerintahkan suatu perkara yang tidak mendatangkan kebaikan agama dan dunia samasekali ( Minhajus Sunnah 4/527-528 ).
Al-Imam Abul Hasan Al-Asyari menyebut 25 pemberontak dari ahlil bait, tidak ada satupun yang mendapatkan maksud yang mereka inginkan ( Maqalat Islamiyyin 1/150-166 ).
Di antara contoh yang terjadi pada masa sekarang adalah kejadian di Shomalia, meskipun pemerintahan yang dipimpin oleh Siad Beri begitu jelek tetapi kehidupan rakyat tetap berlangsung dengan kebaikan dan kejelekan yang ada, pedagang dengan tenang bekerja di tokonya, petani di sawahnya, para pekerja di pabrik-pabrik mereka, orang-orang berangkat dan pulang dengan tenang untuk mencari penghidupan, ketika terjadi kudeta dan pemerintahan terguling maka kekacauan terjadi di mana-mana, jadilah negeri tanpa penguasa, terjadi peperangan antar suku, bergelimpanglah ratusan mayat, jutaan para pengungsi dan orang-orang yang kelaparan, semua ini adalah realita yang memilukan ( Lihat Wujubu Thaati Sulthan oleh Al-Uraini hal. 20 ).
Peristiwa-peristiwa yang terjadi di Suriah, Mesir, dan Al-Jazair tidak jauh berbeda dengan keadaan di Shomalia, benarlah apa yang dulu pernah dikatakan 60 tahun dengan pimpinan yang jelek lebih baik daripada satu malam tanpa ada pimpinan !.
Jikasaja khuruj selamanya selalu membawa kerusakan meskipun pelakunya berniat amar maruf nahi mungkar maka tidaklah dibolehkan karena Pembuat syariat tidak pernah memerintahkan kecuali yang ada mashlahat di dalamnya ( Al-Ghuluw fid Diin hal. 424 ).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s