Category Archives: Fiqih

MUTIARA-MUTIARA FAIDAH DARI IBADAH HAJI

MUTIARA-MUTIARA FAIDAH DARI IBADAH HAJI

– Di antara atsar-atsar haji adalah : manusia menemukan di dalam dirinya kenyamanan dan ketenangan, dan kelapangan dada, dan cahaya hati.

– Demikian juga termasuk atsar-atsar haji adalah: apa yang diperoleh oleh seseorang dari ilmu yang bermanfaat yang dia mendengarnya di dalam ceramah-ceramah dan majelis-majelsi pelajaran di Masjidilharam, dan di kamp-kamp di Mina dan Arafat.

– Demikian juga termasuk atsar-atsar haji adalah : untuk menambah pengetahuan seseorang terhadap keadaan-keadaan dunia Islam, jika mendapati seseorang yang terpercaya membicarakan kepadanya tentang tanah air umat Islam.

– Demikian juga termasuk atsar-atsar haji adalah : menanamkan kecintaan di dalam hati kaum mukminin satu sama lain; Anda melihat manusia di dalam haji dan padanya terdapat tanda-tanda petunjuk dan kebaikan maka Engkau mencintainya , merasa tenang dengnnya dan merasa kenal dengannya.

– Demikian juga termasuk atsar-atsar haji adalah: bahwa seseorang bisa memperoleh perkara materi dengan berdagang , dan yang lainnya; berdasarkan firman Alloh Ta’ala : ” Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang Telah ditentukan atas rezki yang Allah Telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak ” ( Al-Hajji: ayat 28), dan firman Alloh Ta’ala: ” Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. ” (al-Baqarah: ayat 198), berapa banyak orang yang menghasilkan uang dengan perdagangan dalam haji-nya, dalam membeli dan menjual, dan bahwa ini termasuk manfaat yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

– Demikian juga termasuk atsar-atsar haji adalah: untuk membiasakan manusia jiwanya atas kesabaran dan kekasaran dan kelelahan, terutama jika dia adalah orang biasa dari selain mereka yang mendapatkan kesejahteraan dalam haji mereka mereka, maka sesungguhnya dia mendapatkan begitu tidak banyak manfaat, maksudku: orang yang hajinya biasa mendapatkan banyak manfaat dengan membiasakan dirinya atas kesabaran dan kekasaran .

( Dari kitab Fiqih Ibadah oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin alih bahasa Arif bin Ahmad Al-Hasyimi )

DI PENGHUJUNG BULAN ROMADHON

TAUBAT

Saudara-saudaraku seiman , marilah kita tutup bulan Ramadhan dengan bertaubat kepada Alloh dari segala kema’shiyatan terhadapNya dan segera kembali kepadaNya dengan mengerjakan perkara-perkara yang diridhaiNya, karena sesungguhnya manusia tidak bisa lepas dari kesalahan dan kekurangan, setiap manusia selalu berbuat kesalahan dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang banyak bertaubat , Alloh dan RasulNya telah banyak menghasung manusia agar segera istighfar dan bertaubat kepadaNya, Alloh Azza wa Jalla berfirman : 

 ( ( (((((( ((((((((((((((( (((((((( (((( ((((((((( (((((((( (((((((((((( (((((((( ((((((( (((((( (((((( ((((((( (((((((( (((( ((( (((((( ((((((((( ( ((((( (((((((((( ((((((((( ((((((( (((((((((( ((((((( (((((( ((((((( (((  (   (

” Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang Telah ditentukan dan dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat ” ( Hud : 3 ), dan Alloh berfirman : 

 ( ( (((( (((((((( (((((( (((((( ((((((((((( ((((((( (((((( (((((((( ((((((((((( ((((((( ((((((( ((((((((((((((((( (((((((( ((((((((((((((((( ( (((((((( (((((((((((((((( (((  (   (

”  Katakanlah: “Bahwasanya Aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadanya dan mohonlah ampun kepadanya. dan Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, ” ( Fushilat : 6 ).

Alloh berfirman : 

 ( (( ((((((((((( ((((( (((( (((((((( (((((( ((((((((((((((( (((((((((( ((((((((((( ((((  (   (

”  dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung ” ( An-Nur : 31 ).

Alloh berfirman : 

 ( ((((((((((( ((((((((( (((((((((( ((((((((( ((((( (((( (((((((( (((((((( (((((( (((((((( ((( ((((((((( ((((((( (((((((((((((( (((((((((((((( ((((((( ((((((( ((( ((((((((( ((((((((((( (

” Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, ” ( At-Tahrim : 8 ).

Rasulullah ( bersabda :

«يا أيها الناسُ توبُوا إلى الله واستغفروه فإني أتوبُ في اليوم مئةَ مرة»

” Wahai manusia bertaubatlah kalian kepada Alloh dan istighfarlah karena sesungguhnya aku bertaubat sehari seratus kali  ” ( Hadits Riwayat Muslim dalam Shahihnya 4/2075 ).

Dari Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah ( bersabda :

«للهُ أشدُ فرَحاً بتوبةِ عبدِه حين يتوبُ إليهِ من أحدِكم كان على راحلتِه بأرضٍ فلاةٍ فانفلتت منُه وعليها طعامُه وشرابُه فأيس منها، فأتى شجرةً فاضطجعَ في ظلِّها وقد أيِس من راحلتِه، فبينما هُو كذَلِكَ إذْ هو بها قائمةً عندَه، فأخذَ بخِطامِها، ثم قالَ من شدَّةِ الفرحِ: اللَّهُمَّ أنتَ عبِدي وأنا ربُّك أخطأ من شدَّةِ الفرحِ»

” Sungguh Allah akan lebih senang menerima tobat hamba-Nya ketika ia bertobat kepada-Nya daripada (kesenangan) seorang di antara kamu sekalian yang menunggang untanya di tengah padang luas yang sangat tandus, lalu unta itu terlepas membawa lari bekal makanan dan minumannya dan putuslah harapannya untuk memperoleh kembali. Kemudian dia menghampiri sebatang pohon lalu berbaring di bawah keteduhannya karena telah putus asa mendapatkan unta tunggangannya tersebut. Ketika dia dalam keadaan demikian, tiba-tiba ia mendapati untanya telah berdiri di hadapan. Lalu segera ia menarik tali kekang unta itu sambil berucap dalam keadaan sangat gembira: Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhan-Mu. Dia salah mengucapkan karena terlampau merasa gembira ” ( Shahih Muslim No.4932 ). 

Adapun tentang hakikat taubat maka dikatakan oleh Al-Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani : ” Dalam istilah syara’, taubat adalah meninggalkan dosa karena keburukannya, menyesali dosa yang telah dilakukan, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha melakukan apa yang bisa diulangi (diganti). Jika keempat hal itu telah terpenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna” ( Al-Mufradat fi Gharibil Qur’an, dari asal kata ” tauba” hal. 76 ).

Al-Imam An-Nawawi berkata : “Para ulama berkata : ‘Bertaubat dari setiap dosa hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga :

Pertama : hendaknya ia menjauhi maksiat tersebut. 

Kedua : ia harus menyesali perbuatan (maksiat)nya. 

Ketiga : ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi. 

Jika salah satu dari syarat ini tidak ada, maka taubatnya tidak sah.

Jika taubatnya itu berkaitan dengan hak manusia maka syaratnya ada empat : ketiga syarat di atas dan Keempat : hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi) hak orang tersebut. Jika berbentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus mengembalikannya. Jika berupa had (hukuman) tuduhan atau sejenisnya maka ia harus memberinya kesempatan untuk membalasnya atau meminta ma’af kepadanya. Jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf ” ( Riyadhus Shalihin, hal. 41-42 ).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin di dalam Majalis Ramadhan hal. 219-220 menambah dua syarat lagi dari syarat-syarat yang disebutkan oleh Al-Imam An-Nawawi di atas yaitu : Pertama : Hendakanya diikhlashkan semata kepada Alloh, dan yang Kedua : Hendaknya taubat tersebut dilakukan sebelum habisnya waktu diterimanya taubat. Jika taubat tersebut dilakukan setelah habisnya waktu diterimanya taubat maka taubat tersebut tidak diterima. Dan habisnya waktu dierimanya taubat ada dua macam : ada yang umum bagi setiap manusia dan ada yang khusus bagi setiap orang. 

Yang umum adalah terbitnya matahari dari barat sebagaimana dalam sabda Rasulullah ( :

«مَنْ تابَ قبلَ أن تطلُعَ الشمس مِنْ مغربِها تاب الله عليه»

” Barangsiapa yang bertaubat sebelum terbitnya matahari dari baratnya maka akau akan menerima taubatnya   ” ( Hadits Riwayat Muslim dalam Shahihnya 4/2076 ).

Sedangkan yang khusus adalah datangnya ajal setiap manusia sebagaimana dalam sabda Rasulullah ( :

«إن الله يَقْبَلُ تَوبةَ العبدِ ما لَمْ يُغرغِرْ»

” Sesungguhnya Allah menerima taubat hambaNya selama nyawanya belum sampai ke tenggorokan ” ( Hadits Riwayat Ahmad dalam Musnadnya 2/153 dan Tirmidzi di dalam Jami’nya 5/547 dan dihasankan oleh Tirmidzi dan Syaikh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ : 1903 ).     

Maka marilah saudara-saudaraku  yang dirahmati Alloh  kita segera bertaubat kepada Alloh dengan taubat nashuha sebelum datang kematian yang pasti akan datang menjemput kita.

Ya Alloh berikan taufiq kami kepada taubat nasuha yang bisa menghapus kesalahan-kesalahan kami yang telah lalu, dan ampunilah kami dan kedua orang tua kami dan seluruh kaum muslimin di dunia dan di akhirat, dengan RahmatMu wahai Dzat yang Maharahmah.

MALAM LAILATUL QADAR

MALAM LAILATUL QADAR

Keutamaan malam Lailatul Qadar sangat agung, karena malam ini menyaksikan 

turunnya Al-Qur’an Al-Karim, yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi. Umat Islam yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak memasang tanda-tanda tertentu dan tidak pula menancapkan anak-anak panah untuk memperingati malam ini, akan tetapi mereka berloma-lomba untuk bangun di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah.

Inilah wahai saudaraku muslim, ayat-ayat Qur’aniyah dan hadits-hadits nabawiyah yang shahih yang menjelaskan tentang malam tersebut :
1. Keutamaan Malam Lailatul Qadar :

Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan, Alloh berfirman : 

((((( (( (((((((((((( ((( (((((((( (((((((((( (((  (((((( ((((((((( ((( (((((((( (((((((((( (((  (((((((( (((((((((( (((((( ((((( (((((( (((((( (((  (((((((( (((((((((((((((( (((((((((( (((((( (((((((( (((((((( (((( ((((( (((((( (((  ((((((( (((( (((((( (((((((( (((((((((( (((  (  (

” Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar, tahukah engkau apakah malam Lailatul Qadar itu ? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan, pada malam itu turunlah melaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Allah Tuhan mereka (untuk membawa) segala usrusan, selamatlah malam itu hingga terbit fajar ” ( Al-Qadar : 1-5 ).

Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, Alloh berfirman : 

(((((((((((((((( ( ((( (((((((( ((((((((((( ( ((((( ((((( (((((((((( (((  (((((( (((((((( (((( (((((( ((((((( (((  ((((((( ((((( ((((((((( ( ((((( ((((( ((((((((((( (((  (((((((( (((( ((((((( ( ((((((( (((( (((((((((( ((((((((((( (((  (

” Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui ” ( Ad-Dukhan : 3-6 ).

2. Waktunya :

Diriwayatkan dari Nabi ( bahwa malam tersebut terjadi pada tanggal malam 21,23,25,27,29 dan akhir malam bulan Ramadhan. 

Imam Syafi’i berkata : “Menurut pemahamanku. wallahu ‘alam, Nabi ( menjawab sesuai yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau : “Apakah kami mencarinya di malam ini?”, beliau menjawab : “Carilah di malam tersebut” ( Sebagaimana dinukil oloeh Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah 6/386 ).

Pendapat yang paling rajih bahwa terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada yang ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwasanya dia berkata : Rasulullah ( beri’tikaf di sepuluh hari terkahir bulan Ramadhan dan beliau bersabda :
” Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan ” ( Hadits Riwayat Bukhari 4/225 dan Muslim 1169 ).

Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, karena riwayat yang dating dari Ibnu Umar bahwasanya dia berkata : Rasulullah ( bersabda :
” Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari sisanya ” ( Hadits Riwayat Bukhari 4/221 dan Muslim 1165 ).

Ini menafsirkan sabdanya :
” Aku melihat mimpi kalian telah bersesuaian, barangsiapa yang mencarinya maka hendaknya dia mencari pada tujuh hari terakhir ” ( Hadits Riwayat Bukhari 2/709 dan Muslim 2/822 ).

Telah diketahui dalam sunnah bahwa pengetahuan tentang malam Lailatul Qadar ini terangkat karena perdebatan para sahabat, dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah ( ke luar untuk mengkhabarkan tentang malam Lailatul Qadar, ternyat ada dua orang sahabat yang berdebat, maka beliau bersabda :
” Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang malam Lailatul Qadar, tapi ada dua orang berdebat hingga tidak bisa lagi diketahui kapannya; mungkin ini lebih baik bagi kalian, carilah di malam 29. 27. 25 (dan dalam riwayat lain : tujuh, sembilan dan lima)” ( Hadits Riwayat Bukhari 4/232 ).

Telah banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa malam Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir, yang lainnya menegaskan, di malam ganjil sepuluh hari terakhir. Hadits yang pertama sifatnya umum sedang hadits kedua adalah khusus, maka riwayat yang khusus lebih diutamakan dari pada yang umum, dan telah banyak hadits yang lebih menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar itu ada pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan, tetapi ini dibatasi kalau tidak mampu dan lemah, sehingga tidak ada masalah, dengan ini cocoklah hadits-hadits tersebut tidak saling bertentangan, bahkan bersatu tidak terpisah.

Kesimpulannya bahwasanya seorang muslim mencari malam lailatul Qadar pada malam ganjil sepuluh hari terakhir : 21, 23,25,27 dan 29. Kalau lemah dan tidak mampu mencari pada sepuluh hari terakhir, maka carilah pada malam ganjil tujuh hari terakhir yaitu 25,27 dan 29. Wallahu ‘alam.
3. Bagaimana Mencari Malam Lailatul Qadar? :

Sesungguhnya malam yang diberkahi ini, barangsiapa yang diharamkan untuk mendapatkannya, maka sungguh telah diharamkan seluruh kebaikan baginya. Dan tidaklah diharamkan kebaikan itu, melainkan bagi orang yang diharamkan untuk mendapatkannya. Oleh karena itu dianjurkan bagi muslimin agar bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala-Nya yang besar, jika telah berbuat demikian maka dia akan diampuni oleh Alloh dosa-dosanya yang telah lalu.

Rasulullah ( bersabda :
” Barang siapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu ” ( Hadits Riwayat Bukhari 4/217 dan Muslim 759 ).

Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwasanya dia berkata : ” Aku bertanya, “Ya Rasulullah ! Apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan ? ” Beliau menjawab, “Ucapkanlah : 

 

” Ya Allah Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku ” ( Hadits Riwayat Tirmidzi 3760, Ibnu Majah 3850 dari Aisyah dan sanadnya Shahih ).

Saudaraku -semoga Allah memberkahimu dan memberi taufiq kepadamu untuk mentaati-Nya- engkau telah mengetahui bagaimana keadaan malam Lailatul Qadar dan keutamaannya maka bangunlah untuk menegakkan shalat pada sepuluh malam terakhir, menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita, perintahkan kepada isterimu dan keluargamu untuk itu, dan perbanyaklah perbuatan ketaatan.

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha dia berkata :
” Adalah Rasulullah (, apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencanngkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya ” ( Hadits Riwayat Bukhari 4/233 dan Muslim 1174 ).

Juga dari Aisyah dia berkata :
” Adalah Rasulullah ( bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir) yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya ” ( Hadits Riwayat Muslim 1174 ).
4. Tanda-Tandanya :

Ketahuilah hamba yang taat -mudah-mudahan Alloh menguatkanmu degan ruh dari-Nya dan membantu dengan pertolongan-Nya- sesungguhnya Rasulullah ( menggambarkan paginya malam Lailatul Qadar agar seorang muslim mengetahuinya :

Dari ‘Ubay Radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Rasulullah ( bersabda :
” Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tidak menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi ” ) Hadits Riwayat Muslim 762 ).

Dari Abu Hurairah ia berkata : Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah ( maka beliau bersabda :
” Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan seperti separuh nampan ” ( Muslim 1170 ).

Dan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma ia berkata : Rasulullah ( bersabda :

 

” (Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan ” ( Thayalisi 349, Ibnu Khuzaimah 3/231, Bazzar 1/486, sanadnya Hasan ). 

PANDUAN SHOLAT GERHANA

SHOLAT KUSUF DAN KHUSUF( GERHANA MATAHARI DAN BULAN )

Panggilan untuk sholat kusuf : 
Jika terjadi gerhana maka disunnahkan untuk memanggil kaum muslimin dengan : الصلاة جامعة sebagaimana dalam hadits dari Abdullah bin ‘Amr bahwasanya dia berkata : 

لما   كسفت الشمس  على عهد رسول الله  صلى الله عليه وسلم  نودي إن الصلاة جامعة

“ Ketika terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah ( maka diserukan الصلاة جامعة ( Ayo Sholat Berjama’ah ! ) “ ( Muttafaq Alaih, Shahih Bukhari 1/357 dan Shahih Muslim 2/627 ).
Sifat sholat kusuf : 
Jika orang-orang sudah berkumpul di masjid maka sholat berjama’ah dua raka’at sebagaimana dalam hadits dari Aisyah bahwasanya dia berkata : 

خسفت الشمس في حياة النبي  صلى الله عليه وسلم  فخرج إلى المسجد   فصف الناس  وراءه فكبر فاقترأ رسول الله  صلى الله عليه وسلم قراءة طويلة ثم كبر فركع ركوعا طويلا ثم قال سمع الله لمن حمده فقام ولم يسجد وقرأ قراءة طويلة هي أدنى من القراءة الأولى ثم كبر وركع ركوعا طويلا وهو أدنى من الركوع الأول ثم قال سمع الله لمن حمده ربنا ولك الحمد ثم سجد ثم قال في الركعة الآخرة مثل ذلك فاستكمل أربع ركعات في أربع سجدات وانجلت الشمس قبل أن ينصرف

“ Terjadi gerhana matahari pada zaman Nabi ( maka Nabi ( keluar ke masjid dan orang-orang bershaf-shaf di belakangnya, Rasulullah ( bertakbir dan membaca bacaan yang panjang kemudian bertakbir dan ruku dengan ruku yang panjang, kemudian mengucapkan Samiallohu Liman Hamidah dan berdiri tanpa sujud dan membaca lagi dengan bacaan yang panjang yang di bawah bacaan yang pertama, kemudian bertakbir dan ruku dengan ruku yang panjang kadarnya di bawah ruku yang pertama, kemudian mengucapkan Samiallohu Liman Hamidah Rabbana wa Lakal Hmadu dan sujud, dan melakukan di rakaat yang kedua seperti itu juga, sehingga menyempurnakan empat ruku dengan empat sujud dan teranglah matahari sebelum beliau berpaling dari sholatnya  ( Muttafaq Alaih, Shahih Bukhari 1/355 dan Shahih Muslim : 901 ).
Khutbah sesudah sholat kusuf : 
Disunnahkan bagi imam jika telah salam agar berkhutbah, menasehati kaum muslimin, mengingatkan mereka, dan menghasung mereka kepada amal yang shalih, sebagaimana dalam lanjutan  hadits dari Aisyah di atas setelah menyebut tentang sifat sholat kusuf dia berkata : 

ثم قام فأثنى على الله بما هو أهله ثم قال هما آيتان من آيات الله لا يخسفان لموت أحد ولا لحياته فإذا رأيتموهما فافزعوا إلى الصلاة

“ Kemudian Rasulullah ( berdiri berkhutbah, menyanjung alloh dengan pujian yang layak bagiNya seraya berkata : “ Sesungguhnya grhana matahari dan bulan adalah dua ayat dari ayat-ayat Alloh, gerhana tidak  terjadi karena kematian ataupun kehidupan seseorang, jika kalian melihat gerhana maka hendaklah meminta pertolongan kepada Alloh dengan sholat   ( Muttafaq Alaih, Shahih Bukhari 1/355 dan Shahih Muslim : 901 ).

Dari Asma dia berkata : 

لقد أمر النبي  صلى الله عليه وسلم    بالعتاقة  في كسوف الشمس

“ Sungguh Nabi ( memerintahkan agar memerdekakan budak di saat gerhana matahari  “ ( Shahih Bukhari 1/359 ).

Zhahir sabda Nabi ( : “jika kalian melihat gerhana maka hendaklah meminta pertolongan kepada Alloh dengan sholat   adalah wajib, sehingga hukum sholat kusuf adalah fardhu kifayah, sebagaimana dikatakan oleh Abu Awanah dalam Shahihnya 2/398.

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata :  Jumhur memandang hukum sholat kusuf adalah sunnah muakkadah, sedangkan Abu Awanah dalam Shahihnya memandang bahwa hukumnya adalah wajib, dan aku tidak melihat pendapat ini dari selain dia, kecuali yang dihikayatkan dari Malik bahwa dia menyamakannya dengan sholat Jumat, Ibnul Munayyir menukil dari Hanafiyyah bahwa mereka mewajibkannya, demikian juga sebagian penulis dari madzhab Hanafi juga menukil bahwa dia adalah wajib  ( Fathul Bari 2/527 ).

​KEMUNGKARAN-KEMUNGKARAN DI HARI RAYA

KEMUNGKARAN-KEMUNGKARAN DI HARI RAYA

Ditulis oleh Syaikh Ali bin Hasan Al-Halaby Al-Atsary

Ketahuilah wahai engkau seorang muslim semoga Allah memberikan pemahaman kepada kita dalam agama bahwa kegembiraan yang didapatkan pada saat hari raya Id telah menjadikan kebanyakan orang lupa atau sengaja melupakan syariat-syariat agama, dan hukum-hukum Islam, sehingga Engkau melihat mereka menempuh kemashiatan-kemashiatan , dan melakukan kemungkaran-kemungkaran, dalam keadaan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya !!. Ini semua membawaku untuk menambahkan pada risaalah ini pembahasan yang bermanfaat, karena akan menjadikan peringatan bagi kaum muslimin terhadap hal-hal yang telah mereka lupakan, dan membangunkan mereka dari kelalaian ( Kemungkaran-kemungkaran ini terjadi pada umumnya saat id dan yang lainnya , tetapi bertambah banyak pada saat hari raya id ), di antara kemungkaran-kemungkaran ini adalah :

Baca lebih lanjut

KOREKSI KESALAHAN-KESALAHAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN BULAN ROMADHON

KOREKSI KESALAHAN-KESALAHAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN BULAN ROMADHON

office-lens-20170515-092011.jpg.jpeg

Di antara kesalahan-kesalahan yang umum dilakukan orang , berkaitan dengan bulan Romadhon adalah:

1. Tidak mengetahui hukum-hukum puasa serta tidak menanyakannya.

Padahal Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (QS. an-Nahl [16]: 43)

Dan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah ‘Azza wa Jalla niscaya ia dipahamkan dalam urusan agamanya.” (Muttafaqun ‘alaihi) Baca lebih lanjut

KEUTAMAAN-KEUTAMAAN PUASA

KEUTAMAAN PUASA
Banyak sekali ayat dalam Kitabullah yang dengan tegas memberikan anjuran untuk puasa sebagai sarana untuk taqorrub kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan juga menjelaskan keutamaan-keutamaannya. Di antaranya firman Allah:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيراً وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً۝

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min , laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. al-Ahzab [33]: 35) Baca lebih lanjut

MENYAMBUT BULAN MULIA

​​
MENYAMBUT BULAN RAMADHAN
Ramadhan…bulan yang dirin-dukan hampir tiba…Marhaban Ya Ramadhan…Selamat datang wahai Ramadhan. Ramadhan adalah bulan nan penuh berkah, maghfirah dan pembebasan dari api neraka, yang didalamnya Allah menurunkan kitab mulia, petunjuk dan cahaya, di-dalamnya pula Allah memberikan kemenangan besar bagi hambaNya pada saat perang Badar. Ramadhan adalah bulan istimewa, sungguh merupakan nikmat yang sangat besar adalah berjumpa bulan Ramadhan untuk memakmurkannya dengan ber-bagai amal shalih demi mencapai ridha Allah.

Sungguh sangatlah rugi orang yang tidak bisa meraih keutamaan-keutamaan tersebut dan menyamakan bulan Ramadhan dengan bulan-bulan yang lain. Marilah berlomba-lomba untuk mendapatkan semua keutamaan tersebut agar kita mendapatkan kesuksesan dunia dan akhirat. Baca lebih lanjut

KEMUNGKARAN-KEMUNGKARAN DI HARI RAYA

KEMUNGKARAN-KEMUNGKARAN DI HARI RAYA​​

Ditulis oleh Syaikh Ali bin Hasan Al-Halaby Al-Atsary

Ketahuilah wahai engkau seorang muslim semoga Allah memberikan pemahaman kepada kita dalam agama bahwa kegembiraan yang didapatkan pada saat hari raya Id telah menjadikan kebanyakan orang lupa atau sengaja melupakan syariat-syariat agama, dan hukum-hukum Islam, sehingga Engkau melihat mereka menempuh kemashiatan-kemashiatan , dan melakukan kemungkaran-kemungkaran, dalam keadaan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya !!. Ini semua membawaku untuk menambahkan pada risaalah ini pembahasan yang bermanfaat, karena akan menjadikan peringatan bagi kaum muslimin terhadap hal-hal yang telah mereka lupakan, dan membangunkan mereka dari kelalaian ( Kemungkaran-kemungkaran ini terjadi pada umumnya saat id dan yang lainnya , tetapi bertambah banyak pada saat hari raya id ), di antara kemungkaran-kemungkaran ini adalah : Baca lebih lanjut

BERPUASA DAN BERHARI RAYA BERSAMA PEMERINTAH

BERPUASA DAN BERHARI RAYA BERSAMA PEMERINTAH

​​

BERPUASA DAN BERHARI RAYA BERSAMA PEMERINTAH

 ​
Di antara pokok yang agung dari Islam adalah wajibnya mentaati kepada pemerintah dalam perkara kebaikan.

Banyak sekali dalil-dalil yang menunjukkan atas hal di atas , di antaranya firman Alloh Ta’ala :

] يا أيها الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ[

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian. “ ( An-Nisa’ : 59 )

Dari Ubadah bin Shamit bahwasanya dia berkata :

دعانا رسول الله  صلى الله عليه وسلم فبايعناه فكان فيما أخذ علينا أن بايعنا على السمع والطاعة في   منشطنا  ومكرهنا وعسرنا ويسرنا وأثرة علينا وأن لا ننازع الأمر أهله قال إلا أن تروا كفرا بواحا عندكم من الله فيه برهان

Rasullullah e menyeru kami maka kami membaiatnya, di antara yang diambil atas kami bahwasanya kami berbaiat atas mendengar dan ta’at dalam keadaan yang lapang dan sempit, dalam keadaan sulit dan mudah, dan atas sikap egois atas kami, dan agar kami tidak merebut kekuasaan dari pemiliknyam beliau bersabda : “ Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang jelas dan nyata yang kalian punya bukti di hadapan Alloh “ ( Shahih Muslim : 1709 ).

Baca lebih lanjut