Tag Archives: Di Manakah Alloh ?

DI MANAKAH ALLOH ?

DI MANAKAH ALLOH ?

Yang shahih bahwa Alloh bersemayam di atas Arsy di atas semua makhlukNya, Al-Qur`an, hadits shahih dan ijma’ menyatakan bahwa Allah berada di atas ‘Arsy :
Allah Ta’ala berfirman:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
“Allah Yang Maha Pengasih itu beristiwa` di atas ‘Arsy.” (Thaahaa:5) 
Keterangan bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy terdapat dalam tujuh surat, yaitu: Al-A’raaf:54, Yuunus:3, Ar-Ra’d:2, Thaahaa:5, Al-Furqaan:59, As-Sajdah:4 dan Al-Hadiid:4. 

Para tabi’in menafsirkan istiwa` dengan naik dan tinggi, sebagaimana diterangkan dalam hadits Al-Bukhariy (Lihat Syarh Al-‘Aqiidah Al-Waasithiyyah, Asy-Syaikh Al-Fauzan hal.73-75 cet. Maktabah Al-Ma’aarif).
Dan Allah Ta’ala berfirman:
أَأَمِنتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمْ الأَرْضَ 
“Apakah kalian merasa aman terhadap “Yang di langit” bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kalian?” (Al-Mulk:16) 
Menurut Ibnu ‘Abbas yang dimaksud dengan “Yang di langit” adalah Allah seperti disebutkan dalam kitab Tafsir Ibnul Jauziy. 
Dan Allah Ta’ala berfirman:

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ 
“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang (ada) di atas mereka.” (An-Nahl:50) 
– Rasulullah mi’raj ke langit ketujuh dan berdialog dengan Allah serta diwajibkan untuk melakukan shalat lima waktu. (Muttafaqun ‘alaih)
– Rasulullah bersabda: “Kenapa kamu tidak mempercayaiku, padahal aku ini dipercaya oleh Allah yang ada di langit?” (Muttafaqun ‘alaih)
– Di dalam Shahih Muslim ( no. 537 ) bahwa ada seorang jariyah ( budak perempuan ) penggembala kambing ditanya oleh Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam : ” Di manakah Allah ? “, jawab budak perempuan : ” Di atas langit “, beliau bertanya (lagi) : “Siapakah Aku ..? “, jawab budak itu : “Engkau adalah Rasulullah”. Beliau bersabda : “Merdekakan ia ! .. karena sesungguhnya ia mu’minah (seorang perempuan yang beriman)”.
Para Shahabat, para Tabi’in, serta para Imam kaum Muslimin telah bersepakat atas ketinggian Allah di atas langit-Nya dan bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy-Nya, ijma’ ini dinukil oleh Imam Abul Hasan al-‘Asyari dalam kitabnya Risaalah ilaa Ahli Tsaghar (hlm. 232).
Imam Malik, ketika ditanya tentang masalah istiwa (tingginya) Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas Arsy-Nya berkata, ” Istiwa (Allah) sudah sama dipahami, dan bagaimana (hakikat)nya tidak diketahui, sementara mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentang bagaimana (hakikat) Allah ber-istiwa adalah bid’ah ” ( Lihat Mukhtasar Al-Uluw oleh Imam Dzahabi hal.141).
Imam Abdullah bin Mubarak berkata : ” Kita mengetahui bahwa Tuhan kita berada di atas langit yang tujuh ; ber-istiwa di atas Arsy-Nya ; terpisah dari makhluk-Nya. Kami tidak mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Jahmiyah ” ( Lihat Mukhtasar Al-Uluw oleh Imam Dzahabi hal.151).
Imam Al-Auza’iy berkata, ” Kami dan para Tabi’in mengatakan, ” Sesungguhnya Allah penyebutannya di atas ‘Arsy-Nya dan kami mengimani apa saja yang terdapat di dalam Sunnah ” ( Lihat Mukhtasar Al-Uluw oleh Imam Dzahabi hal.138).
Imam Abu Hanifah berkata, ” Barangsiapa yang mengatakan, ‘ Saya tidak tahu apakah Tuhan saya berada di langit atau bumi’, berarti dia telah kafir “‌ ( Lihat Mukhtasar Al-Uluw oleh Imam Dzahabi hal.136 ).
Al-Imam Ibnu Khuzaimah berkata  : ” Barangsiapa yang tidak menetapkan sesungguhnya Allah Ta’ala di atas ‘Arsy-Nya Ia istiwaa’ di atas tujuh langit-Nya, maka ia telah kafir dengan Rabbnya…” ( Diriwayatkan oleh Al-Hakim di dalam kitab Ma’rifah Ulumul Hadits hal : 84 dengan sanad yang shahih ). 

Ditulis di Kediri pada hari Jum’at 10 Jumadal Ula 1439
Akhukum Abu Ahmad Arif Fathul Ulum bin Ahmad