Tag Archives: Baiat Sunnah dan Baiat Bid’ah

BAIAT SUNNAH DAN BAIAT BID’AH

KEPADA SIAPAKAH BAIAT DIBERIKAN ?

Baiat tidak diberikan kecuali kepada imam sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Amr bin Ash di atas, dan imam yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah yang sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Ahmad : “Tahukah kamu, apakah imam itu ? Yaitu kaum muslimin berkumpul atasnya, dan semuanya mengatakan : “Inilah imam” (Masa’il al-Imam Ahmad 2/185 riwayat Ibnu Hani’ ).
Al-Imam Hasan bin Ali Al-Barbahary berkata : Barangsiapa yang menjadi khalifah dengan kesepakatan manusia dan keridhaan mereka, maka dia adalah amirul mukminin, tidak dihalalkan atas siapapun untuk menginap satu malam dalam keadaan tidak memandang bahwa dia memiliki imam ( Syarhus Sunnah hal. 69-70 )


Al-Imam Al-Qurthubi berkata:”Adapun menegakkan dua atau tiga imam dalam satu masa dan dalam satu negeri, maka tidak diperbolehkan menurut ijma” ( Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an 1/273 ).


Baiat kepada penguasa yang muslim ini tidak boleh dibatalkan walaupun penguasa muslim tersebut adalah seorang yang fasiq atau zhalim, sebagaimana dalam hadits Hudzaifah bahwasanya Rasulullah e bersabda:


يكون بعدي أئمة لا يهتدون بهداي ولا يستنون بسنتي وسيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إنس قال قلت كيف أصنع يا رسول الله إن أدركت ذلك قال تسمع وتطيع للأمير وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك


” Akan datang sesudahku para imam yang tidak memakai petunjukku dan tidak memakai sunnahku, di antara mereka ada para manusia hati mereka hati syaithan di dalam tubuh manusia ” Hudzaifah berkata : Bagaimana yang aku perbuat wahai Rasulullah jika aku menjumpai hal itu ? ,Rasulullah e bersabda: Hendaknya Engkau mendengar dan taat kepada amir, walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu ( Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya 3/1476 ).


Ketika para penduduk Madinah memberontak kepada Yazid bin Muawiyah maka Ibnu Umar mengumpulkan keluarga dan anak-anaknya, dia memuji kepada Alloh dan mengatakan : Sesungguhnya kita telah membaiat Yazid atas baiat Alloh dan RasulNya, dan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah e bersabda: Sesungguhnya orang yang berkhianat akan ditegakkan bagi dia bendera pada hari kiamat, dikatakan inilah pengkhianatan fulan , dan sesungguhnya pengkhianatan yang terbesar sesudah kesyirikan adalah jika seorang membaiat seseorang atas baiat Alloh dan RasulNya, kemudian dia melanggar baiatnya ( Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dalam Musnadnya 8/84 dengan sanad yang shahih dan diriwayatkan juga oleh Bukhary dalam Shahihnya 13/68 dengan makna yang sama).


Yang sunnah adalah satu imam untuk kaum muslimin di seluruh dunia, tetapi ketika kaum muslimin terbagi menjadi beberapa negeri dan sulit disatukan, maka masing-masing penguasa negeri adalah imam yang wajib dibaiat dalam ketaatan kepadanya sesuai dengan batasan-batasan syari, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Yang sunnah hendaknya seluruh kaum muslimin memiliki satu imam, yang lain adalah perwakilan-perwakilannya, jika terjadi keadaan di mana umat menyelisihi hal ini karena sebab kemaksiatan atau ketidakmampuan, atau sebab yang lain, sehingga terjadilah beberapa imam negeri ; maka dalam keadaan seperti ini wajib atas setiap imam agar menegakkan hudud, dan menunaikan hak-hak … ( Majmu Fatawa 34/175-176 ).


Al-Imam Syaukany berkata : Sesudah menyebarnya Islam, meluasnya wilayahnya, dan berjauhan batas-batasnya, merupakan hal yang dimaklumi bahwa masing-masing wilayah memiliki seorang imam atau penguasa, yang tidak berlaku kekuasaannya di wilayah yang lain.
Maka tidak mengapa dengan terjadinya beberapa imam dan penguasa negeri, dan wajib ditaati masing-masing penguasa negeri sesudah dilakukan baiat atasnya oleh penduduk wilayah masing-masing … ( Sailul Jarrar 4/512 ).


Syaikh Muhammad bin Abdul wahhab berkata : Para imam dari setiap madzhab telah sepakat bahwa barangsiapa yang menguasai suatu negeri, maka dia memiliki hukum imam dalam segala sesuatu, seandainya tidak seperti ini tidaklah tegak dunia; karena kaum muslimin sejak zaman yang lama, sebelum zaman Al-Imam Ahmad hingga sekarang, belum pernah bersatu di bawah satu imam ( Durar Saniyyah 7/239 ).

BAIAT-BAIAT YANG BIDAH

Baiat yang bidah adalah baiat yang diberikan kepada selain imam, seperti baiat-baiat yang diberikan kepada kelompok-kelompok Islam, jaringan-jaringan rahasia , dan gerakan-gerakan Islam bawah tanah .
Umar bin Khaththab berkata : Barangsiapa yang membaiat seorang amir tanpa permusyawaratan kaum muslimin maka tidak sah baiatnya ( Diriwayatkan oleh Bukhary dalam Shahihnya 1/2506 dan Ahmad dalam Musnadnya 1/55 dan lafadznya adalah lafadz Ahmad ).


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Sesungguhnya Nabi e bersabda memerintahkan agar mentaati para imam yang ada yang dikenal, yang mereka memiliki kekuasaan sehingga bisa mengatur urusan manusia, tidak ada ketaatan kepada orang yang ghaib dan majhul, dan tidak ada ketaatan atas seseorang yang tidak memiliki kemampuan dan kekuasaan sama sekali ( Minhajus Sunnah 1/115 ).


Syaikh Abdus Salam bin Barjas berkata : Maka barangsiapa yang mengangkat dirinya pada kedudukan waliyyul amr yang memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk memerintah manusia, dia seru suatu jamaah untuk mendengar dan taat kepadanya, atau jamaah tersebut memberikan baiat kepadanya yang mengharuskan mendengar taat kepadanya, dalam keadaan waliyyul amr yang sesungguhnya ada dan nampak ; maka sungguh orang seperti ini telah menyelisihi Alloh dan RasulNya, dan menyeleweng dari nash-nash syari.
Tidak wajib ketaatan kepadanya, bahkan haram taat kepadanya, karena dia tidak punya wewenang dan kemampuan samasekali…
Inilah yang dilakukan oleh banyak jamaah-jamaah Islam saat ini, mereka angkat salah seorang dari kalangan mereka sebagai amir dengan sembunyi-sembunyi- mereka wajibkan atas para pengikut mereka untuk mendengar dan taat kepadanya. Baiat seperti ini adalah merupakan pembodohan kepada jiwa-jiwa manusia dan mempermainkan syariat … ( Muamalatul Hukkam hal. 30-31 ).


Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid berkata : Ketahuilah bahwasanya di dalam Islam hanya ada satu baiat saja yaitu pada imamah uzhma, yaitu baiat secara menyeluruh, yang terjadi dengan kesepakatan ahli Syaukah ( kekuatan ) wal Hill wal Aqd dalam umat.
Sama saja apakah baiat tersebut terjadi dengan cara yang diridhoi oleh Alloh dan RasulNya, seperti baiat terhadap Khulafaur Rasyidin atau dengan jalan ghalabah ( seseorang menguasai negara dengan merebut kekuasaan dan dia bisa menguasai keadaan ).
Baiat inilah yang dengannya seorang imam pemegang urusan kaum muslimin bisa melaksanakan maksud-maksud wilayah,yaitu : kemampuan, kekuasaan, kekuatan militer, dan pertahanan. Sehingga dia bisa menegakkan hukum-hukum Islam seperti hudud, pembagian kekayaan, memilih pegawai-pegawai, jihad melawan musuh, menegakkan haji , sholat ied, jumat dan jamaah, dan yang selainnya dari maksud-maksud wilayah sesuai dengan batasan syari.
Tidak henti-hentinya urusan umat berjalan seperti ini, tidak mengenal baiat bagi siapa saja yang peringkatnya di bawah imamah kubra.
Kemudian datanglah generasi berikutnya, yang kemudian terseret ke dalam bidah dan ahwa, datang bidah-bidah thariqah yang disebut dengan baiat ridhaiyyah, disebut juga dengan baiat istitsnaiyyah, atau ahdul masyayikh, atau aqdu thariq, atau mitsaqu thariq, ini semua adalah baiat-baiat yang bidah, tidak berlandaskan dalil dari Kitab dan Sunnah, maupun amalan sahabat.
Baiat ini telah diingkari oleh para ulama, mereka sangat mengingkarinya dan menjelaskan bahwa semua itu tidak ada landasannya.
Kemudian model baiat-baiat bidah ini berpindah dengan baju baru ke sebagian jamaah-jamaah Islam kontemporer, sampai terjadi banyak jamaah-jamaah di dalam satu negeri yang memiliki berbagai macam baiat yang diwajibkan atas para pengikutnya.
Masing-masing menyeru agar semua mengikuti jamaah mereka, sehingga hilanglah dari mereka perjanjian yang diwajibkan oleh Rasulullah e kepada jamaah kaum muslimin, yaitu hendaknya mereka selalu mengikuti apa yang ditempuh oleh Rasulullah e dan para sahabatnya.
Demikianlah tubuh umat Islam tercabik-cabik dengan adanya baiat-baiat kelompok-kelompok thariqah di satu sisi dan baiat-baiat hizbiyyah di sisi lain.
Jadilah para pemuda Islam dalam kebingungan ke kelompok mana dia harus bergabung, dan kepada pimpinan gerakan mana dia harus berbaiat ( Hukmul Intima ilal Firaq wal Ahzab wal Jamaah Islamiyyah hal. 161-163 ).


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Tidak diperbolehkan bagi seorangpun untuk mengambil suatu perjanjian atas seseorang agar dia selalu menyetujui apa yang dia kehendaki, memberikan loyalitas kepada siapa saja disukai oleh yang dia baiat, memusuhi siapa saja yang memusuhi orang yang dia baiat, bahkan orang yang berbuat seperti ini adalah seperti model Jenghis Khan yang menjadikan siapa saja yang cocok dengan mereka adalah teman yang loyal, dan siapa saja yang menyelisihinya adalah musuh yang harus dibenci ( Majmu Fatawa 28/16 ).