Category Archives: Aqidah

AL-WALA’ WAL BARO:

WAJIBNYA BARO’ KEPADA ORANG KAFIR DAN HARAMNYA WALA’ TERHADAP MEREKA

Di antara pokok-pokok aqidah Islam adalah wajibnya memberikan wala’ ( loyalitas ) kepada setiap muslim dan baro’ ( membenci dan memusuhi ) orang-orang kafir, wajib memberikan wala’ kepada orang-orang yang bertauhid dan baro’ kepada orang-orang musyrik, inilah agama Ibrahim yang kita semua diperintahkan oleh Alloh agar mengikutinya Alloh ( berfirman :

( قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ (
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. “ ( Al-Mumtahanah : 4 )

Alloh ( mengharamkan wala’ kepada orang-orang kafir semuanya sebagaimana dalam firmanNya :

( يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَُ (
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. “ ( Al-Mumtahanah : 4 )

BENTUK-BENTUK WALA’ KEPADA ORANG-ORANG KAFIR

1. Menyerupai orang-orang kafir dalam pakaian-pakaian, pembicaraan, dan kebiasaan-kebiasaan mereka.

Menyerupai orang-orang kafir dalam pakaian-pakaian, pembicaraan, dan yang lainnya menunjukkan kecintaan kepada siapa yang ditirunya, karenanya Rasulullah ( bersabda :
من تشبه بقوم فهو منهم
“ Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk mereka “ ( Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya 4/44, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya 4/216, dan ahmad dlam Musnadnya 2/50 dan dikatakan oleh syaikh Al-Albany dalam Irwaul Ghalil : 1269 : Hasan Shahih ).

Diharamkan menyerupai orang-orang kafir dalam ciri-ciri khas mereka dari kebiasaan, peribadahan, dan akhlaq-akhlaq mereka seperti mencukur jenggot, memanjangkan kumis, memkai bahasa-bahasa mereka tanpa ada keperluan, meniru model pakaian mereka dan lain sebagainya.

2. Memuji orang-orang kafir dan membantu mereka dalam memerangi kaum muslimin.

Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata : “ Ini termasuk pembatal keislaman dan sebab kemurtadan “ ( Al-Wala’ wal Baro’ hal. 3 ).

3. Meminta pertolongan kepada mereka, memberi mereka kedudukan-kedudukan penting, dan menjadikan mereka sebagai teman setia dan penasehat.

Alloh ( berfirman :
( يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. “ ( Ali Imran : 118-119 )

Dari Aisyah bahwasanya Nabi ( keluar untuk perang Badar, ternyata ada seorang musyrik yang mengikuti beliau dan menemui beliau di Harroh, berkata oarang musyrik tersebut : “ Bagaimana menurut pendapatmu jika aku mengikutimu dan berperang bersamamu ? “,Nabi ( bersabda : “ Apakah kamu beriman kepada Alloh dan RasulNya ? “, orang tersebut menjawab : “ Tidak “, maka Nabi ( bersabda : “ Kembalilah !, akau tidak mau meminta bantuan kepada seorang yang musyrik “ ( Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya 3/1450 ).

Nash-nash di atas menunjukkan haramnya menjadikan orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan, larangan meminta pertolongan kepada mereka, memberi mereka kedudukan-kedudukan penting sehingga bisa memata-matai kaum muslimin dan memberikan madharat kepada kaum muslimin.

4. Memberi nama dengan nama-nama orang-orang kafir.

Sebagian kaum muslimin memberi nama anak-anak mereka dengan nama-nama orang-orang kafir, padahal Rasulullah ( bersabda :

تسموا باسمي
“ Namakanlah dengan namaku “ ( Muttafaq Alaih, Bukhary 1/52 dan Muslim 3/1682 ).

إن أحب أسمائكم إلى الله عبد الله وعبد الرحمن
“ Sesungguhnya nama-nama kalian yang paling dicintai oleh Alloh adalah Abdullah dan Abdurrahman “ ( Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya 3/1682 ).

5. Menghadiri dan ikutserta dalam hari raya- hari raya orang-orang kafir atau membantu pelaksanaannya atau ucapan selamat hari raya kepada mereka atau menghadirinya ( Lihat Al-Wala’ wal Baro’ oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan hal. 3-13 ).

MUI di dalam fatwanya tertanggal 1 Jumadil Awal 1401 H / 7 Maret 1981 memutuskan bahwa : Mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram ( Dari situs resmi Majelis Ulama Indonesia http://www.mui.or.id ).

Lajnah Daimah Saudi Arabia di dalam Fatwanya nomor 11168 menyatakan : ” Tidak boleh seorang muslim memberi ucapan selamat kepada orang Nasrani pada hari raya mereka, karena hal itu berarti tolong menolong di dalam dosa. Sungguh Alloh telah melarang kita dari hal itu :

“ dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. “ ( Al-Maidah : 2 ).

Sebagaimana di dalam ucapan selamat itu terdapat kasih sayang kepada mereka, menuntut kecintaan, serta menampakkan keridhaan kepada mereka, karena mereka selalu menentang Alloh dan menyekutukanNya dengan selainNya, menjadikan baginya isteri dan anak, Alloh ( telah berfirman:

“ Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau Saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka Itulah orang-orang yang Telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya “ ( Al-Mujadilah : 22 ) “.

WAJIBNYA MENYELISHI ORANG-ORANG KAFIR

Di antara doa kaum mukminin yang selalu dilantunkan di dalam setiap roka’at shalat yakni saat membaca surat Al-Fatihah adalah permohonan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ditunjukkan kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dijauhkan dari mengikuti jalan Yahudi dan Nashara. Do’a ini adalah :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ
” Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang Telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. ” ( Al-Fatihah : 5-6 ) “.

Rasulullah ( bersabda :

اليهود مغضوب عليهم وإن النصارى ضلال

” Yahudi adalah yang dimurkai dan sesungguhnya Nashoro adalah orang-orang yang sesat ” ( Diriwayatkan oleh Tirmidzi di dalam Sunannya 5/201 dan Ibnu Abi Hatim di dalam tafsirnya 1/31 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ : 8202 ).

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata : ” Ciri khas orang-orang Yahudi adalah dimurkai sebagaimana Alloh Ta’ala berfirman :

” yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, ” ( Al-Maaidah : 60 ), dan ciri khas orang-orang Nashoro adalah kesesatan sebagaimana Alloh Ta’ala berfirman tentang mereka :

” orang-orang yang Telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka Telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus ” ( Al-Maaidah : 77 ), dan telah dalam hal ini hadits-hadits dan atsar-atsar ” ( Tafsir Al-Qur’anil Azhim 1/28 ) .
Alloh telah melarang tasyabbuh secara umum, Allloh berfirman :

” sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak Mengetahui” ( Yunus : 89 ).
Alloh melarang menyerupai orang-orang kafir di dalam perkara-perkara yang diharamkan atas kita, Alloh berfirman :

” seperti keadaan orang-orang sebelum kamu, mereka lebih Kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta dan anak-anaknya dari kamu. Maka mereka Telah menikmati bagian mereka, dan kamu Telah menikmati bagian kamu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagiannya, dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. mereka itu amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka Itulah orang-orang yang merugi ” ( At-Taubah : 69 ).

Di dalam ayat ini Alloh mencela tasyabuh orang-orang kafir di dalam segi syubhat-syubhat ( keyakinan-keyakinan ) mereka yang batil dan mengikuti syahwat-syahwat yang diharamkan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

وجمع سبحانه بين الاستمتاع بالخلاق، وبين الخوض؛ لأن فساد الدين: إما أن يقع بالاعتقاد الباطل، والتكلم به، أو يقع في العمل بخلاف الاعتقاد الحق، والأول: هو البدع ونحوها، والثاني: فسق الأعمال ونحوها، والأول: من جهة الشبهات، والثاني: من جهة الشهوات

” Alloh Subhanahu menggabungkan antara menikmati bagian dan antara mempercakapkan ( hal yang batil) ; karena sesungguhnya kerusakan agama : adakalanya terjadi dengan keyakinan yang batil dan mengucapkannya, atau terjadi dengan melakukan perbuatan yang menyelisihi keyakinan yang haq, yang pertama : adalah bid’ah-bid’ah dan semacamnya, dan yang kedua adalah kefasiqan amalan dan yang semacamnya, yang pertama adalah dari sisi syubhat-syubhat, dan yang kedua adalah dari sisi syahwat-syahwat ” ( Iqtidha Shirathal Mustaqim 1/118-119 ).

Di antara hal yang dilarang oleh Alloh dari tasyabbuh terhadap orang-orang kafir adalah kekesatan hati dengan berlalunya masa yang panjang, Alloh Ta’ala berfirman :

” Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang Telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya Telah diturunkan Al Kitab kepadanya, Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik ” ( Al-Hadid : 16 ).

Akhirnya kita memohon kepada Allah ‘Azza wa jalla agar memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua agar bisa berpegang dengan ajaran Islam dan diselamatkan dari segala bentuk meniru-niru orang kafir dan memberikan taufiq kepada kita untuk ta’at kepadanya, beribadah dengan benar kepadaNya, dan selalu mengingatNya serta menyatukan kalimat muslimin kepada yang dicintainya dan diridhainya.

والله أعلم بالصواب

Akhukum : Abu Ahmad Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah

KALIMAT TAUHID ADALAH KUNCI SURGA

KALIMAT TAUHID ADALAH KUNCI SURGA

Ketika kita menelaah Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ternyata kita dapati bahwa kunci kebaikan yang paliang agung adalah Kalimat Tauhid : لا إله إلا الله .
Kalimat Tauhid adalah kunci segala kebaikan, dialah kunci surga karena surga tidaklah dibuka kecuali dengan tauhid sebagaimana di dalam hadits Mu’adz bin Jabal bahwasanya Rasulullah ( bersabda:

مفاتيح الجنة شهادة أن لا إله إلا الله

“ Kunci surga adalah Syahadat An La Ilaha Illalloh ”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad di dalam Musnadnya 5/242 dan Al-Imam Al-Bazzar di dalam Musnadnya ( sebagaimana di dalam Kasyful Astar : 2 ) dari jalan Syahr bin Hausyab dari Mu’adz bin Jabal, kemudian Al-Bazzar berkata : ” Syahr tidak mendengar dari Mu’adz ” ( Lihat Silsilah Dha’ifah 3/477 )..
Al-Hafidz Ibnu Rajab berkata : ” Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dengan sanad yang terputus ” ( Kalimatul Ikhlash hal. 14 ).
Maka kesimpulannya bahwa hadits ini lemah sanadnya, hanya saja maknanya haq, tidak syak lagi bahwa kunci surga adalah kalimat لا إله إلا الله sebagaimana telah datang nash-nash yang banyak yang menjelaskan bahwa لا إله إلا الله adalah kunci surga, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

ما منكم من أحد يتوضأ فيبلغ أو فيسبغ الوضوء ثم يقول أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبد الله ورسوله إلا فتحت له أبواب الجنة الثمانية يدخل من أيها شاء

“ Tidak ada seorang pun dari kalian yang berwudhu kemudian menyempurnakan wudhunya kemudian dia mengucapkan أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبد الله ورسوله melainkan akan dibukakan baginya pintu surga yang delapan dia masuk dari pintu yang dia kehendaki ”.

Alloh ( berfirman:

{وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ} [الزمر : 73]

“ Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombongan (pula). sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya Telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”. “ ( Az-Zumar : 73 ).

Dengan apakah dibukakan bagi mereka pintu-pintu surga ? dibukakan bagi mereka pintu-pintu tersebut dengan sifat mereka yaitu takwa, sedangkan takwa adalah melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, dan perintah Alloh yang paling agung adalah tauhid dan larangan terbesar adalah kesyirikan.
Maka Tauhid adalah kunci surga yang memiliki 8 pintu sedangkan kesyirikan adalah kunci neraka yang memiliki 7 pintu masing-masing pintu terbagi-bagi lagi menjadi beberapa bagian, Alloh ( berfirman:

{إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ} [الأعراف : 40]

“ Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. “ ( Al-A’raf : 40 ).

Dan Alloh ( berfirman:

{لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَابٍ لِّكُلِّ بَابٍ مِّنْهُمْ جُزْءٌ مَّقْسُومٌ} [الحجر : 44]

“ Neraka itu mempunyai tujuh pintu. tiap-tiap pintu memiliki bagian tertentu. “ ( Al-Hijr : 44 ).

Dan hal yang perlu diperhatikan bahwa setiap kunci memiliki gigi-gigi agar bisa membuka, Wahb bin Munabbih seorang tabi’in yang masyhur ditanya oleh seseorang : ” Bukankankah لا إله إلا الله adalah kunci surga ? “, maka Wahb bin Munabbih berkata : Ya, akan tetapi tidak ada kunci melainkan memiliki gigi-gigi, jika Engkau datng membawa kunci yang ada giginya maka akan bisa digunakan untuk membuka dan jika Engkau membawa kunci yangtidak ada gigi-giginya maka tidak bisa digunakan untuk membuka ” ( Shahih Bukhari 1/417 ), dan gigi-gigi kalimat لا إله إلا الله adalah syarat-syaratnya, maka kalimat لا إله إلا الله tidak akan bermanfaat bagi pengucapnya kecuali jika memenuhi syarat-syaratnya, syarat-syarat tersebut adalah :

1. Ilmu yang menghilangkan kejahilan

2. Yaqin yang menghilangkan keragu-raguan.

3. Ikhlash yang menafikan kesyirikan

4. Jujur yang menafikan kedustaan

5. Kecintaan yang menghilangkan kebencian

6. Tunduk yang menafikan meninggalkan

7. Menerima yang menafikan penolakan

8. Mengkufuri segala yang disembah selain Alloh

Syarat-syarat ini telah dikumpulkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz di dalam dua bait sya’ir di dalam kitab beliau Durus Muhimmah Li’ammatil Ummah hal. 5 :

علم يقين و إخلاص و صدقك مع

محبة و انقياد و القبول لها

و زيد ثامنها الكفران منك بما

سوى الإله من الأوثان قد ألها

DI MANAKAH ALLOH ?

DI MANAKAH ALLOH ?

Yang shahih bahwa Alloh bersemayam di atas Arsy di atas semua makhlukNya, Al-Qur`an, hadits shahih dan ijma’ menyatakan bahwa Allah berada di atas ‘Arsy :
Allah Ta’ala berfirman:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
“Allah Yang Maha Pengasih itu beristiwa` di atas ‘Arsy.” (Thaahaa:5) 
Keterangan bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy terdapat dalam tujuh surat, yaitu: Al-A’raaf:54, Yuunus:3, Ar-Ra’d:2, Thaahaa:5, Al-Furqaan:59, As-Sajdah:4 dan Al-Hadiid:4. 

Para tabi’in menafsirkan istiwa` dengan naik dan tinggi, sebagaimana diterangkan dalam hadits Al-Bukhariy (Lihat Syarh Al-‘Aqiidah Al-Waasithiyyah, Asy-Syaikh Al-Fauzan hal.73-75 cet. Maktabah Al-Ma’aarif).
Dan Allah Ta’ala berfirman:
أَأَمِنتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمْ الأَرْضَ 
“Apakah kalian merasa aman terhadap “Yang di langit” bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kalian?” (Al-Mulk:16) 
Menurut Ibnu ‘Abbas yang dimaksud dengan “Yang di langit” adalah Allah seperti disebutkan dalam kitab Tafsir Ibnul Jauziy. 
Dan Allah Ta’ala berfirman:

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ 
“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang (ada) di atas mereka.” (An-Nahl:50) 
– Rasulullah mi’raj ke langit ketujuh dan berdialog dengan Allah serta diwajibkan untuk melakukan shalat lima waktu. (Muttafaqun ‘alaih)
– Rasulullah bersabda: “Kenapa kamu tidak mempercayaiku, padahal aku ini dipercaya oleh Allah yang ada di langit?” (Muttafaqun ‘alaih)
– Di dalam Shahih Muslim ( no. 537 ) bahwa ada seorang jariyah ( budak perempuan ) penggembala kambing ditanya oleh Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam : ” Di manakah Allah ? “, jawab budak perempuan : ” Di atas langit “, beliau bertanya (lagi) : “Siapakah Aku ..? “, jawab budak itu : “Engkau adalah Rasulullah”. Beliau bersabda : “Merdekakan ia ! .. karena sesungguhnya ia mu’minah (seorang perempuan yang beriman)”.
Para Shahabat, para Tabi’in, serta para Imam kaum Muslimin telah bersepakat atas ketinggian Allah di atas langit-Nya dan bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy-Nya, ijma’ ini dinukil oleh Imam Abul Hasan al-‘Asyari dalam kitabnya Risaalah ilaa Ahli Tsaghar (hlm. 232).
Imam Malik, ketika ditanya tentang masalah istiwa (tingginya) Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas Arsy-Nya berkata, ” Istiwa (Allah) sudah sama dipahami, dan bagaimana (hakikat)nya tidak diketahui, sementara mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentang bagaimana (hakikat) Allah ber-istiwa adalah bid’ah ” ( Lihat Mukhtasar Al-Uluw oleh Imam Dzahabi hal.141).
Imam Abdullah bin Mubarak berkata : ” Kita mengetahui bahwa Tuhan kita berada di atas langit yang tujuh ; ber-istiwa di atas Arsy-Nya ; terpisah dari makhluk-Nya. Kami tidak mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Jahmiyah ” ( Lihat Mukhtasar Al-Uluw oleh Imam Dzahabi hal.151).
Imam Al-Auza’iy berkata, ” Kami dan para Tabi’in mengatakan, ” Sesungguhnya Allah penyebutannya di atas ‘Arsy-Nya dan kami mengimani apa saja yang terdapat di dalam Sunnah ” ( Lihat Mukhtasar Al-Uluw oleh Imam Dzahabi hal.138).
Imam Abu Hanifah berkata, ” Barangsiapa yang mengatakan, ‘ Saya tidak tahu apakah Tuhan saya berada di langit atau bumi’, berarti dia telah kafir “‌ ( Lihat Mukhtasar Al-Uluw oleh Imam Dzahabi hal.136 ).
Al-Imam Ibnu Khuzaimah berkata  : ” Barangsiapa yang tidak menetapkan sesungguhnya Allah Ta’ala di atas ‘Arsy-Nya Ia istiwaa’ di atas tujuh langit-Nya, maka ia telah kafir dengan Rabbnya…” ( Diriwayatkan oleh Al-Hakim di dalam kitab Ma’rifah Ulumul Hadits hal : 84 dengan sanad yang shahih ). 

Ditulis di Kediri pada hari Jum’at 10 Jumadal Ula 1439
Akhukum Abu Ahmad Arif Fathul Ulum bin Ahmad

FILSAFAT PERUSAK AGAMA ISLAM

FILSAFAT PERUSAK AGAMA ISLAM

Di antara musibah terbesar yang menimpa kaum muslimin adalah tersebarnya ilmu kalam yang sangat terpengaruh dengan ilmu manthiq dan filsafat Yunani.
Ilmu manthiq dicetuskan oleh Aristoteles sekitar 800 tahun sebelum Islam karena Aristoteles dilahirkan pada tahun 384 Sebelum Masehi ( Lihat Mausu’ah Falsafah 1/98 dan Milal wan Nihal 2/117 ).
Adapun filsafat maka dia muncul sekitar 5 abad sebelum kelahiran Isa ( Lihat Janib Ilahi min Tafkir Islami hal. 101 ).
Maka jelaslah bahwa ilmu manthiq dan filsafat datang berabad-abad sebelum kedatangan Islam.
Ketika Islam datang maka Alloh mencukupkan manusia dengan Islam ini dari semua ilmu yang berbicara tentang aqidah atau syari’at, walaupun ilmu-ilmu tersebut datang dari agama samawi yang turun dari langit, apalagi jika ilmu-ilmu tersebut datang dari manusia !.

Baca lebih lanjut

AQIDAH WALA’ DAN BARO’

WALA’ DAN BARO’ DI DALAM ISLAM

PENGERTIAN WALA’ DAN BARO’

Di antara pokok-pokok aqidah Islam adalah wajibnya memberikan wala ( loyalitas dan mencintai ) kepada setiap muslim dan baro ( berlepas diri dan memusuhi ) orang-orang kafir, wajib memberikan wala kepada orang-orang yang bertauhid dan baro kepada orang-orang musyrik, inilah agama Ibrahim yang kita semua diperintahkan oleh Alloh agar mengikutinya Baca lebih lanjut