TILAWATUL QUR’AN, KEUTAMAANNYA, ADAB-ADABNYA, DAN KESALAHAN-KESALAHAN DI DALAM MEMBACANYA

TILAWATUL QUR’AN, KEUTAMAANNYA, ADAB-ADABNYA, DAN KESALAHAN-KESALAHAN DI DALAM MEMBACANYA

1. Keutamaan membaca Al-Qur’an :
Alloh Ta’ala telah memerintahkan setiap muslim agar selalu membaca Al-Qur’an di dalam firmanNya :

“ Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) ” ( Al-Ankabut : 45 ), dan Alloh Ta’ala berfirman :
“ Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al-Qur’an) ” ( Al-Kahfi : 27 ).
Juga firmanNya kepada Nabi Muhammad Shollallohu Alaihi wa Sallam :
“ Dan aku perintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang menyerahkan diri. Dan supaya aku membaca Al-Qur’an (kepada manusia) ” ( An-Naml : 91-92 ).
Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam telah banyak menjelaskan di dalam hadits-haditsnya tentang keutamaan membaca Al-Qur’an, beliau bersabda :
«اقْرَؤوا القُرآنَ فإنه يأتي يومَ القيامةِ شفيعاً لأصحابهِ»
“ Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya dia datang memberi syafa’at bagi pembacanya di hari Kiamat ” ( Dikeluarkan oleh Muslim no. 804 ).
Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam juga bersabda :
«اقْرَؤوا القُرآنَ فإنه يأتي يومَ القيامةِ شفيعاً لأصحابهِ»
“ Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya dia datang memberi syafa’at bagi pembacanya di hari Kiamat ” ( Dikeluarkan oleh Muslim no. 804 ).
Demikian juga Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam juga bersabda :
«الماهرُ بالقرآن مع السَّفرةِ الكرامِ البررة، والذي يقرأ القرآنَ ويتتعتعُ فيه وهو عليه شاقٌّ له أجرانِ»
“ Orang yang mahir membaca Al-Qur’an, dia berada bersama para malaikat yang terhormat dan orang yang terbata-bata di dalam membaca Al-Qur’an serta mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala ” ( Hadits Riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya no. 244 ).
Wahai saudara-saudaraku, inilah keutamaan-keutamaan membaca Al-Qur’an, dan inilah pahala-pahala yang agung yang telah dijanjikan bagi para pembacanya, marailah kita semua selalu membaca Al-Qur’an terutama dibulan Ramadhan yang penuh berkah bulan diturunkannya Al-Qur’an.
Adalah Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam memperbanyak tilawatul Qur’an di bulan Ramadhan, disebutkan dalam riwayat sahih bahwa Malaikat Jibril –Alaihis Salam- selalu datang pada bulan Ramadhan mengajarkan Al-Qur’an kepada Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam dan pada akhir hayat Rasulullah Shollallohu Alaihi wa SallamMalaikat Jibril –Alaihis Salam- datang dua kali untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada beliau. Demikian juga Salafush Shalih memperbanyak tilawatul Qur’an di bulan Ramadhan di dalam sholat dan di luar sholat. Adalah Al-Imam Az-Zuhri – rahimahullah – jika masuk bulan Ramadhan maka dia berkata : ” Sesungguhnya dia adalah tilawatul Qur’an dan menyedekahkan makanan “. Adalah Al-Imam Malik –Rahimahullah apabila masuk bulan Ramadhan meninggalkan membaca hadis dan majelis-majelis ilmu dan beliau menghadap secara penuh kepada Al-Qur’an dengan membacanya dari mushhaf.
Marilah kita semua menauladani mereka semua, dan mengikuti jejak langkah mereka agar kita bisa bergabung dengan mereka dalam keridhaan Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

2. Adab-adab membaca Al-Qur’an :
Al-Qur’an adalah firman Alloh Ta’ala , dia adalah tali Alloh yang kokoh, jalanNya yang lurus, dzikir yang penuh berkah yang disifati oleh Alloh di dalam ayat-ayatNya dengan sifat-sifat yang agung yang mengharuskan pengagungan dan pemulian kepadanya serta menjalani adab-adab di dalam tilawahnya.
1. Di antara adab-adab tilawah adalah mengikhlashkan niyat semata kepada Alloh Ta’ala , berdasarkan sabda Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam :
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya segala amalan itu tergantung kepada niatnya , dan setiap orang akan mendapatkan hasil sesuai dengan niatnya “ ( Shahih Bukhari : 1 dan Shahih Muslim 3/1515 ).
2. Di antara adab-adab tilawah adalah membaca dengan kehadiran hati, mentadabburi yang dia baca, berusaha memahami makna-maknanya, dan merasa bahwa Alloh berbicara kepadanya karena Al-Qur’an adalah kalamNya.
3. Di antara adab-adab tilawah adalah membaca keadaan suci, karena ini termasuk pengagungan kepada Al-Qur’an.
4. Di antara adab-adab tilawah adalah membaca Al-Qur’an di tempat-tempat yang mulia dan tidak membaca Al-Qur’an di tempat-tempat yang kotor.
5. Di antara adab-adab tilawah adalah memulai bacaan dengan ta’awudz berdasarkan firman Alloh Ta’ala :
 فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْءَانَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَـنِ الرَّجِيمِ 
“ Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk ” ( An-Nahl : 98 ).
6. Di antara adab-adab tilawah adalah membaguskan suara di dalam membaca Al-Qur’an berdasarkan hadits dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam bersabda :
«ما أذِنَ الله لِشَيْء (أي ما اسْتَمَع لشيءٍ) كما أذِنَ لنَبِيٍّ حَسنِ الصوتِ يَتغنَّى بالقرآنِ يَجْهرُ به»
“ Tidaklah Alloh mengizinkan sesuatu sebagaimana Dia izinkan kepada NabiNya agar memperbagus suara melagukannya dan mengeraskannya ” ( Muttafaq Alaih, Shahih Bukhari 6/2743 dan Shahih Muslim 1/545 ).
7. Di antara adab-adab tilawah adalah membaca Al-Qur’an dengan tartil yaitu dengan perlahan-lahan tidak tergesa-gesa, karena hal itu akan lebih membantu untuk tadabbur makna-maknanya, membenarkan bacaan-bacaannya dan lafadz-lafadznya, berdasarkan firman Alloh Ta’ala :

“ dan Bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan ” ( Al-Muzammil : 4 ).
8. Di antara adab-adab tilawah adalah bersujud ketika melewati ayat-ayat sajdah yang telah datang keutamaannya di dalam hadits Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam bersabda : “ Jika anak Adam membaca ayat Sajdah dan sujud, maka syaithan menjauhinya dengan menangis seraya berkata : “ Duhai celakanya, dia diperintah sujud kemudian dia sujud maka baginya surga, dan aku diperintah untuh sujud tetapi aku enggan sehingga aku masuk neraka “ ( Shahih Muslim 1/87/81 ).
Adapun yang dibaca ketika sujud tilawah adalah :
سجد وجهي للذي خلقه وشق سمعه وبصره بحوله وقوته
“ Telah sujud wajahku kepada Dzat yang menciptakannya, dan membuka pendengaran dan penglihatannya dengan daya dan upayaNya “ ( Diriwayatkan oleh Tirmidy dalam Sunannya 5/489 , Nasai dalam Sunannya 1/243, dan Abu Dawud dalam Sunannya 1/201 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Sunan Abu Dawud : 1255 ). Dan ada juga bacaan-bacaan yang lainnya.

3. Kesalahan-kesalahan seputar qiraah Al-Qur’an :
Ada beberapa kesalahan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin di dalam ibadah membaca Al-Qur’an, di antaranya :
1. Membaca Al-Qur’an dengan dikeraskan suaranya bahkan melalu pengeras-pengeras suara yang banyak dijumpai dalam bulan Ramadhan, karena hal ini akan mengganggu dan menyakiti sesama muslim, karena Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam suatu saat pernah keluar kepada orang-orang ketika mereka sedang sholat dan mengeraskan bacaan Al-Qur’an, maka Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam bersabda :
«إن المُصَلّي يناجي ربه فلينظر بما يناجيه به ولا يجهرْ بعضُكم على بعضٍ في القرآن»
“ Sesungguhnya seorang yang sholat sedang berbisik-bisak dengan Rabbnya, maka hendaknya dia perhatikan munajatnya, dan janganlah sebagian dari kalian mengeraskan Al-Qur’an atas sebagian yang lainnya ” ( Diriwayatkan oleh Malik dalam Muwaththa’ 1/243, Ahmad dalam Musnadnya 2/67, Thabrani di dalam Al-Austah : 4757 dan Ibnu Khuzaimah di dalam Shahihnya 3/350 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Shahihah 4/133 ).
Di dalam Fatawa Al-Imam Tajuddin Al-Fazari Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i ada pertanyaan tentang sekelompok orang yang membaca Al-Qur’an dengan suara keras sehingga menganggu manusia apakah hal itu boleh bagi mereka atau tidak ?, maka Syaikh Tajuddin menjawab : ” Yang lebih utama mereka tidak melakukan hal itu dan yang kebih utama dicegah dari hal itu “. Syaikh Zainuddin Az-Zawawi Al-Maliki menjawab : ” Hal itu tidak dihalalkan dan wajib atas waliyyul amr untuk mencegahnya “. dan Dari Malik : ” Orang yang melakukan hal itu dikeluarkan dari masjid “. Syaikh Syamsuddin Al-Qadhi Al-Hanbali dan Al-Qadhi Al-Hanafi juga menjawab seperti itu ( Lihat Ishlahul Masajid Minal Bida’ wal ‘Awaid oleh Syaikh Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi hal. 123-124 ).
2. Menggunakan lagu lagu yang menyerupai ahlul kitab seperti lagu orang Nasrani atau lagu orang fasik seperti: dangdut, keroncong, rock dan sebagainya, terlebih lagi bacaan Al- Quran yang diiringi dengan musik musik ( Lihat Talbis Iblis hal. 113 dan Bida’ul Qurra’ Al-Qadimah wal Mu’ashirah hal. 5 )..
3. Selalu berusaha mengakhiri bacaan al-Quran dengan “Shadaqallahul ‘adzim” ( Lihat Bida’ul Qurra’ Al-Qadimah wal Mu’ashirah hal. 10-11 ).
4. Menyebut kata “Allah”, “Allah” atau ya Syaikh dan sebagainya dikala mendengar seorang qori’ melantunkan bacaan Al-Quran ( Lihat Bida’ul Qurra’ Al-Qadimah wal Mu’ashirah hal. 10 ).
5. Menirukan suara dan lagu orang lain dengan sengaja ( Lihat Bida’ul Qurra’ Al-Qadimah wal Mu’ashirah hal. 13-25 ).
6. Mencium mushaf ketika hendak membaca atau mengakhiri bacaan Al-Quran.
7. Meletakkan kedua tangan di telinga ketika membaca Al-Quran ( Lihat Bida’ul Qurra’ Al-Qadimah wal Mu’ashirah hal. 7 ).
8. Membaca Al-Quran dengan duet (2 orang) atau lebih dengan cara bergantian satu dengan lainnya ( Lihat Fatawa Syathibi hal. 97 dan Bida’ul Qurra’ Al-Qadimah wal Mu’ashirah hal. 7 ).
9. Membaca dengan sangat cepat sehingga hilang sebagian huruf atau harakat atau tidak membedakan antara bacaan panjang dan pendek.
10. Membaca Al-Quran sambil menghisap rokok, karena malaikat terganggu dengan bau rokok sebagaimana terganggunya sebagian manusia ( Lihat Bida’ul Qurra’ Al-Qadimah wal Mu’ashirah hal. 7 ).
11. Membaca do’a sebelum dan sesudah selesai membaca Al-Quran. Seperti “Allahummar hammni bil Qur’an wa jaalhuli imaman wa nuran wa hudan wa rahmatan… dan seterusnya.
12. Mengirim bacaan Al-Fatihah pada orang yang sudah meninggal dunia.
13. Mengakhiri bacaan Al-quran dengan sujud.
14. Mengoyang goyangkan kepala atau badan ketika sedang membaca Al-Quran, ini adalah tasyabbuh dengan orang-orang Yahudi ( Lihat Bida’ul Qurra’ Al-Qadimah wal Mu’ashirah hal. 26 ).
15. Membaca tambahan do’a ketika sedang disebut nama nama Nabi. Seperti : Shuhufi Ibrahima wa Musa, dengan menambah alaihima salam.
16. Membaca Al-Quran dengan bersama-sama dengan satu suara kecuali dalam proses belajar mengajar.
17. Mengakhiri bacaan Al-quran dengan surat Al-Fatihah ( Lihat Bida’ul Qurra’ Al-Qadimah wal Mu’ashirah hal. 10 ).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s