Category Archives: Manhaj

BERJIHAD DENGAN ILMU

JIHAD DENGAN ILMU

Merupakan hal yang perlu diketahui bahwa membantah ahli bidah dalam pokok-pokok kesesatan mereka adalah satu bagian dari jihad, berjihad dengan pedang dan berjihad dengan ilmu dan hujjah adalah seperti dua saudara kandung dan seperti dua sahabat yang selalu dekat, karena keperwiraan ada dua : keperwiraan ilmu dan penjelasan, dan keperwiraan senjata dan kekuatan.

Para sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam adalah makhluk yang paling sempurna dalam dua keperwiraan ini, mereka buka hati-hati manusia dengan hujjah dan penjelasan, dan mereka taklukkan negeri-negeri dengan pedang dan persenjataan.
Dan tidaklah manusia melainkan dua kelompok ini, adapun selain keduanya jika tidak termasuk pendukung dan pembela keduanya maka dia adalah beban yang memberatkan jenis manusia.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan RasulNya shalallahu alaihi wasallam agar membantah orang-orang kafir dan munafiq, dan menggempur musuh-musuh yang menentang dan memerangi, maka ilmu membantah hujjah musuh dan menggempur musuh adalah ilmu yang paling penting dan paling bermanfaat bagi para hamba di dalam kehidupan mereka di dunia dan akhirat, tidak ada yang bisa membandingi tinta ulama kecuali darah para syuhada, kemuliaan dan kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat adalah milik dua kelompok ini, adapun manusia selain mereka adalah bawahan mereka, dan patuh kepada pemuka-pemuka kedua kelompok ini ( Al-Furusiyyah hal. 156-157 ).

Karena inilah maka banyak para shahabat dan tabiin yang menafsirkan ( أولي الأمر ) dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

( يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُم ْ(

“ Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu “ ( An-Nisa’ : 59 ) ;

bahwasanya mereka ( أولي الأمر ) ini adalah para ulama, sebagaimana dinukil pendapat ini dari Jabir bin Abdullah, Mujahid, Atho’, Al-Hasan, dan Abul’Aliyah ( Tafsir Ath-Thobary : 5/149 ).

Tidak diragukan lagi bahwa ulama robbaniyyin memiliki kekuasaan atas orang-orang yang di bawah mereka ; disebabkan ilmu yang diberikan Allah ke dalam hati mereka, dan karena tanda-tanda yang nampak pada mereka dari khosyah dan tazkiyyah.

Ibnul Qoyyim berkata : Pada hakikatnya para penguasai ditaati jika mereka memerintah dengan landasan ilmu, maka ketaatan kepada mereka mengikut kepada ketaatan kepada ulama, karena ketaatan adalah pada hal yang maruf dan apa yang diwajibkan oleh ilmu, sebagaimana ketaatan kepada ulama mengikut kepada ketaatan kepada Rasul ; maka ketaatan kepada penguasa mengikut kepada ketaatan kepada ulama ( Ilamul Muwaqqiin 1/10 ).

RENUNGAN BAGI PARA PENGOBAR REVOLUSI

RENUNGAN BAGI PARA PEMBERONTAK

Tidak tersembunyi bagi setiap muslim tentang mafsadah yang besar yang diakibatkan oleh khuruj ( pemberontakan ) kepada penguasa muslim, sejarah membuktikan bahwa tidak pernah diketahui dari kelompok manapun yang memberontak kepada penguasa melainkan kerusakan yang ditimbulkan oleh pemberontakan tersebut lebih besar dari kerusakan yang dihilangkan.
Hasil maksimal yang didapatkan oleh para pemberontak adalah adakalanya mereka kalah dan adakalanya mereka menang kemudian hilang kekuasaan mereka tidak ada bekasnya, sehingga pemberontakan tidaklah menegakkan agama dan tidak memperbaiki dunia.
Jauh-jauh sebelumnya Rasulullah ( telah memerintahkan setiap muslim agar selalu taat kepada waliyyul amr, tidak membatalkan baiat, sabar atas kecurangan para penguasa, dan sekaligus melarang memerangi para penguasa meskipun mereka melakukan kemungkaran.
Demikian juga ahli sunnah wal jamaah telah sepakat atas haramnya memberontak kepada para penguasa yang zhalim dan fasik dengan cara revolusi atau kudeta atau dengan cara yang lainnya, jadilah pokok ini merupakan pokok yang terpenting dari ahli sunnah wal jamaah yang menyelisihi semua kelompok-kelompok yang sesat dan ahlil ahwa.
Begitu pentingnya masalah ini sehingga hampir-hampir tidak ada ulama yang menulis tentang aqidah melainkan menuliskan pokok ini dalam kitab-kitab mereka .
Tetapi sangat disayangkan masih ada orang-orang yang menyelisihi hal ini dengan lisan dan perbuatan, bahkan ada yang begitu gigih bersekutu dengan syaithan memalingkan manusia dari jalan Alloh, mereka hasung manusia untuk memberontak kepada penguasa dengan nama oposisi, demokrasi, dan amar maruf nahi mungkar !!!.
Lebih dari itu bahkan ada yang membuat keragu-raguan dalam kesepakatan ahli sunnah dalam hal ini, dia katakan bahwa haramnya khuruj diperselisihkan di kalangan ahli sunnah seperti dilakukan oleh Dr. Ali Abu Ghuraisah memandang adanya perselisihan dalam masalah ini di antara ahli sunnah dalam kitabnya Masyruiyah Islamiyyah Ulya hal. 273 278.
Ada lagi yang menggambarkan sosok seorang ulama panutan sebagai seorang yang melawan penguasa dengan maksud untuk melegalkan pemikiran khurujnya, seperti yang dilakukan oleh Salman Al-Audah dalam website fitnahnya http://www.islamtoday.net yang meluncurkan sebuah tulisan berjudul Imam Ahli Sunnah yang menggambarkan kehidupan Imam Ahli Sunnah Ahmad bin Hanbal sebagai seorang yang melawan penguasa !!!.
Dari sini terbetik dalam benak kami untuk menyumbangkan saham dalam menjelaskan pokok yang agung ini kepada umat yaitu tentang haramnya khuruj kepada penguasa muslim dan wajibnya taat kepada mereka.

DALIL-DALIL ATAS HARAMNYA KHURUJ (PEMBERONTAKAN)

Di antara dalil-dalil yang menunjukkan atas haramnya khuruj adalah perintah Alloh kepada setiap muslim agar taat kepada waliyyul amr sebagaimana dalam firmanNya :
( يا أيها الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ(
“Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian. ( An-Nisa : 59 )
Adapun dari Sunnah Rasullullah ( maka di antaranya adalah perintah Rasulullah ( agar selalu taat kepada waliyyul amr, tidak membatalkan baiat, dan sabar atas kecurangan para penguasa :
Dari Ubadah bin Shamit bahwasanya dia berkata :دعانا رسول الله صلى الله عليه وسلم فبايعناه فكان فيما أخذ علينا أن بايعنا على السمع والطاعة في منشطنا ومكرهنا وعسرنا ويسرنا وأثرة علينا وأن لا ننازع الأمر أهله قال إلا أن تروا كفرا بواحا عندكم من الله فيه برهان“Rasullullah ( menyeru kami maka kami membaiatnya, di antara yang diambil atas kami bahwasanya kami berbaiat atas mendengar dan taat dalam keadaan yang lapang dan sempit, dalam keadaan sulit dan mudah, dan atas sikap egois atas kami, dan agar kami tidak merebut kekuasaan dari pemiliknyam beliau bersabda : Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang jelas dan nyata yang kalian punya bukti di hadapan Alloh ( Shahih Muslim : 1709 ).Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Ini adalah perintah agar selalu taat walaupun ada sikap egois dari waliyyul amr, yang ini merupakan kezhaliman darinya, dan larangan dari merebut kekuasaan dari pemiliknya, yaitu larangan dari memberontak kepadanya, karena pemiliknya adalah para waliyul amr yang diperintahkan agar ditaati, dan mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuasaan untuk memerintah ( Minhajus Sunnah 3/395 ).Al-Karmani berkata : Hadits ini menunjukkan bahwa seorang penguasa tidak boleh diturunkan dengan sebab kefasikan, karena menurunkan dia akan menyebabkan fitnah, penumpahan darah, dan pemutusan hubungan, maka mafsadah ( kerusakan ) dari menurunkannya lebih besar daripada membiarkan dia dalam kedudukannya “ ( Syarah Bukhary 24/169 ).Dari Ummu Salamah bahwasanya Rasulullah ( bersabda :
إنه يستعمل عليكم أمراء فتعرفون وتنكرون فمن كره فقد برئ ومن أنكر فقد سلم ولكن من رضي وتابع قالوا يا رسول الله ألا نقاتلهم قال لا ما صلوا
“ Sesungguhnya akan datang bagi kalian para pemimpin yang berbuat ma’ruf dan mungkar , maka barangsiapa yang membenci kemungkaran tersebut maka sunguh dia telah lepas dari dosa, dan barangsiapa yang mengingkarai maka dia telah selamat, tetapi orang yang ridha dan mengikuti maka dialah yang terkena dosa , para sahabat berkata : Wahai Rasulullah tidakkah kami memeranginya ? , Rasulullah ( bersabda : Jangan, selama mereka masih sholat ( Shahih Muslim : 1854 ).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Rasulullah ( melarang memerangi para pemimpin dalam keadaan mereka melakukan perkara-perkara yang mungkar, ini menunjukkan bahwa tidak boleh mengingkari para penguasa dengan pedang, sebagaimana difahami oleh orang-orang yang memerangi para penguasa dari kelompok khawarij, zaidiyyah, dan mu’tazilah “ ( Minhajus Sunnah 3/392 ).
Dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah ( bersabda :
من رأى من أميره شيئا يكرهه فليصبر فإنه من فارق الجماعة شبرا فمات فميتة جاهلية
“ Barangsiapa yang melihat pada pemimpinnya perkara yang dia benci maka hendaknya dia bersabar, karena sesunggunya orang yang melepaskan diri dari jama’ah sejengkal kemudian mati maka matinya adalah jahiliyyah “ ( Muttafaq Alaih, Shahih Bukhari 6/2588 dan Shahih Muslim 3/1477 ).

PEMBERONTAKAN TIDAK MEMPERBAIKI AGAMA DAN DUNIA

Siapa saja yang mau menelusuri perjalanan sejarah manusia dari dahulu hingga sekarang akan jelas baginya bahwa tidak pernah terealisasi tujuan-tujuan dan maksud-maksud dari para pemberontak, bahkan tidak pernah didapatkan kecuali kejelekan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Tidaklah ada seorang yang memberontak kepada penguasa melainkan kejelekan yang ditimbulkannya jauh lebih besar daripada kebaikan yang dihasilkan, seperti orang-orang di Madinah yang memberontak kepada Yazid, seperti Ibnul Asyats di Iraq yang memberontak kepada Abdul Malik Bin Marwan, seperti Ibnul Muhallab di khurasan yang memberontak kepada Walid bin Abdul Malik, seperti Abu Muslim di Khurasan juga yang memberontak kepada Bani Umayyah, seperti orang-orang di Madinah dan Bashrah yang memberontak kepada Al-Manshur, dan orang-orang yang semisal mereka.
Hasil maksimal yang mereka dapatkan adalah adakalanya mereka kalah dan adakalanya mereka menang kemudian hilang kekuasaan mereka tidak ada bekasnya, seperti Abdullah bin Ali dan Abu Muslim yang ( memberontak kepada Bani Umayyah dan menang ) keduanya telah membunuh orang-orang yang banyak sekali ( dari Bani Umayyah ), kemudian keduanya dibunuh oleh Abu Jafar Al-Manshur, adapun Ahlul Harrah dari Madinah, Ibnul Asyats, Ibnul Muhallab, dan yang lainnya, mereka kalah dan dihancurkan beserta pengikut mereka, sehingga mereka tidaklah menegakkan agama dan tidak menyisakan dunia, dalam keadaan Alloh tidak pernah memerintahkan suatu perkara yang tidak mendatangkan kebaikan agama dan dunia samasekali ( Minhajus Sunnah 4/527-528 ).
Al-Imam Abul Hasan Al-Asyari menyebut 25 pemberontak dari ahlil bait, tidak ada satupun yang mendapatkan maksud yang mereka inginkan ( Maqalat Islamiyyin 1/150-166 ).
Di antara contoh yang terjadi pada masa sekarang adalah kejadian di Shomalia, meskipun pemerintahan yang dipimpin oleh Siad Beri begitu jelek tetapi kehidupan rakyat tetap berlangsung dengan kebaikan dan kejelekan yang ada, pedagang dengan tenang bekerja di tokonya, petani di sawahnya, para pekerja di pabrik-pabrik mereka, orang-orang berangkat dan pulang dengan tenang untuk mencari penghidupan, ketika terjadi kudeta dan pemerintahan terguling maka kekacauan terjadi di mana-mana, jadilah negeri tanpa penguasa, terjadi peperangan antar suku, bergelimpanglah ratusan mayat, jutaan para pengungsi dan orang-orang yang kelaparan, semua ini adalah realita yang memilukan ( Lihat Wujubu Thaati Sulthan oleh Al-Uraini hal. 20 ).
Peristiwa-peristiwa yang terjadi di Suriah, Mesir, dan Al-Jazair tidak jauh berbeda dengan keadaan di Shomalia, benarlah apa yang dulu pernah dikatakan 60 tahun dengan pimpinan yang jelek lebih baik daripada satu malam tanpa ada pimpinan !.
Jikasaja khuruj selamanya selalu membawa kerusakan meskipun pelakunya berniat amar maruf nahi mungkar maka tidaklah dibolehkan karena Pembuat syariat tidak pernah memerintahkan kecuali yang ada mashlahat di dalamnya ( Al-Ghuluw fid Diin hal. 424 ).

METODE SYAR’I DI DALAM MENYAMPAIKAN NASEHAT KEPADA PARA PEMIMPIN

METODE SYAR’I DI DALAM MENYAMPAIKAN NASEHAT KEPADA PARA PEMIMPIN

Jika terjadi kesalahan pada para penguasa maka yang wajib adalah menasehati mereka dengan cara yang syari dan ittiba kepada jalan Salafush Shalih yaitu dengan menasehatinya secara sembunyi-sembunyi, bukan dengan cara demonstrasi, provokasi, dan agitasi, Rasulullah ( bersabda :
من أراد أن ينصح لسلطان بأمر فلا يبد له علانية ولكن ليأخذ بيده فيخلو به فإن قبل منه فذاك وإلا كان قد أدى الذي عليه له
“ Barangsiapa yang hendak menasehati penguasa pada suatu perkara maka janganlah dia tampakkan kepadanya terang-terangan, tetapi hendaknya dia pegang tangannya dan menyendiri dengannya, kalau dia menerima maka itu bagus, dan kalau tidak maka dia telah memunaikan kewajiabannya memberikan nasehat ( Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dalam Musnadnya 3/403 dan Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah hal. 507 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah : 1096 ).
Umar bin Khaththab berkata : Wahai para rakyat sesungguhnya kalian memiliki kewajiban kepada kami : Nasihat dengan cara sembunyi-sembunyi dan saling membantu dalam kebaikan ( Diriwayatkan oleh Hannad bin Sari dalam Az-Zuhd 2/602 ).
Ketika Ibnu Abbas ditanya tentang cara amar maruf dan nahi munkar kepada penguasa maka dia mengatakan : Jika kamu harus melakukannya maka antara dia dan dirimu saja ( Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Mushonnaf : 37307 dengan sanad yang hasan ).
Abdullah bin Abi Aufa berkata :
إِنْ كَانَ السُّلْطَانُ يَسْمَعُ مِنْكَ فَأْتِهِ فِي بَيْتِهِ فَأَخْبِرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فَإِنْ قَبِلَ مِنْكَ وَإِلَّا فَدَعْهُ فَإِنَّكَ لَسْتَ بِأَعْلَمَ مِنْهُ
“Jika sang penguasa mendengar sesuatu darimu, maka datangilah rumahnya dan beritahulah dia apa-apa yang kamu ketahui hingga ia menerimanya, dan jika tidak, maka tinggalkanlah, karena kamu tidak lebih tahu daripada dia.” ( Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad di dalam Musnadnya : 19415 dan dihasankan oleh Syakh Al-Albani di dalam Zhilalul Jannah : 905 ).

MASALAH-MASALAH POLITIK TIDAK SEPANTASNYA DISAMPAIKAN SEMUA KE KHALAYAK RAMAI

MASALAH-MASALAH POLITIK TIDAK SEPANTASNYA DISAMPAIKAN SEMUA KE KHALAYAK RAMAI

Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan di dalam Shahihnya ( nomor 6328 ) dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma bahwasanya dia berkata :

” Aku menyampaikan qiraah untuk beberapa orang muhajirin yang diantara mereka adalah ‘Abdurrahman bin Auf, ketika aku berada di persinggahannya di Mina dan dia bersama Umar bin Khattab, di akhir haji yang dilakukannya. Tiba-tiba Abdurrahman bin Auf kembali kepadaku dan mengatakan; ‘sekiranya engkau melihat seseorang yang menemui amirul mukminin hari ini, orang itu mengatakan; ‘Wahai amirul mukminin, apakah engkau sudah tahu berita si fulan yang mengatakan; ‘sekiranya Umar telah meninggal, aku akan berbaiat kepada fulan, pembaiatan Abu Bakar ash Shiddiq tidak lain hanyalah sebuah kekeliruan dan sekarang telah berakhir.’ Umar serta merta marah dan berujar; ‘Sungguh sore nanti aku akan berdiri menghadapi orang-orang dan memperingatkan mereka, yaitu orang-orang yang hendak mengambil alih wewenang perkara-perkara mereka.’ Abdurrahman berkata; maka aku berkata; ‘Wahai amirul mukminin, jangan kau lakukan sekarang, sebab musim haji sekarang tengah menghimpun orang-orang jahil dan orang-orang bodoh, merekalah yang lebih dominan didekatmu sehingga aku khawatir engkau menyampaikan sebuah petuah hingga para musafir yang suka menyebarkan berita burung yang menyebarluaskan berita, padahal mereka tidak jeli menerima berita dan tidak pula meletakkannya pada tempatnya, maka tangguhkanlah hingga engkau tiba di Madinah, sebab madinah adalah darul hijrah dan darus sunnah yang sarat dengan ahli fikih para pemuka manusia, sehingga engkau bisa menyampaikan petuah sesukamu secara leluasa dan ahlul ilmi memperhatikan petuah-petuahmu dan meletakkannya pada tempatnya.’ Umar menjawab; ‘Demi Allah, insya Allah akan aku lakukan hal itu diawal kebijakan yang kulakukan di Madinah.’… ”

Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Romadhoni berkata :
” Betapa agungnya usulan Abdurrahman bin Auf tersebut ! Betapa kuat masyarakat yang mengetahui kadar segala sesuatu !. Pendidikan seperti itu sangat jauh berbeda dengan keadaan orang-orang yang mengekspos berita apa saja kepada masyarakat umum dan kalangan khusus. Terutama isyu-isyu politik yang banyak mengusik masyarakat dewasa ini. Mereka membicarakannya dengan antusias seakan-akan mereka memohon bantuan kepada makhluk dari kezhaliman makhluk. Tidak akan anda temukan mereka mengkaji tauhid dan membantah syirik ! ”

Kesimpulan : ” Sesungguhnya oknum-oknum yang mengajarkan seluruh persoalan politik kepada masyarakat bukanlah seorang yang robbani, meskipun ia mengklaim dirinya ingin menyadarkan umat yang lalai dan menggerakkan umat yang tidur atau ingin mewujudkan keuniversalan amalan-amal Islam. Tidakkah Anda lihat bab yang ditulis oleh Imam Al-Bukhari, Bab : Orang yang mengkhususkan ilmu bagi suatu kaum yang tidak disampaikan kepada kaum yang lain karena dikhawatirkan mereka tidak memahaminya . Beliau membawakan di dalam bab tersebut sebuah riwayat dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu yang berbunyi :
حَدِّثُوا النَّاسَ، بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ، اللَّهُ وَرَسُولُهُ
“ Berbicaralah kepada manusia dengan perkataan yang dapat mereka mengerti. Inginkah Engkau bila Alloh dan RasulNya didustakan ?! “ ( Shahih Bukhari 1/37 ) “ ( Madaarikun Nazhar fis Siyasah hal. 164 dan 174 ).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata :

ليس لعامة الناس أن يلوكوا ألسنتهم بسياسة ولاة الأمور و من أراد أن يكون للناس رأي في سياسة ولاة الأمور فقدضل

” Tidak boleh masyarakat umum membiasakan lidah mereka dengan politik pemerintahan. Siapa yang menginginkan masyarakat umum memiliki peran di dalam politik pemerintahan maka dia telah sesat ”

‏http://ar.alnahj.net/audio/679

WAHAI PARA PENGIKUT RASUL, PERTOLONGAN ALLAH TELAH DEKAT ! 

WAHAI PARA PENGIKUT RASUL, PERTOLONGAN ALLAH TELAH DEKAT !

Oleh: Ust. Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah Lc.

Tidak tersembunyi bagi setiap muslim tentang tekanan yang berat dari para pembela kebatilan atas para pembela kebenaran pada hari ini. Para pembela kebenaran yang teguh di atas agamanya pada hari ini seperti menggenggam bara api dalam hal kesulitan dan puncak ujian. Tidaklah tergambar orang yang menjaga agamanya dan cahaya imannya kecuali dengan kesabaran yang besar.

Sungguh, pada hari ini begitu merajalela kekuatan para penentang agama, begitu dahsyat makar-makar mereka yang terkadang membuat ngeri orang-orang yang berpegang teguh dengan agama Allah ﷻ.

Di dalam kondisi-kondisi kritis yang begitu mengguncang dada, terkadang muncul pertanyaan dari para pemegang panji al-Haq, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Maka sesungguhnya pertolongan Allah adalah dekat. Allah tidak akan membiarkan pasukan dan para pembela-Nya di dalam keterpurukan dan Allah tidak akan biarkan para penentang agama-Nya menindas serta membantai para pembela-Nya.

Sedikit tulisan di bawah ini, insya Allah dapat menjadi penghibur bagi setiap muslim yang berpegang teguh dengan agamanya pada saat ini, bahwa pertolongan Allah ﷻ adalah keniscayaan bagi setiap orang yang berpegang teguh dengan agama Rasul-Nya dan bahwa cepatnya kehancuran akan menimpa orang-orang yang menentang agama-Nya.

DUA WAHYU ALLAH ADALAH SUMBER PERTOLONGANNYA

Sesungguhnya kaum muslimin selalu ditolong oleh Allah ﷻ dari orang-orang kafir selama mereka berpegang teguh dengan dua wahyu yang mulia. Allah ﷻ berfirman:

Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, Maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Ali ‘Imran: 101)

Al-Imam Ibnu Katsir v\ berkata, “Yaitu bahwa kekufuran jauh dari kalian dan kalian dijauhkan darinya, karena sesungguhnya ayat-ayat Allah ﷻ turun atas Rasul-Nya malam dan siang, dan dia membacakannya serta menyampaikannya kepada kalian.” (Tafsir al-Qur’anil-‘Azhim 1/597)

Syaikh Abdulmalik bin Ahmad Ramadhani b\ berkata, “Di dalam ayat di atas Allah Ta’alamencukupkan atas makar terbesar yang dirancang oleh orang-orang kafir terhadap kaum muslimin, yaitu upaya mengafirkan kaum muslimin …seakan-akan Allah ﷻ berfirman, ‘Betapapun besarnya makar mereka yang bisa melenyapkan gunung … sesungguhnya iman kalian tidak akan lenyap selama kalian terus membaca wahyu, baik al-Kitab maupun as-Sunnah.’” (Madarik an–Nazhar fi as–Siyasah hal. 46)

PARA RASUL MENDAPAT PERTOLONGANALLAH YANG PALING SEMPURNA

Tatkala para Rasul adalah manusia yang paling mengikuti wahyu maka mereka diiringi pertolongan Allah yang paling sempurna. Allah ﷻ berfirman yang artinya:

Allah telah menetapkan: Aku dan para Rasul-Ku pasti menang.” Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Maha Perkasa. (QS. al-Mujadilah: 21)

Dan Allah ﷻ berfirman yang artinya:

Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi Rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan Sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. (QS. ash-Shaffaat: 171-173)

Allah ﷻ juga berfirman:

Sesungguhnya Kami menolong Rasul-Rasul kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat). (QS. Ghafir: 51)

PENGIKUT RASUL AKAN MENDAPAT PERTOLONGAN ALLAH SESUAI KADARITTIBA’NYA KEPADA MEREKA

Siapa yang ittiba’ (mengikuti) para Rasul maka dia akan mendapat pertolongan Allah ﷻ sesuai dengan kadar ittiba’nya kepada mereka. Allah ﷻ berfirman kepada Musa dan Harun –‘alaihimassalam– dan para pengikut keduanya:

Kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang akan menang. (QS. al-Qashash: 35)

Dan Allah ﷻ berfirman kepada Isa p\ serta para pengikutnya:

(Ingatlah), ketika Allah berfirman: Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkanmu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat.” (QS. Ali ‘Imran: 55)

Al-Imam Ibnul Qayyim v\ berkata, “Tatkala orang-orang Nasrani memiliki bagian dari ittiba’ kepada Isa p\ maka mereka di atas orang-orang Yahudi sampai hari kiamat. Sedang tatkala kaum muslimin lebih ittiba’ kepada Isa daripada orang-orang Nasrani maka mereka di atas Nasrani sampai hari kiamat.” (Ighatsah al-Lahfan 2/197-198)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v\ berkata, “Karena inilah setiap orang yang ittiba’ kepada Rasul maka Allah bersamanya sesuai dengan kadar ittiba’nya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu. (QS. al-Anfal: 64)…..

Setiap orang yang mengikuti Rasul dari seluruh kaum muslimin maka Allah telah mencukupinya (melindunginya), ini makna keberadaan Allah menyertainya, perlindungan yang mutlak bersama ittiba’ yang mutlak, dan perlindungan yang kurang bersama ittiba’ yang kurang. Jika ada sebagian kaum mukminin yang mengikut Rasul dimusuhi dengan sebab ittiba’nya maka Allah akan mencukupinya (melindunginya), Allah bersamanya dan dia mendapatkan bagian dari firman Allah Ta’ala yangb artinya:

…di waktu dia berkata kepada temannya, ‘Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.’ (QS. at-Taubah: 40)

Karena sesungguhnya orang yang ittiba’ ini hatinya mencocoki Rasul, meskipun dia tidak menemani Rasul dengan badannya. Sedangkan yang asal di dalam hal ini adalah hati, sebagaimana di dalam ash-Shahihain, dari Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ بِالْمَدِينَةِ أَقْوَامًا مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ قَالَ وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ حَبَسَهُمْ الْعُذْرُ

Sesungguhnya di dalam Madinah itu ada sekelompok kaum, yang tidaklah kalian menempuh perjalanan dan tidaklah kalian menyebrangi lembah kecuali mereka diikutsertakan bersama kalian dalam ganjaran.’ Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah mereka berada di dalam Madinah?’ Beliau menjawab, ‘Mereka di Madinah karena mereka terhalangi oleh udzur.’

Maka mereka ini, hati mereka bersama Nabi n\ dan para sahabatnya yang berperang. Mereka memiliki kebersamaan maknawi dengan Nabi di dalam berjihad di medan perang, maka Allah ﷻ bersama mereka sesuai dengan kadar kebersamaan maknawi tersebut.” (Minhajus-Sunnah 8/487-488)

BAHAYA BESAR ATAS ORANG-ORANG YANG MENYELISIHI PARA RASUL

Sebagaimana Allah ﷻ tetapkan keteguhan para pengikut Nabi-Nya n\ di atas agama, sebaliknya, Allah jadikan orang-orang yang menyelisihi Rasul terancam bahaya di dalam agama mereka. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

Apabila dikatakan kepada mereka: Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul,” niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna.” (QS. an-Nisa’: 61-62)

Al-Imam Ibnul Qayyim v\ berkata, “Allah mengancam mereka, bahwa mereka jika tertimpa musibah di dalam akal-akal mereka, agama-agama mereka, penglihatan-penglihatan mereka, badan-badan mereka, dan harta-harta mereka dengan sebab berpalingnya mereka dari apa yang dibawa Rasul, menjadikan hakim selainnya dan berhukum kepadanya, sebagaimana di dalam firman Allah Ta’ala: ‘Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka,’ maka mereka berdalih bahwa mereka bermaksud penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna …” (I’lam al–Muwaqqi’in 1/50)

PENYEGERAAN KEHANCURAN ATAS PARA PENENTANG RASUL

Sebagaimana para pengikut Rasul ditolong oleh Allah ﷻ, maka orang-orang yang menyelisihi para Rasul juga diterlantarkan oleh Allah. Allah ﷻ berfirman yang artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang menetang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina. (QS. al-Mujadilah: 20)

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي

“… dan dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi orang yang menyelisihi perintahku.” (Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam Musnad-nya: 4868 dan dihasankan oleh al-Albani di dalam alIrwa’: 1269)

Orang-orang yang berakal telah sepakat, bahwa sebab kekalahan terbesar adalah perselisihan, sedang perselisihan yang paling berbahaya adalah perselisihan di dalam agama. Tatkala perselisihan tumbuh dari kekurangan di dalam ketaatan kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya n\ maka Allah mengiringkan keduanya di dalam satu ayat. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya serta janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi kalah dan hilang kekuatanmu. (QS. al-Anfal: 46)

Dan tatkala berpegang teguh dengan as-Sunnah adalah bahtera penyelamat di samudera perselisihan, maka Nabi n\ memerintahkan agar berpegang teguh dengannya saat terjadi perselisihan. Beliau n\ bersabda:

مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرى اخْتِلَافاً كَثِيْراً، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Siapa yang hidup lama dari kalian akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ Rasyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya 4/126, ad-Darimi dalam Sunan-nya 1/57, at-Tirmidzi dalam Jami’-nya 5/44, dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya 1/15, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Zhilal al–Jannah: 26, 34)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (QS. Ali ‘Imran: 105)

Dan Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

Dan di antara orang-orang yang mengatakan:“Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani,” ada yang telah Kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat.(QS. al-Ma’idah: 14)

Allah ﷻ juga berfirman yang artinya:

….dan al-Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. (QS. al-Ma’idah: 64)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v\ berkata, “Ini adalah nash bahwa mereka meninggalkan sebagian yang diperintahkan kepada mereka, dan ini menyebabkan jatuhnya mereka ke dalam permusuhan dan kebencian yang diharamkan.” (Majmu’ Fatawa 20/109)

Setiap orang yang menyelisih Rasul maka dia akan disegerakan hukumannya oleh Allah ﷻ, sebagaimana di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi a\, bahwa dia diutus oleh Rasulullah n\ untuk menyampaikan surat beliau kepada Kisra. Beliau menyuruhnya agar menyerahkan surat itu kepada pembesar Bahrain, lalu ia menyerahkannya kepada pembesar Bahrain, setelah itu dia sampaikan ke Kisra. Setelah membacanya, ia merobeknya. Maka Rasulullah n\ mendoakan agar mereka dicabik-cabik dengan sehancur-hancurnya.” (HR. al- Bukhari: 4072)

Di dalam riwayat yang lain, bahwa Rasulullah n\ memberitahukan kepada utusan Kisra, bahwa Kisra telah terbunuh. (As-Silsilah ash-Shahihah: 1429)

Di dalam kisah di atas, Nabi n\ mengetahui kebinasaan Kisra ketika merobek surat beliau, karena Allah ﷻ telah memutuskan disegerakannya hukuman orang-orang yang menentang Nabi n\. Allah ﷻ berfirman yang artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (QS. al-Kautsar: 3)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v\ berkata, “Sesungguhnya Allah ﷻ memutus orang yang membenci Rasul-Nya dari semua kebaikan, memutus penyebutannya, keluarga, dan hartanya sehingga dia merugi semuanya itu di akhirat. Allah memutus kehidupannya hingga dia tidak bisa mengambil manfaatnya, tidak bisa menjadikannya sebagai bekal amal shalih untuk akhiratnya, Allah memutus hatinya sehingga tidak bisa memahami kebaikan, tidak menyiapkan hatinya untuk ma’rifat kepada-Nya, menicintai-Nya dan mengimani para Rasul-Nya. Allah putus amalan-amalannya hingga tidak digunakannya di dalam ketaatan kepada-Nya. Allah memutusnya dari para penolong hingga dia tidak mendapati seorang pun pembela dan penolong. Allah memutusnya dari semua ibadah-ibadah dan amal-amal yang shalih hingga dia tidak mendapati rasa nikmat dan kelezatan pada ibadah-ibadah tersebut. Jikalau dia melakukannya secara lahir, sesungguhnya hatinya lari darinya.

Inilah balasan bagi orang yang membenci sebagian apa yang dibawa oleh Rasul n\ dan menolaknya dengan sebab hawa nafsunya, pimpinannya, gurunya, panglimanya, atau tokohnya …” (Majmu’ Fatawa 16/526)


PENUTUP

Semoga sedikit goresan pena ini bisa menjadi motivasi bagi kita semua agar kita terus bersemangat mengamalkan apa yang diajarkan Rasul kita, Muhammad n\ dan memperjuangkannya. Yakinlah, bahwa pertolongan Allah selalu menyertai hamba-Nya yang menolong agama-Nya dan bahwa kehancuran pasti akan menimpa setiap manusia yang menentang agama-Nya.

MEDIA MASSA ANTARA FAIDAH DAN FITNAH

Syaikhuna Al-Allamah Abdul Muhsin bin Hamd Al- Abbad berkata :

Adapun anda wahai saudara-saudara kaum muslimin para pemerhati berbagai media massa baik media cetak, audio, atau audiovisual, maka sesungguhnya yang pantas bagi kalian dan yang wajib atas kalian agar hendaknya pergaulan kalian dengan media massa tersebut adalah untuk mengambil faidah darinya dari apa-apa yang membawa kalian kepada kebaikan di dunia dan di akhirat dan menjauhkan diri dari setiap hal yang membawa madharat kalian di dunia dan di akhirat, maka bertaqwalah kepada Allah di dalam kesehatan dan keselamatan kalian, bertaqwalah kepada Alloh di dalam pendengaran dan penglihatan kalian, bertaqwalah kepada Alloh di dalam waktu-waktu kalian ; karena sesungguhnya kalian adalah bertanggung jawab atas setiap nikmat-nikmat ini, maka berbahagialah bagi siapa saja yang menggunakannya di dalam hal-hal yang membawa kebahagiaan di dunia dan di akhirat dan celakalah bagi siapa yang menyia-nyiakannya dan menggunakannya di dalam hal-hal yang membawa kerugian dunia dan akhirat, Alloh Azza wa Jalla berfirman :

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً (الإسراء: 36

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. “ ( Al-Isra’ : 36 ), dan Alloh Azza wa Jalla berfirman :

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (النور: 24

“pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. “ ( An-Nuur : 24 ).

Dan Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغ

” Dua nikmat yang banyak dari manusia merugi padanya : kesehatan dan waktu luang ” diriwayatkan oleh Bukhari ( 6412 ).

Seorang muslim yang menasehati dirinya akan bersemangat untuk menggunakan kesehatannya dan menyibukkan waktunya pada hal-hal yang membawanya kepada kebaikan agar termasuk orang-orang yang beruntung, dan memperingatkan dirinya dari menggunakan kesehatannya atau menyibukkan waktunya pada hal-hal yang membawanya kepada madharat sehingga termasuk orang-orang yang terpedaya lagi merugi.

Maka jagalah pendengaran dan penglihatan kalian dari mendengarkan dan melihat kepada para tukang sihir, dajjal, dan tukang ramal, dan dari mendengarkan dan melihat kepada para penyanyi wanita dan laki-laki, dan tundukkanlah pandangan kalian dari melihat kepada para wanita, dan begitu juga para wanita menundukkan pandangan dari laki-laki ; dengan menunaikan firman Tuhan kalian :

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, “ ( An-Nuur : 30-31 ).

Tinggalkanlah serial-serial yang membunuh waktu dan melalaikan dari dzikrullah dan daru sholat, berpalinglah dari koran-koran dan majalah-majalah porno, dan awaslah dari situs-situs yang jelek di internet, dan ini sebagai salah satu contoh saja.

Adapun media-media massa kafir maka selayaknya bagiannya dari kalian adalah ditinggalkan, berpaling darinya, dan diabaikan.

Dan saya katakan sebagai penutup risalah ini bagi setiap jurnalis media massa, para pemilik televisi, dan para pemerhati media massa dan seluruh kaum muslimin :

Sesungguhnya ni’mat-ni’mat Alloh, hak-hakNya, dan hak-hak para hambaNya adalah amanah di sisi setiap muslim dan muslimah, maka thoharoh adalah amanah, sholat adalah amanah, setiap yang diperintahkan Alloh adalah amanah, setiap yang dilarang Alloh adalah amanah, harta adalah amanah, anak adalah amanah, jiwa adalah amanah, lisan adalah amanah, kemaluan adalah amanah, pendengaran dan penglihatan adalah amanah, dan seluruh ni’mat-ni’mat Alloh atas seorang hamba adalah amanah, dan sungguh Alloh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّا عَرَضْنَا الأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولاً (الأحزاب: 72

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh, “ ( Al-Ahzab : 72 )…

Dan saya memohon kepada Alloh Azza wa Jalla agar memberikan taufiq kepada kaum muslimin baik para pemerintah maupun rakyat di dalam mendalami agama dan teguh di atas kebenaran dan pada apa-apa yang merupakan izzah mereka dan kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat, sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan, dan sholawat dan salam serta berkah semoga tercurah atas hamba dan RasulNya Nabi kita Muhammad dan atas keluarganya dan para sahabatnya semuanya.

Dinukil dan diterjemahkan oleh : Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah dari makalah yang berjudul Risalatu Nushin wa Isyfaq Ilal I’lamiyyiin wa Maalikil Qonawaat wal Qaaimiin Alaiha Minal Muslimin Hakimin wa Mahkuumin

WAJIBNYA ITTIBA KEPADA RASULULLAH SHOLLALLAHU ALAIHI WASALLAM

WAJIBNYA ITTIBA KEPADA RASULULLAH SHOLLALLAHU ALAIHI WASALLAM

Ittiba adalah menempuh jalan orang yang ( wajib ) diikuti dan melakukan apa yang dia lakukan ( Ilamul Muwaqqiin 2/171 ).

Seorang muslim wajib ittiba kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dengan menempuh jalan yang beliau tempuh dan melakukan apa yang beliau lakukan, begitu banyak ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan setiap muslim agar selalu ittiba kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam di antaranya firman Alloh Subhanahu wa Taala :

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

“Katakanlah: “Ta`atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir” “ ( Ali Imran : 32 )

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. “ ( Al-Hujurat : 1 )

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. “ ( An-Nisa’ : 59 )

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ ( Ali Imran : 31 )

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

والذي نفسي بيده لو أن موسى صلى الله عليه وسلم كان حيا ما وسعه إلا أن يتبعني

“ Demi Dzat yang jiwaku di tanganNya seandainya Musa hidup maka tidak boleh baginya kecuali mengikutiku “ ( Dikeluarkan oleh Abdurrazaq dalam Mushonnafnya 6/113, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya 9/47 , Ahmad dalam Musnadnya 3/387, dan Ibnu Abdil Barr dalam Jami Bayan Ilmi 2/805, Syaikh Al-Albani berkata dalam Irwa 6/34 : Hasan ).

Syaikh Al-Albani berkata : Jika saja Musa Kalimullah tidak boleh ittiba kecuali kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bagaimana dengan yang lainnya ?, hadits ini merupakan dalil yang qathi atas wajibnya mengesakan Nabi Shollallahu alaihi wasallam dalam hal ittiba, dan ini merupakan keharusan Syahadat أن محمدا رسول الله , karena itulah Alloh sebutkan dalam ayat di atas ( Surat Ali Imran : 31 ) bahwa ittiba’ kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bukan kepada yang lainnya adalah dalil kecintaan Alloh kepadanya “ ( Muqaddimah Bidayatus Sul fi Tafdhili Rasul hal. 5-6 ).

Demikian juga Alloh memerintahkan setiap muslim agar ittiba’ kepada sabilil mukminin yaitu jalan para sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan mengancam dengan hukuman yang berat kepada siapa saja yang menyeleweng darinya :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. ( An-Nisa : 115 ).

Pengertian lain dari ittiba adalah jika Engkau mengikuti suatu perkataan seseorang yang nampak bagimu keshahihannya sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Ibnu Abdil Barr dalam kitabnya Jami Bayanil Ilmi wa Ahlihi 2/787.

Al-Imam Asy-Syafii berkata : Aku tidak pernah mendebat seorangpun kecuali aku katakan : Ya Alloh jalankan kebenaran pada hati dan lisannya, jika kebenaran bersamakau maka dia ittiba kepadaku dan jika kebenaran bersamanya maka aku ittiba padanya ( Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam oleh Al-Izz bin Abdussalam 2/136 ).

JADILAH SALAFI SEJATI !

MENGIKUTI MANHAJ SALAFI SECARA LAHIR DAN BATIN

Karakteristik utama dari Salafiyyun para pengikut Manhaj Salafi adalah ittiba’nya mereka kepada manhaj Salafush Shalih dalam ittibakepada Kitab dan Sunnah, mendakwahkan dan mengamalkan keduanya :

Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata : ” Pokok-pokok sunnah di sisi kami adalah : Berpegang teguh dengan jalan yang ditempuh oleh para sahabat Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam dan menauladani mereka” ( Syarah Ushul I’tiqad oleh Al-Imam Lalikai 1/176 terbitan Daru Thayyibah Riyadh cetakan keempat 1416 H – ).

Al-Imam Abu ‘Utsman Ash-Shobuni berkata : ” Mereka ( ashabul hadits ) mengikuti jejak Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya mereka menauladani para salafush shalih dari para imam agama dan ulama kaum muslimin, mereka berpegang teguh dengan jalan yang mereka tempuh dari agama yang teguh dan kebenaran yang jelas ” ( Aqidah Salaf Ashabul Hadits hal. 113-114 – terbitan Maktabah Ghuraba’ Al-Atsariyyah Madinah cetakan kedua 1415 H – ).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : ” Kemudian di antara manhaj Ahli Sunnah wal Jama’ah adalah ittiba’ kepada atsar-atsar Rasulullah secara lahir dan batin, dan ittiba’ kepada jalan generasi pendahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshor, dan mengikuti wasiat Rasulullah di dalam sabdanya :

عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي عضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة و كل بدعة ضلالة

“ wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku, dan waspadalah kalian dari perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara yang yang baru adalah bidah dan setiap bidah adalah kesesatan” .

Mereka mengetahui bahwa sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, mereka dahulukan perkataan Alloh atas semua perkataan manusia. Dan mereka dahulukan petunjuk Muhammad atas petunjuk siapa pun ” ( Aqidah Wasithiyyah hal. 255 dengan Syarah Muhammad Khalil Harras – terbitan Darul Hijrah Riyadh cetakan ketiga 1415 H – ).

Salafiyyun berusaha dengan sekuat tenaga melaksanakan agama Islam secara sempurna di dalam kehidupan mereka karena syariat Islam penuh dengan perbendaharaan-perbendaharaan yang sangat berharga yang mencakup seluruh gerak-gerik seorang muslim : Bagaimana dia bergaul dengan saudaranya sesama muslim, bagaimana bergaul dengan orang kafir, bagaimana bergaul dengan tetangga, bagaimana bersikap dengan wanita yang bukan mahram, bagaimana bergaul dengan kedua orang tua, bagaimana bergaul dengan anak dan istri, bagaimana dia naik kendaraan, bagaimana seharusanya pemikirannya, bagaimana dia berpakaian, bagaimana dia berdagang, dan secara ringkas seperti yang disabdakan oleh Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam :

إنه ليس شيء يقربكم إلى الجنة إلا قد أمرتكم به وليس شيء يقربكم إلى النار إلا قد نهيتكم عنه

“ Sesungguhnya tidaklah ada sesuatu yang mendekatkan kalian ke surga melainkan telah aku perintahkan kepada kalian, dan tidaklah ada sesuatu yang mendekatkan kalian ke neraka melainkan telah aku larang kalian darinya ( Diriwayatkan oleh Abu Bakr Al-Haddad dalam Muntakhab min Fawaid Ibu Aluwiyyah al-Qaththan hal. 168 dan Ibnu Marduwiyah dalam Tsalatsatu Majalis hal. 188 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah 6/865 ).

Demikian juga Salafiyyun selalu melaksanakan wasiat Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam yang telah melarang ummatnya dari meniru orang-orang kafir di dalam kekhususan-kekhususan orang-orang kafir untuk menjaga kepribadian dan karakteristik seorang muslim, maka telah datang hadits-hadits yang melarang kaum muslimin dari loyalitas, kecintaan, dan taklid ( meniru ) orang-orang kafir, demikian juga Rasulullah Shollallohu Alaihi wa Sallam memerintahkan setiap muslim agar menyelisihi orang-orang kafir dalam segala hal seperti masalah pakaian, tingkah laku, dan sebagainya.
Hal ini sangat berbeda sekali dengan orang-orang yang berkoar hendak memperjuangkan syari’at Islam akan tetapi mereka justru meremehkan pengamalan syari’at-syari’at Islam, mereka sinis terhadap orang-orang yang mereka pandang mengutamakan penampilan-penampilan Islami yang diperintahkan oleh Nabi Shollallohu Alaihi wa Sallam seperti memanjangkan jenggot, memendekkan celana di atas mata kaki, hijab bagi wanita, dan menyelisih orang-orang kafir di dalam berpakaian, mereka katakan bahwa hal tersebut lebih mementingkan kulit daripada isi !!! mereka membuat pembagian yang bidah dengan membagi agama menjadi qusyur ( kulit ) dan lubab ( isi ) !.

HORMATILAH SYARIAT ISLAM

KEHORMATAN SYARI’AT ISLAM

Pelecehan terhadap Islam bukanlah perkara yang baru, bahkan tidak ada satupun dari para penyeru kepada al-haq melainkan selalu ada orang-orang yang melecehkannya, Alloh ( berfirman :
( مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (
“ Tiada datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olok kannya “ (Yasin: 30).

Pelecehan terhadap da’i yang haq membawa konsekuensi yang sangat berat, lihatlah bagaimana Alloh ( menenggelamkan Fir’aun yang telah melecehkan Musa, dan lihatlah bagaimana Alloh membinasakan kaum Ad, Tsamud, Madyan, dan kaum-kaum para Nabi yang lainnya, ketika mereka melecehkan para nabi, Alloh ( menyegerakan hukuman yang pedih kepada mereka di dunia dan adzab yang berat kelak di akhirat.
Jika pelecehan tersebut terhadap Rasulullah ( maka pelakunya dihukumi kafir dengan nash Al-Quran :

( قُلْ أَبِاللَّهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ.لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ(

“Katakanlah: “Apakah dengan Alloh, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?” Tidak usah kalian minta maaf, karena kalian kafir sesudah beriman. ( At-Taubah: 65-66 ).

Ketika terjadi pelecehan terhadap Rasulullah ( dalam bentuk karikatur maka reaksi keras pun bermunculan dari kaum muslimin di seluruh penjuru dunia, terjadi demonstrasi besar-besaran di kedutaan-kedutaan Denmark di seluruh dunia, bahkan di tanah air ada yang hendak memberangkatkan pasukan jihad ke Denmark.

Ghirah terhadap Islam merupakan sikap yang terpuji, tetapi tidak selayaknya jika disalurkan dengan cara-cara yang tidak syari, seperti demonstrasi, unjuk rasa, dan semisalnya yang merupakan cara-cara penjajah yang sangat merugikan pemerintah kaum muslimin, rakyat, ekonomi dan agama Islam, serta memberi peluang kepada para penjahat untuk melampiaskan hawa nafsu setannya.

Masih terbayang di benak kita aksi-aksi penjarahan dari para penjahat yang membonceng aksi-aksi demonstrasi dan unjuk rasa !.

Hal lain yang perlu dicermati, bahwa tidak ada satupun musibah yang menimpa seorang kaum muslimin melainkan dengan sebab perbuatan tangan-tangan mereka sendiri, Alloh ( berfirman :

( وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ(

“Dan apapun musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri ( Asy-Syura : 30).

Tidaklah orang-orang kafir begitu kurang ajar melecehkan Islam kecuali di saat kaum muslimin sendiri banyak yang melecehkan Islam, begitu banyak suara-suara pelecehan syariat Islam di sekeliling kita yang sangat disayangkan keluar dari mulut-mulut orang-orang yang mengaku muslim, seperti kasus yang mencuat di IAIN dengan Anjinghu Akbar, Islam dianggap kaku dan keras, karena mengharamkan pria bercampur dengan wanita secara bebas, Islam menindas hak wanita, karena harus menutup semua anggota badannya, padahal mereka butuh bebas melihat seperti kaum pria, hukuman Islam sangat kejam karena pelaku perbuatan kriminal harus dibunuh, dipotong tangan, dan dirajam, ulamanya tidak terjun dalam urusan politik, hanya membahas haid dan ibadah saja, orang yang menjalankan sunnah dengan memelihara jenggot dikatakan kambing, yang memendekkan celana dikatakan kebanjiran !! , dan masih banyak lagi pelecehan-pelecehan yang lainnya.

Tidakkah kita merindukan izzah Islam yang didapatkan oleh kaum muslimin generasi pertama, saat itu orang-orang kafir merasa gentar sebulan sebelum kedatangan pasukan kaum muslimin, Rasulullah ( bersabda:

نصرت بالرعب مسيرة شهر

“ Aku diberi angerah ketakutan pada musuh sejauh sebualan perjalanan “ ( Muttafaq Alaih ).

Di saat kaum muslimin menghormati syariat Islam saat itulah mereka terhormat, dan disaat kaum muslimin menghinakan syariat Islam saat itulah Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian, Dia tidak akan mencabut kehinaan itu dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian ( Hadits Shahih Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya ).
Jika ingin Islam terhormat, hormatilah syariat Islam !.

HATI-HATI DARI TEMAN YANG JELEK

HATI-HATI DARI TEMAN YANG JELEK

Di antara sebab-sebab penyimpangan dari jalan yang lurus adalah teman yang jelek yang menyimpang, sesungguhnya pengaruh teman sangat besar sekali atas agama seseorang, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam  bersabda : 
 الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل 

  

“ Seseorang berada pada agama teman dekatnya maka hendaknya seorang dari kalian melihat siapakah yang dijadikan sebagai teman dekat ” ( Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunannya 4/259 dan Tirmidzi di dalam Jami’nya 4/589 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ : 3545 ).
Penyimpangan ibarat virus yang menular, orang yang menyimpang dijadikan oleh syaithan sebagai sarana penyimpangan teman-temannya, berapa banyak dari para pemuda yang terjerumus ke dalam dunia narkoba dengan sebab temannya, berapa banyak pemuda terperosok ke dalam dunia kriminal dengan sebab temannya, berapa banyak dari pemuda yang sebelumnya mengasihi dirinya dan keluarganya kemudian berbalik menjadi bencana atas keluarga dan masyarakatnya dengan sebab temannya, berapa banyak dari para pemuda yang terjebak ke dalam pemikiran yang menyimpang sehingga mengkafirkan kaum muslimin dan meneror mereka dengan sebab teman yang membawanya.
Dan terapi atas sebab ini adalah hendaknya seorang pemuda memilih teman yang baik, shalih, berakal, yang dikenal dengan Sunnah serta menghasung atas kebaikan dan jama’ah.

 Seyogyanya sebelum menjadikan siapapun sebagai teman agar mengenal tentang keadaannya, jika dia berakhlak baik dan bemanhaj yang lurus itulah yang dia cari, akan tetapi jika sebaliknya maka wajib untuk berhati-hati dan menjauhinya, jangan sampai terpedaya dengan ucapan yang manis dan penampilan yang menarik. 
Demikian juga hendaknya para orang tua untuk mencarikan teman-teman yang baik bagi anaknya dan mengecek siapa saja yang dijadikan teman oleh anaknya, jangan sampai membiarkan mereka berteman dengan siapa saja.
( Petikan dari kitab Inhirafusy Syabab Asbabuhu wa Wasa’ilu ‘Ilajihi oleh Syaikh Prof. Dr. Sulaiman bin Salimullah Ar-Ruhaili ).