Tag Archives: Tragedi Suria dan Mesir

TRAGEDI TUNISIA DAN MESIR, PERINGATAN BAGI SELURUH KAUM MUSLIMIN

TRAGEDI TUNISIA DAN MESIR, PERINGATAN BAGI SELURUH KAUM MUSLIMIN

Oleh : Syaikh Al-Allamah Ali bin Hasan Al-Halabi

[ MUQADDIMAH ]

Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Alloh. Kami menyanjung-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta kami memohon perlindungan dari keburukan jiwa dan kejelekan amal kami. Barangsiapa yang Alloh beri petunjuk tidak ada yang mampu menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan oleh Alloh maka tiada seorangpun yang dapat memberikannya petunjuk kepadanya. Saya bersaksi bahwa tidak ada ILah yang berhak untuk disembah kecuali hanya Alloh semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Saya juga bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya. Amma Badu :
Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kalâmullâh, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (. Sedangkan seburuk-buruk suatu urusan adalah yang diada-adakan, dan setiap urusan (di dalam agama) yang diada-adakan itu adalah bidah, dan tiap kebidahan itu adalah sesat, dan setiap kesesatan itu berada di neraka. Wa badu :

[ WASIAT YANG AGUNG ]

Ada sebuah riwayat dari sahabat yang mulia Alî bin Abî Thâlib, yang berisi tentang wasiat yang agung yang disampaikan beliau kepada salah seorang sahabatnya yang bernama Kumail bin Ziyâd. Wasiat beliau  tersebut berbunyi :
النَّاسُ ثَلاثةٌ : فَعَالمٌ رَبَّانِيٌ ، وَمُتَّبِعٌ عَلى سَبِيْلِ نَجَاةٍ ، وَهَمَجٌ رَعَاعٌ أتْبَاعِ كُلِّ نَاعِقٍ
“Manusia itu ada tiga macam : yaitu seorang ‘âlim rabbânî, seorang yang meneladani di atas jalan keselamatan, dan orang-orang rendahan yang mengikuti setiap ocehan ” .
Manusia tidak akan keluar dari ketiga sifat tersebut, bagaimanapun dan dimanapun keadaannya. Yaitu, sebagai seorang âlim robbânî, yang dinisbatkan (nama ini) kepada Rabb yang Maha Agung Jalla Jalâluhu, dan yang mendidik manusia di atas sifat ini, atau sebagai seorang yang meneladani di atas jalan keselamatan.  Dia bukanlah seorang muqollid (taklid buta), mutaashshib (fanatik) maupun mutahazzib (sektarian). Dia hanya mengharapkan Alloh dan negeri akhirat saja. Dia menginginkan Alloh dan negeri akhirat karena kedua hal inilah jalan keselamatan itu. Adapun selain daripada ini adalah jalan yang menuju kepada kerugian yang nyata, sesuai dengan kadar penyelisihannya yang mengantarkan kepada kerugian, sedikit maupun banyak.
Dan golongan ketiga yaitu orang rendahan yang mengikuti semua ocehan. Mereka tidak memiliki kaidah-kaidah ilmiah maupun landasan-landasan yang syari, dan tidak pula metoda dan asas yang diperhatikan di dalam kerangka syariat islam. Mereka ini turut berteriak bersama setiap penyeru dan mengembara di setiap lembah. Mereka ini adalah orang rendahan, yang tidak digerakkan oleh ilmu dan tidak pula dimotivasi oleh syariat. Mereka hanya mengikuti setiap ocehan, berdasarkan mana yang ocehan dan teriakannya paling keras, dan berdasarkan mana yang paling banyak jumlah dan kuantitasnya.
Setiap orang yang berakal dan memiliki hati nurani, pasti akan menolak jika dikategorikan sebagai golongan ketiga ini. Walaupun terkadang, di saat emosi lebih dominan dan luapan semangat yang menggebu-gebu, acap kali mereka ini termasuk golongan ketiga ini, atau berada di antara mereka atau bahkan yang dikedepankan di kalangan mereka. Karena itu hendaknya mereka mengevaluasi diri mereka, dan memperhatikan tempat berpijak kedua kakinya, serta memperhatikan gerakan hatinya dan pergerakan lisannya. Agar tidak ada lagi pada dirinya dosa dan penyelewengan sesuai dengan kadar sikap ikut-ikutannya, fanatismenya, kebodohannya dan sikap pembelaannya.
Demikian juga dalam keadaan dia menolak untuk digolongkan kepada golongan ketiga ini, maka sesungguhnya dia dengan lantaran Alloh menganugerahkan akal kepadanya, ia mengetahui bahwa dirinya tidak termasuk golongan pertama. Golongan pertama ini adalah para ulama robbâniyîn, yang umat ini wajib mencontoh mereka, bukan sebagai bentuk fanatik kepada mereka namun sebagai bentuk peneladan. Bukan pula sebagai bentuk sikap tahazzub ( sektarianisme ) namun sebagai bentuk keteguhan dan istiqômah di atas syariat Alloh, yaitu di atas Kitâbullâh dan Sunnah Rasulullâh (.
Dan karena dia tidak termasuk kepada kelompok yang pertama dan bukan pula yang ketiga, maka hendaknya dia berupaya mengerahkan kesungguhan dan kemampuannya agar bisa menjadi golongan yang pertengahan diantara dua golongan tadi. Dia bukanlah seorang pantas untuk menyandang sebutan âlim robbânî, dan dirinya juga enggan dan tidak suka jika dianggap seperti golongan orang rendahan, – yang sungguh amat disayangkan – betapa banyak mereka ini di seluruh penjuru dan belahan dunia.
Akan tetapi, jika ia ridha untuk digolongkan sebagai golongan pertengahan, yang mengikuti jalan keselamatan, lantas apakah status golongan pertengahan ini dapat dicapai hanya dengan sekedar angan-angan? Atau dicapai hanya dengan sekedar mimpi dan khayalan belaka? Tidak boleh tidak hingga dia menjadi golongan pertengahan ini dengan mengerahkan segala daya upaya dan kesungguhan jiwa, bersabar di dalam menuntut ilmu dan teguh di atas perintah Alloh, walaupun apa yang di dalam jiwanya merasa enggan di dalam sebagian perkara kecuali meniti sebagian jalan dan mengikuti sebagian jalan, walaupun tidak di atas petunjuk dari Alloh, dan meskipun tidak berada di atas keitiqomahan di dalam perintah Alloh, maka orang yang seperti ini hendaknya yang seperti ini dapat menepisnya dan menjaga jiwanya dari hal tersebut.
Dan hendaknya dia selalu ingat perkataan seorang penyair yang mengingatkan dirinya sendiri dan selainnya :
فهذا الحق ليس به خفاء *** فدعني من بنيات الطريق
Inilah kebenaran yang tidak ada padanya kesamaran
Maka tinggalkanlah aku dari persimpangan-persimpangan jalan
Semua ini adalah termasuk persimpangan-persimpangan jalan, dari jalan-jalan yang berliku-liku dan berkelok-kelok, yang pendek yang tidak lurus, yang terletak di atas kedua sisi jalan dan manhaj yang lurus, yang Alloh dan Rasul-Nya yang mulia Shallallâhu alaihi wa ala Âlihi wa Shohbihi ajmaîn- memerintahkan untuk mengikutinya. Jalan ini adalah jalan yang Alloh dan Rasulullah ( perintahkan kepada umatnya, para pengikutnya, para sahabatnya dan saudara-saudaranya yang hidup setelah beliau (, agar mengikuti jalan keselamatan ini, maka sesungguhnya hal ini membutuhkan jihad melawan hawa nafsu dan Alloh Ta’âlâ berfirman :
والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, maka benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami.” (Al-‘Ankabût : 69)
Dan Nabi yang mulia Shallallâhu ‘alaihi wa ‘ala Âlihi wa Shohbihi ajma’în bersabda :
المجاهد من جاهد هواه في ذات لله
“Seorang mujahid itu adalah orang yang berjihad melawan hawa nafsunya di jalan Alloh.”
Berjihad melawan hawa nafsu itu – wahai saudara-saudaraku – tidaklah selalu berjihad melawan syahwat-syahwat, karena terkadang di dalam sebagian perkara adalah berjihad melawan syubhat-syubhat. Dan jihad melawan syubhat-syubhat ini, adalah lebih utama dan lebih besar tingkatan dan derajatnya daripada jihad melawan syahwat-syahwat. Mudah bagimu berjihad melawan syahwatmu jika Alloh memberikanmu taufiq, namun tidaklah mudah berjihad melawan syubhat yang datang menghampiri atau menyusup lalu menyesatkanmu, dan menjauhkanmu dari al-haq dan kebenaran. Ini adalah poin yang mendasar.
Saya tidak berbicara ( lebih lanjut ) tentang hal ini dan sebagai pengingat saja di malam hari yang penuh berkah ini insyâ` Alloh-. Yang penuh berkah karena udaranya begitu harum dengan Kalâmullâh, dan penuh berkah lantaran di dalamnya sarat dengan petunjuk Rasulullah ( dan nafas-nafas para ulama Rabbâniyîn serta fatwa-fatwa mereka yang benar lagi dapat dipercaya.

[ WAJIBNYA MENYIKAPI SEGALA PERISTIWA DENGAN LANDASAN SYAR’I ]

Saya berkata : Kesemua hal yang ada di hadapan kita ini adalah sebuah peringatan bagi perkara yang terjadi, kita mendengarkannya dan diperdengarkan kepada kita, kita hidup dengannya dan merisaukan kita. Bukan hanya merisaukan kita di dalam urusan dunia saja, namun juga merisaukan, mencemaskan dan menggelisahkan di dalam urusan agama kita, sama persis. Dan hingga kita bisa menghukumi insiden-insiden dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan hukum yang benar dan diakui, wajib untuk membangun hukum ini di atas pondasi yang agung dan diatas pendalilan yang bagus. Yaitu dengan ucapan Alloh dan Rasulullah (, sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam adz-Dzahabî –semoga Alloh merahmatinya- :
العلم قـال الله قـال رسولـه *** قال الصحابة ليس بالتمويه
ما العلم نصبك للخلاف سفاهة *** بين الرسول وبين رأي فقيه
Ilmu itu adalah firman Alloh dan sabda Rasul-NYa
Serta perkataan sahabat, bukan sekedar kamuflase
Bukanlah ilmu jika Engkau mempertentangkan perselisIhan karena kebodohan
Antara Rasul dengan pendapat seorang ahli fikih
Mari kita perhatikan peristiwa yang terjadi di Mesir, sebagaimana kita perhatikan pula yang terjadi baru-baru ini di Tunisia. Kita coba cermati juga peristiwa yang terjadi saat ini di Libanon, bahkan juga yang terjadi pada hari ini di ‘Amman dan yang terjadi belum lama ini di Shana` (Yaman), di dalam perkara-perkara yang baru muncul yang hampir saja umat kita ini tidak melewatinya dan tidak mengetahuinya, akan tetapi senantiasa sampai saat ini kita kehilangan suara syari yang leluasa, yang menghukumi atas perkara-perkara dengan dalil-dalilnya, tidak  berdasarkan orang yang mengucapkannya, dan dengan hujjah-hujjahnya bukan dengan penyandaran kepadanya agar hukum yang dihasilkan dari ini dan itu adalah suatu hukum syari yang lebih dekat dengan kebenaran, dan lebih dekat kepada al-haq dengan tanpa keraguan.
Betapa sering kita mendengar orang yang mengucapkan istilah Fiqih Wâqi, yang dua kubu saling bergumul tentang istilah ini. Kubu pertama adalah kubu para da’i pengikut revolusi para politisi yang mengikuti perasaan dan semangat yang menjadikan fiqih wâqi ini adalah mengikuti berita-berita politik dan menelaah metode-metode surat kabar, di antara ini dan itu untuk menyulut semangat dan membebaskan luapan perasaan yang tak terkendali.
Adapun kubu kedua adalah kubu para ahli ilmu robbâniyûn, sebaik-baik yang mendidik diri-diri mereka yang mereka memahami fiqih wâqi di atas landasan syari yang disebutkan oleh Al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyah di dalam lebih dari satu kitab dari kitab-kitabnya, maka yang pertama : fiqih wâqi tidaklah terbatas hanya pada masalah politik dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Namun sesungguhnya fiqih wâqi itu adalah jalan untuk menggambarkan keadaan segala perkara-perkara, sehingga hasilnya adalah benaran dan adil. Sama saja, apakah perkara-perkara ini adalah perkara politik atau syari, ataupun bahkan perkara materi duniawiyah, demikianlah kita memahami pengertian fiqih wâqi’ secara syar’i, yaitu yang telah disebutkan oleh para ulama di dalam kitab-kitab ishtilâh yang terkandung di dalam perkataan, ta’shil ( pendasaran ) dan istilah mereka dengan perkataan mereka :
الحكم على الشيء فرع عن تصوره
“Menghukumi sesuatu hal itu adalah cabang dari gambarannya ”
Lalu kita dekatkan dua ungkapan tersebut, dan kita ambil makna yang benar di antara dua kalimat dan dua istilah tersebut maka kita katakan : Fiqih wâqi’ yaitu perkara yang menjadikanmu berada di atas batasan sikap yang benar darinya. Apabila engkau belum memahami wâqi (realita) ini dengan pemahaman yang benar, maka akan menyebabkanmu jauh dari kebenaran tersebut sebatas kurangnya pengetahuan dan pemahamanmu terhadapnya. Beginilah pengertian yang benar. Bukanlah makna fiqih wâqi adalah makna yang penuh dengan luapan semangat dan tindakan revolusi, yang menyempitkan maknanya di dalam batasan politik dan para pelakunya saja. Sama sekali bukan demikian perkaranya, saya katakan ini sebagai pendahuluan yang lain di hadapan ayat, hadits, atsar, kaidah fikih dan fatwa para ulama yang akan kusampaikan di majlis kita di malam yang penuh berkah ini –insyâ Alloh-, sebagai bagian dari firman Alloh :
ﭽ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭼ
“Hendaklah kamu menerangkannya kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya ( Âli Imrân : 187)
Silakan bagi yang ridha meridhainya, bagi yang marah silakan marah, yang mau menuduh silakan menuduh, yang ingin mencela silakan mencela dan yang ingin menghujat silakan menghujat, karena sesungguhnya hubungan seorang hamba terhadap Rabb-nya adalah hubungan yang tinggi, yang hendaknya kejujuran di dalamnya menjadi syi’ar dan penolongnya tanpa melihat orang yang menyelisihi atau menyetujuinya, maka dia kiblatnya adalah wajah Alloh, dan cahaya hatinya adalah sunnah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa ‘ala Âlihi wa Shohbihi wa man wâlahu.

[ LANDASAN DARI AYAT ALLOH SUBHANAHU WA TA’ALA ]

Adapun ayat maka adalah firman Alloh Tabâroka wa Ta’âlâ :
ﭽ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑ ﮒﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟﮠ ﭼ
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil Amri). (An-Nisâ` : 83)
Perkataan-perkataan para ulama tafsir seluruhnya tentang ayat ini berkaitan dengan dua perkara, perkara pertama  bahwa urusan yang berkaitan dengan hajat orang banyak adalah termasuk problematika yang tidak boleh menyebarluaskan dan menyiarkannya kecuali dengan perkara yang kedua, yaitu bahwa hendaknya hal itu adalah termasuk wewenang para pemilik spesialisasi dari kalangan ahli ilmu dan mereka adalah ahli istinbâth (yang pandai menggali suatu hukum syar’i), sebagaimana yang dikatakan oleh Imam ath-Thohâwî, Imam Ibnu Taimiyah, Imam ath-Thobarî dan selain mereka dari kalangan para ulama bahwa :
الأمور العامة في الأمة لا يفتي فيها ولا يعطي الحكم بشأنها إلا أهل العلم الربانيون ، الذين جعلوا قبلتهم كتاب الله ، ومهجة قلوبهم سنة رسول الله – صلى الله عليه وسلم –
“Urusan yang berkaitan dengan hajat orang banyak di tengah umat ini, tidak boleh seorangpun berfatwa dan memberikan hukum tentangnya kecuali ulama robbâniyûn yang menjadikan kitâbullah sebagai kiblat mereka dan sunnah Rasulullah ( sebagai cahaya hati mereka.
Mereka hanya menginginkan kebaikan bagi umat ini, bukannya menginginkan suatu balasan dari mereka. Mereka menginginkan kebaikan, keistiqomahan, kebahagiaan dan keberhasilan bagi umat ini, bukan menginginkan suatu bagian dari dunia, sedikit maupun banyak. Ini adalah pokok yang pertama dan nash pertama pada apa yang kita kemukakan penjelasannya.

[ HADITS NABI SHOLLALLOHU ALAIHI WA SALLAM ]

Adapun pokok yang kedua adalah hadits yang diriwayatkan di dalam Shahîh Muslim ( 8/208 )dari Abu Hurairoh – Radhiyallahu Ta’ala Anhu –  yang berkata : Rasulullah ( bersabda :
الْعِبَادَةُ فِى الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَىَّ
“Beribadah di masa sulit adalah seperti hijrah kepadaku.”
Al-Haraj adalah pembunuhan, pencampuradukan, kegoncangan dan fitnah. Manusia di saat seperti ini, hati mereka menjadi tidak menentu, akal fikiran mereka menjadi bingung dan jiwa mereka tidak tentram. Maka diantara mereka yang – pada keadaan seperti ini – bergabung bersama dengan orang-orang rendahan yang menyebar ke seluruh penjuru tempat, yang tidak sadari dan tidak memahami. Karena fitnah ini menyebabkan dirinya tidak sadar dan memukulnya hingga menyebabkan dirinya jatuh ke tempat yang rendah, dan dia tidak mampu menoleh ke tempat yang lebih tinggi dan lebih penting.
Hadits ini merupakan arahan dari Muhammad (, rasul Islam dan penghulu anak Adam. Sebagai suatu bentuk pengajaran,  peringatan dan arahan ketika berada di suatu tempat yang penuh dengan fitnah, maka wajib untuk menyibukkan diri dengan amalan yang paling utama dan paling penting, yaitu beribadah kepada Rabb Tabâroka wa Taâlâ, satu-satunya sesembahan yang benar subhânahu fî alâhu. Daripada menyibukkan diri dengan peristiwa fitnah, yang malah semakin menyebabkan seseorang semakin jauh dari Alloh dan menyibukkan dirinya kepada suatu hal yang tidak utama bersamaan ada hal yang lebih utama, menyibukkan dirinya kepada suatu hal yang tidak lebih utama padahal dia adalah perkara yang lebih sulit, dan meninggalkan hal yang lebih utama yang lebih mudah, menyibukkan dirinya kepada suatu hal yang tidak lebih utama dan dia adalah jauh dari syariat Islam, dan menjauhkannya dari sesuatu yang lebih utama yang diperintahkan oleh syariat.
Beribadah di masa sulit adalah seperti hijrah kepadaku, yaitu tatkala setiap orang pada sibuk masing-masing dan melakukan perbuatan yang mereka kehendaki, mereka berkumpul sekehendak mereka dan mengobarkan revolusi semau mereka. Janganlah sampai perbuatan mereka ini mengalihkan perhatianmu dari agamamu, dari manhaj Kitab Rabbmu dan dari sunnah Nabimu (.
Ini dan itu dari nash al-Qur`ân dan hadits nabi, jangan sampai menjadikan kita mempersamakan antara kezhaliman dengan keadilan, atau antara kebenaran dan kebathilan. Namun hendaknya menjadikan kita mengikat cara pola pikir kita, dan cara kita memperbaiki perkara-perkara, sebagai ganti dari provokasi yang tidak menghasilkan kecuali bencana dan malapetaka, dan musibah demi musibah.
Maka syariat yang bijaksana ini mengikat akal, hati, lisan dan amal perbuatan kita. Mengikat hal ini seluruhnya dengan hal yang lebih sesuai dan lebih layak secara sempurna dengan tabiat dasar manusia yang telah Alloh ciptakan manusia atasnya, dan Dia adalah yang berfirman Dia yang Maha Agung di ketinggiaanNya dan Maha Agung di atas langit – :
ﭽ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭼ
“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan dia adalah Maha halus lagi Maha Mengetahui?” (Al-Mulk : 14)
Yang Maha Halus dan Mengetahui apa yang memperbaiki mereka, maka dengan kadar jauhnya seorang manusia dari manhaj robbânî yang haq, dengan kadar jatuhnya seseorang kepada keterlantaran, dan dengan kadar masuknya dia di dalam kezhaliman dan kedustaan – semoga Alloh melindungi kita dan kalian – syariat yang bijaksana ini mengikat dua perkara yang dikira oleh sebagian orang adalah saling kontradiksi, padahal hakikatnya saling bersesuaian dan berpadu. Adapun pokok yang pertama adalah : larangan syariat secara keras dari sikap memberontak (keluaran dari ketaatan) terhadap penguasa yang muslim, kita berbicara tentang penguasa yang muslim, kita tidak membicarakan penguasa yang memerangi hijâb, atau memerangi adzân, atau jenggot dan memerangi Islam, kita berbicara tentang seorang penguasay ang muslim, walapun dirinya menyelisihi sesuatu dari perintah Alloh, dan seandainya ada pada dirinya sifat kefasikan dan kemaksiatan, maka hal ini tidaklah menyebabkan dirinya keluar dari lingkaran agama dengan ijma’ ( kesepakatan ) Ahli Sunnah, ini adalah bingkai yang pertama.
Dan bingkai yang kedua yang dikira kontradiksi dengan yang pertama bahwa penguasa ini yang Anda berada di bawah kekuasaannya dan di bawah pemerintahannya, Anda tidak wajib untuk mencintainya lantaran sebab penyelewengannya terhadap syariat Alloh, dan ketidakcintaan Anda kepadanya janganlah menjadi pintu keluar dari ketaatan kepadanya, atau pintu revolusi kepadanya, namun hnayalah ini masuk ke dalam konteks sabda Nabi ( :
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ
“Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaknya ia merubah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila masih tidak mampu, maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman.
Inilah pokok kedua yang telah kuisyaratkan, yang dia selaras secara sempurna dengan pokok yang pertama tadi sebagaimana ditunjukkan oleh Rasulullah alaihi ash-Sholâtu was Salâm dalam sabdanya, dan dengarkanlah hadits Nabi ini yang mulia ini, yang begitu menakjubkan, begitu agungnya, begitu indahnya dan begitu mulianya, Nabi ( bersabda :
خير أمرائكم الذين تحبونهم ، ويحبونكم ، وتدعون لهم ، ويدعون لكم ، وشر أمرائكم…
“Sebaik-baik penguasa kalian, adalah mereka yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian. Kalian mendoakan kebaikan kepada mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan pada kalian. Sedangkan seburuk-buruk penguasa kalian…”
Walaupun mereka disebut sebagai “seburuk-buruk”, apa yang dikatakan oleh Nabi, beliau mengatakan “أمرائكم ” ( penguasa kalian ) mudhaf dan mudhaf ilaih, seburuk-buruk penguasa kalian padahal mereka adalah jelek dan kalian tidak mencintainya, namun ini dan itu selama mereka tetap berada di dalam lingkup Islam walaupun dengan kekurangan dan suatu kerusakan, akan tetapi mereka belum keluar dari agama, mereka tidaklah melarang umat dari sholat dan tidak pula memerangi hukum-hukum Islam, dalam keadaan mereka tetap memiliki kedudukan, berkuasa, dan melaksanakan hukum-hukum, maka beliau menyebut mereka dengan penguasa kalian, maka beliau tetapkan bagi mereka pemerintahan mereka atas kalian.
وشر أمرائكم الذين لا تحبونهم ولا يحبونكم ، وتدعون عليهم ويدعون عليكم
“Dan seburuk-buruk penguasa kalian adalah mereka yang tidak kalian cintai dan mereka tidak mencintai kalian. Kalian doakan mereka dengan keburukan dan merekapun juga mendoakan keburukan bagi kalian.
Ini adalah dhawâbith ( aturan-aturan) di dalam beramal, sebagaimana dia juga dhawâbith ( aturan-aturan) berbicara, di mana setiap bingkai dari kedua bingkai ini ada wilayahnya, di mana setiap bab dari kedua bab tersebut ada bagiannya tersendiri, kita tidak boleh mencampuradukkannya dan dicampuradukkan, dibuat kabur atas kita dan disamarkan atas kita, serta kita diseret di atas kambing-kambing dengan tanpa dalil-dalil dan berargumen, tanpa hujjah-hujjah dan manhaj-manhaj. Ini adalah kebiasaan orang-orang rendahan. Adapun jalan ahlus sunnah dan ahli ittibâ yang mengharapkan keselamatan, maka mereka senantiasa mengikatkan diri dengan hukum-hukum syar’i, dan mengikatkan diri dengan pokok-pokok yang diperhatikan dan dengan kaidah-kaidah fiqhiyah, dengan sama persis.

[ ATSAR SAHABAT ]

Adapun yang ketiga maka dia adalah sebuah atsar yang terdapat di dalam Shahîhain dari Syaqîq dari Usâmah bin Zaid. Beliau ditanya :
أَلاَ تَدْخُلُ عَلَى عُثْمَانَ فَتُكَلِّمَهُ …
“ Tidakkah Anda menemui ‘Utsmân dan berbicara padanya…”
Yaitu di zaman yang di dalamnya penuh dengan fitnah, ujian dan malapetaka. Sebagian orang menghadap Usâmah dan meminta serta menuntut beliau agar mau berbicara dengan penguasa, dan Utsmân adalah penguasa pada saat itu hingga melihat kepada perkara-perkara sebagai bagian dari amar marûf nahî munkar, beliau ditanya : Tidakkah Anda menemui Utsmân dan berbicara kepadanya? Lantas Apa gerangan jawaban beliau? Beliau berkata :
أَتُرَوْنَ أَنِّى لاَ أُكَلِّمُهُ إِلاَّ أُسْمِعُكُمْ ؟
“Apakah kalian menganggap bahwa jika aku berbicara dengan beliau lantas aku harus memperdengarkannya kepada kalian?”
Yaitu tidak boleh tidak kalian menghendaki bahwa saya tidak berbicara dengan beliau (Utsmân) kecuali jika saya memperdengarkan, atau mengabarkan, atau menceritakan atau menunjukkan kepada kalian secara jelas dan terang, ataupun dengan isyarat maupun tercatat?, lalu perhatikanlah, bagaimana alangkah bagusnya belaiu menjelaskan alasannya dengan segi yang agung, beliau berkata :
وَاللَّهِ لَقَدْ كَلَّمْتُهُ فِيمَا بَيْنِى وَبَيْنَهُ مَا دُونَ أَنْ أَفْتَتِحَ أَمْرًا لاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ
“Demi Alloh! Saya telah berbicara empat mata dengan beliau. Tanpa perlu saya membuka suatu perkara yang saya tidak suka jika saya menjadi orang yang pertama kali membukanya.
Beginilah akhlak sahabat, inilah akhlak salaf, inilah akhlak umat yang terbaik, inilah akhlak kaum mukminin generasi awal, yang berilmu, memiliki ma’rifat dan memiliki kesabaran.

[ KAIDAH FIQIH ]

Pokok pertama adalah ayat al-Qur`ân, yang kedua adalah hadits dan yang ketiga adalah atsar dari para salaf yang shalih, yang keempat adalah sebuah kaidah dari kaidah-kaidah fikih. Kaidah fikih ini berbeda dengan kaidah ushul fikih karena kaidah fikih ini lebih berkaitan dengan urusan kaum muslimin di dalam aktivitas kehidupannya yang terjadi yang umum. Sedangkan kaidah ushul fikih itu lebih dekat dengan akal dan pandangan-pandangan para ulama, di dalam memahami dan menggali hukum dari nash. Adapun kaidah fikih, sesungguhnya landasan dasarnya digali dari keumuman kaidah-kaidah syariyah atau dalil-dalil syari, baik di dalam Kitabullah maupun di dalam sunnah Rasulullah (.
Di antara hal yang telah disepakati oleh para ulama yang tsiqah ( terpercaya ) dari kaidah-kaidah asasi di dalam memahami syariat dan pokok-pokoknya yang kokoh adalah perkataan mereka :
Menepis mafsadah ( kerusakan ) lebih didahulukan daripada mendatangkan maslahat.
Kaidah ini termasuk kaidah fikih yang tertata lagi luas maknanya, dan kadang melekat dengannya dari yang serupa dengannya sebuah kaidah yang lain yang memiliki konteks yang serupa, yaitu perkataan mereka :
إن ارتكاب أخف الضررين هو الأصل دفعا لأكبرهما
“Sesungguhnya mengambil madharat yang teringan dari dua keburukan dia adalah pokok untuk menepis yang lebih besar.”
Di hadapan kita ada dua madharat, dan mau tidak mau kita harus memilih salah satunya dan tidak ada pilihan lain bagi kita. Lantas bagaimana perbuatan yang benar? Yang benar adalah kita memilih yang paling ringan madharatnya dalam rangka menepis yang lebih besar dan lebih sangat.
Kaidah yang ketiga di dalam bab itu sendiri dari bertolak dari pokok yang sama adalah perkataan mereka :
عند تزاحم المصالح تحصل المصلحة الراجحة وتترك المصلحة المرجوحة
” Di saat berdesakan antara mashlahat-mashlahat maka dicari mashlahat yang lebih kuat dan ditinggalkan mashlahat yang lemah “
Maka marilah kita melihat realita yang menyakitkan yang hampir memangkas keamanan negeri-negeri dan para hamba, yang kadang permulaannya adalah perkara yang ringan, dan perkataan yang lunak sebagaimana yang mereka katakan Kami mengadakan aksi damai, atau unjuk rasa damai, ternyata pada awalnya memang demikian, dan di akhirnya bertolak belakang dengannya, maka bagaimana jika dari awalnya atas yang selain itu, dan kadang di awalnya, keduanya, dan ketiganya atas makna hal itu, dan pada apa yang di sana, akan tetapi di setiap kali semakin memanas sehingga bertolaklah orang-orang yang jelek yang membakar yang hijau dan yang kering, dalam keadaan mereka menyangka telah berbuat yang baik, mereka menyangka bahwa mereka melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar, akan tetapi tanpa mengindahkan satu ayat pun, tanpa memperhatikan satu hadits pun, dan tanpa mempelajari atsar-atsar Salaf, serta tanpa menelaah di dalam satupun dari kaidah-kaidah fiqih yang telah tertata lagi dianggap di sisi ahli ilmu, tidak dalah hal yang sedikit maupun di dalam hal yang banyak.
Terkadang mashlahat yang semu cepat dilihat, akan tetapi mashlahat yang rajih yang shahih sesungguhnya hanyalah dengan mengetahui kesudahan-kesudahan, dan fiqih mengetahui kesudahan-kesudahan adalah fiqih yang paling agung dan paling mulia, paling rumit dan paling tinggi, hampir-hampir tidak ada yang mendapatinya kecuali hanya person-person di setiap zaman dan tempat, dari para ulama rabbaniyyin, para imama yang mendalam pemahaman mereka, yang terdidik dengan manhaj yang haq, dan tidak menerima pengganti apapun dari selainnya.

[ FATWA ULAMA ]

Adapun pokok yang kelima maka dia adalah sebagian dari fatwa-fatwa, dan kami tidak mampu secara kondisi untuk mendatangkan semuanya, maka hampir-hamapir saya mengatakan saya tidak mengetahui seorang ulama pun dari Ahli Sunnah dan para pemilik aqidah yang shahihah di zaman ini kecuali mengingkari dan sangat keras atas demonstrasi-demonstrasi ini, aksi-aksi unjuk ras ini, dan aksi-aksi mogok ini karena apa yang mereka ketahui dari keberadaannya yang pertama asalanya adalah tiri dak syar’I, yang kedua karena apa yang diakibatkan darinya dari kerusakan negeri-negeri dan para hamba, dan jika mereka menetapkan ini dan membuat pendasaran tentangnya, maka mereka dalam waktu yang sama dan kami bersama mereka dan dengan mereka mengingkari kezhaliman, mengingkari penganiyaan, dan tidak menerima kerusakan, akan tetapi :
ﭽ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﭼ
” Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa ” ( Al-An’am : 153 )
Demikianlah seorang mukmin yang sebenarnya, melihat kepada garis yang lurus dan jalan yang lurus, walaupun lebih panjang jaraknya, dan lebih jauh dijangkau, akan di dalamnya keselamatan, di dalamnya keberhasilan, dan di dalamnya keberuntungan, di dunia dan di akhirat.
Syaikh Ibnu Baz Rahimahullah ditanya, berkata seorang penanya kepada beliau : ” Telah muncul fenomena pada banyak dari orang-orang, yaitu berkumpul dan mengerahkan massa, keluar unjuk rasa dan demonstrasi sebagai salah satu bentuk dari mengingkari kemungkaran, maka apakah pendapat Anda tentang hal itu ? “, maka Syaikh Ibnu Baz berkata, seandainya dikatakan bahwa beliau adalah ulama yang paling agung di masa ini, paling besar, dan paling agung, maka tidaklah jauh ucapan tersebut, karena beliau telah membangun ilmunya di atas Kitabullah dan Sunnah RasulNya ( dan tidak membangun ilmunya di atas hizbiyyah ( fanatisme kelompok ), mencari keridhaan orang-orang awam dan orang-orang kebanyakan, dan atas menngambil hati para provokator, sebagaimana dilakukan oleh sebagian para pemilik nama-nama dan gelar-gelar yang mentereng, dengan tanpa ilmu, tanpa petunjuk, tanpa bashirah, dan tanpa Kitab yang menerangi.
Syaikh Ibnu Baz berkata : ” Keluar di dalam demonstrasi dan unjuk rasa tidaklah baik, dan jika tidak baik maka dia adalah jelek, karena tidak ada di sana kecuali baik dan jelek “, beliau berkata : ” Dan dia bukanlah termasuk kebiasaan para sahabat Rasul dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Bukankah pada waktu ada kemungkaran-kemungkaran ?Bukankah pada waktu itu ada penyimpangan-penyimpangan ? Bukankah pada masa itu ada hal-hal yang menyelisihi syari’at Alloh dan hal-hal yang bertolak belakang dengan Kitabullah ? Ya, dan mereka tidaklah menuju kepada hal-hal itu semua dan tidaklah melakukannya walaupun yang lebih ringan dari hal itu semua “.
Beliau berkata : ” Sesungguhnya hanyalah nasehat, arahan, memerintah kepada yang ma’ruf, melarang dari yang mungkar, dan bekerjasama atas kebajikan dan taqwa, dan ini yang datang di dalam atsar Usamah bin Zaid di dalam nasehatnya kepada Utsman Radhiyallahu ‘Anhu, empat mata dengannya, tanpa membuka pintu kerusakan dan pengrusakan, dan tanpa memprovokasi hati dan akal atas para waliyyul amr dari perkara-perkara yang merusak dan tidak memperbaiki, dari hal-hal yang membawa kejelekan dan tidak benar. “
Beliau berkata : ” Ini adalah jalan yang selayaknya diikuti, Alloh Azza wa Jalla berfirman :
ﭽ ﮑ ﮒ ﮓ ﮔﮕ ﭼ
” Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. ” ( At-Taubah : 71 ), sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain, bukan sebahagian mereka (adalah) menjadi lawan bagi sebahagian yang lain, bukan sebahagian mereka (adalah) menghabisi sebahagian yang lain,
ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ
” mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, ” ( At-Taubah : 71 ), dan Alloh Azza wa Jalla berfirman :
ﭽ ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠﮡ ﭼ
” Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ” ( Ali Imran : 104 ).
FirmanNya ( ولتكن ) , Lam di sini dikatakan oleh sebagian ulama bolehjadi Lam At-Tab’idh, maaf, Mim ( ولتكن منكم ), Min di sini bolehjadi adalah Min At-Tab’idhiyyah ( menunjukkan arti sebagian ), atau untuk menjelaskan jenis, jika Min adalah At-Tab’idhiyyah maka yang dimaksud sebagian di sini adalah para ulama, dan jika untuk menjelaskan jenis maka dia bermakna : Jadilah kalian umat, yaitu sesuai dengan kadar apa yang kalian ketahui dari al-haq, dan kalian ditunjukkan kepada kebenaran sesuai dengan kadar apa yang kalian perintahkan kepada yang ma’ruf dan yang kalian larang dari yang munkar, dan ini termasuk dalil-dalil dibagi-baginya ilmu dan ma’rifat, dan dibagi-baginya memerintah kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar “.
Beliau berkata : ” Dan Alloh Subhanahu berfirman :
ﭽ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭼ
” Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, ” ( Ali Imran : 110 ).
Rasulullah ( bersbada :
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ
“Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaknya ia merubah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila masih tidak mampu, maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman.
Samahatusy Syaikh Rahimahullah – berkata : ” Mengingkari dengan perbuatan adalah dari imam atau penguasa atau dari Badan yang memiliki wewenang, Badan : yaitu golongan yang diberi wewenang oleh waliyyul amr untuk melaksanakan amar ma’ruf dan nahi mungkar, karena itu semua akan berakibat pada perkara-perkara yang banyak, sekarang seandainya ada dua orang yang berkelahi dengan tangan di pasar maka akan terjadi kerusakan yang tidak mengetahuinya kecuali Alloh, maka bagaimana jika amar ma’ruf dan nahi munkar diserahkan kepada orang-orang awam, dari mereka orang-orang rendahan dan kebanyakan ini, atau dari mereka para provokator, maka ini lebih berbahaya dan lebih membawa kerusakan kita berlindung kepada Alloh darinya -.”
Beliau berkata : ” Adapun person-person jika mereka mengingkari dengan tangan maka terjadilah fitnah, perselisihan, dan perpecahan. Maka wajib atas setiap orang agar menasehati dengan perkataan, arahan, dan hasungan dan peringatan. Adapun kepala rumah tangga atas anak-anaknya dan sebuah badan di dalam tatanannya sesuai dengan kemampuan-kemampuannya, yaitu PT atau Yayasan atau Perkumpulan atau yang serupa dengannya, demikian juga seorang amir ( pemimpin ) maka dia boleh mengingkari dengan perbuatan, dengan arti kadang dia memenjara atau memukul atau berbuat atau memerintah atau melarang karena dia adalah penguasa, akan tetapi kami tidak berbicara tentang para pemimpin partai-partai, kelompok-kelompok, dan gerakan-gerakan serta tanzhim-tanzhim ( jaringan-jaringan ), sama saja yang terang-terangan sebagaimana yang mereka sangka atau yang rahasia. Kami berbicara tentang penguasa yang syar’i, dengan kaidahnya yang syar’i “.
Beliau berkata : ” Adapun person-person maka wajib atas mereka mengingkari dengan ucapan karena dia tidak mampu mengingkaru dengan perbuatan hingga musibah dan kejelekan tidak semakin membesar “.
Di sini telah datang pertanyaan yang lain atas Syaikh Rahimahullah – : ” Sesungguhnya penguasa meridhai aksi-aksi mogok dan demonstrasi-demonstrasi ini ” mereka berdalil dengan hal itu atas bolehnya, sebagian negara dengan undang-undang pemerintah atau resmi mengatakan : Tidak dilarang demonstrasi-demonstrasi, Syaikh Ibnu Baz berkata : ” Demonstrasi-demonstrasi kejelekannya adalah besar hingga walaupun pemerintah mengizinkan, pemerintah betapapun mengizinkan maka tidak mampu menempatkan setiap pengawas pada setiap orang, atau pada kepala setiap manusia orang yang mengetahui latar belakangnya, kedalaman jiwanya, dan lubuk hatinya, ini semua tidaklah mengetahuinya kecuali Dzat Yang Meliputi segala sesuatu Yang Maha Agung di ketinggianNya dan Maha Agung di atas langitNya “.

[ DAMPAK-DAMPAK NEGATIF DEMONSTRASI ]

Ini adalah lima pokok yang semuanya ditegakkan atas segi syar’i dan landasan-landasan agama, dan tatkala agama hanyalah terkandung di dalam buah-buahnya dan terkandung di dalam dasar-dasarnya, dan termasuk hasil-hasilnya adalah memperbaiki dunia dari segi sosial kemasyarakatan, karena sesungguhnya demonstrasi-demonstrasi seperti ini mengakibatkan kerusakan-kerusakan di dalam masyarakat secara duniawi yang hanya diketahui oleh Alloh.
Di antaranya : Jika kita andaikan bahwa demonstrasi ini atau yang itu sebagaimana dikatakan dalam bahasa sekarang : ” demonstrasi yang bersih dengan niat yang mulia “, apakah ada seseorang yang mampu menelaah atau mengamankan maaf merasa aman dari selundupan para penyelundup, dan masuknya para perusak yang mereka tidak menghendaki bagi umat langgengnya kebersihannya, dan tidak menghendaki bagi umat kebersihan barisannya, maka mereka merusak untuk menimpakan kepada dua kubu, kubu penguasa dari satu sisi, dan kubu rakyat yang melakukan perkara ini dari sisi yang lain.
Perkara yang kedua adalah kerusuhan dan kekacauan yang diakibatkan, dengan hal-hal yang menjadikan umat hampir-hampir kehilangan keamanannya, dan Alloh Azza wa Jalla menjadikan keamanan termasuk buah keimanan :
ﭽ ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ﭼ
” Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk ” ( Al-An’am : 82 ).
Maka sesuai dengan hilangnya keamanan maka di sana hilang dan berkurang keimanan darimu, lihatlah, ambillah pelajaran, dan telaahlah apa yang telah berjalan dan sedang berjalan dan apa-apa yang selalu berjalan dan terjadi dari kericuhan ini dan dari kekacauan ini yang telah meluas dan menghantam banyak dari negeri-negeri kaum muslimin, kita memohon kepada Alloh agar menjadikan kesudahan adalah keselamatan, yang penuh kebaikan, dan agar menepis dari kita dan dari negeri-negeri kaum muslimin fitnah-fitnah dan ujian-ujian yang nampak dan yang tidak nampak.
Perkara yang ketiga : apa yang merupakan hasil kekacauan tersebut dan apa yang merupakan hasil kericuhan tersebut dari penghancuran harta-harta, sama saja milik pribadi atau umum, seseorang yang meletakkan mobilnya di depan rumahnya, dengan alasan apa mereka melemparinya atau membakarnya, lampu lalu lintas merah, kuning, dan hijau yang mengatur lalu lintas kendaraan, apakah faidahnya dari dipecahkan dan dihancurkan serta dipukul, berdasar atas ini semua buatlah analogi, maka bagaimana jika kita mengetahui bahwa kadang di sana ada penghancuran dan pembakaran rumah-rumah, dan yang lainnya dari tempat-tempat.
Dan juga dari ikhthilath ( bercampur aduknya ) yang diharamkan antara para laki-laki dan para wanita, kita melihat di dalam demonstrasi laki-laki dan wanita berdampingan, kami melihat merasa heran dari apa yang kami lihat bahwa para wanita kadang-kadang merekalah yang menggerakkan para laki-laki, merekalah yang mengomando, bahkan kami melihat bahwa seorang wanita menaiki punggung seorang laki-laki dan melambai-lambai dan berteriak, maka apakah cara yang rusak ini, padahal ” Sesungguhnya apa yang di sisi Alloh tidaklah bisa didapat kecuali dengan ketaatan terhadapnya ” sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah ( .
Apa lagi dari para pengikut hawa nafsu yang mempergunakan kesempatam dan alangkah banyaknya mereka pada saat ini, dari melakukan pelecehan terhadap wanita ini yang tidak pernah dibayangkan yang kadang di depannya atau di sampingnya, atau bahkan di atasnya.
Demikian juga dari hasil-hasil yang rusak dan merusak dari perbuatan-perbuatan ini yang jauh dari syari’at, lemahnya aqidah al-wala’ wal baro’ di dalam jiwa, maka kami melihat seroang muslim berjalan di samping orang kafir, seroang da’I yang menyatakan tentang dirinya da’I Islami meletakkan tangannya di tangan orang komunis, kelompok kiri, dan sekuler, orang yang fasiq dan ta’at adalah sama saja, ini menyeru dengan slogannya, dan ini menyeru dengan slogannya, dan tidaklah mengumpulkan keduanya melainkan tujuan yang rusak yang tidak faidahnya kecuali menjerumuskan umat ke dalam bala’ yang lebih besar, fitnah yang lebih besar, dan kerusakan yang lebih besar.
Perkara yang keenam : apa yang terjadi sebagai hasil pertarungan dua kubu dari pembunuhan, menyakiti, melukai, dan memecahkan hingga hampir-hampir hal itu menimpa sebagian orang yang tidak tahu apa-apa dari orang-orang yang lewat, sebagian orang yang bersih yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan mereka dari dekat maupun dari jauh, ternyata mereka semua terperangkap di dalam tempat yang satu, ternyata mereka mendapatkan bala’ yang sama, ternyata mereka semua tertimpa musibah yang sama, apa lagi yang berupa pembunuhan dan yang semacamnya, dan saya mendengar kemarin baru saja, bagaimana laki-laki tersebut membakar dirinya, kemudian keadaan menjadi semakin runyam ketika orang-orang yang lain mengikuti jejaknya, dan yang lain mendapatkan pertunjuk dengan sebab perbuatannya ini, dan mereka demi Alloh tidaklah di atas petunjuk di dalam perbuatan yang keji ini, maka kami mendengar tentang orang yang membakar dirinya di Mesir, di Saudi, di Yaman, di Al-Jazair, dan di Mauritania, dan sampai berita kepada kami bahwa sebagian orang membakar dirinya di ‘Amman sini Wala Haula wala Quwwata Illa Bilahi.
Dan Al-Imam Ath-Thobari berkata : ” Alloh Tabaaraka wa Ta’ala selamanya tidak mengizinkan seorang pun untuk membunuh dirinya “
Dan ini telah dinashkan di dalam Al-Qur’anul Azhim, Alloh Ta’ala berfirman :
ﭽ ﭹ ﭺ ﭻﭼ ﭼ
” dan janganlah kamu membunuh dirimu ” ( An-Nisa’ : 29 ).
Dan tidak boleh dikatakan bahwa tujuan menghalalkan segala cara, karena tujuan di dalam syari’at adalah mulia, demikian juga sarana wajib juga mulia, samasaja.
Yang mengherankan bahwa sebagian orang menamakan orang yang terbakar ini atau yang membakar dirinya sebagai ” pahlawan ” atau ” syahid ” atau ” panglima revolusi “, dan telah benarlah Rasulullah ( tatkala menyebutkan sebagian perkara-perkara yang diharamkan dan memperingatkan kepada sebagian perbuatan-perbuatan yang jelek beliau berabda :
يسمونها بغير اسمها
” Mereka menamakannya dengan selain namanya ” , ini dan ini adalah sama.
Di antara perkara-perkara yang merupakan hasil yang jelek adalah : Semakin memperdalam permusuhan antara pemerintah dan rakyat, Engkau adalah bagian yang tidak terpisahkan dari tatanan negeri ini atau itu, manakah yang lebih agung bagimu, adanya hubungan yang tenang dan stabil antara penguasa dengan penduduk negeri dari segi agama, sosial, dan pribadi, walaupun ketenangan dan kestabilan ini adalah relatif sebagaimana mereka katakan, ataukah adanya hubungan yang rusak, merusak, kemarahan yang meluap-luap, kedengkian yang membara, mengintai, mencari-cari kesalahan, dan membalas dendam, tidak syak lagi di sisi setiap orang yang berakal – dan saya tidak ingin mengatakan setiap orang yang berilmu bahwa aksi-aksi seperti ini dan perbuatan-perbuatan seperti ini semakin menambah kebencian, menambah dendam, semakin menambah jurang pemisah, dengan apa-apa yang tidak memberikan faidah,dan manfaat, bagi pribadi dan masyarakat, dan bagi pemerintah dan rakyat.

[ PENUTUP ]

Maka kita memohon kepada Alloh Yang Maha Agung Rabb ‘Arsy yang agung agar menghilangkan fitnah-fitnah dari kita, yang nampak dan yang tidak nampak, dan agar menjadikan pemimpin kita yang terbaik dari kita, dan agar menjadikan kita layak terhadap Sunnah dan termasuk Ahli Sunnah, dan agar menjadikan kita orang-orang yang menegakkan al-haq, menunjukan kepada yang haq, sesungguhnya Dia Subhanahu adalah Penguasa hal itu dan Mahamampu atasnya, dan sholawat dan salam serta berkah semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad dan atas keluarga dan sahabatnya semuanya, dan akhir seruan kami bahwa segala puji adalah bagi Alloh Rabb semesta alam.

Diterjemahkan oleh Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah dari ceramah Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi yang berjudul Kalimat Haula Ahdaats Mishra yang disampaikan di Masjid Umar bin Khaththab Amman Yordania pada tanggal 23 Shofar 1432 H / 28 Januari 2011 M dan ditranskrip oleh http://www.kulalsalafiyeen.com. Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi adalah salah seorang ulama yang masyhur penulis karya-karya ilmiyyah yang bermanfaat, beliau salah seorang murid senior Syaikh Al-Albani dan salah seorang pendiri Markaz Al-Imam Al-Albani di Yordania..